Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 24


__ADS_3

Keluarga Daniel kembali pulang kerumah saat hari sudah menjelang sore.


Medina memapah Ibu Safira masuk ke dalam rumah setelah turun dari mobil. Sementara Danu menggendong Syifa yang tertidur karena kelelahan. Rani nampak menjadi pendiam setelah pertemuan nya dengan Raisa dihotel tadi pagi. Dan membuat suasana sarapan keluarga suaminya menjadi kacau. Ia mengekori suaminya masuk kedalam paviliun.


Ibu Safira menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sikap Medina yang dirasakan semakin posesif.


"mama tidak selemah itu nak..." Ucap ibu Safira. Mengeratkan tangannya yang bertaut dengan tangan Medina.


Medina tersenyum menatap ibu Safira. Mereka terus berjalan sampai dikamar.


"ibu mau ke kamar mandi" Ibu Safira berjalan menuju kamar mandi.


Medina mengangguk dan segera menyiapkan pakaian ganti ibu Safira dan meletakkannya di sisi ranjang.


"Medina ke dapur ya Bu" pamit Medina berjalan ke dapur kemudian.


"Honey..." Panggil Daniel yang duduk di sofa ruang tengah saat melihat Medina keluar dari kamar.


"honey..." panggil lagi Daniel saat Medina tidak juga menoleh.


"honey..." Daniel menarik tangan Medina yang tidak mempedulikan panggilannya.


"kakak manggil Medina?" Tanya Medina. Kini mereka berdiri berhadapan.


"iya honey..."


"kak...jangan panggil Medina begitu" Tolak Medina halus. Bagaimana tidak menolak, panggilan Daniel membuat jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya.


"kenapa?"


Medina memalingkan wajahnya. Ia malu jika Daniel melihat wajahnya yang merona karena panggilan Daniel kepadanya.


"aku ingin kita bicara berdua. Aku tunggu di ruang kerjaku" Ucap Daniel.


"baiklah..tapi setelah makan malam" Jawab Medina dan segera berlalu menuju dapur meninggalkan Daniel.


"kamu sangat menggemaskan dengan pipi blush" Gumam Daniel pelan.


Daniel berjalan menuju kamar mamanya. Ada yang ingin ia sampaikan.


"ma..." Daniel duduk disamping mamanya yang sedang membaca buku disofa.


"hei..mama pikir kamu sudah kembali ke apartemen" Ucap ibu Safira menyudahi membaca buku.


"Aku bahkan ga bisa jauh dari Medina" Daniel merebahkan kepalanya dipundak sang mama.


Ibu Safira tersenyum. Hatinya menghangat saat Daniel mengungkapkan perasaannya.


"kamu tulus mencintainya?" Tanya mama Safira. Tangannya mengelus rambut Daniel yang masih menempel dipundaknya.


Daniel mengangguk.


"Aku sangat mencintainya. Bahkan rasanya Daniel seperti jatuh cinta untuk pertama kali" Daniel terkekeh.


"Segera temui keluarganya..Pakde dan budhe nya adalah keluarga Medina saat ini. Lamar Medina dihadapan mereka. Mungkin akan sedikit ada kendala, karena pakde nya pernah akan menikahkan Medina dengan anak kepala Desa disana karena terlibat hutang. Tapi Medina berhasil kabur"

__ADS_1


Daniel menegakkan tubuhnya dan menatap mamanya tajam.


"benarkah??" Tanya Daniel penasaran.


"Mama rasa...restu pakde nya tidak akan semudah mama merestui kalian" Ibu Safira tersenyum tipis.


Daniel mengangguk mengerti.


"Ajak Medina bertemu keluarga nya, bagaimana pun, Pakde nya Medina yang akan menjadi wali Medina satu-satunya saat kalian menikah nanti" Ucap Ibu Safira.


"Baik ma...Daniel usahakan dalam waktu dekat Daniel dan Medina pergi menemui mereka" Daniel merasakan kekhawatiran diwajah mamanya.


"Jangan berhenti mendoakan kebahagiaanku ma...dan maaf selalu merepotkan mama" Ucap Daniel setelah memeluk dan mencium kepala sang mama.


"Mama tidak pernah berhenti berdoa dan meminta kepada Allah untuk kebahagiaan anak cucu menantu mama" Mama membalas pelukan hangat Daniel.


"Daniel akan bicara dengan honey" Sang mama mengernyitkan dahinya.


"honey siapa?" Mama Safira melepaskan pelukannya.


"eemmm..maksud Daniel...Medina" Daniel menggaruk tengkuknya dan tersenyum malu.


"apa itu panggilan sayang buat Medina?" Goda mama Safira.


Daniel tersenyum kuda dan mengangguk pelan.


"tapi...ada satu permintaan Medina yang harus Daniel lakukan dan penuhi" Daniel memasang wajah sendu.


"Apa yang Medina minta padamu?" Mama Safira menggenggam tangan Daniel. Seolah memberi dukungan penuh kepada putra bungsunya.


"Daniel akan ke New Zealand menemui Farah. Daniel ingin memperjelas dan mengakhiri hubungan kami yang masih abu-abu saat Farah meninggalkanku"


Daniel menggeleng. Bibirnya mengulas senyum.


"Medina hanya minta, kedepannya ga ada yang bikin mama kecewa dan terluka saat hubungan kami berjalan lebih jauh. Medina ga mau jika mama harus menanggung resiko akibat dari hubungan yang akan kami jalani nanti"


Mama safira tidak bisa berkata-kata. Tanpa terasa air mata mama Safira jatuh bercucuran mendengar ucapan Daniel.


"Dia sangat menghawatirkan mama..dia menyayangi mama lebih dari pada Daniel menyayangi mama. Dia gadis yang sangat baik. Dan Daniel akan memperjuangkan Medina apapun yang terjadi didepan sana"


Mata Daniel berkaca-kaca. Ia menarik tubuh mamanya dalam pelukannya. Merasakan kembali hangatnya pelukan sang mama yang beberapa tahun ini lenyap karena kecewa dan putus asa akibat gagalnya pertunangan nya dengan kekasihnya kala itu.


"Daniel butuh dukungan dan doa dari mama" Ucap Daniel mengakhiri percakapannya dengan sang mama.


Mama Safira mengelus kepala Daniel dengan sayang.


"Jangan lupa diskusikan hal ini juga dengan kakakmu, jangan mengecewakannya" Pesan mama kepada Daniel.


"oke..Daniel ketemu kakak dulu kalo begitu" pamit Daniel dan melangkah keluar kamar kemudian.


Saat melewati dapur, Daniel menoleh sekilas kearah dapur. Bibirnya melengkung manis ketika maniknya menangkap sosok gadis yang menjadi pujaan hati yang terlihat sibuk dan sesekali terdengar riuh tawanya bersama Bu Inang.


Daniel terus berjalan hingga sampai didepan pintu kamar Danu.


"kak...Bisa kita bicara sebentar?" Teriak Daniel didepan pintu Setelah mengetuknya.

__ADS_1


Ceklek


Rani membuka pintu.


"Dimana kak Danu?" Tanya Daniel.


"Kakakmu sedang mandi. Tunggu sebentar lagi" jawab Rani.


Daniel berbalik badan dan duduk disofa yang ada diruang tengah paviliun. Rani mengekori dan ikut duduk di sofa lainnya.


"Apa putriku masih tidur?" Daniel kembali membuka suaranya. Maniknya menatap bingung dengan sikap Rani sepulang dari hotel tadi.


Rani hanya mengangguk pelan.


"Ada apa Ran?" Sedikit ragu Daniel bertanya.


"maaf atas kejadian pagi tadi. Aku ga nyangka bakal ketemu Raisa disana dan mengacaukan acara keluarga kita" Ucapan Rani tampak sangat menyesal.


Daniel menarik nafas dalam. Ia masih berpikir apa yang akan ia katakan kepada Rani.


"Ga papa Ran. Lupakan itu" Hanya itu yang bisa Daniel ucapkan. Ia tidak ingin iparnya merasa khawatir dan terbebani.


"tapi..Raisa,.." Rani menggantung kata-katanya saat terdengar suara pintu kamar terbuka.


Rani dan Daniel menoleh. Seketika Rani mengunci mulutnya dan menunduk. Ia bahkan tidak berani menatap wajah suaminya setelah perselisihan kecil dengannya sepulang dari hotel tadi. Sebabnya karena Raisa.


_Flashback on_


"Sudah aku bilang dari awal, jangan terlibat lebih jauh dalam urusan Daniel" Pekik Danu saat sudah didalam kamar.


Rani menatap Danu sekilas. ia terlihat kaget karena Danu mengetahui usahanya yg untuk mendekatkan Daniel dengan Raisa.


"kenapa? kamu pikir aku tidak tahu usahamu?" Danu menyeringai sebal. Rani kembali menunduk dan meremas jemarinya.


"Sekarang kau liat sendiri bagaimana sepupumu itu terus mengejar dan mengharapkan Daniel" Nafas Danu terdengar menderu karena menahan amarah.


Rani terus menunduk tidak berani menatap wajah suaminya yang sedang marah.


Danu membuang nafasnya kasar. Ia duduk disamping istrinya ditepi ranjang.


"Jika ingin berbuat sesuatu untuk keluarga ku, tolong pikirkan efeknya buat mama" Danu memelankan suaranya.


"sayang...ma..maaf" Ucap Rani dengan suara bergetar. Butiran bening mengalir deras tanpa komando.


Danu mengelus kepala Rani dengan lembut.


"aku tahu niatmu baik...tapi...sudahlah. Aku mau mandi" Danu memilih menyudahi pertengkaran kecilnya dengan Rani dan berjalan menuju kamar mandi.


Rani menatap punggung suaminya dengan mata sembab. Menyadari kesalahannya akibat kebodohannya. Dalam hatinya ia bertekad, akan memperbaiki semuanya.


_flashback off_


"kak...ada yang mau Daniel sampaikan" Ucap Daniel saat kakaknya telah duduk disofa disamping Rani.


"dari nada bicaramu... sepertinya kamu butuh bantuan kakak" Danu menyeringai dan menatap Daniel.

__ADS_1


Daniel terkekeh. "Kakak yang bertanggung jawab" ledek Daniel.


"baiklah...kita bicara diruang kerja saja" Danu sudah bangkit dari duduknya dan melangkah berjalan meninggalkan rumah kecilnya. Daniel berjalan mengikuti hingga mereka berjalan sejajar menuju ruang kerja yang berada dirumah utama.


__ADS_2