
Daniel memeluk erat tubuh istrinya setelah menyelesaikan permainan mereka setengah jam lalu.
"Sayang...aku mengantuk" Medina menahan tangan suaminya yang kembali bergerilya ditubuhnya.
Daniel terkekeh dan menciumi wajah istrinya dengan gemas.
"Honey...satu ronde lagi, oke?" Seharian tidak bertemu istrinya membuat Daniel belum puas menikmati tubuh istrinya yang selalu menjadi candu.
"Sayang....aakkhhhh...." Medina mendesah saat tangan jahil Daniel kembali memainkan bagian inti Medina.
Daniel menyeringai, kini ia tahu cara membuat istrinya tidak menolak permainan mereka untuk kesekian kalinya.
"Nikmati saja, Honey" Daniel langsung mengambil alih permainan.
Keduanya kembali melakukan penyatuan, bersahutan dalam desahan dan erangan membuat irama yang indah didengar telinga.
Daniel menciumi tubuh istrinya dengan penuh kelembutan. Ketika bibir itu berada diatas perut, Daniel menciuminya sambil merapal doa agar semoga segera tumbuh benih cinta mereka dirahim Medina.
Setelah selesai melakukan aktifitasnya, Daniel menyelimuti Medina kemudian Daniel ikut membenamkan diri dibawah selimut bersama Medina.
Sementara dikamar lain, pak Sanjaya sedang menelepon pengacara keluarga untuk menyiapkan berkas pembagian aset milik pak Sanjaya.
Meski sempat mendapat penolakan dari sang pengacara, namun pak Sanjaya meyakinkan jika semua aset yang akan dibaginya adalah hasil jerih payahnya, bukan aset keluarga besarnya.
"Tugasmu hanya menyiapkan sebaik mungkin. Urusan dengan adik-adik ku akan aku tangani nanti" Ucap Pak Sanjaya sebelum menutup ponselnya.
Pak Sanjaya menghela nafas panjang. Sesungguhnya ia dan istrinya sungguh bahagia, namun ada ganjalan dihatinya yang membuatnya sedikit khawatir.
"Kenapa?" Suara lembut ibu Melani membuyarkan lamunan pak Sanjaya.
"Tidak apa-apa. Tidurlah....kita akan membicarakannya ini besok" Pak Sanjaya tersenyum.
Ibu Melani yang sudah berada diatas kasur pun mengangguk pelan dan mencoba memejamkan matanya.
Pak Sanjaya melirik istrinya yang sudah terlelap disampingnya. Tangannya terangkat menyentuh kepala ibu Melani.
"Maafkan aku..." Pak Sanjaya menatap ibu Melani dengan tatapan bersalah.
"Semoga kita berdua mendapatkan maaf dan cinta putri kita. Akan aku lakukan apapun agar putri kita bisa menerima kita" Ucap Pak Sanjaya sebelum ikut memejamkan matanya.
****
Medina menggeliat saat tubuhnya merasakan sentuhan lembut. Perlahan maniknya terbuka dan tersenyum cantik tatkala wajah tampan suaminya yang terlihat dihadapannya.
"Sayang...jam berapa sekarang?" Tanya Medina dengan suara khas orang bangun tidur.
"Hampir jam setengah enam pagi" Daniel memeluk tubuh Medina yang masih polos karena permainan mereka semalam.
"Apa?" Medina terkejut karena untuk pertama kalinya ia bangun kesiangan.
"Kenapa tidak membangunkan?" Medina mulai beringsut turun dari ranjang namun karena tidak menemukan baju atau handuk, akhirnya ia mengirim niatnya turun ranjang.
"Tenang honey...ini masih jam 4 pagi" Daniel tertawa puas karena sudah mengerjai istrinya.
"Apa? Iihhh...dasaarr!!" Medina memukuli tubuh kekar suaminya. Hingga tanpa sadar selimut yang membelit tubuhnya terlepas hingga tubuhnya polosnya terpampang jelas.
"Hei...kamu sengaja menggodaku ya? cup!!" Daniel mengecup bibir Medina sekilas. Membuat Medina menutup wajahnya.
"Jangan menciumku, aku masih bau" Sungut Medina. Ia sedikit kesal karena sudah dikerjai suaminya.
"Wangi saat kamu baru bangun tidur bagaikan candu buatku, kamu tahu?" Daniel tersenyum tampan.
"Ck...memangnya aku bayi? yang tetap wangi ketika bangun tidur" Medina menutup wajahnya dengan selimut merasa malu karena suaminya terus menciuminya.
"Iya...kamu bayi besarku...dan sekarang saatnya bayi besarku mandi" Daniel menyibak selimut dan mengangkat tubuh Medina yang polos menuju bathroom.
"Awwww...sayang!!" Medina menenggelamkan wajahnya diceruk leher Daniel. Ia tidak mau suaminya melihat wajahnya yang memerah karena menahan malu.
Setelah selesai membersihkan diri, keduanya melaksanakan sholat subuh berjamaah.
"Honey...kamu sudah membuka hadiah dari ibu Melani yang diberikan semalam?" Tanya Daniel.
"Ya Allah...aku hampir lupa" Medina menepuk keningnya.
Medina segera mengambil hadiah yang diterimanya semalam kemudian membukanya.
"Apa isinya?" Tanya Daniel mendekat.
"Kunci apa ini?" Medina menyerahkan sebuah kotak berisi kunci kepada Daniel.
"Kunci mobil"
"Apa?? Kunci mobil?? M_maksud kakak rereka memberikan hadiah mobil??" Medina sangat terkejut dengan hadiah yang diterimanya.
"Ini terlalu mewah...aku akan mengembalikannya" Medina memasukkan kunci itu kedalam kotak dan membungkus nya lagi.
__ADS_1
"Kenapa dikembalikan?" Daniel menahan bahu Medina .
"Kamu sendiri pernah bilang, jangan menolak niat baik seseorang yang memberikan hadiah atau mereka akan tersinggung" Ucap Daniel menirukan ucapan Medina saat bulan madu.
"Iya tapi yang ini aku tidak bisa menerimanya. Bukan saja ini barang mahal, tapi aku tidak mengendarai mobil" Medina berkilah.
"Kamu bisa menggunakan supir" Daniel masih mencoba menahan istrinya.
"Tapi....aku tidak bisa menerimanya" Medina menghela nafasnya. Ia sungguh tidak menyangka jika hadiah yang diberikan rekan bisnis suaminya adalah sebuah mobil.
"Kakak tidak melakukan bisnis gelap dan haram kan dengan pak Sanjaya?" Mata Medina memicing menatap suaminya.
"Apa? Kenapa kamu berpikir seperti itu?" Daniel terkejut dengan pertanyaan istrinya.
"Apa rekanan bisnis selalu saling memberi hadiah mewah?"
"Mereka sedang tidak sedang membohongi perusahaan kakak dengan melakukan kerja sama dan hadiah ini, kan? Medina memberikan oertanya bertubi-tubi kepada Daniel hingga Daniel seketika tertawa terbahak-bahak.
Melihat suaminya tertawa membuat Medina kesal hingga akhirnya mendarat kan cubitan diperut suaminya.
"Awwww...!!! Sakit, Honey" Daniel mengaduh karena cubitan Medina.
"Tertawa saja terus!!" Ketus Medina memalingkan wajahnya dan menunduk. Air matanya mulai menetes membasahi pipinya yang mulus.
"Honey...sepertinya istriku terlalu banyak menonton berita korupsi. Aku dan Pak Sanjaya menjadi rekanan bisnis dijalan yang benar dan halal. bukan seperti yang kamu tuduhkan. Dia pengusaha kaya raya, memberi hadiah mewah sudah biasa dilakukan mereka" Daniel memeluk istrinya dan memberikan ciuman bertubi-tubi.
"Dan bukan hanya itu, mereka menyukai dirimu. Mereka menganggap dirimu___" Daniel mengehentikan ucapannya. Ia hampir saja keceplosan.
"Mereka menganggap aku apa?" Tanya Medina.
"Jika kamu merasa tidak bisa menerima hadiah itu, baiklah...kembalikan saja. Aku akan menemanimu" Ucap Daniel mengalihkan pembicaraan.
"Aku hanya merasa benda itu akan mubazir, karena aku tidak bisa menggunakannya" Medina memeluk dan merebahkan kepalanya didada Daniel.
"Apa kakak akan bekerja?" Tanya Medina.
Namun ponsel Daniel berdering sebelum ia menjawab pertanyaan istrinya.
"Halo"
"Kalian sudah bangun?"
"Iya"
"Kalian sudah melihat mobilnya? Aku dan istriku sedang berada diarea parkir VIP, ajaklah Medina kemari"
"Siapa?" Tanya Medina.
"Sebaiknya kita mengganti pakaian, kita akan lihat sekeren apa kendaraanmu sebelum kita mengembalikannya" Daniel tersenyum tampan.
"Mobilnya ada disini?" Tanya Medina tidak percaya.
Daniel hanya mengangguk mengiyakan.
Tanpa berkata-kata lagi Medina langsung mengganti pakaian nya, begitu pula Daniel.
"Sudah?" Daniel melihat istrinya tengah memakai hijab.
"Sudah, Ayo" Medina membawa semua hadiah dan barang miliknya keluar dari kamar. Mengikuti langkah suaminya menuju tempat yang sudah diberitahu Pak Sanjaya.
"ah..itu mereka" Ibu Melani menunjuk Medina dan Daniel yang berjalan mendekat. Memuat pak Sanjaya menoleh ke arah Daniel dan Medina.
"Selamat pagi" Sapa Daniel lebih dulu.
"Selamat pagi" Sahut Pak Sanjaya dan ibu Melani bersamaan.
Medina memeluk ibu Melani dan tersenyum ramah kepada pak Sanjaya.
"Apa kabar, nak? tidur kalian nyenyak?" Tanya Ibu Melani.
"Alhamdulillah...terima kasih" Jawab Medina yang masih merasa canggung.
"Kamu sudah membuka hadiahnya?" Tanya Pak Sanjaya dan Medina hanya mengangguk.
"Kenapa?" Ibu Melani melihat Medina merasa tidak nyaman.
"Istriku sangat terkejut dengan hadiah yang anda berikan. Dia merasa tidak pantas mendapatkan hadiah mewah seperti itu" Jawab Daniel mewakili istrinya.
"Maaf..." Lirih Medina menatap Ibu Melani dan pak Sanjaya bergantian.
"Kenapa kamu minta maaf, sayang?" Ibu Melani mengelus punggung tangan Medina.
Sementara Medina terkejut saat ibu Melani memanggilnya sayang.
"Kamu bisa melihatnya lebih dulu, nanti baru putuskan apakah kamu akan menerina ataubmemolak hadiah dari kami. Kami akan menerima keputusan akhirnya" Ucap Pak Sanjaya sembari berjalan ke arah mobil yang ditutupi kain berwarna hitam.
__ADS_1
Pak Sanjaya meminta anak buah nya untuk membuka kain penutup mobil.
Dan pada saat kain penutup itu telah terbuka, Daniel melirik Medina yang berdiri disampingnya. Bagi sekelas pak Sanjaya membeli barang mewah sudah menjadi hal yang lumrah. Ia memamhami posisi pak Sanjaya dan ibu Melani saat ini. Ingin memberikan hal terbaik kepada Medina menggantikan waktu 24 tahun yang telah berlalu tanpa kehadiran orangtua dan keluarga kandungnya. Tapi bagi Medina, hal ini tentu sangat membuatnya terkejut. Seseorang yang baru dikenalnya, dengan mudah memberikan hadiah semewah itu tentu menimbulkan banyak pertanyaan di kepalanya.
"Bagaimana, Honey?" Daniel membuyarkan lamunan Medina.
"Hah?" Medina nampak kaget dan tersenyum kikuk.
"Sayang, bagaimana? apa kamu menyukainya?" Ibu Melani menatap Medina dengan sayu.
"A_aku menyukainya, Bu. Tapi..."
"Jika kamu menyukainya, terimalah dan simpan saja. Mungkin suatu saat nanti, kamu akan membutuhkan mobil ini, Honey. Benar pak Sanjaya?" Potong Daniel dengan cepat.
"Yang dikatakan suamimu benar, Nak. Kamu bisa lakukan apapun pada mobil ini karena ini sudah menjadi milikmu" Pak Sanjaya membenarkan ucapan Daniel dan menyerahkan berkas kepimilikan mobil kepada Medina.
"Kami akan bersedih jika kamu menolaknya" Ucap Pak Sanjaya lagi dengan tatapan memohon.
Medina melihat Pak Sanjaya dan ibu Melani bergantian. Sebenarnya ia bahagia namun entah mengapa ia sedikit bingung.
"Aku akan menerimanya, terimakasih" Daniel menerima berkas itu dan menatap Medina penuh arti.
"Ayo kita kedalam, ibu ingin menyiapkan sarapan untukmu tapi ibu tidak tahu masakan kesukaanmu" Ibu Melani menggandeng tangan Medina masuk kedalam hotel.
Medina mengikuti langkah ibu Melani. Sepanjang perjalanan ke dalam hotel, Medina hampir dibuat kagum dan terkejut. Karena ibu Melani menceritakan sejarah hotel ini dibangun dan semua desain yang ada dihotel itu adalah hasil karya tangannya sendiri.
"Hotel ini milik pak Sanjaya?" Tanya Medina penasaran.
"Lebih tepatnya milik ibu" Ucap Ibu Melani tersenyum cantik.
Medina membulatkan matanya tidak percaya apa yang barusan didengarnya. Dalam hati Medina berkata pantas saja hampir semua karyawan hotel yang bertemu mereka tersenyum dan memberi hormat kepada ibu Melani.
"Ibu akan memberikan kartu khusus untukmu, jadi kamu bisa datang dan menginap di hotel ini sesukamu tanpa harus registrasi" Ucap Ibu Melani.
"Apa? I_itu tidak perlu Bu. Aku lebih suka tinggal dirumah dan melakukan aktifitas sebagai ibu rumah tangga" Tolak Medina halus. Ia harap ibu Melani tidak tersinggung dengan penolakannya.
"Tidak perlu sungkan, ibu sudah menyiapkan semuanya. Ibu sangat senang bisa bertemu denganmu"
Ibu Melani dan Medina kini berada disebuah ruangan yang menghadap ke taman yang cukup luas.
"Apa makanan kesukaanmu?" Tanya Ibu Melani.
"Aku menyukai semua makanan Indonesia" Medina tersenyum cantik dibalas anggukan ibu Melani.
"Makanan barat?"
"Masakan itali" Jawab Medina cepat dengan senyum.
"Apa?"
"Masakan itali, bahkan seminggu sekali kau merengek kepada kak Daniel agar membawaku ke restoran itali" Jawab Medina dengan terkekeh.
Mendengar ucapan Medina, ibu Melani langsung memeluk tubuh Medina.
"Ya Tuhan....bahkan makanan kesukaan kalian sama" Ibu Melani tidak menyangka jika makanan kesukaan suaminya sama dengan putrinya.
"Selain pengusaha muda yang sukses, suamimu ternyata pria yang sangat mencintai istrinya" Ibu Melani melepaskan pelukannya.
Medina hanya mengangguk mengiyakan. Wajah putihnya seketika memerah karena mengingat suaminya.
"Bagaimana kalian bertemu dan menikah?" Tanya Ibu Melani penasaran. Karena setau dirinya, Medina tinggal di Kota S dan Daniel tinggal dikota J.
Medina terdiam dan tampak berpikir apa ia akan menceritakannya atau tidak.
"Tidak apa-apa jika tidak mau bercerita. Tapi ibu menebak, jika Daniel yang lebih dulu menaruh hati padamu. Apa ibu benar?" Medina tersenyum dan mengangguk.
"Kalian memang pasangan yang sangat cocok. Semoga kehidupan rumah tangga kalian selalu bahagia dan segera dikaruniai keturunan" Ucap Ibu Melani lagi.
"Aamiin"
"Baiklah...waktu sarapan hampir tiba. Suamiku biasa sarapan masakan rumah jadi dia meminta ibu membuatkan mie goreng Jawa"
"Mie goreng Jawa? Ibu bisa membuatnya?" Tanya Medina antusias.
"Tentu saja.." Ibu Melani sudah mengumpulkan bahan yang akan dimasak.
"Medina akan bantu ibu" Medina meletakkan tas yang dibawanya diatas sofa dan mulai membantu ibu Melani menyiapkan sarapan.
_
_
_**TB
_Maaf telat up karena sudah mulai sibuk dengan rutinitas lagi**.
__ADS_1
_
_