
Medina terduduk lemas setelah mendengar kenyataan tentang dirinya yang selama ini tidak ia ketahui.
Ia juga bingung harus melakukan apa dan bagaimana. Yang saat ini dibenaknya hanyalah bagaimana sikap keluarga suaminya setelah mendengar kenyataan tentang dirinya.
"Mama..." lirih Medina pelan. Ia sangat mengkhawatirkan kondisi ibu mertuanya saat kenyataan ini diketahui olehnya.
Medina memejamkan matanya dan mengambil nafas dalam dan panjang. Melantun istighfar berulang-ulang dalam hatinya agar hatinya lebih tenang dalam menerima kenyataan yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan.
"Bapak...Ibu...kalianlah orangtuaku. Medina tidak akan melupakan kalian" Ucap Medina lirih.
Daniel melihat istrinya dengan kondisi seperti itu sungguh sangat tidak tega. Ia kemudian menelpon Raihan untuk datang ke bandara dan menjadwal ulang penerbangan nya. Karena tidak mungkin untuk membawa istrinya pulang dengan kondisinya sekarang.
Sementara itu, Bidan Nurul sudah pergi meninggalkan mereka karena harus memenuhi tugasnya yang belum selesai.
"Honey..minumlah dulu" Daniel menyodorkan botol air mineral kepada istrinya.
Medina menggeleng. Air matanya masih mengalir dari kedua maniknya yang jernih.
Daniel menghela nafasnya berat. Sungguh hatinya tidak bisa menahan sakit melihat wanita yang dicintainya sangat terpukul.
"Bos...ada telepon dari Pak Danu" Daniel mendongak menatap Raihan yang menyodorkan ponselnya. Fokus dengan isterinya, ia sampai lupa mengabari keluarganya.
"Halo..kak" Sapa Daniel saat ponsel Raihan berada digenggamnya.
"Tuan Daniel, kamu akan kena sanksi jika terlalu lama mengambil cuti bekerja"
Terdengar kekehan suara Danu diseberang telepon sementara Daniel masih diam mematung.
"Daniel...kamu disana?"
"Ada masalah disini. Sepertinya kami tidak bisa kembali kerumah hari ini. Sampaikan maafku untuk mama. Karena sudah membuatnya menunggu dan khawatir" Daneil menatap Medina yang duduk mematung dengan tatapan kosong.
"Ceritakan padaku ada apa?"
"Aku akan menelpon kakak setelah sampai dihotel. Medina sedang dalam kondisi tidak baik. Aku harus menemaninya"
"Hei...apa kau terus membuatnya kelelahan?"
Daniel kembali diam tidak menjawab candaan kakaknya. Membuat Danu berpikir jika memang adiknya sedang dalam masalah dan dia akan menunggu sampai Daniel menceritakan semuanya.
"Kabari aku segera, oke?!" Pinta Danu sebelum menutup teleponnya.
Daniel berjalan mendekati Medina yang masih duduk melamun. Ia memberikan ponselnya kepada Raihan dan memerintahkan Raihan untuk mencari hotel untuknya.
"Bos tidak jadi pulang hari ini?" Tanya Raihan.
"Aku tidak mau pulang" potong Medina cepat bahkan Daniel yang hampir mengeluarkan suara pun tertahan karena ucapan yang keluar dari bibir istrinya.
"Honey..." Daniel berjongkok dihadapan Medina.
"Medina yang berada dihadapan kakak bukanlah Medina gadis kampung yang polos. Medina yang ini entah dari mana asalnya. Bahkan kedua orang tuanya pun tidak jelas keberadaannya" Medina kembali terisak.
"Honey...apa yang kamu katakan?"
__ADS_1
"Aku anak yang tidak jelas asal-usulnya, orangtuanya, keluarganya. Bagaimana keluarga kakak akan menerima Medina seperti sekarang" Lirih Medina.
"Honey...pikiranmu terlalu jauh. Keluargaku akan tetap menerima dirimu. Mama, Kak Danu, Rani dan juga Syifa akan tetap menyayangimu seperti sebelumnya. Tidak akan ada yang berubah" Ucap Daniel penuh perasaan.
Medina menggeleng cepat dengan air mata yang terus bercucuran.
"Apa yang akan orang-orang katakan pada kalian. Mengambil seorang perempuan untuk dijadikan bagian dari keluarga tapi dari keluarga yang tidak jelas"
"Mama... bagaimana jika semuanya membuat mama kembali sakit dan___" Medina tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Hatinya terasa sakit hanya dengan membayangkan kondisi mama mertuanya jika sampai mengetahui kenyataan dirinya.
"Aku akan memberi tahu mama pelan-pelan. Tidak akan terjadi apa-apa dengan mama. Mama akan kuat, jika kamu terus berada disampingnya" Ucap Daniel lagi.
Daniel terus membujuk istrinya agar tidak memiliki pikiran-pikiran yang terlalu jauh. karena itu akan membuat dirinya semakin jatuh dalam kesedihannya.
"Honey lihat aku..." Daniel mengangkat dagu istrinya. Manik keduanya bertemu.
"Tidak akan ada yang berubah dariku dan keluarga ku. Aku tetap mencintaimu dan menyayangi mu, sekarang, nanti dan selamanya" Ucap Daniel bersungguh-sungguh.
"Aku berjanji padamu, aku akan menemani mu menemukan orang tuamu. Kita akan mencari keluargamu bersama-sama. Kamu percaya padaku, Honey?" Lanjutnya dengan tatapan sendu.
"Aku tidak mau mencari dan bertemu mereka" Ucap Medina penuh penekanan. Sorot matanya mengisyaratkan amarah kepada kedua orangtua kandungnya yang tega membuang dirinya.
"Lalu kamu akan membiarkan mereka hidup dengan mudah tanpa rasa bersalah karena sudah membuang anak perempuan mereka yang cantik ini?" Tegas Daniel.
Medina menggeleng cepat. Membuat Daniel tersenyum tipis. Ia berhasil membuat istrinya bangkit.
"Bagus...setidaknya kita perlu banyak energi untuk membuat mereka menjadi orang yang menyadari kesalahan besarnya" Ucap Daniel lagi seraya merangkum wajah istrinya.
"Tapi..."
Mereka berdua akhirnya beranjak pergi dari bandara menuju hotel yang sudah dibooking Raihan.
****
Danu yang sedang berada dikantor Daniel terlihat sedikit gelisah setelah menutup teleponnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi disana?" Tanyanya pada diri sendiri.
Kemudian tangannya kembali bergerak menyentuh layar ponselnya karena ada panggilan masuk.
"Sayang...Mama pingsan" Info Rani dengan suara gemetar.
Tanpa menjawab Danu memutuskan sambungan telepon dan berlari keluar dari ruangan Daniel.
Diluar ruangan ia berpapasan dengan Arif dan Karin yang akan menemuinya.
"Pak...Ada apa?" Tanya Arif yang melihat bosnya terburu-buru.
"Mama pingsan...aku harus pulang sekarang. Batalkan semua jadwal hari ini" Titah Danu tanpa menoleh kearah mereka.
"Pak..tunggu" Arif kemudian menyusul Danu hingga ke lift khusus.
"Biar saya yang menyetir, pak" Arif mengambil kunci mobil yang ada ditangan Danu. Ia khawatir jika bosnya menyetir sendiri dalam kondisi panik akan sangat berbahaya.
__ADS_1
Danu mengangguk dan mengikuti Arif hingga ke parkiran.
"Sebenarnya apa yang terjadi, kak?" Tanya Arif saat mereka sudah didalam perjalanan ke rumah Danu.
Danu menoleh Arif dan menggeleng cemas.
"Aku tidak tahu, Rif. Seharusnya mereka sudah kembali tapi terjadi masalah dan mereka menunda kepulangannya karena kondisi Medina yang tidak baik" Jelas Danu dengan pandangan fokus kedepan.
"Sepertinya bukan masalah biasa. Daniel tidak mungkin memutuskan sesuatu jika kondisinya benar-benar urgent" Lanjut Danu.
"Apa Tante Safira___??"
"Daniel belum menjelaskan apapun...jadi aku belum mengatakan apapun kepada mama" Potong Danu seolah tahu arah pembicaraan Arif.
Kondisi lalulintas hari ini lumayan lancar..sehingga mereka sampai dirumah dengan cepat.
Danu langsung melompat turun dari mobil meski mobil belum berhenti dengan sempurna. Ia berlari masuk kedalam rumah meninggalkan Arif yang masih memarkirkan mobil.
"Ma..." Pekik Danu saat masuk kedalam kamar mamanya.
Mama Safira tergolek lemah diatas ranjang dengan seorang perawat yang sedang memasang jarum infus ditangannya.
"Sayang..." Rani menghampiri suaminya dan memeluknya.
"Bagaimana kondisi mama?" Tanya Danu cemas.
"Dokter bilang, mama terlalu banyak pikiran dan kurang cairan. Makanya dokter menyarankan untuk memasang infus" Jelas Rani.
Setelah perawat itu selesai dan meninggalkan kamar, barulah Danu mendekati sang mama dan duduk disisi ranjangnya.
"Ma..." Lirih Danu.
Mama Safira yang mendengar suara putranya lalu membuka matanya perlahan.
"Medina belum pulang?" Tanya mama saat maniknya menatap manik Danu.
"Belum"
"Mama mengkhawatirkannya?" Tanya Danu saat melihat wajah sendu mamanya.
"Mama merasa sesuatu telah terjadi padanya" Ucap Mama dengan suara yang sangat pelan. Air matanya bahkan sudah mengalir deras.
"Ada Daniel bersama Medina, Ma. Menantu kesayangan mama pasti akan baik-baik saja. Jangan terlalu mengkhawatirkannya. Ingat kondisi mama sekarang" Ucap Danu menenangkan perasaan mamanya.
"Aku akan menelpon Daniel" Danu beranjak keluar dari sang mama dan meminta perawat untuk menjaganya.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" Todong Rani saat melihat suaminya keluar dari kamar sang mama.
Rani membawa nampan berisi makanan untuk mama mertuanya.
"Daniel bilang terjadi masalah disana. Tapi dia belum mengatakan apa masalah yang mereka hadapi" Danu menarik nafas dalam.
"Aku akan menghubunginya" Danu berjalan ke taman belakang.
__ADS_1
"Semoga tidak terjadi apa-apa dengan mereka" Gumam Rani dalam hati.