
Pagi harinya sekitar pukul 9 pagi, Ibu Melani menjemput Medina yang sudah bersiap.
Ditemani suami dan keponakannya Medina diantar hingga pintu utama.
"Sayang...maafkan ibu jika acara weekend kalian harus terganggu." Ibu Melani memegang tangan Medina dan menatap Daniel yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Tidak apa-apa, Bu. Lagipula...kakak sudah memberi ijin." Medina tersenyum menatap wajah suaminya.
"Baiklah...kau sudah siap?" Tanya ibu Melani dan dijawab anggukan oleh Medina.
"Daniel....terimakasih." Ucap Ibu Melani sebelum masuk kedalam mobil.
"Kabari aku jika sudah selesai." Daniel mencium kening Medina.
Medina mengangguk dan tersenyum cantik.
"Sayang...sampai bertemu nanti ya." Medina mengusap dan mencium rambut Syifa. Gadis kecil itu terlihat kesal karena agenda mingguannya harus berkurang.
"Sayang...kamu tidak mau memeluk mama?" Medina menunduk untuk menatap wajah Syifa.
"Ya ampun...papa. Anakmu sangat posesif." Goda Medina membuat gadis kecil itu langsung memeluk Medina.
Setelah berpelukan Medina segera menuju mobil ibu Melaji yang sedari menunggu. Ia melambaikan tangan kepada suami dan keponakannya.
"Papa...kenapa Oma Melani selalu saja mengganggu acara kita?" Syifa menyebikkan bibirnya.
"Sebenarnya siapa Oma Melani itu? Apa dia mamanya mama Niel?" Tanyanya penasaran.
"Bagaimana bisa kamu mengatakan itu, sayang?" Daniel menggeleng tidak percaya.
"Oma selalu ada di setiap acara keluarga kita. Apa dia juga keluarga?"
"Kamu mau berenang?" Tanya Daniel mengalihkan pembicaraan Syifa.
"Tapi Ifa sudah mandi."
"Tidak apa-apa, nanti bisa mandi lagi dengan suster." Bujuk Daniel tapi Syifa tetap menolak dengan menggelengkan kepalanya.
"Ifa ingin dibacakan cerita saja." Syifa memutuskan keinginannya.
"Oke. Ayo ke ruang baca." Daniel menggandeng keponakan kesayangannya ke dalam sebuah ruangan yang berada diantara ruang tengah dan dapur.
Medina dan ibu Melani kini sudah berada disebuah ruangan seminar yang berada di hotel milik Ibu Melani.
Ya. Ibu Melani sengaja mengajak Medina ikut bersam dengannya untuk menghadiri seminar Nasional menenai ibu hamil dan informasi lainnya. Ada beberapa dokter kandungan terbaik negeri ini yang akan menjadi pembicara dalam seminar. Maka dari itu ibu Melani sangat antusias mengajak Medina.
"Sayang...duduklah disini. Jika ada sesuatu yang kamu butuhkan, katakan saja." Ibu Melani menaru kursi untuk Medina.
"Terimakasih, Bu." Medina tersenyum cantik.
Tidak berapa lama, peserta dan pengisi seminar mulai berdatangan hingga ruangan itu penuh. Hingga seseorang berjalan anggun menghampiri kursi mereka.
"Sayang...Ibu ingin mengenalkanmu dengan seseorang." Ucap ibu Melani saat melihat kedatangan wanita cantik.
Medina segera menoleh dan tersenyum.
"Tanteeee....apa kabar? Ya ampun...Tante semakin cantik dan pangling dengan hijab ini." Teriaknya sambil memeluk ibu Melani.
"Farah....kamu juga semakin cantik." Sahut ibu Melani.
"Farah?" Gumam Medina. sekilas ia mengingat nama itu lalu menggeleng pelan.
"Ah iya...perkenalkan sayang. Ini Farah keponakan ibu. Far...ini Medina. Dia...." Ibu Melani tidak meneruskan perkataannya. Ia bingung harus memperkenalkan Medina kepada Farah.
"Halo..." Sapa Medina ramah.
"Senang bisa bertemu dengan kak Farah." Lanjut Medina sambil mengulurkan tangannya.
"Hai... Aku Farah." Farah menjabat tangan Medina.
Ketiganya kembali duduk ditempatnya saat sang moderator mengatakan acara segera dimulai.
"Bagaimana tadi?" Tanya ibu Melani kepada Medina.
__ADS_1
"Sangat bagus Bu. Dan sangat bermanfaat untuk kami." Jawab Medina sambil mengelus perutnya.
"Kau sudah menikah? Apa kamu hamil?" Tanya Farah penasaran dengan percakapan keduanya.
"Iya...Medina sedang hamil. Usia kandungan nya hampir 4 bulan. Benar sayang?" Ibu Melani menjawabnya dengan wajah yang bahagia membuat Farah penasaran.
"Selamat untukmu dan suami." Ucap Farah.
"Terimakasih, kak." Sahut Medina.
Ketiganya lalu berjalan ke sebuah restoran yang berada dilantai lainnya dari gedung hotel itu.
Ibu Melani mengajak Medina dan Farah untuk makan siang bersama. Namun Mesin segera menolaknya karena sudah berjanji akan makan bersama suami dan keponakannya.
"Sayang.... setidaknya makan apa aja untuk mengganjal perut mu." Ibu Melani terlihat sibuk melayani Medina.
Dan interaksi keduanya tidak lepas dari perhatian Farah yang sejak tadi memperhatikan.
"Siapa gadis ini? Tante Melani terlihat sangat menyayangi nya." Farah berbicara dalam hati.
"Farah....kamu juga tidak makan?" Tegur ibu Melani membuat Farah tersadar dari lamunannya.
"Iya Tante....aku akan makan." Farah tersenyum lalu mulai menyantap makanan yang sudah tersaji di meja.
Dan pada saat mereka baru saja selesai makan siang, Daniel dan Syifa datang. Medina yang melihat kedatangan suami dan keponakannya, langsung melambaikan tangan.
Daniel melihat istrinya dan langsung menghampiri meja mereka. Ia bahkan tidak menyadari keberadaan Farah karena posisi duduk membelakangi pintu masuk.
"Kalian sudah datang?" Tegur ibu Melani saat melihat Daniel dan Syifa datang.
Mendengar tantenya mengapa seseorang, Farah langsung menoleh ke belakang.
DEG!!
"Farah...."
"Daniel..."
Farah dan Daniel tampak terkejut dengan pertemuan mereka yang tidak pernah mereka duga. Farah bahkan langsung berdiri dari duduknya. Ia tidak menyangka akan bertemu laki-laki yang masih dicintainya.
"Aunty Farah?" Tanya gadis kecil itu sambil menatap intens wanita cantik dihadapan nya.
"Kamu masih mengingat aunty?" Farah menunduk untuk menyamakan tingginya dengan Syifa. lalu mencium kepala gadis kecil itu.
Saat menyadari situasi yang canggung, Daniel berdehem lalu menghampiri Medina yang sedari tadi memperhatikan keduanya.
"Bagaimana acaranya tadi?" Tanya Daniel kepada Medina. Daniel bahkan tidak sungkan mencium kepala Medina yang tertutup hijab. Dan Farah melihat itu.
"Sangat bagus." Jawab Medina singkat. Suasana hatinya tiba-tiba down akibat rasa cemburu yang membakar.
"Mama Niel...Ayo kita pergi. Nanti tempat permainannya keburu tutup." Rengek Syifaembiat Medina tertawa.
Melihat interaksi orang-orang disekitarnya, Farah dapat menyimpulkan jika Medina dan Daniel adalah pasangan suami istri.
"Daniel....apa kabar?" Tanya Farah membuat ibu Melani langsung melontarkan pertanyaan.
"Kalian sudah saling mengenal?"
"Iya." Jawab Daniel singkat. Ia melirik istrinya yang terlihat menahan diri.
"Bahkan kami pernah dekat." Lanjut Farah.
Daniel menatapnya dengan jengah.
"Farah...perkenalkan ini istriku, Medina. Honey
"Honey...apa kamu sakit?" Tanya Daniel khawatir.
Medina menggeleng lalu tersenyum cantik. "Kita bisa pergi sekarang." Ucapnya tanpa menatap suaminya.
"Medina...kamu belum makan dengan benar." Ucap Ibu Melani.
"Kami akan hunting makanan yang sesuai keinginan ibu hamil." Ucap Daniel memeluk pinggang istrinya dengan mesra.
__ADS_1
"Kamu harus memperhatikan gizi yang bagus untuk Medina dan calon bayi kalian." Tegur Ibu Melani membuat Farah tersenyum kecut.
"Ibu tinggal sebentar, ada yang harus ibu lakukan." Pamit Ibu Melani saat seorang pegawai hotel menghampiri nya dan mengatakan jika ada tamu untuknya.
"Aku tidak yakin, Daniel benar-benar mencintai gadis ini." Farah kembali berbicara dalam hatinya.
"Daniel....umm...." Farah menatap Medina dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Lama tidak bertemu, ada banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu." Lanjut Farah tanpa memikirkan perasaan Medina.
"Maaf...tapi aku tidak punya banyak waktu hanya untuk mendengarkan penjelasan yang tidak penting lagi." Potong Daniel saat Farah akan hendak melanjutkan ucapannya.
"Sayang...." Medina mengelus punggung tangan suaminya yang sedari digenggamnya.
Farah langsung terdiam. Ia terkejut dengan sikap Daniel yang berubah namun ia mengenal Daniel dengan baik. Daniel tidak mungkin bersikap kasar.
"Sayang....kamu mau es krim?" Medina ingin memberi ruang kepada Daniel dan Farah untuk berbicara berdua.
"Kita tidak jadi pergi?" Mata Syifa hampir mengeluarkan air mata.
"Kita berangkat sekarang." Daniel menggandeng tangan Medina dan Syifa.
"Kak...maaf kami pergi dulu." Ucap Medina sambil berlalu karena tangannya ditarik Daniel keluar restoran.
"Sayang...." Panggil Medina namun Daniel tidak menanggapinya.
Hingga didepan mobil, Daniel masih tidak mau menatap wajah istrinya. Itu membuat Medina merasa sedih.
"Mbak...tolong Carikan taksi online." Medina menarik tubuh Syifa menjauh dari mobil Daniel.
Daniel yang mendengar ucapan istrinya langsung menoleh. "Ya...lebih baik kalian naik taksi saja." Daniel masuk kedalam mobil dan membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Medina cukup terkejut dengan sikap Daniel. Tanpa terasa air mata nya mengalir.
"Mama Niel...papa kenapa? Kenapa dia meninggalkan kita?" Syifa menangis histeris karena mobil Daniel tiba-tiba pergi meninggalkan mereka.
"Sayang...Papa Niel sedang ada urusan mendadak. Jadi tidak bisa mengantar kita." Medina menghapus airmata Syifa.
Sementara itu, Daniel merutuki sikapnya yang berlebihan. Hingga ia meninggalkan istri dan keponakannya. Ia mengambil ponselnya dan segera menghubungi Medina namun ponsel Medina tidak aktif.
"Honey....maafkan aku." Lirih Daniel menyesal. Ia memutar kemudi dan melajukan mobilnya kembali ke hotel.
Namun saat ia sudah sampai, Daniel tidak menemukan istri dan keponakannya. Ia terus menghubungi Medina namun nihil. Ia kemudian menghubungi rumahnya dan rumah mamanya.
Daniel meremas rambutnya frustasi. Istrinya tidak ada dirumahnya juga dirumah mama Safira. Sementara Syifa dan susternya sudah kembali ke rumah.
"Honey..." Daniel mulai kebingungan. Untuk pertama kalinya selama menikah dengan Medina ia seperti ini. Meninggalkan Medina hingga ia kehilangan jejak istrinya.
Ia kemudian menghubungi Arif. "Rif....Medina hilang." Suara Daniel tampak bergetar. Ia kacau karena sudah menyakiti hati Medina.
"Apa?"
"Jangan bercanda, bro" Sahut Arif diseberang telepon.
"A_aku...."
TUT..TUT..TUT
Daniel langsung memutuskan sambungan telepon ketika melihat ibu Melani menghampiri nya. Membuat Arif disana kebingungan.
"Daniel...? Kalian belum pergi? Kemana Medina?" Tanya ibu Melani sambil mengedarkan pandangannya.
"Medina...dia...." Daniel bingung harus menjawab apa karena ia juga tidak tahu keberadaan istrinya saat ini.
"Daniel.....apa sesuatu terjadi dengan putriku?" Ibu Melani menatap tajam kearah Daniel. Ia butuh penjelasan, karena tidak seperti biasanya menantunya seperti ini.
_
_
_
_**TbC
__ADS_1
_Maaf tidak up setiap hari**.