Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 115


__ADS_3

Dua hari berlalu dan hari ulang tahun Medina akan diadakan lusa. Selama dua hari itu Medina selalu mual dan muntah dipagi hari. Ia merasakan morning sickness seperti kebanyakan ibu hamil pada umumnya.


Meski Daniel sangat khawatir dengan kondisi istrinya, namun ia tidak bisa meninggalkan pekerjaan nya yang akhir-akhir ini sangat banyak. Sepulang bekerja Daniel juga harus mengecek pekerjaan rumah baru mereka yang sudah tahap akhir.


Daniel sengaja meminta kepada pekerja agar proyek rumahnya selesai tepat di hari ulang tahun istrinya. Karena ia akan memberi kejutan dan mengadakan pesta dirumah baru mereka.


Seperti saat ini, sepulang dari kantornya Daniel menyempatkan dirinya untuk melihat pembangunan rumah baru yang akan ditempati nya bersama Medina dan anak-anak mereka.


"Aku harap besok semuanya sudah selesai." Ucap Daniel kepada mandor yang bertugas disana.


"Beberapa Minggu ini kami lembur, bos. Jadi....semuanya akan sesuai keinginan anda." Sahut mandor itu.


"Terimakasih." Daniel berjalan menyusuri setiap ruangan dan tersenyum dengan puas.


Semua desain dan tata letak rumah ini adalah gambaran dari cita-cita Medina sendiri yang pernah dituangkan dalam khayalan Medina.


Daniel menangkap semua apa yang diinginkan istrinya dan mengaplikasikannya pada rumah yang sedang dibangun ini.


Dan hampir semua furniture dirumah itu adalah pilihan mama dan istrinya. Dengan sedikit kebohongan, Daniel pernah berpura-pura menanyakan desain furniture yang disukai Medina.


Meski Medina sempat curiga, namun Daniel berdalih jika ia sedang dimintai bantuan oleh temannya yang sedang membangun sebuah rumah untuk istrinya.


Setelah puas berkeliling rumahnya, Daniel memutuskan untuk pulang. Rasa rindu dan cemas pada Medina membuat Daniel selalu ingin segera kembali ke apartemen.


"Besok aku akan datang lagi. Lakukan yang terbaik." Ucap Daniel kepada pekerja lalu meninggalkan kawasan itu dengan mengendarai mobilnya.


"Assalamualaikum, Honey." Daniel membuka pintu dan memanggil istrinya.


"Wa'alaikumsalam." Sahut Medina dari dapur. Ia sedang memasak untuk makan malam.


"Apa yang kamu lakukan?" Daniel memeluk Medina dari belakang dan mengendus aroma wangi isttinya.


"Aku sedang memasak...apalagi?" Medina terkekeh geli dengan pertanyaan suaminya.


"Apa seharian ini masih mual dan muntah?" Daniel menciumi leher Medina tanpa henti.


"Hanya beberapa kali." Medina mematikan kompor dan membalik tubuhnya menghadap Daniel.


"Jangan lakukan apapun jika kamu merasa tidak fit." Daniel mengecup bibir pink Medina.


"Aku tahu." Medina memeluk Daniel dan merebahkan kepalanya didada bidang suaminya. Merasa nyaman dengan pelukan suaminya, Medina mengeraty pelukannya.


"Aku sangat merindukan mu." Ucap Medina sambil menggesek-gesekkan hidung nya.


Daniel tersenyum lebar. Ia tahu arah pembicaraan istrinya. Karena dua hari terakhir, Medina lebih agresif untuk urusan ranjang.


Daniel sempat bingung dan khawatir karena kehamilan istrinya yang masih berusia beberapa minggu. menyebabkan keguguran pada bayinya. Namun saat dikonsultasikan kepada dokter, hal itu dianggap normal. Hanya saja dokter mewanti-wanti agar adegan ranjang dilakukan dengan perlahan.


"Ingin mandi bersama?" Tanya Danielbsambil melepas apron yang masih menempel ditubuh istrinya.


Medina hanya mengangguk pelan. Ia masih sangat malu untuk mengakui jika dirinya menginginkan suaminya.


Daniel mengangkat dagu istrinya dan ******* bibir Medina dengan lembut. Keduanya saling memagut mesra dan bertukar saliva.


Daniel menangakat tubuh Medina tanpa melepas ciuman mereka. Medina bahkan semakin lihai dalam ciuman dan tentu saja Daniel sangat menyukai itu.


****


Setelah makan malam, Medina mendapat telepon dari Ibu Melani. Ibu Melani sangat bahagia saat dirinya diberitahu Daniel jika Medina tengah mengandung cucu pertamanya.


"Selamat untukmu, Sayang. Jaga calon bayi kalian dengan baik. Ibu hamil itu harus rilexs dan tidak boleh lelah." Ibu Melani tampak antusias memberi nasehat kepada Medina.


"Iya Bu. Terimakasih sudah memperhatikan Medina." Ucap Medina.


"Besok kami akan ke kota J, katakan saja jika ada sesuatu yang kamu inginkan."


Medina melirik Daniel yang duduk disampingnya sambil mengelus perut Medina yang masih rata.


"Terimakasih, Bu." Medina merasa tidak enak hati dengan semua perhatian Ibu Melani.

__ADS_1


"Tidak perlu sungkan... ibu akan meneleponmu lagi dan ibu harap kamu sudah memiliki daftar keinginan mu." Ucap Ibu Melani sambil terkekeh.


"Baiklah... Terimakasih sebelumnya." Ucap Medina sebelum menutup percakapan diponselnya.


"Sayang...itu menggelikan." Medina mendorong tangan suaminya yang bermain-main diatas perutnya yang terbuka.


"Tapi aku menyukainya." Jawab Daniel tersenyum lebar.


"Ibu Melani akan datang ke kota J. Dia memintaku membuat daftar keinginan." Medina mengambil nafasnya dan membuangnya dengan pelan.


"Jika dia memaksa, buatlah daftar keinginan yang banyak."


"PLAKKK!!"


"Honey...uang mereka sangat banyak. Mereka tidak akan bangkrut jika kamu membuat 100 daftar keinginan barang mewah sekalipun." Daniel menciumi perut Medina dengan gemas.


"Bagaimana?" Daniel mendongak dan menatap istrinya. Ia tahu istrinya bukanlah wanita yang gampang meminta hadiah. Apalagi kepada orang lain.


"Apa kakak ingin, orang-orang berpikir aku wanita matre?" Medina mengerucutkan bibirnya membuat Daniel tertawa.


"Hei...jika dia yang mengatakan istriku matre. Aku akan membuat orang itu tidak bisa bicara lagi." Daniel kini berada diatas tubuh Medina yang masih telanjang.


"Tapi saat pakde akan menikahkan ku dengan anak kepala desa, semua orang dikampung mengataiku gadis matre. Padahal....aku tidak pernah mengajukan permintaan apapun. Justru aku dimanfaatkan" Manik Medina menerawang masa lalunya.


"Oh... tidak!!" Medina menutup mulutnya yang menganga dan mata yang membulat sempurna.


"Ada apa?" Daniel terkejut dengan sikap spontan istrinya.


"Apa kakak juga memanfaatkan ku?" Medina memicingkan matanya menatap suaminya.


"Apa?" Daniel tidak percaya dengan yang dikatakan istrinya.


"Kakak tidak memanfaatkan ku untuk bisnis, bukan?" Suara Medina melemah.


"Tentu saja tidak. Aku sangat mencintaimu." Daniel menarik tubuh. Medina kedalam pelukannya.


"Aku akan memandikan bayi besarku." Ucap Daniel sambil tersenyum. Sementara Medina hanya diam dan pasrah perlakuan suaminya.


*****


Hari ini Keluarga pak Sanjaya akan bertolak ke kota J. Fian yang harus menghadiri rapat penting akhirnya tidak bisa berangkat bersama kedua orangtuanya. Ia akan menyusul setelah pekerjaan nya selesai nanti.


Sementara itu ibu Melani tampak sangat sibuk dengan begitu banyak barang yang akan dibawanya.


"Sayang....kamu yakin Medina akan menyukainya?" Tanya Pak Sanjaya heran.


"Aku sangat gugup, mas. Jangan tanyakan hal itu." Ibu Melani terus memperhatikan barang-barang yang sudah siap dimasukkan kedalam mobil.


"Aku bingung harus membawa apalagi. Semua daftar yang diinginkannya sudah siap. Ya Tuhan...aku ingin putri dan calon cucuku sehat dan tidak kekurangan apapun." Gumam ibu Melani sambil mengecek kembali barang bawaannya.


Pak Sanjaya yang mendengar istrinya hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Ia tidak bisa melarang keinginan istrinya karena melihat raut wajah istrinya yang sangat bahagia.


"Pesawat sudah siap, Tuan." Seorang asisten memberitahu Pak Sanjaya.


"Ah...sudah siap ya? Bawakan semua ini. Jangan sampai ada yang tertinggal." Perintah Ibu Melani kepada asisten suaminya.


"Mas....Ayo kenapa kamu malah berdiri saja?" Panggil ibu Melani ketika melihat suaminya masih berdiri dengan menatapnya.


"Kau terlihat sangat bahagia." Pak Sanjaya mencium kening istrinya dengan mesra.


"Kita akan menjadi kakek dan nenek. Aku sangat bahagia, meskipun...." perkataan ibu Melani menggantung mengingat jika Medina belum mengetahui kebenaran mereka adalah kedua orangtua kandungnya.


"Ayo berangkat." Ajak Pak Sanjaya. Ia tidak ingin melihat wajah bahagia istrinya berubah sendu.


Keduany masuk kedalam mobil yang akan mengantarkan mereka ke Bandara. Sementara satu mobil lainnya berada dibelakang memuat barang yang akan dibawa ke kota J.


Setelah menempuh jarak sekitar hampir 2 jam perjalanan udara dan 1 jam perjalanan darat menuju rumah mewah dikawasan elite, keduanya tampak sangat antusias memasuki rumah mewah yang baru saja dibeli pak Sanjaya.


Dua orang asisten rumah tangga datang menghampiri mereka.

__ADS_1


"Selamat siang, Tuan Nyonya." Sapa asisten laki-laki.


"Siang." Jawab Ibu Melani.


"Saya Imron dan ini istri saya Tini." Pak Imron memperkenalkan dirinya dan istrinya.


"Tolong bawakan barang-barang kami kedalam." Titah pak Sanjaya.


"Baik, Tuan." Keduanya lalu membawa 2 koper kedalam rumah.


"Bagaimana?" Tanya pak Sanjaya.


"Ini terlalu besar, mas." Jawab Ibu Melani sambil meneliti rumah yang baru saja dimasukinya.


"Setelah Medina tahu yang sebenarnya, bukankah kita harus mempersiapkan kamar untuknya dan cucu kita nanti?"


"Lagipula, ada Fian dan keluarga barunya yang pastinya akan sering kita ajak berkumpul disini." Lanjut pak Sanjaya.


"Kamu benar, Mas." manik ibu Melani tampak berkaca-kaca.


Dan saat mereka sedang berbincang, suara ponsel pak Sanjaya berdering. Tertera nama Daniel disana.


"Halo..."


"Apa kalian sudah sampai?"


"Iya...kami baru saja masuk kedalam rumah. Rumah kalian sangat asri dan mewah." Puji pak Sanjaya.


Pak Sanjaya tersenyum puas. Daniel sudah memberitahu dirinya tentang lokasi rumah yang akan mereka tinggali. Dan membuat pak Sanjaya memutuskan dan menjatuhkan pilihan pada rumah mewah yang mereka tempati saat ini. Hanya beberapa blok dari rumah Daniel dan Medina.


"Apa lingkungan disini aman?" Tanya pak Sanjaya.


"Ada apa? Apa kalian diganggu?" Daniel balik bertanya.


"Tidak ada...aku hanya ingin putriku nyaman tinggal dirumah barunya."


"Aku mencintai putri kalian, tentu saja aku selalu mengedepankan kenyamanan dan keselamatan nya." Jawab Daniel sedikit kesal.


"Terimakasih, aku sangat beruntung." Ucap pak Sanjaya tersenyum lega.


"Kalian membawa hadiah untuk istriku, bukan? Karena aku tidak mengijinkan siapa pun datang ke pesta tanpa hadiah" Canda Daniel membuat Pak Sanjaya terbahak.


"Aku sudah salah memujimu." Ucap pak Sanjaya membuat Daniel yang bergantian tertawa diseberang sana.


"Datanglah tepat waktu, karena aku akan mengunci pintu jika kalian sampai terlambat." Daniel menutup teleponnya.


Pak Sanjaya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Membuat ibu Melani yang baru saja keluar dari kamar terheran..


"Mas...kamu kenapa?"


"Menantu kita mengancam. Jika kita tidak membawa hadiah dan datang terlambat, dia akan mengunci pintu dan tidak membiarkan kita masuk." Suara tawa pak Sanjaya menggelegar mengisi ruangan.


Ibu Melani hanya tersenyum. Ia menatap suaminya dengan intens. Entah sudah berapa lama suaminya tidak tertawa lepas seperti saat ini. Dan itu membuat ibu Melani terharu juga bahagia sekaligus.


Tanpa aba-aba, ibu Melani memeluk suaminya dengan sangat erat. Hatinya tidak berhenti merapal syukur karena kehidupan mereka kini telah berubah menjadi berwarna dan bermakna. Ibu Melani berharap semua ini adalah awal kehidupan mereka yang baik.


Keduanya saling berpelukan dan menumpahkan rasa bahagia mereka. Meski belum sepenuhnya mendapatkan Medina, tapi setidaknya menantu mereka Daniel memberikan kesempatan untuk mereka. Dan akan membantu mereka mendapatkan pengakuan dari Medina.


_


_


_


_


_


Terimakasih sudah mampir...maaf tidak update setiap hari. Author sibuk akhir2 ini....mempersiapkan anak sulung, untuk Ujian akhir sekolah. salam sehat dan jangan lupa bahagia.

__ADS_1


__ADS_2