
Di Kota B, keluarga Pak Sanjaya sedang mengadakan malam bersama calon besan pak Sanjaya disalah satu hotel miliknya. Bahkan Fian baru diberitahu ayahnya satu jam sebelum makan malam.
Acara makan malam mewah sengaja digelar pak Sanjayah bertujuan untuk membicarakan tentang rencana pernikahan Fian dan Donita sebelum kepindahan dirinya ke kota J.
"Aku pikir tidak ada salahnya jika kita mempercepat pesta pernikahan anak-anak kita" Ucap Pak Sanjaya setelah selesai makan malam.
"Apa?" Fian menoleh ke arah orangtuanya karena terkejut. Ia tidak menyangka jika makan malam keluarga ini untuk membicarakan tentang pernikahan.
"Kamu benar" Sahut Papa Donita yang bernama Faisal.
"Kalian sudah siap bukan?" Tanya Pak Faisal kepada Fian dan Donita.
"Jangan bertanya, mereka pasti sudah siap" Pak Sanjaya tersenyum penuh arti.
Donita mengangguk dengan wajah merona dan berbinar. Namun berbeda dengan Fian yang masih tampak ragu dengan keputusan kedua keluarga.
Fian meyakini jika keputusan Ayahnya terkait dengan rencana kepindahan mereka ke kota J untuk bisa lebih dekat dengan Medina.
"Nak....ada apa?" Pak Sanjaya memerhatikan Fian yang sejak tadi hanya diam mendengarkan.
"Maaf yah...bukan aku menolak keinginan kalian untuk mempercepat pernikahan ini. Tapi..dalam waktu dekat ini ada hal yang lebih penting dari pernikahan ini. Ayah tahu maksudku...." Jawab Fian.
Sebenarnya ia ingin beberapa waktu kedepan fokus kepada pekerjaan baru yang akan diembannya juga ingin sebisa mungkin bisa menemani kedua orangtuanya.
"Apa yang lebih penting dari pernikahan kita?" Donita merasa kesal karena mendengar ucapan Fian.
Fian menatap Ibu Melani dan pak Sanjaya secara bergantian. Ia tentu tidak akan menceritakan alasannya sebenarnya menunda pernikahan mereka.
"Maaf...aku ijin ke toilet sebentar" Fian yang tidak ingin ditekan lebih memilih meninggalkan meja makan.
"Maafkan aku Faisal...Aku tidak menyangka jika Fian akan bersikap seperti ini. Aku pikir dia akan siap" Pak Sanjaya merasa tidak enak hati.
"Om...ada apa sebenarnya dengan Fian? Aku merasa ada yang berubah dari Fian beberapa hari terkahir ini" Donita merasa tidak puas dengan keputusan sepihak Fian.
"Jadi begini pak Faisal..Saya dan istri berencana akan mengurus bisnis kami di kota J yang sudah lama tidak kami urus. Sementara bisnis dikota ini akan menjadi tanggung jawab Fian sepenuhnya. Dan sepertinya Fian belum siap akan hal itu. Mungkin karena hal itulah yang membuat Fian belum ingin mempercepat pernikahannya" Ucap Pak Sanjaya panjang lebar.
"Apa sebelumnya kalian tidak membicarakan hal ini kepada putra kalian lebih dulu?" Kali ini suara lembut Mama Donita bersuara.
"Maafkan kami jeng. Kami pikir jika pernikahan ini dipercepat, Fian akan mendapatkan support dari istrinya selama menjalankan tanggung jawab besarnya disini" Ucap Ibu Melani lembut sambil menatap wajah Donita yang sudah cemberut.
"Seharusnya om dan Tante tidak membebani Fian dengan tanggung jawab barunya disaat hubungan kami sedang merenggang" Donita bangkit dari duduknya dan meninggalkan kedua orangtua dan orangtua Fian.
"Maafkan sikap putri kami" Ucap pak Faisal.
Pak Sanjaya menarik nafasnya panjang. Ia tidak menyangka jika pertemuan dua keluarga ini akan berakhir seperti ini. Ia juga tidak menyangka jika Fian ternyata belum siap menerima keputusan nya.
"Aku akan membujuk Fian, jangan khawatir. Dia hanya merasa belum siap dengan keputusan kepindahan kami yang mendadak" Ucap Pak Sanjaya menjelaskan.
"Baiklah...aku tunggu kabar selanjutnya. Kami permisi dulu" Pamit Pak Faisal dan istrinya.
"Pikirkan lagi soal pernikahan mereka. Aku tidak mau Fian tertekan dengan keputusan kita yang terburu-buru. Biarkan dia memilih mana yang ingin ia jalani dulu. Bisnis keluarga atau pernikahannya" Saran Ibu Melani setelah kepergian orangtua Donita.
"Aku ingin semuanya segera selesai disini. Dan tidak ada penggaggu saat kita sudah pindah nanti" Pak Sanjaya mendekati istrinya dan tersenyum.
"Tapi seolah kita memaksa Fian" Ucap ibu Melani lembut.
"Mereka jatuh cinta dan bertunangan atas dasar keinginan mereka sendiri. Sekarang aku memperbesar kesempatan untuk Fian supaya bisa menjalani kehidupan rumah tangganya. Apa yang salah?" Pak Sanjaya mengambil jas yang tergantung disandaran kursi.
Mereka melihat Fian kembali dengan wajah yang sulit diartikan.
"Kamu bertemu mereka diluar?" Tanya pak Sanjaya dan Fian mengangguk mengiyakan.
"Ayah sengaja melakukan ini?" Tanya Fian.
__ADS_1
"Ayo duduk dulu" Ibu Melani menarik tangan Fian.
Mereka bertiga akhirnya duduk kembali dan membuka pembicaraan yang sejak tadi menemui jalan buntu.
Fian mengungkapkan alasannya menunda pernikahan nya dan ingin fokus kepada tanggung jawab yang akan diberikan ayahnya. Fian juga mengatakan jika dirinya ingin membantu keduanya untuk bisa mendapatkan maaf dan cinta Medina. Sebagai rasa terima kasih dan balas budinya kepada kedua orang tua angkatnya.
Namun Pak Sanjaya berdalih jika mereka bisa menangani nya. Mereka hanya perlu waktu untuk bisa dekat dengan putri mereka lalu mengatakan kebenarannya diwaktu yang tepat.
Ibu Melani dan Pak Sanjaya ingin menikmati moment kebersamaan mereka dengan Medina meski sebagai rekan kerja Daniel.
Fian menarik nafas panjang lalu mengembuskan nya. Ia sadar kekuasaan dan kemampuan ayahnya.
Setelah lama berdebat panjang, akhirnya Fian menyetujui rencana pernikahannya yang akan diadakan satu bulan lagi. Namun dengan satu syarat yaitu kedua orangtuanya akan berada disana hingga hari pernikahan Fian dan Donita tiba.
"Terimakasih" Ucap Fian dengan wajah sedihnya.
"Hei...kau akan menikah. Jangan seperti anak remaja yang sedang merajuk meminta uang jajan" Ledek Pak Sanjaya membuat Fian dan Ibu Melani tersenyum.
"Ayah...ibu...apa aku boleh bertemu Medina?" Tanya Fian pelan.
"Kau ingin menghancurkan rencana kami?" Sorot mata Pak Sanjaya tampak menajam.
"Mas..." Lerai Ibu Melani.
"Kalian akan bertemu saat hari ulang tahunnya" Sahut Ibu Melani.
"Medina akan berulang tahun?" Tanya Fian..
"Iya. Ibu dan ayah akan pergi saat ulang tahun Medina yang ke 24 tahun" Kali ini pak Sanjaya menyahut.
"Ya sudah... sebaiknya kita pulang" Ibu Melani menyudahi pembicaraan mereka.
Ketiganya lalu beranjak dan keluar dari hotel. Sepanjang perjalanan pulang ketiganya kembali terlibat obrolan hangat.
*****
Daniel dan Medina baru saja tiba di apartemen. setelah makan malam, mereka memutuskan untuk pulang meski berat rasanya bagi Medina karena harus meninggalkan Syifa yang sedang membutuhkannya.
Setelah pemeriksaan dokter tadi pagi, Danu mengabarkan bahwa ia membenarkan dugaannya jika istrinya tengah mengandung adik Syifa yang baru berumur 5 Minggu.
Satu kebahagiaan untuk keluarga mama Safira, namun Syifa masih belum menerima jika bundanya akan membagi cinta dan sayangnya. Meski sudah dibujuk rayu dan nasehat dari semua orang, tapi nyatanya Syifa masih belum bisa menerima jika bundanya hamil lebih dulu dari Medina.
Alasan gadis kecil itu membuat semua orang terkejut dan juga tertawa geli. Mereka tidak menyangka alasan dibalik penolakannya atas kehamilan bundanya.
Medina yang merasa dicintai oleh keponakan suaminya sangat terharu dan menangis karena bahagia.
Oleh karenanya, saat harus meninggalkan gadis kecil itu Medina merasa berat hati. Ingin rasanya ia mengajak Syifa ikut ke apartemen, namun ia ingat jika Syifa harus sekolah.
Medina langsung masuk kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian. Sementara Daniel duduk disofa sambil mengecek beberapa email yang masuk ke ponselnya.
Daniel melirik Medina yang baru saja keluar kamar mandi dengan rambut basah. Membuat Daniel susah payah menelan ludahnya.
"Honey...kamu mandi lagi?" Tanya Daniel. Seingatnya, Medina sudah mandi ketika dirumah mamanya.
"Iya....rasanya badanku lengket dan gerah" Jawab Medina sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Sayang....kamu tidak mandi?" Medina memberikan handuk baru kepada suaminya.
"Baiklah..." Daniel menerima handuk dan berlalu ke kamar mandi.
Medina melangkahkan kakinya menuju lemari dan mengambil pakaian ganti untuk suaminya.
Setelah menyiapkan pakaian, Medina berjalan keluar kamar menuju dapur untuk mengambil air minum.
__ADS_1
Saat berada didapur Medina mengingat jika dirinya sudah meninggalkan apartemen sebelum mereka pergi honeymoon. "Sudah satu Minggu lebih." Bathin Medina.
Ia pun membuka lemari pendingin dan melihat isi didalamnya. Hanya menyisakan telur, susu cair, keju dan yogurt yang masih tersegel.
"Ya ampun...aku lupa berbelanja" Medina menutup pintu lemari pendingin dan berjalan mengambil gelas lalu menuangkan air mineral kedalam botol.
Daniel yang baru saja keluar dari kamar mandi mengedarkan pandangannya mencari sosok istrinya.
"Honey!" Panggilnya..
Daniel berjalan ke luar kamar dan melihat lampu dapur menyala terang. Ia tersenyum lega.
"Honey....apa yang kamu lakukan?" Tanya Daniel membuat Medina sedikit terkejut.
"Ini..." Medina menyodorkan gelas berisi air hangat kepada Daniel.
"Sayang...aku tidak punya stok sayuran dan lainnya. Bisakah kamu menenamiku kebawah sebentar?" Tanya Medina sambil mengamati wajah suaminya.
Daniel tidak menjawab, ia mendongak untuk melihat jam didinding. Di jam digital yang Daniel lirik menunjukkan pukul 22.35. Setengah sebelas lewat, pikir Daniel.
"Kamu ingin belanja sekarang?" Daniel mendekati Medina dan memepetnya ke dinding.
Merasakan aura mesum suamiya timbul, Medina mencoba untuk menghindar dari Daniel.
Namun saat Medina akan melangkah untuk menghindar, tangan kekar suaminya lebih dulu merengkuh tubuh mungilnya.
"Seharian ini kamu sibuk dengan Syifa dan Mama. Bahkan aku sengaja meliburkan diri untuk mengajakmu pergi dan menikmati waktu berdua saja" Keluh Daniel sambil menciumi leher Medina yang mana membuat Medina merasa geli namun ia mendamba kecupan suaminya.
"Lalu?" Tanya Medina pura-pura.
"Malam ini aku tidak akan melepaskan mu" Daniel menggendong tubuh Medina ala bridal style. Membawa istrinya masuk kedalam kamar.
Medina terkekeh dan mengalungkan kedua tangannya ke leher Daniel. Medina membenarkan perkataan Daniel, seharian ini Medina sibuk dengan menemani Syifa dan Mama setelah pulang dari mall. Ia juga sangat merindukan semua sentuhan lembut suaminya.
"Aku tahu, kamu juga merindukan ku" Ucap Daniel narsis.
Saat Daniel menurunkan Medina diatas ranjang dan hendak menciumnya. Medina menutup bibir Daniel dengan telapak tangannya.
"Kenapa?" Tanya Daniel yang sudah dipenuhi kabut gairah.
"Aku tidak ingin melakukan gaya yang aneh-aneh. Cukup dengan aku dibawah atau diatas" Ucap Medina malu-malu.
Sepulang dari bulan madu, suaminya selalu memintanya melakukan gaya yang aneh-aneh jika sedang melakukan ritual ranjang. Dan itu membuatnya merasa lelah yang luar biasa.
Daniel tersenyum dan tampak berpikir. Ia tidak yakin bisa menuruti keinginan istrinya, jika sudah dalam mode gairah yang memuncak. Ia bisa lupa diri dan tidak ingin berhenti.
"Say......" Daniel menutup mulut istrinya dengan bibirnya.
Kabut gairah yang menutupi seluruh akal sehatnya, tidak dapat ia bendung dan segera butuh tempat pelepasan.
Keduanya saling ******* bibir dan bertukar saliva dengan lembut. Tangan Daniel mulai beraksi dengan meremas kedua bukit kembar Medina tanpa bra namun masih tertutup piyama yang ia kenakan.
Saat desahan mulai keluar dari bibir Medina, gairah Daniel semakin besar. Satu tangannya mulai bergerak membuka kancing piyama Medina hingga tubuh mulus bagian atas istrinya terpampang dengan jelas.
Daniel melepas ciumannya dan beralih menciumi leher hingga dada Medina yang telah terbuka. Desahan kembali terdengar mengalun indah ditelinga Daniel. Mengiringi penyatuan dua anak manusia yang sedang melakukan ibadah.
_
_
_
_
__ADS_1
_Terimakasih sudah mampir.