
Gaessss...jangan lupa vote sebelum membaca yaaa🌺😘 Thank You...
"Sayang....Apa Raihan sudah menikah?" Tanya Medina tiba-tiba saat sedang membereskan peralatan sholat.
Mereka baru saja selesai melaksanakan sholat subuh berjamaah didalam kamar.
Daniel yang sedang memeriksa pesan dari sekretarisnya pun mendongak terkejut dengan pertanyaan istrinya.
Mendapat tatapan tajam dari suaminya, Medina justru terkekeh.
"Jangan salah paham sayang...Aku hanya ingin tahu" Jawab Medina seolah tahu maksud tatapan suaminya.
"Sayang..."
"Hmmmm" Jawab Daniel.
Medina menyebik kesal dengan tanggapan suaminya.
"Raihan seperti nya orang yang baik, dia juga punya wajah tampan, kharismatik dan sepertinya usianya tidak jauh beda dengan kakak" Puji Medina dengan sengaja ingin membuat suaminya cemburu.
"Benar-benar laki-laki idaman para gadis" lanjutnya tanpa bersalah.
"Hei...apa kamu mengaguminya diam-diam?" Nada ucapan Daniel terdengar kesal.
Daniel yang sedang berdiri didekat jendela melempar ponselnya ke atas ranjang dan menghampiri istrinya.
"Aku hanya bertanya..." Jawab Medina
"Bertanya? Kamu memuji pria lain didepan suamimu, Nona" Daniel menarik pinggang istrinya.
"Tuan suami tampan...Apa kamu cemburu?" Goda Medina seraya menahan senyum. Ia sangat menikmati wajah kesal suaminya. Terlihat lucu dan menggemaskan.
"Tidak. Aku tidak cemburu. Aku sangat tidak suka jika istriku memuji pria lain selain diriku" Ucapnya dengan tangan yang mulai bergerilya.
"Hei...mau apa? Lepaskan!" Medina meronta saat tangan jahil suaminya mulai menyentuh area sensitifnya.
"Aku akan menghukum istriku yang sudah memuji pria lain secara terang-terangan" Daniel tersenyum menyeringai.
"Aaaaaa...!!!" Teriak Medina saat Daniel menggendongnya dan melemparkannya ke atas ranjang.
Dengan cepat Daniel menindih tubuh Medina sebelum istrinya mencoba kabur.
"Kaaaakk..Aaaaaa....hahahaa." Daniel menggelitik Medina.
Daniel tidak menggubris rengekan Medina. Ia terus menggeletik. Kemudian beralih mencumbu tubuh istrinya yang selalu membuatnya terus ingin memakannya.
"Sayang...." Rayu Medina. Ia tahu dirinya tidak akan bisa lepas dari jeratan gairah suaminya.
"Hmmm" Jawab Daniel
"Kit...Hhhpppmmmttt....Hhhmmmm" Daniel menutup bibir Medina dengan bibirnya. Mel*matnya dengan lembut dan mesra.
Tidak dipungkiri, sentuhan dan cumbuan Daniel selalu membuat tubuhnya tidak bisa menolak. Selalu membuatnya menginginkan lagi dan lagi.
Namun moment indah itu harus terhenti karena deringan pada ponsel milik Medina.
"Sayang...." Medina menahan dada Daniel.
"Biarkan saja..."
"Itu telepon dari mama"
Daniel berhenti melakukan aktifitasnya. Ia mendongak menatap Medina.
"Honey...tapi ini nanggung" Daniel menunjuk ke bawah tubuhnya dengan ekor matanya.
Medina mengikuti arah tatapan Daniel dan langsung mengalihkan pandangannya.
"Aku janji akan cepat" Daniel kembali menciumi leher Medina.
__ADS_1
****
"Kenapa ma? Medina tidak mengangkat telepon dari mama?" Tanya Danu saat melihat sang mama sibuk dengan ponselnya.
"Iya...tidak biasanya Medina begini"
Danu terkekeh melihat mama Safira mendengus kesal.
"Mereka pengantin baru dan sedang berusaha membuatkan mama cucu..jangan cemas" Ucapan Danu sambil terkekeh sontak membuat sang mama melotot dan melayangkan pukulan dipundaknya.
"Mama mencemaskan Medina. Dua malam ini mama susah tidur"
"Kamu tidak mau menceritakan apapun kepada mama?" Lanjut mama dengan tatapan sendu.
Danu meraih tangan sang mama dan mencium punggung tangannya. Ia berpikir menimbang apakah akan bicara jujur atau menyembunyikannya.
"Selamam Daniel menelepon Danu. Dia bilang Medina terlihat tertekan setelah pertemuaannya dengan keluarganya" Ucap Danu setelah beberapa saat terdiam.
Lalu Danu menceritakan semua yang terjadi kepada sang mama.
"Gadis yang malang. Ia menghabiskan masa remajanya dengan air mata" Gumam Mama Safira lirih.
"Putra bungsu mama sangat mencintai istrinya...dia akan melindungi dan memberikan yang terbaik untuk Medina" Ucap Danu menenangkan perasaan khawatir sang mama.
"Kapan mereka pulang?" Tanya mama Safira.
"Daniel akan pulang lusa dan akan memberi kabar baik setelah kepulangannya" Danu kembali terkekeh.
"Mama berharap Medina tidak hamil dulu. Mereka akan melangsungkan resepsi dan jika Medina hamil, pasti akan ada perubahan rencana besar yang sudah kalian susun bukan?" Danu mengangguk paham.
Saat pembicara mereka selesai, saat itu Rani dan Syifa datang ke ruang tengah.
"Papa....!"
"Papa bisa mendengar sayang...tidak perlu berteriak" Danu mengangkat Syifa agar duduk di kursinya.
"Sayang....itu..." Danu melirik Rani yang membalasnya dengan mengedikkan bahu.
Syifa mengerucutkan bibirnya membuat Danu mencubit hidung putri kecilnya.
"Papa bohong lagi" Syifa membuang wajahnya kesal karena Papanya tidak menepati janji membawa Medina pulang sesuai kesepakatan mereka berdua.
"Sayang..bicaralah dengan baik" Rani mengingatkan anaknya.
"Kemarin Syifa udah jaga nenek seharian.. papa janji mau jemput mama Niel tapi...." Protes Syifa.
"Ohhh...Apa Syifa hanya akan menjaga nenek jika ada penjanjian yang menguntungkan?" Ledek Danu dengan menahan tawa.
"Bukan begitu Papa....tapi kita sudah berjanji. Dan nenek bilang jika kita berjanji... kita harus menepatinya" Ucap Syifa masih dengan nada kesalnya.
Sang nenek hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bayi kecil kalian terlalu cepat dewasa" Gumam Mama Safira.
Danu menghela nafas panjang. Ia melirik Rani dan Mamanya secara bergantian.
Rani membiarkan putrinya untuk mengungkapkan perasaan nya namun tetap mengawasi setiap perkataan yang keluar dari mulut mungilnya. Agar ia bisa belajar.
"Oke...papa minta maaf karena sudah ingkar janji. Mama Niel mu akan pulang besok dengan membawa hadiah" Wajah Syifa berbinar ketika mendengar hal itu.
"Besok Mama Niel pulang?" Tanya Syifa dengan raut wajah yang sudah berubah.
"Bawa hadiah untuk Syifa?" Tanya Syifa lagi.
Danu mengangguk dan tersenyum. Sementara Syifa bersorak dan bertepuk tangan karena merasa senang.
"Bisakah kita sarapan sekarang?"
Syifa mengangguk dan merentangkan tangannya.
__ADS_1
Dengan gemas Danu mencium pipi chubby putrinya lalu menggendongnya ke meja makan.
***
Sementara dikamar hotel dikota S, Daniel benar-benar menghukum istrinya karena sudah berani memuji pria selain dirinya.
Daniel baru saja selesai mandi dan melihat istrinya duduk melamun manatap nampan yang berisi sarapan nya.
"Kenapa belum dimakan?" Tanya Daniel ketika melihat isi piring sarapan istrinya masih utuh.
"Aku ga nafsu makan..badanku sakit semua" Jawab Medina kesal.
Daniel termenung dan merasa bersalah karena sudah membuat istrinya kelelahan.
"Apa yang itu juga sakit?" Tanya Daniel khawatir.
Ia mengingat ucapan dokter kandungan yang pernah mereka temui.
"Jika sakitnya berlanjut, segera lakukan pemeriksaan kembali"
Medina mengerti maksud pertanyaan suaminya. Maka dengan segera ia menjawab dengan suara pelan.
"Tidak sakit...hanya badanku saja yang terasa pegal-pegal" Medina kembali merebahkan tubuhnya diranjang. Ia benar-benar merasa lelah karena terus melayani suaminya hingga pagi tadi.
"Maafkan aku...Honey" Daniel mencium kening Medina.
Medina menegakkan tubuhnya yang sempat berbaring. Ia menatap lekat suaminya. Dalam hati kecilnya ia sadar, seharusnya ia tidak mengeluh seperti sekarang dihadapan suaminya. Tapi ia juga ingat perkataan dokter, jika dirinya tidak merasa nyaman, ia bisa mengatakan kepada pasangan. Dan untuk saat ini ia merasakan bagian intinya tidak nyaman.
"Aku yang minta maaf kak...seharusnya ak__" Daniel segera menutup mulut istrinya dengan bibirnya. Hanya mengecup sekilas agar istrinya berhenti meminta maaf.
"Aku memaafkanmu...Nona"
Medina terkekeh geli. Tangannya terayun memukul dada bidang suaminya. Kemudian menghambur memeluknya.
"I love you, Honey"
"I love you too"
"Sekarang ayo makan sarapanmu Nona. Karena sebentar lagi kita akan keluar"
"Keluar? Jalan-jalan?"
Daniel mengangguk dan tersenyum.
"Kemana?"
Daniel menarik tangan istrinya agar duduk dipangkuannya.
"Kita akan menikmati waktu berdua" Daniel mencium pipi Medina.
"Lalu bagaimana dengan keluarga pakde Radiman?" Tanya Medina bingung.
"Mereka akan pergi bersama Raihan"
"Sayang...." Medina menatap manik Daniel.
"Untuk sementara waktu, mereka akan berada dikota ini sampai menjelang resepsi pernikahan kita dan Raihan akan menyiapkan segalanya. Termasuk pekerjaan untuk Pakde" Jelas Daniel.
"Kedua sepupumu akan melanjutkan sekolahnya" Medina tersenyum.
"Maaf aku memutuskan ini tanpa bertanya padamu, Honey. Tapi melihat mu tertekan dan bersedih itu sangat membuatku takut" Daniel menatap lembut istrinya.
Medina menggeleng pelan.
"Sayang...aku percaya padamu. Kamu akan selalu melakukan yang terbaik untuk kita" Medina menangkup wajah Daniel dan mengecup keningnya lama.
"Terimakasih, Sayang. Aku semakin mencintaimu" Bibir Medina kini beralih di bibir Daniel. Menciumnya sebagai ungkapan rasa terimakasih nya.
Daniel menikmati moment itu. Sebenarnya ia ingin membalas ciuman Medina hanya saja itu akan berakibat fatal. Oleh karenanya ia diam menahan percikan api gairah yang mudah membakar tubuhnya.
__ADS_1