
Medina kembali ke kamar setelah sarapan bersama. Ia meringis merasakan pinggangnya yang seperti akan patah dan terasa panas.
"Sayang, apa kamu sudah ingin keluar?" Batinnya sambil mengusap-usap perutnya yang terasa kencang dan diikuti rasa sakit seperti kontraksi.
Medina memegangi meja rias dengan kuat ketika rasa sakit kembali terasa diperutnya. "Astaghfirullah." Gumamnya dengan lirih. Ia pun mulai mengatur nafas dan ketika rasa sakit itu hilang, ia mencoba berjalan untuk mengambil ponselnya.
"Ibu..." Medina menghubungi ibu nya yang masih berada ditaman belakang bersama mama Safira.
"Ibu... sepertinya aku akan melahirkan." Ucapnya membuat wanita paruh baya diseberang telepon membulatkan matanya.
"Ya Allah..." Ibu Melani segera memberitahu besannya dan keduanya segera masuk kedalam kamar Medina. Mama Safira bahkan tidak lupa memanggil Daniel yang sedang berenang bersama Syifa.
"Daniel...!! Medina..." Teriaknya. Daniel bergegas naik ke permukaan dan berlari masuk kedalam rumah dwngan kondisi tubuh yang basah.
"Honey!"
"Medina." Ketiganya melihat Medina yang tengah berdiri dan mengatur pernafasan karena kontraksi yang terus menerus dan semakin lama.
"Sayang."
"Aku akan ganti pakaian, kamu bisa menunggu ku sebentar?" Wajah cemas dan panik tidak bisa pria itu sembunyikan melihat istrinya yang meringis kesakitan.
Kedua wanita baya itu memimpin Medina keluar saat kontraksinya hilang sehingga Medina bisa berjalan.
"Ayo." Daniel keluar kamar dan langsung membawa Medina dalam gendongannya.
Daniel langsung masuk kedalam mobil yang telah siap karena sudah diberitahu pelayan.
"Sayang." Lirih Medina memejamkan matanya. Kontraksi yang begitu hebat membuatnya hampir kehilangan kesadaran.
Daniel melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Beruntung hari ini, jalanan tidak terlalu macet. Hingga mereka bisa tiba di rumah sakit lebih cepat.
"Dokter!!" Teriak Daniel didepan pintu IGD membuat beberapa dokter dan perawat yang bertugas langsung menoleh.
"Istri saya mau melahirkan." Nafasnya terngah-engah seperti orang yang bari saja berlari marathon.
"Kamu harus tenang supaya Medina juga tenang." Mama Safira mengusap punggung putranya yang mengangguk. Lalu Daniel dipanggil dokter dan perawat yang keluar dari ruang bersalin.
"Pasien sudah pembukaan lima, pak Daniel bisa menemani didalam." Ucap Dokter dengan tenang.
"Alhamdulillah. Masuklah, Nak..." Ibu Melani tampak pucat menatap menantunya.
"Doakan Medina Ma, Bu." Ucap Daniel lalu berlalu masuk kedalam ruang bersalin.
"Honey...." Daniel mengecup kening Medina lalu turun ke hidung lalu bibir.
"Kata dokter sudah pembukaan lima. Artinya tidak lama lagi kita akan bertemu baby El." Mata Medina berkaca-kaca saat mengatakan itu.
"Kontraksinya hilang?" Tanya Daniel melihat istrinya terlihat tenang.
"Iya. Tapi jeda lima menit akan timbul lagi." Medina tersenyum dengan keringat yang mengucur dipelipisnya.
__ADS_1
"Kamu wanita hebat dan kuat." Bisik Daniel membuat Medina mengangguk. Dan ketika kontraksi itu kembali datang, Medina mencengkeram lengan Daniel dengan begitu kuat. Dengan mulut merapal doa-doa dan dzikir agar hatinya tetap tenang.
"Periksa dalam lagi yuk." Dokter masuk kedalam ruangan lagi dan melakukan pemeriksaan kembali setelah tadi 3 kali pengecekan dalam dalam jeda waktu dua jam saja.
"Wahh...kepalanya sudah teraba. Sus, tolong siapkan semuanya. Pasien siap melahirkan."
"Jika datang kontraksi hebat, langsung mengejan ya, Bu. Masih ingat treatmentnya, kan?" Dokter Meyri tersenyum ke arah Medina dan Daniel yang duduk memeluk dari arah belakang.
"Dok..." Lirih Medina ketika rasa sakit mulai terasa.
"Oke, siap! Dorong...oke, bagus! Atur nafas. Huft...huft..huft!" Dokter memberi aba-aba hingga Medina kembali mengejan dan akhirnya bayi laki-laki itu menjerit dengan kencang tatkala keluar dari rahim ibunya.
"Alhamdulillah...anda luar biasa. Selamat, bayi laki-laki tampan sesuai prediksi alat USG." Kekeh Dokter Meyri sambil mengangkat sang bayi tinggi-tinggi.
"Alhamdulillah, Honey...Kamu luar biasa. Aku mencintaimu, aku mencintaimu.." Isak Daniel mengecup kening istrinya yang terlihat lemah setekah perjuangan panjangnya.
Dan ketika bayi dengan berat 3,5 kilogram itu diletakkan diatas dada Medina untuk IMD, seketika ia menangis tersedu. Menatap wajah mungil nan tampan diatas dadanya dengan mulut yang mencari-cati sumber kehidupan barunya .
"Sayangku..."
****
Semua keluarga hadir setelah Medina dipindahkan ke ruangan VVIP. Daniel terus menggenggam tangan istrinya bahkan sesekali mencium punggung tangannya penuh cinta.
"Wajahnya benar-benar mirip dengan mu saat baru lahir. Mirip sekali." Ucap Mama Safira yang sedang menggendong baby El.
"Medina selalu mengatakan itu. Anak-anak ku harus mirip denganku." Bangga Daniel.
"Jadi sudah siapkan nama panjang baby El?" Tanya Pak Sanjaya.
"Belum." Jawab Daniel.
"Kenapa?" Pak Sanjaya mengerutkan dahinya. Padahal ia berharap menantunya sudah menyiapkan nama panjang baby El agar nama cucunya bisa segera masuk daftar penerima aset Sanjaya Group.
"Masih kurang pas saja." Kekeh Daniel.
"Baby El sangat tampan." Puji Syifa saat gadis kecil itu menggoda Baby El di pangkuan neneknya.
"Ifa tidak sabar menunggu besok sekolah." Cicit Syifa yang duduk disamping neneknya.
"Memang kenapa sayang?" Tanya Rani penasaran.
"Ifa ingin bercerita dengan teman-teman Ifa. Sekarang Ifa sudah punya dua adik laki-laki yang tampan." Celotehnya membuat semua orang terkekeh.
"Oh ya ampun, bunda kira ada apa."
"Setelah baby Syakir dan baby El sudah bisa jalan, Bunda dan Mama apa akan punya anak lagi?" Tanya Syifa membuat semua orang terpengarah. Lalu tertawa merasa lucu dengan pertanyaan cucu pertama mama Safira.
"Doakan bunda dan mama sehat ya, sayang. Semoga masih bisa kasih adik buat Syifa." Kekeh Rani sambil menggelengkan kepalanya.
"Ayo, buat anak yang banyak." Daniel mengangkat tangan ke arah Danu.
__ADS_1
"Kau menantungku? Baiklah...dengan senang hati." Danu membalasnya dengan ber tos ria dengan sang adik. Lalu memeluk istrinya dengan erat.
Tawa semua orang mengisi ruang rawat Medina. Hingga membuat Baby El yang berada dalam gendongan mama Safira terkejut dan menangis.
"Owh...cup...cup sayang. Kamu pasti tidak terima karena mereka semua membicarakan adik. Padahal kamu baru saja dilahirkan. Oh...sayangku..." Canda mama Safira membuat semua orang kembali tertawa.
"Semoga Kak Fian dan Kak Donita segera menyusul." Ucap Medina tulus dan langsung diamini semua orang.
Satu per satu semua orang pergi, Daniel mengantar keluarganya dab keluarga Medina hingga lobi rumah sakit. Sementara di kamar, Medina ditemani Ibu Melani.
"Apa asi nya sudah keluar?" Tanya Ibu Melani.
"Sudah, Bu. Tapi belum banyak." Jawab Medina sambil menatap putranya yang tidur didalam box bayi.
"Tidak apa-apa, baby El harus sering ASI nanti akan lebih banyak ketika sering diberikan."
"Iya, Bu." Medina menatap ibunya yang tersenyum.
"Kenapa, Bu?"
"Tidak." Ibu Melani mengusap pipinya dengan ibu jari.
"Ibu menangis?" Tanya Medina menatap lekat sang Ibu yang duduk disamping ranjang.
Seketika Medina memeluk ibunya. "Ibu ingat masa laluku?" Tanya Medina seolah mengerti kesedihan ibunya.
"Maafkan Ibu."
"Aku memberikan mu pada Agus dan Rahmi saat kamu benar-benar baru dilahirkan dari rahimku. Aku meminta mereka segera membawamu, sebelum Ayah dan yang lainnya tahu keberadaan ibu saat itu. Kamu...masing sangat merah dan tidak sempat ibu susui karena ketakutan yang besar kamu ditemukan mereka." Isak Ibu Melani mengingat kondisi saat ia melahirkan Medina ketika itu.
"Lalu bayi siapa yang ibu bawa pulang dalam keadaan meninggal saat itu?" Tanya Medina justru penasaran.
"Kamu tahu?" Ibu Melani tampak terkejut mendengar pertanyaan putrinya.
"Iya, Bu aku tahu. Bidan Nurul menceritakan semuanya." Jawab Medina.
"Entah kebetulan atau memang sudah Allah mentakdirkan jalan untuk ibumu.
"Saat itu ada seorang anak gadis yang melahirkan tanpa suami dan keluarganya,tapi bayi itu meninggal. Karena tidak mau, kisahnya diketahui oleh keluarganya, gadis itu meninggalkan bayi itu begitu saja di tempat Bidan Nurul. Lalu kami mempunyai ide untuk membuat skenario kematian bayi yang ibu lahirkan." Kenang Ibu Melani.
"Jika ingat semua itu, dada ibu terasa sesak sekali. Rasanya ingin memutar waktu kembali. Dan mengulang kisah dari awal." Ibu Melani menunduk menahan isak.
"Bu, jangan menyiksa diri terus menerus. Kita sudah sampai di titik ini. Semua yang terlewati adalah ujian yang membawa pada kehidupan kita sekarang. Tidak ada yang patut kita sesali, justru kita harus mensyukurinya."
"Kamu benar, Nak. Ibu banyak sekali belajar darimu." Ibu Melani mencium kening Medina.
Dan saat itu, Daniel masuk kedalam kamar dan melihat mata keduanya tampak basah dan sembab.
"Ada apa?" Tanya Daniel mendekati ranjang dengan wajah sedikit panik.
"Terimakasih, Nak." Jawab Ibu Melani menatap sang menantu.
__ADS_1