
Daniel menutup komputer lipatnya, lalu menyuruh asistennya membawa semua berkas dari atas meja kerjanya.
"Apa masih ada pekerjaan untukku?" Tanya Daniel dan Arif langsung menggeleng sebagai jawaban karena mata dan bibirnya sibuk memeriksa berkas-berkas penting yang telah selesai dibaca dan ditandatangani bosnya.
"Baiklah Aku akan pulang." Ucap Daniel sudah beranjak dari tempat duduknya.
"Tapi ini masih jam tiga sore, bos." Sahut Arif melihat arloji yang melingkar dipergelangan tangannya.
"Lalu?" Daniel menaikkan alisnya.
"Pekerjaanku sudah selesai." Ucap Daniel datar seolah tidak merasa jika selama ini Arif lah yang lebih banyak mengerjakan pekerjaannya.
Arif menghela nafas panjang. Daniel memang telah menyelesaikan pekerjaan hari ini, tapi itu hanya mengecek laporan dan menandatangani berkas-berkas penting saja.
"Aku akan datang meninjau gedung baru sebelum pulang." Seolah tahu jalan pemikiran asistennya, ucapan terakhir Daniel membuat Arif tersenyum lebar.
"Aku pikir kamu lupa." Arif merapikan berkas yang akan dibawanya.
"Cepat keluar, aku ingin mandi lebih dulu sebelum pulang." Daniel berjalan ke arah pintu disusul Arif.
"Baiklah...sampai bertemu besok malam." Arif keluar ruangan bosnya.
****
Tamu undangan dari para kolega bisnis Sanjaya Group mulai berdatangan. Terlihat dari banyaknya mobil yang berlalu lalang menurunkan tamu di lobby hotel. Membuat staff dan semua karyawan hotel sibuk melayani dan menjamu para tamu.
Keluarga pak Sanjaya dan besan tengah berkumpul dalam ruangan yang telah disulap menjadi ruangan serba guna. Ada meja makan besar dan sofa untuk keluarga berkumpul.
"Aku harap mama mertuamu ikut hadir jamuan makan malam ini." Harap Ibu Melani saat sedang menemani Medina berganti pakaian dikamarnya.
"Mama tidak sesehat yang terlihat. Bukan tidak ingin beliau bergabung, tapi kami harus menjaga dan mengatur waktu istirahatnya." Jelas Medina dengan hati-hati, tidak ingin ibu kandungnya tersinggung.
"Sama seperti ayah, kita juga harus mengatur jadwal asupan makanan dan istirahatnya." Lanjut Medina.
"Ibu sudah mendengar bagaimana awal pertemuan kalian. Dan ibu sangat bersyukur kamu bertemu keluarga yang baik." Manik Ibu Melani berkaca-kaca. Tangannya terulur mengusap pipi Medina.
"Cinta mereka sungguh luar biasa. Bahkan ibu sering dibuat iri karena mereka telah lebih dulu memasuki hati dan kehidupanmu. Mereka sangat mencintaimu, dan rasanya ibu ingin membalas semua Budi baik mereka padamu." Ibu Melani menunduk. Air matanya tidak dapat dibendung. Ia menangis mengingat bagaimana dirinya memberikan Medina bayi kepada orang lain lalu meninggalkannya tanpa apa-apa.
"Ibu...."Medina langsung memeluk tubuh ibu Melani. Memeluknya dengan erat. Medina pun akhirnya ikut mennagis, kembali mengingat masa kelam dan sulit saat berada dikampung..
"Rasanya ini seperti mimpi. Kamu menggenggam tangan kami dan memeluk kami dengan penuh cinta." Ibu Melani sesegukan.
"Sejak kecil, bapak dan ibu selalu mengajarkan hal baik meskipun keadaan kami banyak kekurangan." Medina mengingat bagaimana kedua orangtua angkatnya menyayanginya dan mengajarkan hal baik padanya.
"Ibu berhutang Budi pada mereka." Ibu Melani menatap wajah Medina yang telah basah karena air mata.
"Kalian kenapa menangis?" Suara bariton pak Sanjaya membuat keduanya menoleh.
"Hm?" Pak Sanjaya menelisik wajah kedua wanita dihadapannya. Namun keduanya malah sibuk mengusap airmata.
"Kami sedang berencana untuk mengunjungi pusara Agus dan Rahmi." Sahut Ibu Melani.
"Mereka....?"
"Orangtua angkat Medina, Yah." Timpal Medina dengan wajah sendunya. Mengingat kedua orangtua angkatnya, jujur membuat Medina bersedih.
__ADS_1
"Maafkan, Ibu..." Keduanya kembali menitikkan air mata. Ibu Melani bahkan beberapa kali menggelengkan kepalanya. Tidak sanggup membayangkan bagaimana perjuangan putrinya bersama Agus dan Rahmi.
"Mereka sudah mendidikmu dengan baik. Mereka adalah orangtuamu." Ucap Pak Sanjaya lirih.
"Allah telah mengganti semua rasa sedih dan kehilangan yang pernah Medina rasakan dengan kebahagiaan. Bersama Ayah dan Ibu juga suami dan semua orang yang mencintai dan menyayangi Medina dengan tulus." Medina merebahkan kepalanya dipundak Pak Sanjaya.
"Mari kita hidup bahagia." Ucap Medina sambil menggenggam kedua tangan Ayah dan ibunya. Ketiganya berpelukan penuh haru.
****
Daniel terlambat datang karena tiba-tiba harus bertemu klien saat dirinya akan beranjak pulang. Bahkan ia tidak sempat untuk ikut makan malam bersama keluarga pak Sanjaya.
"Maaf tidak bisa bergabung makan malam bersama kalian." Daniel tidak enak hati kepada mertua dan besan mertuanya karena tidak ikut hadir dalam jamuan makan malam.
"Tidak apa. Kami mengerti kesibukan pengusaha muda seperti kamu." pak Sanjaya memahami kesibukan menantunya.
"Sayang...kamu baru datang? Sudah makan?" Tanya Medina yang baru saja datang bersama ibu Melani dan Donita.
"Apa kamu baik-baik saja?" Bukannya menjawab pertanyaan istrinya, Daniel justru menyambut istrinya dengan pertanyaan.
Medina terkekeh mendengar pertanyaan suaminya. Lantas memeluk suaminya dari samping.
"Aku dan calon anak kita baik-baik saja. Semua orang menjagaku dengan ketat." Kekeh Medina dan membuat suaminya mendaratkan kecupan bertubi-tubi karena gemas.
"Sebaiknya kita semua istirahat. Karena besok adalah hari yang panjang." Ucap Pak Sanjaya dan semua orang mengangguk menyetujui.
Semua orang membubarkan diri setelah saling menyapa. Membuat janji, besok pagi kembali berkumpul tepat jam tujuh pagi untuk sarapan bersama.
"Sayang...sepertinya ini bukan kamar kita." Medina melihat sekelilingnya. Kamar hotel yang luas dengan dekorasi kamar yang biasa digunakan untuk pasangan yang sedang honeymoon.
"Ini kamar kita." Daniel mendekati Medina yang sudah membuka hijabnya. Lalu mencuri kecupan pada bibir ranum yang selalu menjadi candunya.
"Kakak sudah mandi?" Tanya Medina mengendus bau tubuh suaminya. Tampak segar dan wangi. Membuat Medina betah dan ingin berlama-lama memeluk suaminya.
"Tentu saja, aku akan selalu tampak bersih dan wangi saat menemui istriku." Bibir Daniel sudah berada ditulang selangka istrinya. Memberi kecupan dan gigitan kecil hingga mencetak warna merah disana.
Medina yang selalu mendamba setiap sentuhan suaminya, memejamkan mata saat bibir suaminya terus menyusuri area leher hingga tengkuknya. Tangan Daniel juga ikut beraksi membuka kancing gamis istrinya. Hingga nampak dada Medina yang terlihat montok dan sedikit menyembul keluar serta lebih besar ukurannya dari sebelum ia hamil.
"Kamu semakin sexy, Hon." Bisik Daniel membuat tubuh Medina meremang. Kedua tatapan mereka bertemu hingga degup jantung keduanya semakin memacu lebih cepat.
"Aku gendut." Kekeh Medina tanpa mengalihkan pandangannya.
"Kamu sexy." Daniel menggeleng.
"Jika para lelaki mengatakan wanita sexy adalah wanita yang kurus dengan kaki jenjang itu salah. Karena bagi para suami, wanita sexy adalah istrinya saat sedang hamil buah cintanya." Ucap Daniel dengan tatapan penuh damba.
"Gombal!" Medina mencubit pipi suaminya lalu terkekeh merasa lucu dengan yang dikatakan suaminya.
"Wanita langsing sexy itu biasa. Namun saat hamil, tingkat kesexyannya naik berlipat-lipat. Apalagi jika dia pandai menggoda." Daniel mengerlingkan sebelah mata. Sengaja menggoda istrinya yang sudah merona sejak tadi.
"Ish...jadi kakak suka memperhatikan wanita-wanita hamil diluaran sana?" Satu cubitan mendarat diperut roti sobek Daniel.
"Jika dirumah ada, kenapa harus melirik yang diluar sana? hm?" Daniel mendaratkan kecupan dihidung Medina.
Semburat rona merah di pipi Medina semakin teihat jelas. Membuat Daniel gemas dan tidak puas jika hanya menatapnya saja. Dengan lembut Daniel menempelkan bibirnya pada bibir istrinya. Memberi lumayan dan sesapan hingga kedua bibir bertukar saliva. Medina selalu hanyut dalam ciuman lembut dan menuntut yang selalu menaikkan hormon *** nya.
__ADS_1
"I love you so much." Kedua hidung kini saling menempel setelah kedua bibir terlepas dengan basah.
"I love you too." Balas Medina dengan manik berkaca-kaca. Tatapan keduanya saling mendamba penuh cinta.
"Jangan menangis." Daniel menjauhkan wajahnya dan langsung mengusap buliran air mata yang jatuh dari mata indah istrinya.
"Aku tidak menangis. Aku...bahagia." Tangan Daniel yang masih berada di pipi Medina kini beralih pada bibirnya. Medina menciumi telapak dan punggung tangan suaminya berkali-kali
"Jika suatu hari nanti aku lalai akan kewajibanku sebagai seorang hamba dan seorang istri, tolong jangan lepaskan tanganku. Bimbing aku terus menerus meskipun kamu lelah. Jangan berhenti mencintaiku kecuali jika takdir Tuhan menginginkan itu." Lirih Medina.
"Ssssttt....kamu bicara apa?" Daniel menutup mulut istrinya.
"Kita akan selalu bersama-sama. Apapun keadaanya, karena kita sudah saling berjanji." Daniel mengecup kedua mata Medina yang basah.
"Sudah malam, ayo istirahat." Daniel memapah istrinya ke ranjang. Setelah berbaring, Daniel duduk dibibir ranjang dengan masih menggenggam tangan istrinya.
"Boy...katakan pada mama mu, jika mama sering bersedih kamu juga akan menjadi anak laki-laki yang cengeng." Daniel berkata dihadapan perut Medina. Membuat bibir istrinya mengukir senyum tipis karena merasa lucu dengan yang dikatakan suaminya pada calon anak mereka.
Dan satu tendangan menjadi respon dari calon bayi membuat Daniel dan Medina saling bertukar pandang lalu tertawa. "Lihat, dia langsung meresponnya, Hon." Ucap Daniel sambil menciumi perut Medina.
Dan gerakan calon bayi mereka semakin membuat Daniel betah berlama-lama mengajaknya mengobrol. Medina pun kembali ceria karena setiap gerakan yang dibuat bayi dalam perutnya membuatnya menahan sakit dan geli bersamaan.
"Sebaiknya setelah dia lahir dan besar, kita program anak kembar saja. Supaya lebih cepat memiliki banyak anak." Ucap Daniel dengan entengnya.
"Insya Allah." Sahut Medina.
Keduanya saling memeluk dan saling mencumbu namun tidak terjadi penyatuan, sebelum akhirnya terlelap kedalam alam mimpi.
_
_
_
_
_
Halooo...Mohon maaf maaf lama ga update, karena anggota keluarga bergantian sakit. Jadi aku harus full ngurus mereka sampai sehat. Alhamdulillah sedang masa recovery. mohon doanya semua.
Jaga kesehatan selalu ketatkan prokesnya ya gaes...Karena Covid 19 belum selesai.
Jika berkenan mampir dan baca novel terbaruku:
Kepingan Cinta Yang Hilang
Rindu Sang Duda
Tapi bukan di NT, sedang mencoba peruntungan di lapak K.B.M app. Pake koin untuk buka bab nya🙏🏻
Mohon dukungannya ya, dan semoga dimudahkan dan dilancarkan rejekinya semua.
__ADS_1