
Malam yang dinanti pun tiba.
Suasana Ballroom hotel semakin tampak ramai. Para tamu undangan sudah mulai berdatangan, termasuk keluarga Pakde Radiman.
"Wooooowww...." Mulut keluarga pakde Radiman tidak berhenti berdecak kagum dengan dekorasi ruangan yang sangat tampak mewah.
"Seperti pernikahan dalam novel-novel" Gumam Salsa.
"Nasib gadis itu sangat beruntung pak" Ucap Bude Tatik kepada suaminya.
Mereka sangat menikmati suasana disana. Dengan berkeliling area ballroom yang belum padat dengan para undangan.
Sementara itu, diruangan lain, Medina tampak sangat cantik dan anggun Dengan balutan gaun pengantin hasil rancangan Suami dan ibu Mertuanya.
Gaun berwarna ungu dengan hiasan mutiara di kedua sisi lengan dan dada juga bagian bawah gaun.
Medina menatap pantulan dirinya didalam cermin. Wajah cantik yang biasa tampak polos tanpa make up, kini terlihat semakin cantik dengan riasan natural yang menampilkan usianya.
Diatas kepalanya yang tertutup hijab senada dengan gaunnya, bertengger Tiara yang berkilau indah. Semakin membuat tampilan pangantin sangatlah sempurna.
Dan kalung peninggalan ibu kandung Medina tidak ketinggalan menghiasai leher Medina yang tertutup hijab.
Daniel dan Medina merencanakan sesuatu dengan sengaja menyuruh istrinya memakai kalung itu diluar gaunnya.
Daniel berharap ada seseorang yang mengenali kalung itu ketika Medina memakainya.
"Kamu sangat cantik sayang" Puji mama Safira yang berada disamping Medina.
"Terimakasih, Mama juga sangat cantik" Medina menggenggam kedua tangan mma Safira dengan senyum bahagia.
"Terimakasih karena sudah menerima Medina" Ucap Medina dengan mata berkaca-kaca. Rasa haru yang menyelimutinya tak mampu ia bendung. Terlebih jika mengingat kedua ibu dan bapak yang telah tiada.
"Tolong jaga putraku dan jangan pernah meninggalkan nya meski apapun yang terjadi dalam rumah tangga kalian. Karena mama sangat tahu...jika putraku sangat mencintaimu" Ucap mama Safira lembut dan penuh haru.
"Medina akan berusaha mama. Dan jika Medina lalai dalam memenuhi permintaan mama, tolong tegur Medina" Medina memeluk mama Safira.
Keduanya larut dalam rasa bahagia dan juga haru. Tante Latifah dan Rani yang hendak masuk keruangan untuk memanggil mereka pun turut dalam perasaan yang sama.
"Seumur hidupku selama mengenal Kak Fira, aku tidak pernah melihatnya sebahagia hari ini" Ucap Tante Latifah yang mendapat anggukan dari Rani.
"Aaahhh...aku harus memberi Medina hadiah yang sangat cantik" Tante Latifah menghampiri Medina dan Mama Safira yang masih berpelukan.
"Kalian akan berpelukan sampai semua tamu bubar?" Suara Tante Latifah membuat kedua Ibu dan menantu itu tersenyum.
"Saatnya pengantin keluar"
Daniel yang sedari tadi pagi tidak diberi kesempatan bertemu bahkan mereka tidak memberi ijin Daniel untuk mendengar suara istrinya dari ponselnya, merasa gelisah karena sampai detik terakhir saat mereka harus disandingkan dipelaminan, Medina belum juga muncul.
Hingga ia meminta kak Danu, Gio, Arif dan juga Raihan untuk membawa istrinya. Namun semuanya tidak berhasil karena ruangan tempat Medina berrias dijaga ketat oleh kerabat yang tentu saja atas perintah Tante Latifah dan Mama Safira.
"Bahkan aku tidak bisa menghubungi istriku sendiri" Gerutu Daniel yang sudah tampan dengan tuxedo berwarna hitam dengan aksen dasi kupu-kupu.
"Kalian baru tidak bertemu selama beberapa jam saja. Kenapa kau sangat gelisah seolah tidak bertemu dengannya bertahun-tahun?" Ejek Gio sambil menahan senyumnya.
"Hei...itu karena kau belum mengalaminya. Saat kau menikah nanti, kau akan merasakan apa yang aku rasakan" Ucap Daniel dengan tatapan tajam.
"Ohooooo....kau berubah menjadi pria bucin. bos" Ledek Arif.
"Kau jomblo tulen....mana tahu rasanya bucin" Sahut Daniel yang semakin kesal karena terus dikerjai sepupu dan sahabatnya.
Saat mereka sibuk menggoda pengantin pria, tiba-tiba suara musik mengalun indah ditelinga.
__ADS_1
Semua mata tertuju pada rombongan para wanita yang keluar dari sisi pintu ballroom. Rombongan membawa pengantin perempuan itu menjadi pemandangan yang sangat ditunggu para undangan.
Dengan senyum merekah, Medina berjalan anggun didampingi mama Safira dan Rani disisi kanan dan kirinya.
Daniel yang sudah gelisah menanti tampak tersenyum merekah tampan. Ia tidak berhenti menatap sosok pengantin wanita yang berjalan menuju pelaminan.
Merasa pengantinnya berjalan dengan sangat lambat, Daniel melangkah turun dari pelaminan menghampiri istrinya.
Sontak saja tingkah Daniel mengundang riuh suara para tamu undangan yang ada diruangan ballroom.
"Kau sangat tidak sabar sekali" Celetuk mama Safira.
"Kalian terlalu lama berjalan....aku sudah tidak sabar ingin mamandang wajah istriku" Sahut Daniel dengan tatapan yang fokus pada Medina.
"Ck...kau ini!!!" Kini giliran Tante Latifah bersuara.
Medina hanya tersenyum manis mendengar godaan yang dilontarkan orang-orang terdekatnya. Ia kemudian menatap wajah suaminya yang kini sudah berada dihadapannya.
"Kamu sangat cantik, Tuan Puteri" Ucap Daniel membuat rona merah di pipi istrinya.
Daniel meraih satu tangan istrinya dan mengecupnya dengan mesra dan penuh cinta.
Suara riuh tamu undangan kembali terdengar mengisi ruangan Ballroom.
"Aku tidak menyangka, ternyata seorang Daniel bisa sangat romantis" Celetuk salah satu tamu undangan yang merupakan rekan koleganya.
"Aku baru saja ingin menjodohkan putriku dengan Daniel setelah gagal bertunangan. Tapi nasib baik ternyata milik gadis itu" Celetuk lagi salah tamu lainnya.
Dan banyak lagi yang bergumam sendiri melihat pasangan pengantin itu. Termasuk keluarga Pakde Radiman.
"Medina tidak seperti gadis kampung ya, Bu? Dia sangat cantik bahkan seperti seorang Puteri" Puji pak Radiman.
"Tapi mbak Medina memang cantik sejak dulu Bu, bahkan tidak hanya cantik wajahnya tapi juga hatinya" Puji Billa yang sangat bahagia dengan kebahagiaan yang kini sedang dirasakan oleh saudara sepupunya.
"Pak...kita juga harus mencarikan calon suami untuk Salsa yang selevel dengan Daniel" Ucap Bude Tatik sambil mengedarkan pandangannya.
"Ini kesempatan kita pak. Disini banyak tamu-tamu orang penting. Siapa tahu salah satunya menjadi jodoh buat Salsa" Senyum Bude Tatik menyeringai.
Billa yang mendengar ucapan ibunya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia merasa jengah dan memilih untuk memisahkan diri dari keluarganya.
Billa berjalan diantara kerumunan tamu undangan yang hendak naik ke atas pelaminan untuk memberi ucapan selamat kepada pasangan pangantin.
"Brukkkkkk!!!!"
Billa menabrak seorang laki-laki yang sedang membawa minuman jus. Hingga membuat jas laki-laki itu menjadi basah karena tumpahan jus yang ia bawa.
"Maaf....maafkan saya tidak sengaja" Ucap Billa sambil menunduk ketakutan.
Kemudian ia berjongkok untuk memungut gelas yang jatuh.
"Tidak apa-apa. Aku bisa mengambilnya lagi" Jawab sang laki-laki dengan datar.
Dan saat Billa hendak berdiri seseorang menyenggol punggungnya hingga tubuhnya oleng dan hampir jatuh terjerembab ke depan. Namun tangan kekar laki-laki tadi dengan sigap menahan tubuh Billa. Sehingga gadis itu tidak sampai terjatuh.
"Apa kamu tidak apa-apa?" Tanyanya. Bahkan tubuh mereka masih menempel satu sama lain.
Bahkan Billa bisa mencium parfum laki-laki itu yang mana membuatnya menikmati aroma yang menusuk ke hidungnya.
"I_iya... terimakasih" Billa melepaskan diri dari lengan kekar itu.
Laki-laki yang masih belum Billa ketahui namanya itu hanya tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
"Sama-sama. Aku permisi" Billa masih terdiam menatap punggung laki-laki itu mulai menjauh.
"Aaahhh...pria kota memang tampan-tampan" Gumam Billa pelan.
Kemudian ia berjalan mengikuti rombongan yang sedang berbaris mengular menuju pelaminan.
"Mbaaaakkk....Selamat untukmu. Mbak Medina sangat sangat sangat cantiiikkkkk sekali. Semoga kalian berbahagia dan cepat dikaruni baby yang lucu" Ucap Billa dengan wajah bahagia saat dirinya sudah berada diatas pelaminan.
Billa memeluk Medina dengan erat. Tanpa terasa airmata gadis itu menetes tanpa permisi.
"Adikku sayang... terimakasih banyak sudah hadir. Tapi dimana pakde dan lainnya?" Tanya Medina heran karena ia hanya melihat adik sepupu nya seorang diri.
"Bapak dan yang lainnya lagi makan dibawah" Ucapnya sambil menyeka air matanya.
"Mas Daniel...tolong jaga kakakku dan jangan pernah menyakitinya apalagi mengkhianati nya" Ucap Billa penuh penekanan membuat Daniel tersenyum.
"Kamu bisa pegang janjiku. Aku akan membahagiakan nya" Jawab Daniel sambil menatap Medina penuh cinta.
"Kapan kalian kembali?" Tanya Medina.
"Kata Mas Raihan, kita pulang besok" Jawab Billa singkat. Tatapannya beralih kepada Daniel yang juga sedang menatap Billa.
"Kenapa cepat sekali?"
"Baiklah...aku harus turun mbak. Sudah banyak yang mengantri untuk bersalaman" Ucap Billa mengalihkan pembicaraan.
Medina yang masih ingin banyak bertanya akhirnya membiarkan Billa turun.
"Sayang...kenapa mereka tidak diijinkan lebih lama disini?" Tatapan Medina membuat Daniel mendesah.
Ia tidak akan mampu menolak jika istrinya sudah merengek meminta sesuatu.
"Baiklah...mereka akan disini sampai lusa. Aku tidak bisa membiarkan mereka lebih lama disini. Lagipula Raihan harus mengurus perusahan dan mereka kembali bekerja dan sekolah" Ucap Daniel memberi alasan.
"Tidak apa-apa. Terimakasih sayang" Medina mencium pipi Daniel mesra.
"Jangan memancingku atau aku akan membawamu kabur dari acara ini dan menyembunyikan mu" Ucap Daniel disambut tawa oleh Medina.
Mereka kembali mendapat ucapan selamat dari para tamu undangan.
Saat tamu mulai sepi memberi selamat, Daniel meminta ijin turun.
Medina yang mengira suaminya akan menemui koleganya hanya mengiyakan.
Dan saat Daniel sudah turun tiba-tiba lampu utama ballroom padam. Membuat semua orang berteriak histeris.
Namun saat sorot lampu mengarah pada sosok pria berjas diatas panggung yang dibuat khusus untuk tim band...teriakan para tamu terhenti.
Medina yang pada awalnya merasa sangat khawatir terjadi sesuatu dalam acar resepsi nya, nampak sangat terkejut ketika lampu sorot menampakkan sosok laki-laki yang tadi meminta ijin padanya.
_
_
_TBC
_
_
_
__ADS_1