
Daniel terus memandangi istrinya tanpa berkedip. Sesekali ia menoleh arlojinya. Pukul 16.00 wib saat ini. Ia merasa waktu berjalan begitu sangat lambat. Padahal ia ingin segera mengakhiri acara ini dan segera pergi membawa istrinya ke hotel.
"Kenapa?" Tanya Danu saat memergoki Daniel terus menoleh arlojinya.
"Sampai kapan kita disini? Kita tidak menerima tamu bukan?" Daniel justru balik bertanya.
"Kita sudah membayar mahal restoran ini. Jadi nikmati acaramu, kid" Jawab Danu enteng.
Bahkan bibir Danu menyeringai tanpa sepengetahuan Daniel.
Daniel berdecak kesal. Dan akhirnya ia berjalan ke sebuah Buffett makanan untuk menyantap hidangan.
Medina melihat itu dan menghampiri Daniel.
"Kakak mau makan apa? Biar Medina ambilkan" Ucap Medina tanpa menoleh Daniel. Ia berjalan untuk mengambil piring.
Senyum Daniel mengembang. Ia mendekati Medina yang sedang mengambil makanan.
"Jangan sungkan, sekarang aku istrimu. Mulai saat ini, dengan senang hati Medina akan menyiapkan semua kebutuhan kakak" Medina menatap Daniel yang kini sudah berada dihadapannya.
Entah mengapa ucapan istrinya itu seolah menjadi angin segar untuk Daniel. Dan membawa ide brilian dikepalanya.
"Benarkah?" Daniel mendekatkan wajahnya.
Medina mengangguk.
Tanpa berpikir panjang, Daniel menarik tangan Medina menuruni anak tangga yang tidak jauh dari sana. Tidak ada yang menyadari jika mereka sekarang sudah turun ke lantai satu dan kini sudah berada didalam mobil.
"Kita mau kemana?" Tanya Medina ditengah perjalanan. Ia tahu mobil yang ditumpangi nya bukan mengarah pulang ke rumah mama Safira.
"Apa kita akan ke apartemen?"
Daniel menoleh dan hanya tersenyum.
"Kak..kita bahkan tidak pamit sama mama dan semuanya"
"Itu sungguh tidak sopand" Kesal Medina.
Daniel tidak bergeming. Ia hanya tersenyum dan semakin gemas dengan wajah kesal istrinya.
Daniel memperhatikan bibir pink milik istrinya yang sedang cemberut. Naluriahnya kini seolah sedang mengobrak-abrik pertahanan Daniel. Daniel menelan ludahnya dengan susah payah. Menahan diri untuk tidak menyerang bibir istrinya didalam mobil.
"Hotel?" Medina menoleh Daniel saat tahu mobil suaminya memasuki loby Hotel.
Daniel mematikan mesin mobilnya lalu mencondongkan tubuhnya ke samping. Merapatkan jarak tubuhnya dengan tubuh istrinya. Hingga wajah keduanya saling berhadapan sangat dekat.
__ADS_1
"Honey..kamu yang bilang mulai saat ini akan memenuhi tugasmu sebagai seorang istri, bukan???"
Hembusan nafas hangat dan aroma parfum Daniel membuat Medina panas dingin. Medina menunduk tersipu malu. Ia sedikit menyesal sudah mengucapkan kata-kata itu sebelumnya. Hingga Daniel menjadikannya bahan ledekan untuk terus menggodanya.
"Pakai ini dulu" Daniel memakaikan masker untuk Medina setelah dirinya.
Medina mengernyit bingung. Namun setelah sekian detik Medina langsung paham tujuan Daniel. Meski hatinya sedikit kecewa, namun untuk saat ini ia menerimanya demi kebaikan dirinya dan keluarga suaminya.
Daniel dan Medina sudah keluar dari mobil dan berjalan bergandengan menuju meja resepsionis. Seorang petugas hotel mengantarkan mereka hingga ke dalam kamar.
Petugas hotel meninggalkan mereka setelah meletakkan koper disamping ranjang.
Medina terkesiap melihat suasana kamar yang sangat besar. Kamar yang sudah didesain untuk pasangan pengantin baru.
"Kamu suka, Honey?" Bisik Daniel saat dirinya memeluk Medina dari belakang.
Medina terkejut dan tidak siap dengan pelukan Daniel yang tiba-tiba. Jantungnya berdetak cepat hingga membuat tubuhnya gemetar.
Medina memejamkan matanya. Indra penciumannya justru menikmati aroma tubuh Daniel. Hingga ia tidak sadar sudah menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
Daniel tersenyum melihat respon baik dari istrinya. Ia semakin mengeratkan pelukannya dan menghujani kecupan dipundak dan kepala Istrinya.
Daniel membalikkan tubuh istrinya. Medina tampak menunduk malu. Tangan Daniel terangkat menggapai dagu istrinya. Kini tatapan mereka bertemu. Tatapan yang sangat dalam dan penuh gairah.
CUP.
Daniel mengecup bibir pink Medina. Daniel melepas kecupan singkatnya. Ia menatap Medina lagi karena khawatir Medina merasa tidak nyaman atau justru takut. Namun pikiran Daniel meleset. Ia justru mendapati istrinya yang masih memejamkan mata. Menikmati kecupan bibir yang merupakan kecupan pertama seumur hidupnya.
Daniel menyeringai.
Kali ini Daniel menangkup kedua pipi istrinya. Dan kembali menyatukan bibirnya dengan bibir Medina. Meski belum membalas ciuman Daniel, namun Daniel tahu jika istrinya mendamba pagutan itu.
Tanpa sadar Medina sudah melingkarkan kedua tangannya dileher Daniel. Dan itu semakin membuat Daniel bergairah. Kini ciuman berubah ******* yang panas. Daniel mendobrak bibir Medina hingga membuka mulutnya dan terdengar suara lenguhan dari mulut Medina.
Tubuh Medina hampir lemas namun tangan Daniel dengan sigap menahan pinggangnya.
Merasa oksigen menipis, Daniel menyudahi ciumannya. Nafas mereka memburu akibat ciuman panjang yang mengikis udara.
Hanya ciuman, namun membuat keduanya melayang
Daniel menatap Medina penuh cinta. Dan Medina membalas tatapan itu dengan wajah malu yang merona.
Medina menempelkan keningnya pada kening Daniel. Bahkan hidung keduanya saling beradu. Daniel sangat menikmati moment intim dirinya dengan Medina.
"Kak..." Panggil Medina lembut. Suaranya terdengar seperti rayuan ditelinga Daniel.
__ADS_1
"Hemm" Daniel mengeratkan dekapannya.
Kepala Medina kini menyandar diceruk leher Daniel.
"Maaf...Medina masih itu__" Medina merasa malu untuk melanjutkan ucapannya.
Medina menengadah menatap Daniel.
"kakak masih ingat bukan?" lanjutnya.
"ingat apa?" Jawab Daniel bohong. Sebenarnya ia ingat tapi ia ingin menggoda istrinya.
Medina melihat Daniel dengan tatapan kesal. Ia tahu suaminya berbohong.
"Iihhh...jangan pura-pura lupa ya?" Ucap Medina kesal. Ia mendaratkan cubitan kecil di lengan Daniel.
"awww!!! Honey..itu sakit" Daniel kembali berpura-pura mengaduh kesakitan padahal cubitan istrinya hanya mengenai sedikit kulitnya.
"makanya jangan pura-pura lupa"
"Aku ingat honey. Aku yang memborong pembalut dan celana dalam untukmu. Mana mungkin aku lupa" Ucap Daniel yang masih memeluk Medina.
"Astaghfirullah..." Medina mendorong tubuh Daniel hingga pelukan mereka terlepas.
"Ada apa?" Tanya Daniel kebingungan.
Alih-alih menjawab Daniel, Medina justru menoleh kanan dan kirinya sambil memegangi kepala. Ia baru menyadari bahwa dirinya tidak membawa sehelai baju dan peralatan lainnya. Kecuali yang ia pakai.
Medina terduduk ditepi ranjang. Ia sungguh tidak ingin membuat suaminya kembali belanja pembalut dan membuatnya kecewa, pikirnya. Daniel hanya tersenyum menangkap sikap Medina.
"Hei...tenang. Aku sudah menyiapkan semuanya, Honey" bisik Daniel.
Medina mendongak menatap suaminya.
"hah?"
Daniel memberi isyarat mata pada Medina. Menunjukkan satu koper yang teronggok disamping ranjang.
Daniel mengambil koper dan membukanya.
Medina terkesiap melihat isi koper yang ternyata adalah barang-barang milik suaminya dan juga kebutuhannya. Medina menutup mulut tidak percaya. Sebegitu perhatian nya Daniel pada dirinya. Hingga semuanya sudah ia persiapkan sedetail ini.
Medina menghambur memeluk Daniel. Ia sangat bahagia dicintai oleh laki-laki yang sangat peka dan perhatian. Dan sebagai bentuk cinta dan terimakasih nya, Ia mencium bibir Daniel lebih dulu. Dalam benaknya, ia tidak ingin membuat suaminya kecewa. Daniel yang terkejut dengan aksi spontan istrinya justru menyambut pagutan bibir istrinya tanpa ampun.
Sore yang indah untuk dua sejoli yang sedang dimabuk cinta dalam ikatan halal.
__ADS_1