
Medina melambaikan tangan pada suaminya yang masuk kedalam mobil setelah mengantarkan nya kerumah mama Safira.
Setelah mobil tidak terlihat lagi, Medina kembali masuk kedalam rumah menuju ruang tengah. Disana ada mama Safira, kak Rani dan tentu saja baby Syakir yang kini berusia dua bulan.
Medina langsung duduk diatas karpet dekat baby Syakir. Tangannya memainkan pipi Baby Syakir dengan gemas hingga Medina tertawa.
"Lihat pipinya..gembul sekali. Kamu membuat mama gemas ingin cium-cium kamu terus." Medina mengusek-usek hidungnya di pipi gembul bayi laki-laki kakak iparnya.
"Bagaimana persiapan persalinan mu, Sayang?" Tanya Kak Rani menatap adik iparnya.
"Alhamdulillah..aku siap lahir bathin ingin melahirkan secara normal. Doakan ya ma, kak. Semoga aku bisa melewatinya, meskipun ada sedikit rasa takut." Celoteh Medina sambil terkekeh.
"Insya Allah semuanya dimudahkan dan dilancarkan, kamu dan cucu mama sehat juga selamat." Mama Safira mengusap punggung Medina yang duduk dibawahnya sambil terus menggoda Baby Syakir.
Saat sedang asyik mengobrol, tiba-tiba bel rumah terdengar.
"Mungkin itu Ayah dan Ibu." Medina beranjak dari duduknya dengan sedikit kewalahan. Ia ingin menyambut kedua orangtuanya didepan pintu.
"Hati-hati, Nak." Mama Safira yang melihat Medina terburu-buru berusah mengingatkan menantunya yang hanya tersenyum.
"Ayah...Ibu...Apa kabar?" Medina menyambut keduanya dipintu utama. Ketiganya berpelukan lalu medina mengajak kedua orangtuanya masuk kedalam rumah.
"Alhamdulilah, kami sehat." Jawab Ibu Melani sambil berjalan menggandeng tangan Medina.
"Selamat datang, Besan.." Suara mama Safira memenuhi ruangan menyambut kedatangan besannya.
Ibu Melani langsung menyalami dan memeluk Mama Safira dan Rani yang memang masih berada diruang keluarga. Sementara Pak Sanjaya hanya bersalaman dengan keduanya.
"Ayo, silahkan duduk dan buat kalian senyaman mungkin." Ucap Mama Safira.
"Terimakasih, besan." Sahut ibu Melani.
"Sayang.. bagaimana hasil pemeriksaan mu kemarin?" Ibu Melani menatap Medina yang duduk disampingnya.
"Alhamdulillah semuanya dalam kondisi bagus, Ibu. Aku dinyatakan dokter siap untuk bisa melahirkan secara normal." Ucap Medina lembut.
Mereka semua mengobrol hingga waktu menjelang dzuhur. Saat waktu sholat tiba, mereka semua melaksanakan kewajiban dengan berjamaah di ruang khusus yang didesain seperti musholla.
Setelah selesai, Mama Safira mengajak besannya untuk makan siang dengan menu makanan favorit keluarga Mama Safira.
"Kalian harus mencoba semua masakan di meja. Karena semua menu ini adalah menu andalan dan favorit di keluarga kami. Bahkan beberapa menu adalah hasil kreasi menantu-menantu dirumah ini." Ucap Mama Safira.
"Benarkah, sayang?" Ibu Melani langsung menatap putrinya yang tersenyum dan mengangguk.
Setelah makan siang, Pak Sanjaya dijemput oleh asistennya, karena ada meeting dengan rekan bisnisnya di hotel milik Ibu Melani. Begitu yang disampaikan pak Sanjaya kepada Medina.
"Aku pikir, Ayah akan menemani kami hingga pulang sore nanti." Medina sedikit kecewa, karena dia sudah membayangkan akan banyak bercerita kepada Ayah dan Ibunya.
__ADS_1
"Maafkan, Ayah. Ayah akan meluangkan waktu untuk kalian nanti." Pak Sanjaya melirik istrinya.
"Baiklah, Ayah berangkat sekarang." Pak Sanjaya melepas pelukan Medina.
"Hati-hati, Ayah." Ucap Medina sebelum Sang ayah memasuki mobilnya.
"Tidak perlu menjemput, aku akan pulang kerumah Medina untuk mengecek segala persiapan untuk menyambut cucu kita." Ucap ibu Melani dan sang suami mengangguk sambil tersenyum samar.
"Pastikan semua persiapan nya beres sebelum kami datang." Bisik Ibu Melani sebelum menjauh dari Pak Sanjaya.
"Ibu...membuat aku iri saja." Cebik Medina saat melihat kedua orangtuanya tampak mesra.
Padahal, mereka tengah berbisik-bisik untuk melakukan sesuatu yang memang tidak Medina ketahui. Ini akan menjadi kejutan untuk putrinya saat Medina pulang kerumah nanti sore.
"Baiklah, Ayah berangkat. Jaga diri kalian."
****
Setelah sempat istirahat dan sholat ashar, Medina dan Ibu Melani bersiap untuk pulang kerumah.
"Sayang, kapan kamu menginap dirumah Mama lagi?" Medina yang tengah memeluk Syifa melontarkan pertanyaan.
"Nanti ma..." Syifa langsung menutup mulutnya yang hampir keceplosan. Ia melihat sang Bunda yang juga tampak terkejut.
"Nanti, Mama...tunggu Syifa libur sekolah." Rani langsung memotong dengan perasaan berdebar, takut rencana Daniel dan semua orang terbongkar.
"Hhmm...baiklah. Mama Niel akan menanti saat kamu libur sekolah." Ucap Medina tanpa curiga.
Semua orang hari ini membohongi Medina demi membuat kejutan untuk ibu hamil itu. Rencananya malam nanti mereka akan mengadakan pesta kecil-kecilan untuk Medina sebelum ibu muda itu melahirkan.
"Tolong geser sedikit lagi." Titah Daniel kepada Arif saat menyusun dekorasi balon berbentuk love.
"Rasanya aku tidak sabar, melihat wajah adikku saat melihat semua kejutan ini." Fian terkekeh sambil mendekati sang Ayah yang duduk disofa.
"Semoga dia tidak langsung mengalami kontraksi dan tidak bisa menikmati pesta." Kekeh pak Sanjaya.
Saat menjelang kepulangan Medina kerumah, semua hal untuk pesta kejutan ini telah rampung dikerjakan. Bahkan pak Sanjaya sengaja meminta chef terbaik dari hotelnya untuk membuat hidangan pada pesta malam nanti.
"Alhamdulillah, semuanya beres tepat waktu. Sekarang waktunya membersihkan diri." Ucap Daniel kepada semua orang.
"Ya. Sebaiknya kita juga bersiap-siap."
Semua orang membubarkan firi untuk bersiap menyambut Medina. Terlebih Daniel yang sangat antusias dan menantikan moment ini. Karena ia sudah jauh-jauh hari merencanakan kejutan ini untuk istrinya. Tentu saja dengan melibatkan semua anggota keluarganya dan keluarga Medina. Tidak lupa ia juga mengundang keluarga Tante Latifah.
Medina baru saja turun dari mobil dengan hati-hati. Mereka baru saja sampai dirumah megah nan asri milik Medina dan Daniel. Ibu Melani dengan setia menemani putrinya yang kepayahan dengan kondisi perutnya hamil tua.
"Terimakasih, ibu." Ucapnya tersenyum.
__ADS_1
"Apa ayah belum pulang?" Tanyanya sambil berjalan masuk ke halaman rumah.
"Ayahmu belum memberi kabar." Jawab ibu Melani sambil menahan diri agar tidak keceplosan. Ia sebenarnya tidak ingin membohongi putrinya, namun karena semua orang sudah setuju terlibat, maka beliau pun tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti skenario menantunya.
"Kemana Bi Sari?" Heran Medina setelah beberapa kali memencet bel rumahnya, namun tidak ada yang membukakan pintu.
"Mungkin Bi Sari keluar belanja, Sayang." Ucap Ibu Melani memperhatikan putrinya yang terlihat gelisah.
"Tidak mungkin, Bu. Dua hari lalu, kami membeli persediaan bahan makanan." Elak Medina yang terus memencet bel rumahnya.
Sementara didalam rumah semua orang tampak mengambil posisi sesuai dengan perintah Daniel Mereka bersiap menunggu aba-aba dari Daniel yang berdiri dibelakang pintu.
"Cepatlah, putriku pasti menahan kesal karena terlalu lama menunggu." Pak Sanjaya berdecak kesal karena tidak sabar menunggu aba-aba dari Daniel.
"Baiklah..."Kekeh Daniel sambil memegang gagang pintu.
"Assalamu'alaikum, Bi..." Teriak Medina masih memanggil pelayan senior yang bekerja dirumahnya.
Saat Medina ingin mengambil ponselnya didalam tas, ia mendengar suara seseorang membuka kunci pintu dari dalam.
"Ah, syukurlah..." Medina tidak jadi mengambil ponsel dan tangannya langsung membuka pintu.
"Surprisssssseee...." Teriak semua orang didalam rumah. Membuat Medina membuka mulutnya lebar-lebar. Menganga sambil melihat satu per satu orang disana.
Medina lalu menoleh ke belakang, Ibu Melani langsung memeluk putrinya. " Maafkan kami harus membohongi mu hari ini. Tapi kejutan ini, tidak akan berhasil tanpa kerjasama yang baik, bukan?" Kekeh ibu Melani hingga tawa itu menular pada Medina yang kini menangis.
"Kapan kalian merencanakan semua ini?" Medina berbalik lalu menatap suaminya dengan mata yang basah. Ia terharu dengan kejutan yang diberikan suami dan orang-orang terkasihnya.
"Kamu tidak mau memelukku dan mengucap kan sesuatu, Honey?" Canda Daniel dengan kedua tangan membentang. Disalah satunya terdapat bucket bunga yang sudah ia persiapkan untuk diberikan kepada istri tercinta.
Medina bergeming menatap suaminya. Ia tidak bisa berkata-kata dengan kejutan luar biasa yang diberikan suami dan keluarganya. "Sayang, perutmu tidak kontraksi kan?" Suara Pak Sanjaya menyadarkan Medina yang melamun. Medina yang mendengar itu langsung mempunyai ide untuk mengerjai suaminya.
"Akhh!! Perutku..Owhh!!" Medina meringis sambil memegangi perutnya hingga sedikit membungkuk. Membuat semua orang berlari mendekat karena cemas jika Medina benar-benar mengalami kontraksi dan akan segera melahirkan.
"Honey...kamu tidak apa-apa?" Daniel memeluk Medina. Wajahnya terlihat khawatir.
"Sudah kubilang, kejutan ini akan membuatnya kontraksi." Omel Pak Sanjaya membuat semua orang terdiam.
"Cepat!! Jangan diam saja, lakukan sesuatu!! putriku akan melahirkan!" Bentak Pak Sanjaya tidam kalah khawtair dari menantunya.
"Honey, atur nafas seperti yang dokter ajarkan. Kamu mengingatnya, bukan? Ya..ya.. seperti itu." Daniel membimbing Medina untuk duduk disofa yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Medina menikmati perannya dengan berpura-pura mengatur nafas.
"Bi...tolong ambilkan air minum." Teriak Ibu Melani. Ikut merasakan panik melihat kondisi putrinya.
"Sayang..." Medina melihat wajah semua orang panik dan cemas. Rasanya ia ingin meledakkan tawanya saat ini juga. Tapi ia harus bisa menahannya.
"Tolong jangan berkerumun, berikan Medina ruang." Pinta Kak Rani yang mendekati adik iparnya dan duduk disisinya.
__ADS_1
Ia melihat wajah adik iparnya dengan intens dan terkejut ketika Medina mengedipkan satu bola matanya. "Dasar nakal!! Kita kena prank!!" Pekik Kak Rani membuat semua orang terkejut.
"Apa??" Semua mata tertuju ke satu orang. Yaitu Medina yang diberi kejutan namun justru berbalik memberikan kejutan lain dengan pranknya. Hahahaha.