Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 123


__ADS_3

Malam harinya Daniel membawa Medina makan malam diluar sesuai janji Daniel sore tadi. Ia sudah memilih. restoran yang nyaman dan tentu saja memiliki hidangan yang memanjakan lidah. Daniel tidak akan memilih sembarang untuk orang-orang yang dicintainya.


"Sayang....kenapa restoran ini sepi?" Tanya Medina heran saat kakinya mulai melangkah masuk kedalam restoran.


"Pengunjung disini terbatas." Sahut Daniel dengan senyum meneduhkan.


"Eksklusif?" Tanya Medina dengan senyum merona.


Daniel mengangguk lalu meraih pinggang istrinya dan berjalan bersama masuk kedalam restoran.


Seorang pelayan menyambut mereka dengan ramah dan membawa mereka ke meja yang sudah dipesan sebelumnya.


"Terimakasih." Ucap Medina dan Daniel bersamaan.


"Kamu ingin memesan, Hon?" Tanya Daniel memberikan buku menu kepada Medina.


"Aku tahu suamiku pasti sudah memesan makanan terbaik dari restoran ini." Sahut Medina dengan senyum manis.


Daniel tersenyum lebar dan memberi isyarat kepada pelayan untuk segera menghidangkan makanan.


"Aku punya sesuatu untukmu." Daniel merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil.


"Sayang...jangan membuatku menangis sebelum makan malam." Cicit Medina dengan manik berkaca-kaca.


"Bukalah." Daniel menyerahkan kotak itu dan Medina langsung membukanya.


Medina membuka kotak itu dengan perlahan. Senyum cantiknya langsung merekah tatkala benda yang berada dikotak itu terlihat oleh matanya.


"Masyaa Allah, ini sangat cantik."



"Secantik wanita dihadapanku." Goda Daniel dengan senyum menggoda.


Daniel menangambil kotak lalu mengeluarkan isinya. "Hadiah cantik untuk istri paling cantik." Puji Daniel memakaikan gelang dipergelangan tangan Medina. Lalu Daniel mengecup punggung tangan istrinya dengan mesra.


Medina tak kuasa menahan bulir airmata. Ia sangat bahagia. "Terimakasih, sayang." Ucapnya pelan.


"I love you, my Honey." Daniel mencium kening Medina.


"Love you too." Sahut Medina.


Setelah adegan romantis itu, mereka menyantap hidangan yang telah tersedia. Bahkan mereka saling menyuapi satu sama lain.


Setelah selesai makan malam Daniel, mereka langsung pulang kerumah. Bukan kerumah mama Safira. Karena saat mereka dalam perjalanan, Arif menelepon jika besok ada jadwal temu klien yang dimajukan. Oleh karena itu, Daniel memutuskan untuk pulang kerumahnya.


Setelah sampai dirumah Medina langsung masuk kekamar. Sementara Daniel masuk keruang kerja.


Selepas membersihkan diri, Medina masih belum melihat suaminya didalam kamar. Ia berniat untuk menyusul suaminya ke ruang kerja, namun Daniel lebih dulu masuk kedalam kamar.


"Aku baru mau menyusul." Ucap Medina seraya membawa setelan piyama untuk suaminya.


"Oya?? Apa istriku sudah tidak tahan untuk melakukan gulat panas?" Daniel tersenyum lebar dan terus menggoda istrinya.


Medina yang merasa dirinya harus membalas semua kejutan makan malam dari suaminya, mengangguk malu. Membuat Daniel bersorak kegirangan.


"Bersihkan diri dulu." Medina menahan tubuh kekar suaminya saat Daniel hendak mencium nya.


"Kenapa harus mandi? Aku bisa mandi nanti." Daniel mencium rakus bibir Medina. Menuntunnya ke ranjang dengan gerakan lembut dan penuh cinta.


Keduanya menghabiskan malam dengan saling berbagi desahan dan lenguhan kenikmatan.


"Hei...kenapa?" Daniel melihat wajah istrinya yang terlihat melamun. Setelah setengah jam lalu selesai dari aktifitas panas mereka.


Medina yang tengah mengelus perutnya langsung tersadar dan menoleh ke arah suaminya. Entah mengapa tiba-tiba ia didera perasaaan sedih yang teramat sangat saat mengingat nasib dirinya.


Dan airmata Medina tidak dapat dibendung. Ia menangis tersedu-sedu membuat Daniel panik seketika.


Daniel berpikir, jika aktifitas yang baru saja dilakukan nya membuat Medina dan bayi yang berada dirahimnya tersakiti.

__ADS_1


"Honey....apa perutnya sakit? Baby kita kenapa?" Tanya Daniel sangat khawatir.


Seketika Daniel memeluk istrinya dengan erat. "Ayo ke Rumah Sakit." Ajaknya.


"Bayi kita tidak apa-apa." Lirih Medina.. Ia berusaha menatap wajah suaminya.


"Jangan membuatku semakin khawatir. Katakan ada apa?" Daniel mengguncang bahu Medina.


"Peluk saja aku." Pinta Medina. Dan Daniel langsung menarik tubuh Medina kedalam dekapannya.


Daniel mencoba menenangkannya tanpa bertanya apapun lagi. Namun pikirannya terus saja bertanya-tanya kenapa istrinya bersedih sampai menangis tersedu-sedu.


Hampir satu jam berlalu, Medina mulai tenang dan tangisnya mereda. "Sudah lebih baik?" Tanya Daniel saat istrinya mengendurkan pelukannya.


Medina mengangguk pelan. Ia merasa bersalah karena sudah membuat suaminya khawatir.


Daniel turun dari ranjang dan menuangkan air minum untuk Medina. "Minumlah." Daniel kembali duduk disamping Medina dan mengelus rambut Medina dengan sayang.


"Sudah." Medina mengembalikan gelas kepada Daniel setelah meneguk isinya hingga habis.


Tangan Medina menyentuh perutnya. Ada perasaan sedih yang begitu dalam. Ia membayangkan bagaimana dirinya dibuang oleh kedua orang tuanya.


"Kak...." Pandangan Medina sendu. Air matanya kembali mengalir.


"Kakak akan menyayangi anak kita, kan? Kakak akan mencintainya dengan segenap hati kan?" Daniel terkejut dengan semua pertanyaan istrinya.


"Honey....apa yang barusan kamu tanyakan? Anak ini darah daging kita. Buah cinta kita berdua, mana mungkin aku tidak mencintai dan menyayangi nya?" Ucap Daniel dengan nada sedikit tinggi.


"Apa yang kamu pikirkan? huh?" Daniel tak habis pikir kenapa tiba-tiba Medina menanyakan hal seperti ini.


"Apa dia akan menerimaku? Bagaimana jika dia bertanya kakak dan neneknya?" Medina manatap wajah Daniel hingga kedua manik mereka bertemu.


"Deg..."


Daniel mulai faham kemana arah pembicaraan istrinya. Dan inilah yang Daniel cemaskan sejak dua hari ini.


"Jika sesuatu terjadi padaku hingga aku tidak bisa merawat anak kita....tolong sampaikan padanya bahwa mamanya sangat mencintai nya." Medina menangis sejadi-jadinya hingga Daniel memeLuk tubuh Medina.


Hati Daniel seperti tersayat ribuan mata pisau. Ternyata hal inilah yang menghantui istrinya.


"Maafkan aku....belum bisa mempertemukan dirimu dengan orangtuamu." Daniel mengelus punggung istrinya dengan sayang.


Daniel merasa dirinya pria pengecut. Menyembunyikan hal yang sangat penting bagi istrinya.


"Maafkan aku." Hanya kata itu yang Daniel bisa ucapkan.


"Aku mohon jangan seperti ini. Pikirkan anak kita...dia akan lahir dan tumbuh dengan cinta dan kasoh sayang kita orangtuanya." Daniel menangkup wajah Medina dan menciumnya.


"Apa kamu sangat ingin bertemu dengan kedua orangtuamu, Honey?" Tanya Daniel.


"Jika aku masih diberi kesempatan bertemu dengan mereka, aku sangat ingin bertemu mereka." Jawab Medina lirih.


"Aku janji secepatnya akan mempertemukan dirimu dengan kedua orangtuamu." Daniel kembali memeluk istrinya.


****


Tengah malam Medina terbangun karena merasakan perutnya sangat sakit.


"Kak..." Medina memanggil Daniel yang tidur terlelap disampingnya.


"Honey....ada apa?" Daniel terkejut saat melihat istrinya sedang kesakitan.


"Perutku sakit." Lirih Medina sambil menahan sakit diperutnya.


"Astaghfirullah... darah!!" Pekik Daniel saat melihat sprei tempat Medina tidur terdapat bercak darah.


"Sakit kak..." Lirih Medina lagi.


"Ayo ke rumah sakit." Tanpa aba-aba Daniel langsung mengangkat tubuh Medina dan keluar kamar.

__ADS_1


Dengan setengah berlari Daniel memanggil semua asistennya. Daniel seperti orang gila. Ia panik dan histeris memanggil semua asistennya.


"Cepat buka pintunya!" Teriak Daniel saat melihat salah satu asistennya.


"Den....nyonya kenapa?"


"Kunci mobil....Kunci mobilku, bi!!" Daniel terus berteriak.


"Sayang....bertahanlah." Medina kini sudah duduk didalam mobil.


"Den Daniel...harus tenang." Ucap Bi Sarmi.


"Dayat....mama Dayat? Dayat....!!!" Teriak Daniel seperti orang kesetanan.


"I...iya den." Pria bernama Dayat langsung menghampiri majikannya.


"Buka gerbang, Bod*h!!" Maki Daniel tidak sabaran.


"I...iya den. Siap!" Dayat berlari membuka pintu gerbang. Sementara Daniel sudah siap dibalik kemudi dan langsung menginjak gas saat pintu gerbang terbuka.


Daniel membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Beruntung jalanan lengang karena sudah pukul 2 dini hari.


"Sayang bertahanlah...kumohon." Daniel melirik Medina yang sudah tidak sadarkan diri.


"Dokter....suster...tolong istriku." Daniel kembali berteriak saat sudah sampai di depan IGD sebuah rumah sakit.


Dengan cekatan dokter dan suster yang berjaga langsung berlarian dan membawa brankar.


"Tolong istriku dok...dia hamil 4 bulan dan pendarahan." Daniel frustasi melihat kondisi Medina yang semakin lemah.


"Honey.... bertahanlah kumohon." Daniel berlari mengikuti para dokter masuk ruang IGD.


"Bapak tinggi disini...kami akan memeriksa istri anda."


Ucap Seorang dokter.


"Tolong istriku dokter... selamat kan anak kami." Daniel mulai menangis.-


"Kami akan berusaha." Ucap Dokter itu dan langsung menutup ruang perawatan.


"Ya Allah selamatkan istri dan anakku." Pintanya.


Setelah setengah jam dokter memeriksa keadaan Medina, dokter keluar untuk menemui Daniel.


"Apa yang terjadi dengan istri saya , dok?"


"Istri anda mengalami pendarahan akibat stress berlebihan. Ini membahayakan janin dalam kandungannya. Meski saat ini bayi kalian selamat, kami tidak menjamin jika keadaannya akan sama jika istri anda mengalami pendarahan lagi." Ucap dokter yang menangani Medina. Dokter itu kemudian memberi penjelasan dan saran atas kondisi yang saat ini dialami Medina.


Daniel menganhguk paham. Setelah keluar dari raunga dokter, Langkah besarnya langsung menuju ruang rawat inap Medina.


Daniel menatap wajah istrinya yang tampak pucat. Dengan jarum infus yang tertancap di punggung tangannya. Daniel sangat tidak tega melihat kondisi istrinya. Perasaan bersalah menghinggapi Daniel, hingga pria itu tertunduk disambing brangkar dengan menangis.


"Honey....maafkan aku." Daniel mencium tangan istrinya dengan lembut.


"Cepatlah pulih....aku janji aku akan mempertemukan mu dengan kedua orangtuamu." Ucap Daniel bersungguh-sungguh.


Ia tidak ingin menundanya lagi. Setelah Medina pulih, ia akan Memberi tahu istrinya bahwa kedua orangtuanya kini berada didekat mereka.


"Aku mencintaimu, Honey." Daniel mengecup dahi Medina dengan sayang.


_


_


_


_


_

__ADS_1


__ADS_2