
Daniel dan Medina sedang menyantap sarapan pagi didalam kamar hotel. Kondisi Medina yang terlihat lemah membuat Daniel memutuskan untuk meminta pelayan mengantar makanan ke dalam kamar. Bahkan semalam Medina hampir tidak tidur dan membuat Daniel frustasi mengingat kondisi Medina yang sedang mengandung anak mereka.
"Habiskan sarapanmu." Ucap Daniel saat melihat istrinya mulai tidak berselera menyantap sarapannya.
"Aku sudah kenyang." Medina meletakkan sendok dan menyeka bibirnya dengan tisu.
"Baiklah....aku akan mengambilkan vitamin." Daniel beranjak dari kursinya.
"Bisakah kita pergi sekarang?" Medina mendongak saat Daniel kembali untuk memberikan vitamin ibu hamil kepada Medina.
"Minum ini dan kita akan bersiap-siap." Daniel memberikan obat dan air minum.
Setelah selesai dengan sarapan, keduanya keluar dari kamar. Daniel sudah menghubungi Fian, jika mereka akan segera ke Rumah Sakit.
"Selamat pagi, Tuan dan Nona." Seorang berpakaian serba hitam menghampiri Daniel dan Medina saat mereka sudah turun ke lobby hotel.
"Saya ditugaskan Tuan Fian untuk menjemput anda. Mari ikut saya." Lanjut pria itu.
Pria berpakaian hitam berjalan didepan lalu diikuti Daniel dan Medina keluar lobby. Disana sudah terparkir tiga mobil berderet dengan masing-masing pengendara. Semuanya berpakaian serba hitam dan tubuh kekar.
"Silahkan Tuan, Nona." Pria tadi membukakan pintu mobil yang terparkir ditengah. Berbeda dengan mbobil yang berada didepan dan belakang mobil yang akan mereka naiki. Daniel melihat sekeliling, lalu mengangguk kepalanya kepada Medina agar istrinya masuk lebih dulu.
Mobil berjalan pelan setelah keduanya duduk dikursi penumpang menuju Rumah Sakit.
Tidak perlu melakukan perjalanan panjang, karena gedung Rumah Sakit hanya terhalang beberapa gedung saja.
"Silahkan Tuan dan Nona." Pengawal membuka kan pintu mobil sudah berada dilobby rumah sakit.
"Kamu siap, Honey." Daniel paham apa yang dirasakan istrinya.
"Jangan jauh-jauh dariku." pinta Medina sebelum turun.
"Aku akan selalu mendampingi mu." Daniel mencium kening Medina lalu keduanya turun dari mobil dan berjalan masuk ke Rumah sakit.
Sementara itu Fian yang sudah menunggu kedatangan Daniel Medina dilobby Rumah Sakit langsung beranjak dari duduknya saat melihat mobil yang sangat dikenalinya.
"Kalian sudah datang." Sapa Fian saat jarak mereka dekat.
"Iya," Medina mencoba menenangkan dirinya.
"Ayo masuk. Ibu sudah menunggu kalian." Ucap Fian lagi membuat Medina yang sudah melangkahkan kakinya harus berhenti seketika setelah mendengar perkataan Fian.
Fian dan Daniel ikut berhenti mengayunkan langkah mereka. Keduanya menatap Medina yang terdiam.
"Apa kamu belum siap?" Tanya Fian membuat Medina mengangkat wajahnya.
"Aku tidak akan memaksamu jika...."
"Aku sudah siap." Potong Medina dengan cepat.
__ADS_1
Daniel dan Fian saling pandang dan tersenyum samar. Tidak ingin membuat Medina merasa tidak enak dengan respon keduanya, Fian lalu mengajak Medina untuk segera bertemu dengan kedua orangtuanya.
"Ayo masuk." Ajak Fian yang terlihat sudah tidak sabar mempertemukan adik dan ibunya.
"Apa ibu Melani tahu jika aku akan datang?" Tanya Medina.
Fian tersenyum penuh arti. Lalu ia mengulurkan tangannya mengusap kepala Medina yang tertutup hijab.
"Entah mengapa aku merasa jika saat ini mereka lebih membutuhkanmu dari pada kehadiran ku. Maka aku mengabari Daniel dan meminta kalian datang segera." Ucap Fian.
"Honey..." Daniel membawa tangan Medina ke bibirnya yang sejak tadi digenggamnya. Mengecupnya dengan intens.
Ketiganya lalu beranjak menuju ruangan tempat pak Sanjaya dirawat yang berada dilantai 6.
"Ibu pasti ada didalam." Ucpa Fian saat tidak mendapati ibu Melani di ruang tunggu diluar kamar.
"Masuklah." Fian sudah memegang knop pintu kamar saat mereka telah sampai disana.
"Assalamu'alaikum." Fian membuka lebar pintu.
"Wa'alaikum sa...." Jawaban kedua orang yang berasal didalam kamar terhenti tatkala maniknya melihat Medina disamping Fian.
"Medina..." Pekik ibu Melani terkejut. Beliau sampai tidak sadar telah menumpahkan isi makanan yang berada ditangannya. Karena posisinya saat ini sedang menyuapi makan Pak Sanjaya.
Sementara itu Pak Sanjaya juga tidak kalah terkejutnya. Melihat sosok yang sangat dirindukannya beberapa Minggu belakangan.
"Kalian...??" Medina menyadari yang sebenarnya terjadi. Ia membalik badan dan hendak keluar dari ruangan. Ia ingin menangis karena merasa sudah dibohongi dengn alasan konyol.
"Maafkan aku harus membohongimu untuk bisa datang kemari." Suara Fian membuat Medina semakin tidak bisa menahan airmatanya. Tega sekali mereka membohongi dirinya
"Semua ini hanya lelucon untuk membodohiku?" Medina mulai menangis karena merasa sudah dibohongi keluarganya terlebih suaminya ikut andil.
Pandangannya beralih pada sosok pria yang berdiri dibelakangnya. Siapa lagi jika bukan Daniel suaminya.
"Hon...." Panggil Daniel saat mendapatkan tatapan tajam dari sang istri.
"Ini semua ideku. Jangan marah pada suamimu." Fian menarik pelan tangan Medina. Keduanya berjalan menghampiri Pak Sanjaya dan Ibu Melani.
"Ayah dan ibu sangat merindukanmu, hingga dia sakit seperti ini. Memang tidak seserius yang aku katakan ditelepon. Tapi tetap saja harus mendapat perawatan. Maafkan aku." Ucap Fian yang tidak mempedulikan Medina yang sempat memberontak. Karena ia tahu jika sebenernya Medina juga mendambakan pertemuan ini.
"Jadi...." Ibu Melani kini paham apa yang sebenarnya terjadi. Ia sempat bahagia karena kedatangan Medina, tapi saat mengetahui jika Fian merencanakan semuanya dan melihat reaksi putrinya, wajahnya seketika terlihat sendu.
"Maafkan Fian...Ayah...ibu..." Fian menyadari raut wajah ibunya.
Sesaat suasana menjadi hening. Tidak ada satupun yang memulai bicara.
"Jika tidak ada yang hal lain. Saya pamit." Medina mulai merasa tidak nyaman dan hendak berdiri.
"Maaf menganggu waktu istirahatnya" Medina tidak sanggup menatap wajah Ibu Melani dan Pak Sanjaya karena ia didera rasa gugup. Meski ia sangat ingin memeluk keduanya.
__ADS_1
"Sayang....maafkan Ayah dan Ibu." Suara Ibu Melani menghentikan langkah Medina.
"Semua kesalahan ibu. Kamu punya hak untuk marah dan mengabaikan kami." Suara ibu Melani bergetar.
"Tidak Bu....Kejadian di masa lalu semuanya adalah kesalahan ku." Sela pak Sanjaya..
"Seandainya aku lebih mendengarkan kamu waktu itu. Pastinya putri kita tidak akan pernah berpisah dengan kita."
"Honey....berikan mereka kesempatan untuk menjelaskan." Ucap Daniel menimpali. Ia tahu apa yang dirasakan istrinya bahkan beberapa hari belakangan istrinya terlihat sering melamun.
Ibu Melani beranjak dari duduknya dan menghampiri Medina. "Maafkan ibu dan ayah. Kesalahan kami sangat tidak bisa dimaafkan. Tapi tolong jangan pergi seperti ini. Ibu tidak mau sampai terjadi sesuatu pada kehamilan mu." Ibu Melani berdiri dihadapan Medina dan menyentuh tangan Medina.
Melihat ibu Melani berdiri dihadapannya dengan berurai air mata membuat Medina semakin merasa bersalah dengan sikapnya. Ia menyadari jika hormon ibu hamil membuatnya kadang tidak bisa mengontrol emosi. Seperti yang saat ini dirasakan Medina.
Padahal niatnya datang ke kota B adalah untuk bertemu dengan kedua orang tuanya dan meluruskan semua yang pernah terjadi dimasa lalu.
Mengingat itu membuat Medina tak kuasa menahan air matanya. Sungguh niatnya tidak bersikap seperti sekarang ini. Ia datang dan ingin memeluk orangtua kandungnya. Karena hatinya sudah lama memaafkan.
"Maafkan Medina ibu. Medina sangat merindukan ibu." Medina memeluk ibu Melani dengan suara tangisnya yang menggema di ruangan. Membuat tubuh wanita paruh baya itu bergeming. Hanya airmata yang mewakili perasaan mereka.
Ketiga pria yang berada disana melihat pemandangan itu dengan wajah bahagia dan penuh haru.
"Ibu juga sangat merindukan putri cantik ibu." Ibu Melani menangkup wajah Meidna dengan kedua tangannya. Lalu memberikan ciuman bertubi-tubi pada wajah putri yang selama ini ia nantikan.
"Apa kalian tidak akan membagi kebahagiaan kalian padaku?" Suara Ayah Sanjaya membuat dua wanita beda usia menoleh dan tersenyum.
Keduanya melangkah menghampiri Ayah Sanjaya. Saat jarak mereka sangat dekat, ketiganya berpelukan dengan suara tangis bahagia.
"Putri Ayah." Ayah Sanjaya mencium kepala Medina dengan berurai air mata.
Fian yang melihat Ayahnya menangis tak kuasa untuk tak melewatkan moment kebahagiaan itu. Fian ikut merengkuh tubuh ketiganya dan mengeluarkan ponselnya dan mengarahkan kamera.
Satu jepretan kamera berhasil Fian ambil dengan posisi mereka yang berpelukan. Fian tersenyum dengan manik berkaca-kaca. Ia sangat menantikan momen hari ini sejak mengetahui Medina adalah putri kandung kedua orang tua yang sudah menjadi orangtuanya selama ini.
"Apa aku boleh bergabung?" Daniel tidak tahan hanya jadi penonton dengan moment bahagia keluarga istrinya.
"Sayang...." Medina tersenyum dan mengulurkan tangannya.
Tingkah Daniel sontak membuat semua orang tertawa. Mereka berpelukan dengan erat dan tersenyum bahagia. "Terimakasih." Ucap pelan Ayah Sanjaya kepada Daniel dan sang menantu hanya membalasnya dengan senyuman.
_
_
_
_
_Alhamdulillah, bisa update bab ini. Jujur saya didera kebuntuan untuk hanya menyelesaikan bab ini. sampai harus puluhan kali membaca dan mengedit ulang. Terimakasih kepada readers yang Mash setia dengan karyaku. mohon maaf jika belum bisa memberikan kepuasan untuk para pembaca semuanya. 🙏🏻🙏🏻😊❤️
__ADS_1