
Medina keluar dari kamar selepas sholat subuh. Tujuan utamanya adalah pergi ke dapur. Perutnya terasa lapar setelah semalam ia menghabiskan banyak energi karena pergulatan panasnya.
Namun saat melihat pemandangan sekitar ia cukup terkejut dengan banyaknya orang yang tengah mengerjakan dekorasi untuk acara. Bahkan beberapa dekorasi telah selesai dikerjakan. Medina tidak menyangka jika Ayahnya bersedia mengadakannya dirumah.
Daniel yang tadinya masih ingin bersantai didalam kamar, melihat istrinya masih berdiri diambang pintu membuatnya penasaran dan akhirnya menyusul Medina keluar kamar.
"Ada ap__wahhh kapan mereka mendekor semua ini?" Daniel pun sama terkejutnya dengan istrinya.
"Sepertinya mereka bekerja saat kita tidur." Gumam Medina.
"Aku tidak menyangka Ayahmu akan membuat acara ini dirumah. Maksudku...beliau mempunyai hotel dan villa, kenapa tidak diadakan disana saja?" Daniel mengutarakan pendapatnya.
"Aku tidak tahu."
"Aku sudah melarang Ayah dan Ibu. Tapi mereka bersikeras mengadakan acara ini." Ucap Medina.
"Melihat kebahagiaan mereka aku tidak tega untuk menolaknya." Ucap Medina lagi.
"Mungkin mereka ingin menebus waktu 24 tahun yang terlewatkan." Bisik Daniel sambil memeluk tubuh Medina dari belakang.
"Sayang...temui mama dan ajak ke teras belakang. Aku akan minta pelayan untuk membawakan teh untuk kita." Medina menoleh dan mencium pipi suaminya sebelum pergi ke dapur.
"Baiklah." Daniel menutup pintu kamar dan berjalan ke kamar tamu.
****
Siang harinya semua anggota keluarga dan tamu undangan yang merupakan kerabat dekat pak Sanjaya serta puluhan anak-anak dari sebuah yayasan.
Tidak ketinggalan keluarga dari calon menantu mereka juga sudah berkumpul ditengah ruangan.
"Kamu sangat cantik." Daniel tidak henti-hentinya memuji dan menggoda Medina. Membuat rona pipi terus menghiasi wajah Medina yang memang sudah cantik.
Pak Sanjaya dengan bangga mengenalkan Medina kepada seluruh tamu undangan. Beliau juga mengenalkan Daniel kepada semua orang.
Dan saat semua orang sudah duduk dengan khidmat untuk memulai acara, Pak Sanjaya belum terlihat duduk bersama ditengah mereka.
"Mas...kenapa masih disini? apa ada yang masih kamu tunggu? acaranya sebentar lagi dimulai." Ibu Melani menghampiri suaminya yang terlihat berdiri diambang pintu utama.
"Iya." Jawab Pak Sanjaya tanpa melihat istrinya.
Ibu Melani langsung mengerutkan keningnya. Sejauh yang ia tahu semua tamu undangan sudah berada didalam ruangan. Termasuk calon menantu dan calon besan mereka.
"Siapa?" Tanya ibu Melani penasaran.
"Kamu akan tahu nanti." Jawab Pak Sanjaya menatap istrinya.
"Ayah...Ibu...Acara sudah akan dimulai. Ayo masuk kedalam." Suara Fian membuat keduanya menoleh ke belakang.
"Medina menanyakan kalian." Lanjut Fian.
"Kalian masuklah dulu. Aku akan menyusul nanti." Ucap Pak Sanjaya.
"Mas...." Ibu Melani mengusap pundak suaminya.
"Sebentar lagi." Tolak Pak Sanjaya.
"Ah...itu mereka." Pak Sanjaya menatap lurus ke depan dimana beberapa orang turun dari mobil yang baru saja terparkir dihalaman.
Fian dan Ibu Melani langsung mengikuti arah pandangan pak Sanjaya. Dan mereka sangat terkejut dengan kedatangan rombongan itu.
"Mas mengundang mereka?" Ibu Melani menelan ludahnya. Ia tidak menyangka suaminya akan mengundang orang-orang itu.
"Seperti ucapanmu dan Medina. Aku harus memberi kesempatan kedua bukan?" Pak Sanjaya tersenyum tipis lalu menyambut kedatangan rombongan.
****
Daniel mengurung istrinya dikamar setelah acara telah selesai. Ia merasa tidak nyaman ketika tahu siapa rombongan terakhir yang datang. Terlebih salah satu bagian dari rombongan itu adalah orang yang sangat ingin dihindarinya. Daniel bahkan menahan amarahnya selama acara berlangsung hingga selesai.
Farah. Ya...gadis itu berada dalam rombongan keluarga pak Sanjaya yang datang terakhir. Ia datang bersama kedua orangtuanya.
Jika menilik ke belakang...Keluarga mantan tunangannya itu sudah sangat bersikap tidak manusiawi.
Pertama papanya Farah, beliau pernah menghina Medina saat hubungan mereka baru saja dimulai.
Lalu mama Farah, yang merupakan adik kandung dari Ayah Sanjaya, bersengkokol dengan Pamannya sendiri untuk mencelakai Medina dengan menyewa orang-orang bayaran.
__ADS_1
Dan...Farah...Mantan tunangannya itu bahkan menghina Medina meskipun sudah mengetahui jika dirinya dan Medina adalah saudara sepupu. Sungguh perbuatan mereka sudah melebihi batas. Daniel belum bisa sepenuhnya memaafkan atas perbuatan mereka.
Dan jika selama ini Daniel hanya diam tidak bereaksi, itu karena ia masih menghargai keluarga istrinya. Menghargai permintaan istrinya untuk tidak lagi membuat benteng kebencian.
Daniel tidak habis pikir dengan jalan pemikiran ayah mertuanya. Jika untuk memberikan kesempatan kedua bagi mereka, tidak perlu mengundang mereka bukan? Apalagi pak Sanjaya tidak meminta ijin atau berbicara dengannya untuk sekedar meminta pendapat.
Daniel mengacak rambutnya frustasi.
"Sayang...Bagaimanapun mereka sekarang keluargaku." Medina terus membujuk suaminya yang tidak memberi ijin keluar kamar sebelum Farah dan keluarganya pulang.
"Aku sudah memaafkan mereka." Lanjut Medina.
"Tapi aku tidak." potong Daniel dengan menatap tajam istrinya.
Medina melihat suaminya dengan terkejut. Ia tidak menyangka jika Daniel akan semarah ini saat bertemu dengan keluarga Farah.
"Sayang...."
"Kali ini aku kecewa dengan Ayahmu." Ucap Daniel.
"Dia anggap aku apa? Tidak bisakah Ayahmu berdiskusi denganku jika ingin mengundang mereka?"
Deg
Medina menatap suaminya dengan lekat. Kini ia tahu sumber kemarahan suaminya.
"Sayang...tolong maafkan Ayah." Medina menghampiri Daniel lalu memeluknya dari samping.
"Dan...maafkan mereka." Lanjut Medina dengan suara pelan.
Tubuh Daniel yang sejak tadi menegang kini mengendur karena pelukan istrinya.
"Sekarang...bisakah kita keluar dan menemui semua orang?" Medina tersenyum.
"Tidak. Sebelum mereka meninggalkan rumah ini." Tegas Daniel.
"Sayang...." Medina menitikkan air mata. Ia melepaskan pelukannya. Lalu berjalan ke arah ranjang.
"Kamu menurut atau aku membawamu pulang saat ini juga." Ancam Daniel. Kekesalannya sudah berada diambang batas dan tidak bisa menahannya lagi.
Medina mendongakkan kepalanya yang tertunduk saat mendengar ucapan suaminya.
Daniel masuk kedalam kamar mandi dan menutup pintu dengan kasar. Daniel menjambak rambutnya dan berteriak frustasi.
"Aaarrrghh!!!"
Daniel kecewa kepada Ayah mertuanya. Daniel juga marah kepada dirinya sendiri karena sudah membuat Medina menangis.
****
"Nak...tidak seharusnya kamu semarah ini pada keluarga Medina." Bujuk Mama Safira.
Setelah semua anggota keluarga membubarkan diri, Mama Safira mendatangi kamar Medina untuk berbicara dengan putranya. Sementara Medina yang bersedih memilih keluar kamar dan menemui kedua orangtuanya.
"Kamu membuat putri mama menangis. " Lanjut mama Safira.
Daniel tidak bergeming. Ia masih tetap melakukan aktifitasnya mengepak semua pakaiannya dan Medina ke dalam koper. Daniel sudah memutuskan untuk kembali ke kota J hari ini.
"Daniel..." Panggil mama Safira karena putranya tidak menanggapi ucapannya.
Daniel menurunkan koper setelah semua pakaian masuk. Ia membawa koper itu ke dekat pintu agar mudah membawanya saat mereka keluar nanti.
Daniel duduk menjauh dari tempat duduk Mamanya. Ia tahu akan sulit untuk menolak permintaan sang mama jika ia duduk lebih dekat. Ia tidak ingin membuat kecewa sang mama.
Mama Safira tersenyum melihat putranya yang masih diam.
"Baiklah...apa kita akan pulang sekarang?" Tanya Mama Safira setelah beberapa saat suasana hening.
"Iya." Jawab Daniel pelan dan singkat.
"Baiklah...mama akan berkemas." Mama Safira meninggalkan Daniel begitu saja. Mama Safira menyadari jika kini putranya memiliki tanggung jawab penuh terhadap istri dan rumah tangganya dari orang-orang yang yang tidak ingin melihatnya bahagia.
Daniel mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak ingin suasana seperti ini, apalagi disaat kebersamaan istrinya dengan orangtuanya baru saja direngkuh.
****
__ADS_1
"Maafkan Ayahku karena mengundang mereka tanpa memberitahumu." Ucap Fian kepada Daniel saat Fian meminta untuk bertemu.
Melihat situasi yang tidak baik, membuatnya berinisiatif berbicara dengan suami adiknya.
"Kenapa beliau tidak mengajakku berbicara terlebih dahulu." Daniel membuka suaranya.
"Medina memang putrinya, tapi dia juga istriku. Dia sedang mengandung anak kami. Jika sesuatu terjadi pada mereka, aku tidak akan memaafkan semua orang termasuk diriku sendiri."
"Aku tidak masalah dengan apapun yang kalian lakukan untuk Medina. Bahkan saat Medina meminta untuk memberikan kesempatan kedua kepada mereka dan kalian semua mendukungnya, aku tidak mempermasalahkannya."
"Tapi mengundang mereka tanpa berbicara terlebih dahulu denganku__maaf, aku benar-benar tidak bisa menerimanya."
"Aku benar-benar kecewa." Daniel menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Menahan emosinya agar tidak meledak lagi.
Fian hanya terdiam. Ia tahu posisi Ayahnya salah. Karena yang berbicara saat ini adalah suami dari adiknya. Orang yang berhak atas Medina.
Keduanya menoleh saat pintu ruangan terbuka. Tampak Ayah Sanjaya masuk dengan wajah bersalah.
"Bagaimana Ayah melakukan ini tanpa sepengatuanku?" Todong Fian kepada Ayahnya.
"Maafkan Ayah."q
"Aku bersalah, seharusnya aku tidak gegabah." Ayah Sanjaya menghampiri Daniel yang kini membuang muka. Ia tidak ingin terlihat menghindari bertemu dengan ayah mertuanya.
"Ayah..." Sela Fian.
"Tinggalkan kami berdua, Fian." Pinta pak Sanjaya.
"Baiklah." Tanpa berkata apa-apa lagi Fian langsung keluar dari ruangan. Meninggalkan Ayah nya dengan sang menantu.
****
"Aku tidak pernah melihat kakak semarah ini." Lirih Medina sambil menangis dipelukan mama Safira.
"Dia hanya khawatir berlebihan."
"Sayang...." Mama Safira mengusap punggung Medina.
"Ma...apa kakak akan melarangku bertemu Ayah dan Ibu?" Mama Safira tersenyum mendengar pertanyaan menantunya.
"Kau ini bicara apa? Jangan berpikir macam-macam."
"Kakak sangat kecewa dengan Ayah."
"Kamu adalah kebahagian Putraku. Saat melihatmu bahagia berada ditengah-tengah keluarga, Daniel juga akan bahagia." Mama Safira mengusap pipi Medina yang basah karena air mata.
"Aku mencintai suamiku. Aku juga mencintai kedua orangtuaku."
"Aku mencintai kalian semua." Medina memeluk erat Mama Safira dan kembali menagis.
"Sayang..." Ibu Melani masuk kedalam kamar dengan membawa nampan berisi makanan.
Medina mengurai pelukan dan menghapus airmatanya. Memaksakan senyumnya kearah sang Ibu.
"Jangan terlambat makan, kasihan cucu Ibu." Meskipun pikirannya tertuju pada masalah yang sedang terjadi, Ibu Melani berusaha tegar dihadapan Medina.
"Aku tidak lapar, Bu." Tolak Medina dengan wajah sendunya.
"Mana bisa seperti itu? Ingat...ada kehidupan si kecil yang harus kamu jaga." Mama Safira ikut menasehati Medina sambil mengusap perut Medina.
"Tapi, ma...."
"Ibu dan mama mu akan menyuapi." Ibu Melani memberikan piring berisi nasi dan lauk kepada mama Safira.
Kedua wanita paruh baya itu menyuapi Medina dengan pikiran dan hati yang gelisah. Namun mereka berharap kesalahpahaman yang terjadi segera terselesaikan.
_
_
_
_
_
__ADS_1
TERIMA KASIH SUDAH MAMPIR. JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KEBAIKAN.
LEMPAR BUNGA/KOPI JUGA BOLEH BIAR AUTHOR NYA SEMANGAT NULISðŸ˜