Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 101


__ADS_3

"Honey...kamu sudah siap?" Tanya Daniel saat masuk kedalam kamar villa.


Ia baru saja memesan makanan untuk sarapan sebelum mereka pulang ke Indonesia.


"Aku sudah siap, Sayang" Jawab Medina dengan senyum cantiknya.


Pagi itu Medina mengenakan gamis berwarna coklat bunga-bunga dengan dipadukan hijab warna cream. Sedikit polesan bedak tipis dan lipglos. Membuatnya semakin terlihat lebih muda dari usianya.


"Kamu terlihat seperti gadis berusia 18 tahun, Honey" puji Daniel menarik pinggang Medina hingga tubuh keduanya saling menempel.


"Aahhh...benarkah. Terimakasih, sayang" Medina terkekeh lalu mencium kedua pipi Daniel.


"Jangan menggodaku...atau kita akan batal pulang. Ya ampun...rasanya aku tidak ingin membawamu pulang" Ucap Daniel disambut gelak tawa Medina.


"Ayo...aku sudah sangat lapar" Medina menarik tangan Daniel sebelum suaminya berbuat macam-macam.


"Hei....kau sengaja menghindari ku?" Daniel mengikuti Medina dari belakang kemudian keduanya tertawa lebar sambil melangkah keluar kamar.


"Apa kakak sudah mengabari mama jika hari ini kita pulang?" Tanya Medina disela menyantap sarapannya.


"Semalam aku mengabari kak Danu karena mama sudah tidur. Mungkin kakak yang akan memberitahu mama" Jawab Daniel.


Setelah keduanya selesai, Daniel meminta petugas Villa membawakan barang-barang mereka ke pesawat kecil ampibi yang akan mengantarkan mereka ke Bandara yang terletak dipulau lain. Dimana pesawat pribadi Daniel sudah bersiap menunggu.


****


Mama Safira yang sudah diberi kabar oleh Danu jika Medina dan Daniel akan pulang, memerintahkan semua pegawai dirumah untuk menyiapkan kamar Daniel dan memasak makanan yang disukai anak dan menantunya itu.


Mama Safira terlihat sangat antusias menyambut keduanya karena kerinduannya akan terbayar. Empat hari tidak bertemu anak dan menantunya serasa empat bulan.


Bahkan si kecil Syifa rela bolos sekolah demi menyambut papa dan mama Niel nya. Gadis kecil itu bahkan sudah menyiapkan kejutan kecil didalam kamar Daniel dengan bantuan bundanya.


Melihat kebahagiaan diwajah putri dan ibu mertuanya, Rani dan Danu juga ikut bahagia. Mereka merasakan kebahagiaan yang utuh sebagai keluarga.


"Medina benar-benar membawa perubahan dan kebahagiaan untuk keluarga kita" Ucap Rani dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu benar, sayang. Terima kasih atas semua pengertian mu" Danu menatap lekat wajah istrinya.


"Apa kamu tahu? sebelum Medina hadir ditengah-tengah keluarga kita, aku hampir putus asa dan menyalahkan diriku sendiri karena tidak mampu berbuat apa-apa saat keluarga ini terpuruk. Aku merasa tidak berguna....sampai Medina datang dan aku banyak belajar dari dia. Apapun yang mama dan putri kita lakukan kepada Medina, aku tidak akan pernah iri ataupun cemburu. Aku justru semakin ingin mendukung mereka, dan menikmati setiap momen kebahagiaan keluarga kita" Ucap Rani panjang lebar membuat Danu tersenyum penuh takjub.


"Terimakasih, Sayang" Danu menarik tubuh ramping istrinya kedalam dekapannya.


"Maafkan aku...jika selama ini aku belum bisa berbuat yang terbaik untuk keluarga ini. Tapi aku berjanji, jika ada orang jahat yang hendak mengganggu kebahagiaan keluarga kita, aku yang akan ada dibagian paling depan untuk melawannya" Ucap Rani sungguh-sungguh.


Danu tak dapat berkata-kata lagi. Ia sangat bahagia, istrinya semakin dewasa dan tidak mengambil kesimpulan tanpa berpikir panjang.


"Terimakasih kasih" Danu mencium dahi Rani dengan mesra.


"Aku semakin jatuh cinta padamu, Bunda Syifa" Goda Danu membuat Rani tertawa lebar.


"I love you too" Sahut Rani kembali memeluk suaminya.


****


Arif telah standby di bandara internasional Soekarno-Hatta untuk menjemput sahabat dan juga bosnya.


Karena ada beberapa dokumen penting yang memerlukan tanda tangan Daniel.


"Honey...tidak apa-apa kan jika kita mampir sebentar ke kantor?" Daniel menggandeng tangan Medina keluar dari pesawat setelah 5 jam berada diudara.


"Iya sayang" Medina mengelus lengan suaminya.


Keduanya telah keluar dari pintu bandara dan mencari sosok Arif yang sudah mengabari Daniel jika dirinya sudah menunggu.


"Kak...itu kak Arif" Medina menunjuk Arif yang berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri.

__ADS_1


Daniel dan Medina menghampiri Arif.


"Bos...apa kabar?" Tanya Arif ketika mereka sudah berhadapan.


"Med....apa kabar? Kamu tampak semakin berisi setelah bulan madu" Ucap Arif kepada Medina dan langsung mendapat tatapan tajam dari Daniel.


"Kau menjemput kami bukan untuk bergosip kan?" Ucap Daniel kesal.


"Bos...beberapa hari kita tidak bertemu, wajar jika aku menanyakan kabar kalian, kan?" Kilah Arif menahan tawanya.


"Ambil dan bawa barang-barangku, jangan sampai ada yang tertinggal. Aku dan Medina akan ke kantor lebih dulu" Titah Daniel sambil meninggalkan Arif yang tampak melongo.


"Bos...aku naik apa?" Teriak Arif.


"Terserah!" Daniel melambaikan tangannya tanpa menoleh.


"Sayang...kamu tidak boleh seperti itu. Kak Arif sudah rela menunggu kita dan menjemputmu untuk urusan pekerjaan" Medina tidak suka sikap suaminya.


"Dia akan mengganggu kita. Lagipula aku harus cepat ke kantor lalu pulang kerumah. Mama dan yang lainnya menunggu kita, Honey" Daniel menyalakan mesin mobil dan langsung tancap gas.


Sepanjang perjalanan Medina hanya terdiam. Ia masih merasa kesal dengan sikap suaminya dan merasa tidak enak hati dengan Arif.


"Jangan dipikirkan...kami sudah terbiasa seperti itu" Daniel mengusap kepala Medina.


Medina tidak merespon ucapan Daniel. Ia tetap diam seribu bahasa.


"Kakak tidak tahu, rasanya diperintah dan diacuhkan dalam waktu bersamaan. Meski seolah tidak apa-apa, tapi itu menyakitkan. Apalagi dilakukan oleh orang terdekat kita" Ucap Medina pelan namun masih terdengar oleh Daniel.


Trauma masa lalu seolah kembali mengingatkan Medina pahitnya menjalani hidup sebagai pesuruh. Hampir setiap harinya ia mendapat perlakuan seperti itu selama ia tinggal bersama kedua orangtuanya.


Mendengar ucapan istrinya, seketika Daniel menepi dan menghentikan laju mobilnya.


"Maafkan aku" Ucap Daniel menatap Medina yang terus menunduk.


Daniel menyadari sikapnya kepada Arif tidak pantas, tapi mereka sudah terbiasa. Tapi ia tidak tahu jika sikapnya akan membuat trauma istrinya kembali dan membuka luka lama Medina.


Medina mendongak menatap suaminya dan tersenyum tipis.


"Jangan lakukan itu lagi..." Ucap Medina pelan.


Daniel mengangguk dan kembali melajukan mobilnya menuju kantor.


****


Medina yang sedang menunggu suaminya menyelesaikan pekerjaannya, memilih menunggu disalah satu dikafe perkantoran yang berada lantai bawah gedung dengan ditemani oleh Karin, sekretaris Daniel.


Medina masih belum bisa bertemu Arif atas apa yang suaminya lakukan. Ia merasa Arif yang notabene adalah pria berpendidikan dan berasal dari keluarga menengah keatas, tidak pantas mendapatkan perlakuan seperti yang dulu pernah ia dapatkan.


Dirinya yang hanya lulusan SMP dan berasal dari keluarga kurang mampu, berusaha menerima semua perlakuan karena ia merasa sadar diri dengan semua kekurangan dan keterbatasannya.


"Sudah berapa lama, mbak Karin bekerja disini?" Tanya Medina membuka obrolan.


"Saya berkerja disini baru 3 tahun, mbak" Jawab Karin.


"Emmmhh...berarti mbak Karin tahu sikap suamiku kepada Kak Arif jika diluar kantor?" Tanya Medina penuh selidik.


"Maksud mbak Medina?" Karin yang merasa bingung justru balik bertanya.


"Maksudku...apa diluar pekerjaan suamiku selalu tegas dengan kalian?" Medina menatap Karin dengan harap.


"Apa suamiku pemimpin diktator yang selalu bersikap dingin kepada karyawannya?"


Karin yang mulai mengerti arah pembicaraan istri bosnya kini tersenyum lebar.


"Mbak Medina tidak perlu khawatir, Pak Daniel sosok pemimpin yang baik dan teladan bagi karyawan meskipun sangat tegas. Tapi beliau bisa menempatkan anatara dirinya dengan para karyawan. Dan jika diluar kantor kami seperti teman pada umumnya"

__ADS_1


Medina tersenyum lega mendengar ucapan Karin. Ia percaya suaminya tidak akan bertindak berlebihan kepada orang lain jika bukan dengan orang yang sangat dekat dengan dirinya juga keluarganya.


"Mbak Karin...terimakasih" Ucap Medina dan dibalas anggukan oleh Karin.


Sementara itu diruang kerja Daniel menghela nafasnya dengan berat membuat Arif yang bediri disampingnya menoleh ke arah Daniel.


"Hei...kalian baru saja pulang dari bulan madu. Ada apa dengan dirimu?" Tanya Arif sambil terkekeh.


Daniel telah menyelesaikan pekerjaannya dan menyandarkan kepalanya disandaran kursi kerjanya.


"Gara-gara sikapku, aku membuatnya bersedih" Daniel memejamkan matanya.


Arif yang sedang membereskan berkas diatas meja menghentikan aktifitasnya.


"Apa yang kau kau lakukan?" Tanya Arif penasaran.


"Kau harus ikut aku kebawah!!" Daniel menarik bahu Arif.


"Bos..." Pekik Arif kaget karena ia tidak siap ditarik oleh Daniel.


Sesampainya dikafe, Daniel langsung menuju meja medina dengan Arif mengekor dibelakangnya.


Sepanjang perjalanan mereka ke kafe, Daniel menceritakan tentang kejadian yang membuat Medina murung.


"Honey..." Panggil Daniel.


Medina dan Karin menoleh ke arah suara dan tersenyum. Ia melirik sekilas ke arah Arif lalu menatap kembali Daniel.


"Med....Daniel sudah menceritakan saat di bandara. Bagiku itu hal biasa dengan kami berdua. Aku juga sering meledeknya. Ya...sejak dulu kami seperti itu. Jangan terlalu diambil hati dan menyalahkan suamimu" Arif menatap Daniel yang juga menatapnya.


"Honey....maafkan aku" Daniel mengangkat dagu Istrinya yang sedari tadi menunduk. Manik keduanya bersitatap.


"Mungkin benar yang suamiku katakan, aku belum terbiasa dengan selera humor kalian. Aku hanya merasa, hari-hari di masa laluku seolah kembali" Medina kembali menunduk dengan butiran bening yang mulai mengalir.


Melihat istrinya yang telihat sangat bersedih, Daniel langsung memeluknya dengan erat.


"Maafkan aku....." Lirih Daniel setelah mencium kening Medina.


Arif hanya menatap pasangan itu dengan tersenyum. Sementara Karin yang sedari tadi mengobrol dengan Medina kini tahu bahwa percakapan dirinya dan Medina berkaitan dengan apa yang terjadi di Bandara.


"Dia bahkan sangat mempedulikan sikap suaminya kepada banyak orang" Gumam Karin dalam hati.


"Ya ampun...beginilah nasib jomblo. Kalian tidak merasa kasihan padaku dan Karin?" Celetuk Arif karena keduanya terlalu lama berpelukkan.


"Aku?" Karin menatap Arif bingung. Kenapa namanya dibawa2.


"Hei...aku tidak jomblo seperti dirimu. Aku punya kekasih" Ketus Karin kepada Arif yang berdiri di sampingnya.


Daniel dan Medina menoleh dan menatap Arif dan Karin kemudian keduanya tergelak kencang.


"Cepatlah cari jodoh kalian dan menikahlah. Atau kalian bisa menjalin hubungan lalu menikah" Ledek Daniel diiringi tawa ketiganya.


Daniel yang telah menyelesaikan pekerjaannya langsung berpamitan kepada Arif dan Karin pulang kerumah karena mama Safira dan yang lainnya sudah menunggu dengan tidak sabar.


Terlihat dari beberapa kali panggilan masuk dari Mama Safira sepanjang mereka berada diperjalanan.


Rasa rindu kepada orang yang sangat kita sayangi kadang memang membuat gelisah dan khawatir secara berlebihan. Tapi begitulah manusia mengekspresikan rasa cinta dan rindu yang tulus dari hati yang terdalam.


_


_


_**TBC


_

__ADS_1


_Terima kasih semuanya๐Ÿ’–๐Ÿ’๐Ÿค—**


__ADS_2