
Assalamualaikum readers...Selamat Merayakan hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1441 H. Minal Aidzin walfaidzin mohon maaf lahir Bathin๐๐
***Kantor Daniel***
Daniel masih bertemu dengan klien diruangannya ketika Danu tiba disana. Danu duduk disofa ruang tunggu persis disebelah ruangan Daniel. Ia sudah mengabari Daniel jika akan ke kantornya. Mereka sudah tahu jika mamanya sekarang berada di Apartemennya Daniel. Oleh karena itu, mereka akan menemui nya bersama.
"Terimakasih atas waktu yang diberikan...pak Daniel. Senang bekerja sama dengan anda" Ujar klien Daniel menyudahi perbincangan mereka.
"sama-sama pak Kuncoro. Semoga kedepannya diberikan kelancaran" Danu membalas. Lalu mereka berjabat tangan erat.
Sepeninggal klien.. Daniel melirik arlojinya. jam 15.00.
"apa kakak belum datang?" bathin Daniel.
Tok..tok..tok..
"Bos...Pak Danu ada diruangan sebelah menunggu anda" ucap Arif setelah masuk kedalam.
"oh..kakak sudah datang ya?"
"Bos mau keluar?" Tanya Arif melihat bosnya bersiap.
"iya...Aku ada keperluan. Tolong selesai kan sisa pekerjaan ku. Ini belum waktu jam pulang kantor. Jadi jangan macam-macam. Oya, nanti pulang kantor bawa mobilku ke apartemen" Ucap Daniel penuh penekanan.
"siap boss..." Jawab Arif dengan tangan memberi hormat. Ia tahu jika bosnya sudah memberi perintah artinya tidak boleh ada penolakan.
Daniel beranjak keluar ruangan menuju ruangan sebelah.
Daniel mendorong pintu ruang tunggu dan menyembulkan kepalanya kedalam.
"kak...apa kita bisa pergi sekarang?" Ucap Daniel.
Danu yang sibuk dengan ponselnya, mendongak cepat ke arah pintu karena sedikit terkejut.
"kau ini....mengagetkan saja" teriak Danu. Lalu ia beranjak menghampiri Daniel.
Daniel tertawa senang karena sudah berhasil menjahili kakaknya.
Mereka berdua keluar dari gedung perusahaan Daniel dengan menaiki mobil Danu menuju apartemen.
Selama perjalanan dari kantor ke apartemen, Danu terus menggoda Daniel.
"Sepertinya kamu gugup"
"Ck..." Daniel berdecak kesal. Bola matanya memutar malas.
"ini sudah 6 bulan berlalu...Kau harus bertanggung jawab sudah memberinya title Mama Niel. Kamu tahu....Bahkan Syifa akan melawan papanya sendiri jika aku melarang memanggil Medina dengan sebutan itu" Ujar Danu dengan wajah sedikit kesal.
__ADS_1
Bagaimana tidak kesal, selain sekarang Syifa sangat lengket dengan Medina. Syifa juga sangat menurut semua ucapan Medina. Ternyata Title *Mama Niel* tidak hanya sebatas panggilan dimulut saja.
"Rani juga ikut-ikutan Syifa manggil Medina seperti itu. Sepertinya Panggilan itu sudah mendarah daging sampai sulit dihilangkan" Danu merasa tidak enak hati dengan Medina.
"lalu apa tanggapan Medina?" Tanya Daniel enteng.
Sontak Danu menoleh Daniel yang duduk disampingnya dengan tatapan tajam.
"hei... pertanyaan apa itu? Hah?" Telunjuknya mendorong tubuh Daniel.
Daniel tersenyum masam. Ia menyadari semua perkataan kakaknya benar. AKan tetapi untuk saat ini hati, pikiran dan sikapnya saling bertolak belakang.
Hatinya menginginkan Medina, Namun pikiran dan sikapnya masih terus menghindar dari perasaanya.
"Aku belum siap kak" Ucap Daniel tanpa menoleh kakaknya.
"Hah? Apa aku tidak salah dengar? Baiklah. Jangan menyalahkan Medina jika sebentar lagi ada laki-laki yang mendekati nya" Daniel menatap kakaknya dengan mengerut kan kening.
"Maksud kakak?" Tanya Danu dengan wajah serius.
"Aku dengar dari Jaka, Ada beberpa laki-laki yang terus mendekati Medina di sekolah penyetaraan. Bahkan Medina sering diantar pulang bersama" Ucap Daniel dengan sengaja menyondongkan wajahnya mendekati wajah Daniel.
Wajah Daniel seketika berubah pias. Bahkan dia tidak menyadari kini mereka sudah sampai di parkiran Apartemen.
"Woi...mau bengong terus disitu?" Teriak Danu.
Daniel mengenjit kaget dan melihat sekeliling nya.
Danu tergelak keras. Danu sudah mengerjai adiknya habis-habisan.
"aku akan terus menggodamu dengan sedikit permainan kecil. Aku bersumpah. Hingga tidak ada lagi nama, atau kenangan apapun tentang Farah" Janji Danu dalam hati.
Mereka berdua berjalan menuju apartemen Daniel setelah keluar dari litf.
Setelah pintu apartemen terbuka, mereka berdua masuk namun langkah mereka terhenti karena sang mama yang tiba-tiba bangun dari duduknya dengan menempelkan telunjuk dibibir.
"Ssstttt"
"kita ngobrol di kamar kamu saja. Medina sedang tidur sangat nyenyak. Dia sangat kelelahan karena sudah membantu mama membersihkan apartemen ini dan memasak untukmu" Ucap ibu Safira dengan suara yang sangat pelan namun bisa didengar kedua putranya.
Daniel langsung mengedarkan pandangannya dengan wajah tidak percaya. Maniknya Menemukan seorang gadis yang sedang berbaring disofa ruang tengah apartemen nya.
Bibirnya menyungging senyum. Hatinya berdesir hangat melihat pemandangan dihadapannya.
"ayo..." Ibu Safira menarik tangan Daniel menuju kamar dan diikuti Danu dibelakangnya.
"Hari ini dia benar-benar bekerja keras. Setelah selesai sekolah mama mengajaknya berbelanja lalu membersihkan apartemen kamu dibantu Jaka. Karena Medina tidak memberi ijin mama masuk ke dapur akhirnya dia yang masak makanan untuk kamu"
__ADS_1
Ibu Safira mengulangi perkataannya. Ia sengaja melakukan itu untuk menggoda Daniel. Ibu Safira bahkan melebih-lebihkan ceritanya.
Danu dan mamanya memang sudah sepakat untuk terus berusaha membuat keduanya dekat. Namun dengan cara yang halus dan elegan.
"aku iri sama kamu, Niel" Ucap Danu.
"belum jadi istri, tapi sudah mau beres-beres apartemen kamu. Dimasakin pula" Tambah Danu dengan wajah datar.
Ibu Safira melempar senyum puas ke arah Danu Karena melihat putra bungsunya tidak bergeming.
"Ya sudah...sudah masuk waktu ashar. Kita sholat berjamaah dan bersiap" Ucap Ibu Safira.
"Bersiap? Mama mau kemana?" Tanya Daniel dengan wajah menyelidik.
"kamu lupa kalo sore ini perayaan Anniversary
Om Harun sama Tante Tika?" Ucap Danu.
Tante Tika adalah adik kandung ibu Safira. Sehingga mau tidak mau, ibu Safira harus datang menghadiri undangan itu.
"Astaghfirullah aku lupa" Daniel menepuk keningnya keras.
Mereka bertiga lalu mengerjakan sholat ashar berjamaah. Setelah berganti pakaian dan bersiap, Ibu Safira mendekati Daniel yang duduk disofa kamar.
"karena Medina masih tidur, kita tidak bisa berangkat bersama-sama. Nanti kamu menyusul ya sama Medina?" Perintah ibu Safira.
Daniel membulatkan maniknya.
"apa?" Daniel melirik Danu yang berdiri menatapnya.
"Lagipula...aku harus jemput Rani dan Syifa dulu dirumah tantenya. Kalo nunggu Medina bangun...ga bakal keburu" Ucap Danu.
"mama bangunkan saja Medina" Pinta Daniel.
"hei...dia sangat kelelahan. Mama tidak tega membangunkannya. Nak" Ibu Safira terus membujuk Daniel.
"Sudah..sudah. Ayo ma kita berangkat sekarang. Rani sama Syifa sudah nunggu lama" Ajak Danu.
Danu dan mamanya berjalan keluar dari kamar. Sebelum benar-benar keluar kamar, ibu Safira membalikkan badannya.
"oh iya mama lupa. Berikan paper bag yang atas meja itu ke Medina. Suruh dia memakai nya. Bilang kalo mama yang memintanya"
Selesai mengutarakan itu, Mereka berdua keluar dari apartemen Daniel.
Daniel tidak bergeming. Hanya bisa memandangi punggung sang mama dan Kakaknya hingga menghilang di balik pintu.
Daniel menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Hatinya bergejolak mengingat hanya tinggal dirinya dan Medina didalam apartemen saat ini.
__ADS_1
"ini kebetulan semata atau skenario kak Danu?" Daniel berpikir keras dengan situasi nya.
#############