Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 22


__ADS_3

Sepulang acara, Daniel membawa keluarga nya untuk menginap di hotel yang sama dengan acara Anniversary om dan tantenya. Karena hari sudah malam dan besok weekend jadi mereka akan menghabiskan waktu bersama.


Setelah memesan kamar hotel dan mendapat kunci, mereka bergegas menuju kamar hotel dengan menaiki lift.


Daniel yang sudah tidak Canggung lagi terus menatap Medina dengan lekat. Danu yang memperhatikan adiknya membuat Jiwa jahil Danu timbul otomatis. Dengan tiba-tiba Danu mengusapkan Tangannya ke wajah Daniel hingga Daniel terlonjak kaget. Daniel mendengus kesal tanpa berkomentar. Sementara Danu dan yang lainnya tertawa geli.


"Sepertinya kamu tidak bisa melepaskan pandanganmu sedikit pun, lekaslah halalkan dia jika tidak mau didului teman satu kelas nya" Goda Danu lagi dengan berbisik.


Daniel melirik kakaknya sekilas dan kembali menatap gadisnya lekat. Hatinya yang sedang diliputi rasa bahagia, membuat ia tidak mau mempedulikan tingkah Danu.


Ting!!!


Merek keluar dari lift saat lift berhenti dilantai yang mereka tuju. Mereka saling pamit untuk masuk ke kamar masing-masing yang bersebelahan.


Daniel melempar dirinya diatas ranjang.. merentangkan tangan dengan mata terpejam. Wajah Medina kembali menghiasi pikirannya hingga ia enggan membuka mata. Sudut bibirnya menyungging senyum manis. Dengan mata yang masih terpejam, Daniel mengambil ponselnya dari dalam kantong celana. Senyumnya mengembang ketika maniknya menatap layar ponsel. Menggeser-geser layar ponsel dengan jarinya. Ada Beberapa foto Medina yang ia ambil secara diam-diam saat acara tadi. Salah satunya ia jadikan wallpaper beranda dan layar belakang ponselnya.


"aku merasa hidupku bersemangat dan memiliki tujuan jelas, merasakan jatuh cinta seperti jatuh cinta pertama kalinya" Gumam Daniel dalam hati.


"I love u, Medina..." Daniel mengecup layar ponselnya. Memeluk ponselnya kemudian seolah ia memeluk gadis yang berada dilayar ponselnya.


Tok..tok..tok..


Daniel yang masih menyunggingkan senyuman nya beranjak membuka pintu.


"kak, Syifa kenapa?" Daniel mengernyit kan keningnya ketika Danu datang dengan menggendong Syifa yang terlelap.


Danu masih belum berkomentar. Ia berjalan masuk ke dalam dan merebahkan Syifa diranjang.


"Syifa tadi ngigau manggil-manggil kamu terus" Ucap Danu berbohong.


"hah?" Daniel membulatkan matanya. Ia tidak mempercayai ucapan Danu.


"lagu lama...bilang aja mau ena-ena sama Rani" Lanjut Daniel mencebik kan bibirnya.


"adik yang pengertian..." Danu menyeringai lalu menepuk-nepuk pundak Daniel yang masih berdiri dekat pintu.


Danu menoleh ke belakang sebelum Danu keluar kamar..


"kamu sudah pesan cincin kawin?"


Daneil menggeleng cepat dengan wajah sedikit sendu. Danu menyadari itu. Adiknya tidak akan mudah mendapat jawaban atas lamaran nya kepada Medina.


"Medina sudah mengetahui tentang masalalumu dengan Farah..Yakinkan dia bahwa perasaanmu benar-benar sudah beralih pada Medina. Dia hanya sedikit ragu, karena hatinya tidak mau membuat mama kecewa untuk kedua kalinya"


Ucapan Danu benar-benar seperti ombak besar untuk Daniel. Ia tidak tahu jika Medina mengetahui masalalunya dari mamanya.


Danu berlalu meninggalkan Daniel dengan pikirannya sendiri.

__ADS_1


"pantas saja dia terlihat ragu saat aku melamarnya" Gumam Daniel pelan.


Daniel berjalan menuju kamar mandi. Ucapan Danu barusan membuat Daniel merasa panas dan gerah. Membasahi tubuhnya dibawa guyuran shower sambil terus memutar otak untuk bicara dengan Medina.


Daniel terlihat segar dan tampan dengan balutan kaos ketat berwarna putih dan celana jeans biru. Ia menarik nafas dalam sebelum akhirnya mengetuk pintu kamar hotel yang ditempati Medina bersama mamanya.


"kak Daniel...?" Medina dibuat kaget dengan kedatangan Daniel ke kamarnya.


Daniel yang mematung terkesima dengan penampilan ayu nan natural wajah Medina yang masih memakai Mukena sebagai penutup kepalanya.


"hai...apa aku mengganggu?" Sapa Daniel ragu.


Medina menggeleng.


"Apa mama sudah tidur?" Tanya Daniel dengan kepala sedikit melongok ke dalam kamar. Karena Medina hanya sedikit membuka pintu.


"ahh..iya. Ibu sudah tidur dari tadi. Apa kakak butuh sesuatu?" Tawar Medina.


Daniel mengerjap ketika Medina mengucapkan pertanyaan itu.


"aku mau bicara berdua sama kamu? bisa?" Tanya Daniel dengan tatapan memohon.


"harus malam ini?"


"iya..."


"aku tidak mau jauh-jauh kak, jadi kita bisa bicara disini saja" Ucap Medina dengan telunjuk yang mengarah ke depan kamar.


"Hei...ini masalah pribadi. Aku tidak mau kalo sampai ada orang lain yang mendengar" elak Daniel cepat.


"kita bicara dikamarku saja" Daniel langsung menarik lengan Medina menuju kamar Daniel.


Medina yang masih shock dengan sikap Daniel menarik lengannya dari genggaman Daniel.


"kenapa harus disana?" Daniel berhenti melangkah karena Medina berhenti mengikutinya.


"Medina...please. Aku janji ga akan macam-macam. Lagipula didalam ada Syifa" Ucap Daniel kembali menarik lengan Medina mengajaknya masuk ke dalam kamar.


Daniel menutup pintu dengan cepat. Sementara Medina mengedarkan pandangannya ke atas ranjang. Ia berjalan dan duduk dipinggir ranjang. Mengusap pucuk kepala Syifa yang sudah terbuai ke alam mimpi.


"mengapa Syifa bisa tidur disini? Bukankah tadi dia masuk ke kamar Kak Danu?" Tanya Medina polos.


Daniel tersenyum masam.


"Mereka berdua sibuk bikin adonan" Ucap Daniel sambil mengambil minuman ringan didalam kulkas.


"hah? adonan apa?" Tanya Medina polos.

__ADS_1


Daniel terkekeh mendengar pertanyaan polos Medina.


Daniel menyesap minuman ditangannya.


"Adonan adik buat Syifa" Jawab Daniel enteng.


Seketika Medina menoleh ke arah Daniel. Dalam hati Medina merutuki pertanyaan bodohnya. Medina menundukkan wajahnya karena malu.


"dasar gadis bodoh" Gumam Medina.


"apa yang mau kak Daniel bicarakan denganku?" Medina mencoba mengalihkan pembicaraan.


Daniel mendekati Medina yang masih duduk dipinggir ranjang. Medina terlonjak kaget ketika Daniel berjongkok dihadapan Medina dan meraih tangan nya.


"ka..kak mau apa?" Tanya Medina gemetar.


"maukah kamu menikah denganku?" Tanya Daniel dengan suara yang terdengar berat. Maniknya tajam menatap Medina.


"kak..itu..."


"kamu ga percaya sama aku, Medina?" Potong Daniel dengan wajah yang berubah sendu.


"baiklah...katakan padaku apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya perasaan ku dan bisa segera menikahimu" lanjut Daniel dengan nada serius.


"Medina percaya sama kak Daniel. Hanya saja, hubungan kakak dengan Farah...." Medina menghentikan ucapannya sejenak.


"Medina ga mau, jika suatu hari dia kembali disaat hubungan kita semakin jauh" Medina menatap nanar wajah Daniel. Maniknya mulai berkaca-kaca.


"Medina ga mau ibu sakit lagi..hiks..hiks..hiks" Kali ini Medina sudah tidak bisa menahan air matanya.


Daniel tersenyum. Ingin rasanya ia memeluk dan mencium kekasihnya. Namun itu harus ia tahan Karena janjinya tidak akan berbuat macam-macam. Daniel hanya bisa memandangi wajah ayu kekasih hatinya dan menggenggam erat tangan Medina. Daniel bersyukur karena Medina sangat menyayangi mamanya lebih dari dirinya.


"terimakasih karena selalu mengutamakan perasaan mama" Daniel mengecup punggung tangan Medina.


Karena kaget Medina menarik tangannya dengan cepat hingga Daniel yang masih dengan posisi jongkok terdorong tanpa sengaja hingga tubuhnya jatuh ke belakang.


"auww...pinggangku.." Daniel mengaduh sambil mengusap-usap pinggangnya.


"kak...maaf. Medina ga bermaksud mendorong kakak tadi" Ucap Medina sambil membantu Daniel berdiri dan menuntunnya duduk disofa.


"kakak baik-baik aja? apa Medina bisa pergi sekarang?" Tanya Medina dengan wajah khawatir. Namun ia tidak bisa berlama-lama dikamar Daniel.


Daniel mendongak menatap Medina. Ingin rasanya menahan gadisnya lebih lama bersamanya. Tapi Daniel tidak mau membuat Medina merasa tidak nyaman berada disisinya sebelum gadis itu benar-benar menjadi pasangan halalnya.


"aku ga papa. istirahatlah...kita sambung lagi besok" Medina mengangguk pelan dan berjalan menjauhi Daniel dan menghilang dibalik pintu.


Daniel tersenyum dan merebahkan tubuhnya disofa.

__ADS_1


__ADS_2