
Mama Safira membuka pintu kamar dengan perlahan. Airmata yang sejak tadi ditahannya, kini mengalir tanpa bisa ditahan lagi saat melihat menantu kesayangan nya meringkuk diatas ranjang.
"Sayang..." Mama Safira membelai pipi Medina yang basah.
Manik bulat yang terpejam langsung terbuka saat mendengar suara yang sangat ia rindukan.
"Mama..." Medina langsung memeluk mama Safira dan kembali menangis.
"Sayang....ingat ada calon bayi yang harus kamu jaga." Ucap Mama Safira lembut.
Sementara diluar kamar, tepatnya dihalaman belakang villa, Daniel tampak gelisah. Ia berjalan mondar mandir tanpa henti membuat Danu menggelengkan kepalanya.
"Medina wanita yang kuat. Dia akan baik-baik saja." Danu mencoba menenangkan adiknya.
"Iya." Daniel juga berusaha menenangkan dirinya sendiri. Apa yang dikatakan kak Danu memang benar. Medina adalah wanita yang kuat. Ia akan bisa melewati ini semua dengan mudah.
"Sebaiknya kamu menelepon Pak Sanjaya. Minta mereka datang kemari." Saran Kak Danu.
"Apa Medina mau menemui mereka?" Tanya Daniel ragu.
"Medina tidak mungkin menolak saat jika mereka sudah disini."
"Tapi aku khawatir dengan kondisinya jika Medina ternyata belum siap bertemu." Daniel menatap kak Danu.
"Baiklah....kita akan tahu setelah mama keluar." Daniel mengangguk setuju.
*****
Hari hampir menjelang Maghrib saat mama Safira keluar dari kamar Medina.
Daniel, Danu, Rani bahkan Syifa tidak ada yang berani masuk.
"Mama..." Daniel beranjak dan mengahmpiri mamanya.
"Bagaimana?" Tanya Daniel penasaran.
"Apa yang bagaimana?" Mama Safita menatap tajam putra bungsunya.
"Masuklah....Medina mencarimu."
Tanpa menjawab, Daniel langsung berlari masuk kedalam kamar.
"Honey...." Daniel berjalan mendekati istrinya.
Medina tersenyum cantik meski matanya terlihat sembab dan membengkak. Membuat Daniel semakin merasa bersalah.
"Sayang....Maaf." Daniel langsung memeluk Medina dengan erat.
"Tidak. Aku yang seharusnya meminta maaf." Daniel membalas pelukan istrinya lebih erat.
Dan saat Daniel hendak melepas pelukannya, Medina menahannya. "Aku ingin seperti ini dulu, jangan dilepas." Pintanya seraya menyamankan diri dalam pelukan pria terkasihnya.
Daniel menghujani Medina dengan kecupan di kepalanya. Ia bersyukur, istrinya tidak terpuruk lebih lama.
"Hon....." Panggil Daniel.
"Putri cerewet kita menanyakan mu sejak tadi." Bisik Daniel membuat Medina langsung mendongak.
"Syifa juga ikut?" Medina tersenyum berbinar mendengar gadis kecil yang sangat dirindukannya berada di villa.
Sebenarnya Daniel masih ingin bicara lebih dengan istrinya. Namun melihat wajah bahagia itu, Daniel mengurungkan niatnya.
"Baiklah....aku akan mandi. Aku tidak mau Syifa melihatku seperti ini. Atau dia akan menjadi detektif kecil." Medina tertawa kecil membuat hati Daniel seketika menghangat.
"Aku mencintaimu. Dan aku akan melakukan yang terbaik untuk bidadari ku." Daniel mengecup kedua mata, hidung hingga bibir Medina.
__ADS_1
"Terimakasih, Sayang."
"Aku keluar ya. Jangan lama karena kita akan sholat Maghrib berjamaah." Medina mengangguk saat suaminya pamit keluar kamar lebih dulu.
Medina menghela nafasnya menatap punggung lebar suaminya yang menjauh. Meski perasaannya belum sepenuhnya menerima kenyataan, tapi ia tidak ingin mengecewakan suaminya yang telah berusaha mencari informasi tentang kedua orangtuanya.
****
Setelah selesai makan malam keluarga Daniel berkumpul diruang tengah, diselingi tawa renyah saat mereka melihat atau mendengar tingkah lucu dari Syifa.
"Bunda...Ifa boleh tidur sama mama Niel?" Tanya Syifa dengan mimik lucu. Manik bulatnya menatap semua orang.
"Ifa kangen mama Niel." Tangan kecilnya memeluk pinggang Medina yang duduk disampingnya.
"Uh sayang...." Gemas Medina hingga menghadiahi gadis kecil itu dengan kecupan bertubi-tubi.
"Syifa sudah mau masuk Sekolah dasar, kenapa masih minta tidur sama mama?" Daniel mengangkat tubuh Syifa ke atas pangkuannya.
"Ifa kangen, Pa." Syifa selalu begitu, tidak bisa dibujuk jika sudah ada maunya.
"Ya sudah....ajak Syifa masuk. Dia sepertinya sudah mengantuk." Mama Safira memotong pembicaraan.
"Syifa atau nenek yang mengantuk?" Gurau Danu dan langsung mendapat pukulan dibahu.
"Aku akan menemani mama sebentar." Daniel berdiri dan mengikuti mama Safira. Ia perlu bicara empat mata dengan mamanya.
"Yuk...." Medina mengulur kan tangannya dan langsung disambut oleh Syifa.
Syifa mencium bunda dan papanya sebelum masuk kedalam kamar Medina. Sementara itu Rani memberi kode kepada Medina.
"Entah terbuat dari apa hati Medina. Aku bangga menjadi kakak iparnya." Rani tersenyum menatap kepergian adik iparnya.
"Kita banyak belajar dari Medina." Danu menimpali.
"Ada yang harus aku bicarakan dengan Daniel. Istirahatlah." Danu mencium kening dan perut Rani.
"Aku pikir, Medina perlu waktu berdua dengan Daniel." Lanjut Rani.
"Baiklah. Aku akan membawanya saat Syifa sudah tidur." Danu melihat Daniel keluar dari kamar mama Safira.
"Kita perlu bicara." Danu menatap adiknya.
"Sebentar saja." Ucap Danu saat tatapan Daniel mengarah pada pintu kamarnya.
"Sambil menunggu Syifa tertidur pulas." lanjut Danu.
"Apa Syifa tidak jadi tidur bersama kami?" Tanya Daniel.
"Kalian butuh waktu berdua." Danu tersenyum jahil.
"Jangan mengejek ku. Semenjak pulang dari rumah sakit aku bahkan belum menyentuhnya. Aku terlalu takut akan menyakiti calon bayi kami." Jelas Daniel dengan wajah datar.
"Dasar mesum...kenapa pikiran kamu mengarah kesana?" Danu melempar bantal sofa ke arah Daniel.
Keduanya tertawa lebar kemudian saling mengobrol membahas rencana Daniel dan Medina.
"Aku tidak akan memaksa Medina harus buru-buru menerima orangtuanya."
"Kita harus membuat Medina senyaman mungkin. Pendarahan yang pernah terjadi, bisa saja terulang jika Medina merasa tertekan., Dan tugasmu harus terus menjaganya." Saran Danu kepada adiknya.
"Kakak benar. Aku akan selalu menjaganya. Terimakasih."
"Biarkan Syifa bersama Medina. Dia obat yang paling mujarab saat ini." Daniel tertawa kecil.
"Kamu benar, gadis kecilku selalu bisa menghidupkan suasana."
__ADS_1
"Baiklah aku akan masuk. Selamat malam." Danu menepuk pundak adiknya sebelum akhirnya masuk kedalam kamarnya.
Daniel beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah dapur. Ia yakin istrinya belum tidur. Daniel membuka lemari pendingin dan mengambil yogurt, buah dan sepotong kue yang mama Safira bawa. Dan tidak lupa sebotol air mineral.
"Honey...." Daniel menaruh nampan dimeja dan mengedarkan pandangannya.
"Hon...." Daniel melihat istrinya keluar dari kamar mandi.
Medina menghampiri suaminya dengan senyum cantik nya. "Kemarilah." Daniel menarik tangan Meidna dan mendudukkan nya disofa.
"Tadi kak Rani memberiku ini. Katanya dioles diperut dan kaki supaya tidak timbul strachmark dan memberi rasa nyaman dan rilex pada ibu hamil." Daniel menunjukan sebuah cream kepada Medina. Kemudian membawa kedua kaki istrinya ke atas pangkuannya.
"Aku bisa lakukan nanti, kak." Tolak Medina halus.
"Tidak bisa. Biar aku yang melakukan. Sekarang tugas istriku menghabiskan isi diatas nampan ini." Daniel menyerahkan nampan ke atas pangkuan Medina.
"Terimakasih, sayang." Medina mencium pipi Daniel.
"Disini." Tunjuk Daniel ke bibirnya.
"Ish...dikasih hati minta jantung." Medina terkekeh.
"Sini....Lebih maju." pinta Medina karena ia kesusahan bergerak karena ada nampan makanan dipangkuan nya.
"Kamu tidak sabaran, Honey."
PLAKK!!
Medina memukul lengan Daniel. Hingga pria kekar itu terkekeh.
Daniel mendekat kan wajahnya hingga berjarak beberapa centimeter saja. Tangan mungil Medina mengusap rahang kokoh yang ditumbuhi bulu-bulu halus
"Maafkan Medina...karena belum mengurus kakak dengan baik." Airmata Medina menggenang dengan cepat.
"Terimakasih karena terus menjagaku." Medina menempelkan bibirnya pada bibir kenyal Daniel.
Pertemuan dua bibir berlangsung lama hingga keduanya kehabisan nafas.
"Aku mencintaimu." Medina kembali ******* bibir Daniel.
"Aku sangat mencintaimu. Sangat...sangat..." Daniel menggesekkan hidungnya pada hidung Medina.
"Habiskan cemilan malamnya, baby." Daniel mencium perut Medina.
"Iya Daddy." Jawab Medina dengan menirukan suara anak kecil.
"Jadi kamu setuju, baby akan memanggilku dengan sebutan Daddy?" Tanya Daniel dengan raut wajah terkejut. Karena seingatnya Medina pernah menolak dengan panggilan Daddy.
Medina mengangguk dengan senyuman yang membuat Daniel gemas.
"Kenapa?" Tanya Medina saat melihat suaminya menatapnya dengan intens.
"Aku tidak akan memaksamu segera bertemu dengan mereka." Ucap Daniel dan Medina mengangguk pelan.
"Aku akan mendukung apapun keputusan mu." Daniel menggenggam tangan Medina.
_
_
_
_
_
__ADS_1
_