
Daniel menatap wajah istrinya yang tertidur lelap disampingnya.
Daniel mengingat percakapannya dengan Medina sebelum ia tertidur. Medina mengatakan apa yang dibicarakannya dengan pakde Radiman siang tadi.
Daniel tidak habis pikir, bagaimana ada seorang ibu yang tega memberikan bayi perempuannya kepada orang lain. Bahkan saat beranjak dewasa gadis itu hidup dalam kesulitan bersama orangtua angkatnya.
Daniel menghela nafasnya yang terasa berat. Melihat kesedihan istrinya, Daniel merasa harus melakukan sesuatu untuk membuat wajah ceria istrinya kembali.
Setelah melepas pelukannya perlahan, Daniel turun dari ranjang menuju bathroom.
Selesai dengan ritualnya, Daniel menghubungi Danu untuk menanyakan mamanya. Karena ia tahu, kondisi Medina saat ini pasti bisa dirasakan oleh mamanya. Namun sebelum ia menghubungi kakaknya, Mama Safira terlebih dahulu menghubungi Daniel.
"Assalamualaikum, ma" Sapa Daniel.
"Kalian masih dihotel?"
"Iya. Tapi....nanti malam kami akan pulang ke apartemen" Jawab Daniel.
"Mama merasa tidak nyaman. Apa terjadi sesuatu pada putriku?"
"Deg!"
Benar dugaan Daniel.
"Tidak ada ma. Medina hanya bersedih karena keluarga pamannya harus pulang malam ini" Jawab Daniel bohong. Ia tidak mau mamanya bertambah cemas jika ia menceritakan yang sebenarnya.
"Baiklah....jaga putriku seperti kau menjaga mama"
"Baik, ma. Aku akan selalu menjaga kalian sekuat yang Daniel mampu" Ucap Daniel sebelum mengakhiri sambungan teleponnya.
Kini pandangan Daniel beralih pada wanita yang masih berada diatas ranjang dengan mata terpejam.
"Honey...sudah hampir Maghrib" Bisik Daniel sambil memainkan rambut Medina yang tergerai.
"Hhhmmm" Medina menggeliat dan membuka matanya.
Medina tersenyum manis mendapati wajah suaminya berada sangat dekat dengannya.
"Maaf...aku tidur sangat lama" Medina mencium pipi suaminya.
"Kakak sudah mandi?" Tanya Medina melihat wajah tampan suaminya sudah wangi.
"Sudah... tapi jika istriku memintaku untuk mandi bersama, aku tidak akan menolak"
PLAKK!!
Medina memukul lengan kekar suaminya. Ia tidak habis pikir kenapa suaminya selalu saja berpikiran mesum.
"Lepaskan...aku mau mandi" rengeknya ketika Daniel mulai memeluk dan menciumi dirinya.
"Kak...." Rengeknya lagi karena Daniel masih betah dengan aktifitas nya.
Daniel menghentikan aksinya dan berpura-pura kesal. Ia segera menjauh dari tubuh Medina dan berjalan ke arah balkon.
"Apa dia marah?" Medina bingung dengan sikap suaminya yang tiba-tiba pergi begitu saja.
"Ya...dia pasti kesal karena aku menolaknya" Medina segera turun dari ranjang dan menyusul suaminya.
"Maaf...." Lirih Medina memeluk suaminya dari belakang.
Daniel tersenyum menyeringai karena aktingnya sukses membuat istrinya bangun dan menyusulnya.
"Aku mencintaimu, aku menolak karena aku baru bangun tidur" Medina memberi alasannya menolak cumbuan suaminya.
Daniel membalik badan dan langsung mencium bibir istrinya. Keduanya hanyut dalam pagutan bibir yang memberi sensasi nikmat dan hangat.
Masih menyatukan bibirnya, Daniel mengangkat tubuh Medina dibagian depan hingga kedua kaki Medina melilit di pinggang kekarnya.
Daniel membawa istrinya masuk kedalam bathroom, dan tanpa bisa menolak lagi, Daniel memandikan istrinya dengan sentuhan nikmat yang tidak pernah ada kata puas.
****
Setelah mengantar keluarga Pakde Radiman, Raihan langsung kembali ke rumahnya. Pria yang sedikit bicara itu lebih memilih hunian rumah cluster dibanding apartemen seperti pria single kebanyakan.
Setelah orangtuanya meninggal, Raihan menjual rumah peninggalan kedua orangtuanya dikarenakan rumah yang terlalu besar. Sementara dirinya hanya tinggal berdua dengan kakak angkat yang sudah dianggapnya seperti kakak kandungnya sendiri.
Dan dirumah inilah keduanya sekarang tinggal. Bersama keponakan semata wayangnya yang berusia 7 tahun hasil dari pernikahan sang kakak dengan suaminya yang kini telah berpisah.
Pria berusia 31 tahun itu melangkah kan kakinya menuju kamarnya dilantai 2.
Sebelum masuk kedalam kedalam kamarnya ia lebih dulu membuka kamar sang keponakan yang berada tepat disamping kamarnya.
"Uncle.....!!!" Teriak bocah yang sedang membaca buku bersama dengan ibunya.
Anak laki-laki itu langsung berlari dan menghambur memeluk Raihan.
"Kenapa belum tidur?" Tanya Raihan masih menggendong keponakannya yang diberi nama Arsya.
"Ar menunggu uncle" Jawabnya singkat.
Raihan berjalan ke arah ranjang dan menurunkan Arsya. Raihan lalu menyalami kakaknya.
__ADS_1
"Ar...uncel baru pulang dan pasti lelah. Biarkan uncle istirahat ya. Dan sekarang kamu juga harus tidur" Ucap Sarah.
"Tidak apa-apa Kak. Lagipula ini belum terlalu malam" Raihan memeluk Arsya yang juga sangat merindukan uncle nya setelah beberapa hari tidak bertemu meskipun setiap hari mereka melakukan video call.
"Mau aku buatkan kopi jahe?" Tanya Sarah kepada adiknya.
"Boleh" Raihan mengangguk.
"Dan kau jagoan....jangan merengek apapun kepada uncle" Ucap Sarah sebelum keluar dari kamar putranya.
"Apa selama uncle pergi, kamu merepotkan ibu dan tidak menjaganya?" Kini Raihan menatap keponakan nya.
"Tentu saja....Ar sudah melakukan yang uncle minta. Dan tanpa uncle minta, Ar pasti menjaga ibu" Sahut Arsya membuat Raihan gemas.
"Sekarang tidurlah sebelum ibu kembali dan memarahi kita berdua" Raihan menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.
Keduanya berbaring miring saling berhadapan. Dan seperti inilah kebiasaan setiap malam yang Raihan dan Arsya lakukan.
Raihan akan menemani Arsya hingga Arsya tertidur dalam pelukan dirinya.
****
Setelah makan malam romantis, Daniel membawa pulang istrinya ke apartemen karena Medina terus merengek memnita pulang. Medina tidak betah berlama-lama dihotel dan tidak melakukan apapun.
"Sayang....apa besok kamu bekerja?" Tanya Medina.
"Aku tidak akan ke kantor. Tapi aku akan pergi keluar dengan Arif untuk urusan pekerjaan" Bohong Daniel sambil memainkan rambut istrinya.
Sebenarnya bukan urusan pekerjaan, namun Daniel akan pergi membeli keperluan honeymoonnya.
"Kenapa?" Tanya Daniel saat melihat wajah sendu istrinya.
"Apa aku boleh membuka kado-kado itu?" Medina menatap wajah suaminya.
"Tentu saja, Honey. Tapi...."
"Aku akan meminta kak Rani dan mama kemari dan membuka kadonya bersama-sama" Potong Medina dengan cepat.
"Tidak perlu memasak. Aku akan memesan makanan dari restoran bawah saja" Daniel tahu jika istrinya akan sibuk memasak jika akan kedatangan tamu.
Mendengar itu Medina menyebik. Alasan dia ingin pulang karena ia sudah rindu dengan dapurnya. Tapi malah dilarang oleh suaminya.
"Kamu tidak boleh kelelahan karena lusa kita akan pergi honeymoon jika kamu lupa" Daniel memberi alasan sudah melarang istrinya.
Daniel tersenyum dan mulai beraksi dengan bibirnya.
"Arif sudah menyiapkan keperluan kita selama honeymoon. Jadi...besok kamu bisa bersantai dengan hanya membuka kado-kado itu"
"Istri Sholihah" Daniel mencubit hidung Medina.
"Sekarang tidurlah" Daniel membenahi bantal agar istrinya tidur dengan nyaman.
"Terimakasih, sayang" Medina mencium pipi suaminya dengan mesra.
"Jangan menggodaku....aku sudah menahan agar tidak bergulat dengan mu malam ini" Gerutu Daniel membuat Medina tertawa lebar mendengar ucapan suaminya.
Medina yang gemas dengan wajah kesal suaminya terus saja menggoda. Ternyata menggoda suaminya yang sedang menahan hasrat sangat menghibur dirinya.
Daniel yang sebenarnya sangat ingin menuntaskan hasratnya dengan istrinya, terus menahan diri agar tidak tergoda. Karena ia sudah melarang istrinya agar tidak kelelahan, dan tidak lucu jika dirinya yang membuat Medina kelelahan karena harus melayaninya.
Keduanya larut dalam candaan yang membuat suasana malam menjadi hangat. Meski tanpa gulat panas yang biasa mereka lakukan setiap malam.
****
Pagi hari setelah sarapan Daniel langsung berpamitan dengan istrinya.
"Aku sudah pesan makanan kue dan makanan untuk makan siang. Jadi tidak perlu repot membuat apapun" Ucap Daniel saat akan berpamitan.
"Apa kakak akan pulang untuk makan siang bersama?" Medina memeluk suaminya seolah tidak rela jika suaminya pergi.
"Aku tidak bisa janji. Tapi akan aku usahakan" Daniel membalas pelukan Medina dan mendaratkan kecupan bertubi-tubi membuat Medina terkekeh.
Dan saat mereka akan menyatukan bibir, suara handphone Daniel berbunyi.
"Ahhh!! menganggu saja" keluh Daniel sambil merogoh kantongnya.
Medina tersenyum dan melepaskan diri dari pelukan suaminya.
"Halo Assalamualaikum Ma"
"Mama sudah diperjalanan menuju apartemen"
"Daniel akan keluar karena ada urusan, tapi Daniel usahakan akan makan siang bersama"
"Apa? kalian akan pergi bulan madu besok. Kamu masih pergi mengurus pekerjaan? baiklah...berikan ponselnya pada Medina"
Daniel mendekatkan ponselnya ditelinga Medina dan ia pun ikut menempelkan telinganya sambil memeluk istrinya.
"Assalamualaikum mama"
"Sayang....kenapa kamu masih memberi ijin suamimu pergi bekerja?"
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Ma. Lagipula kata kakak semua keperluan bulan madu sudah siap" Ucap Medina pelan.
"Baiklah...mama sudah dekat apartemen. Kamu mau dibelikan sesuatu?"
"Tidak perlu ma...putra mama sudah memesan semuanya karena kakak melarang aku masuk kedapurku"
"Itu bagus. Dia tidak boleh membuatmu lelah karena mama akan memarahinya jika sampai itu terjadi. Sampai ketemu nanti, sayang"
"Hati-hati, ma"
Daniel mengambil ponselnya dan mematikannya.
"Aku iri padamu, Tuan Putri" Daniel mencium kepala Medina.
"Mama sangat menyayangiku karena rasa sayangnya padamu, Sayang. Jadi kamu tidak boleh iri padaku" Medina mencium pipi suaminya.
"Aku paham...aku pergi sekarang" Daniel mencium bibir Medina.
"Ajak Kak Arif makan siang bersama kita, jika kalian selesai lebih awal" Ucap Medina sebelum suaminya keluar dari apartemen.
Daniel mengangguk dan tersenyum. Medina menutup pintu dan membereskan bekas sarapan mereka.
Saat sedang didapur, Medina mendengar bel berbunyi. Medina segera menyelesaikan pekerjaannya dan berlari membuka pintu.
"Assalamualaikum, Sayang" Suara mama Safira terdengar bahagia.
"Wa'alaikumsalam, mama" Medina mencium punggung tangan mama Safira dan memeluknya.
"Bi Inang, apa kabar?" Medina juga memeluk bi Inang yang pagi itu ikut mengantar majikannya.
"Bibi sehat, Non" Jawab Bi Inang sembari berjalan masuk kedalam.
"Kak Rani mana, ma?" Tanya Medina saat tidak melihat Kakak iparnya.
"Dia satu mobil dengan Danu" Sahut mama Safira yang sudah duduk disofa.
Bel apartemen kembali berbunyi. Saat Medina hendak bangun dari duduknya, Bi Inang mencegahnya.
"Biar bibi saja, Non"
"Itu mungkin si Jaka membawa barang-barang" Ucap Mama kepada Medina.
"Barang-barang?" Tanya Medina heran.
"Kado dari kerabat mama yang kemarin datang kerumah. Semua menitipkan dirumah karena tidak mau repot membawa ke hotel" jelas Mama Safira.
Dan saat Jaka masuk dengan membawa kantong besar Medina sangat terkejut. Ada begitu banyak hadiah.
"Kenapa tidak ditinggal saja dirumah, Ma. Medina bisa membukanya disana" Medina berdiri dan membantu bi Inang membawa beberapa kotak hadiah.
"Tidak apa-apa, kita semua akan membukanya bersama-sama" Ucap Mama Safira menatap Medina lembut.
"Terimakasih mang Jaka, Bi Inang. Medina jadi merepotkan kalian semua" Ucap Medina tidak enak hati karena merepotkan banyak orang untuk membuka kado pernikahannya.
Tidak lama kemudian Rani datang bersama Danu dan Syifa. Suasana semakin ramai karena celoteh gadis kecil itu yang selalu mengundang gelak tawa.
Medina dibantu Rani, Mama Safira dan semua orang yang berada disana mulai membuka satu persatu kado yang diterima dari kerabat, sahabat dan para kolega bisnis yang dikenal Daniel maupun mama Safira.
Semua isi kado yang terbuka terbilang barang mewah. Medina sendiri tidak menyangka akan mendapatkan hadiah dengan nilai yang tidak sedikit itu.
Dan ada juga beberapa kado yang dibuka berisi gaun tidur seksi bahkan perlengkapan bayi juga ada.
Membuat wajah Medina seketika memerah menahan malu karena disana ada kak Danu dan mang Jaka.
"Jika tidak dipakai, bisa kamu berikan pada kakakmu" Mama Safira melirik Rani yang sedang tertawa.
Medina langsung tersenyum lebar dan menyetujui ide mama Safira.
"Untung kak Daniel tidak disini. Dia pasti akan memintaku menyimpan gaun-gaun seksi ini sebagai koleksi lemariku" Gumam Medina.
"Kamu sangat beruntung, Adik ipar" Ucap Rani dengan senyumnya.
"Ini sangat luar biasa, kak" Ucap Medina terharu menatap semua kado yang telah terbuka dari bungkusnya.
"Ini semua rejeki untuk istri dan menantu Sholihah seperti kamu" Puji mama Safira membuat Medina tidak enak hati karena Rani mendengarnya dan khawatir menimbulkan rasa iri.
Melihat Medina yang merasa tidak enak hati terhadap kakak iparnya, Mama Safira mengurung kan niatnya untuk memberikan kado dari Tante Latifah yang dititipkan kepadanya.
Mama Safira berpikir akan memberikan titipan Tante Latifah ketika sedang berdua saja dengan Medina untuk menghindari masalah dengan menantunya yang lain.
"Baiklah...Medina akan membereskan ini dulu" Medina membawa dan menyusun barang-barang itu didalam ruang fitnes dibantu Bi Inang dan Mang Jaka.
_
_
_*TBC*
_
_
__ADS_1
_