
Medina kini sedang duduk santai di balkon apartemen sambil memainkan ponselnya.
Ia sedang mencari-cari artikel tentang hukum dan syarat menjadi wali nikah. Ya...pikirannya tiba-tiba terganggu dengan kenyataan dirinya yang saat ini tidak memiliki wali.
Medina terlalu asyik membaca artikel hingga tidak menyadari kehadiran Daniel yang sudah duduk disampingnya.
Daniel merebut ponsel milik Medina karena Daniel kesal dirinya tidak dihiraukan. Membuat Medina terkejut dengan kehadiran suaminya yang tiba-tiba sudah duduk disampingnya.
"Sayang...sejak kapan kamu disini?" Medina tersenyum cantik.
"Kamu terlalu asyik menatap ponselmu. Suami tampan yang baik hati ini duduk disebelah kamu sampai kamu tidak sadar" Daniel tersenyum nasris.
"Aku minta maaf" Ucap Medina.
Daniel melihat ponsel Medina dan sekilas membaca artikel yang sedari tadi dibaca Medina.
"Apa yang kamu pikirkan?" Daniel meletakkan ponsel Medina diatas meja dan menatap istrinya.
Medina menggeleng pelan. Ia bingung harus mengutarakan kegelisahannya sepulang dari rumah Tante Latifah kepada suaminya.
"Hei...ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba membaca artikel itu?" Daniel menggenggam tangan Medina.
Tiba-tiba Medina menangis. Ia tidak bisa menahan diri lagi untuk berpura pura tidak khawatir dan menyembunyikan kegelisahannya seorang diri.
Daniel memeluk tubuh istrinya dengan erat. Ia sangat paham apa yang ada dibenak istrinya namun ia ingin Medina mengatakannya dengan jujur dan terbuka.
"A_aku pikir semuanya akan mudah....ta_tapi___" Medina semakin terisak kencang diperlukan Daniel.
Daniel membiarkan Medina menangis dan tidak berkata sepatah katapun. Setelah tangis Medina mereda barulah Daniel membuka suara.
"Apa seseorang mengatakan hal yang tidak mengenakan saat kita dirumah Tante Latifah?" Tanya Daniel penuh selidik.
Medina menggeleng cepat. Memang kenyataannya sepeti itu. Keluarga besar Daniel sangat baik dan menerima dirinya. Bahkan Tante Latifah sudah memberinya hadiah sebagai kado pernikahan mereka.
"Lalu kenapa kamu tiba-tiba membaca artikel tentang hal itu? Apa yang kamu pikirkan, Honey?"
"Aku rasa pernikahan ini....." Medina menjeda kalimatnya.
Daniel masih diam menunggu kalimat apa yang akan disampaikan istrinya. Meski dalam hatinya ia juga sedikit takut jika Medina akan meninggalkannya.
__ADS_1
"Pernikahan kita memang sah secara agama. Tapi Seharusnya setelah ijab Qobul kita tidak bersama sampai saat kita datang dan meminta restu pakde. Tapi....Kenyataan lain kini datang. Pakde bukanlah wali kandungku. Lalu bagaimana sekarang aku bisa menikah secara hukum dengan dirimu tanpa wali?"
"A_apa??" Daniel sungguh terkejut dengan kalimat yang diutarakan Medina. Seperti ada Godam yang menghantam dirinya dengan keras.
"Sementara pesta resepsi kita menghitung hari. Aku tidak mau kamu mendapatkan surat nikah kita dengan cara tidak benar. Aku ingin semuanya sesuai dengan semestinya. Agar kita tidak menanggung dosa" Medina kembali menangis dengan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Daniel yang semakin terkejut langsung berdiri dari duduknya. Ia tidak menyangka Medina mengatakan hal yang tidak pernah ia duga...Ia bahkan sangat takut jika Medina akan meninggalkan dirinya.
Daniel berjalan menjauh dari tempat duduk Medina dan bersandar pada dinding kaca pembatas apartemen. Pikirannya menjadi semrawut dan hampir tidak bisa berpikir. Daniel mengusap wajahnya dengan kasar. Lalu dengan langkah besar masuk ke dalam kamar meninggalkan Medina yang masih menangis.
Daniel meraih jaket dan kunci mobilnya. Ia keluar apartemen tanpa memberitahu Medina. Pikirannya kacau sekarang. Dan ia ingin menemui seseorang untuk bisa menjelaskan apa yang disampaikan Medina benar atau salah. Jujur saja...semuanya diluar dugaan. Awal pernikahannya semuanya bukan semata-mata ingin berbuat hal tidak baik. Tapi....mengapa Medina mengatakan hubungan mereka selama ini adalah kesalahan dan dosa besar.
Daniel melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk menemui seseorang yang dianggap paham masalah ini. Seseorang yang telah menikahkan secara agama dirinya dengan Medina waktu
Setelah menempuh waktu 60 menit, Daniel sudah sampai di sebuah Pondok Pesantren Yatim Dhuafa. Daniel keluar dari mobil dengan langkah tergesa ia masuk kedalam gedung itu.
"Assalamualaikum" Ucap Daniel saat sudah berada diambang pintu yang sengaja dibuka.
"Wa'alaikumsalam Warrohmatullah Wabarrakatuh" Jawab Seorang pria berusia 40 tahun dengan sorban di lehernya. Namanya Ustadz Fathur Rozi. Beliau adalah pendiri sekaligus pengelola Pondok Pesantren Yatim Dhuafa yang sering Daniel kunjungi untuk memberikan donasinya.
"Ente sudah datang? Silahkan masuk" Ustdaz Fathur mempersilah Daniel masuk.
Mereka berjabat tangan dan berpelukan. Sebelumnya Daniel mengirim pesan kepada Ustadz bahwa dirinya akan datang untuk menemuinya. Daniel duduk di sofa diruangan yang berukuran 4*4 meter itu.
"Begini ustadz...." Daniel mulai menceritakan semua kejadian dan masalah yang kini ia alami.
"Mohon bimbingan dan penjelasannya" Daniel menghembuskan nafasnya dengan berat.
"Insya Allah semuanya ada jalan keluarnya. Kita memohon ampun dan petunjuk kepada Allah SWT" Sahut Ustadz dengan tenang.
"Sebelum saya menjawab pertanyaan ente, ane mau nanya. Apakah sudah dilakukan pencarian terhadap kedua orang istri ente?"
"Sudah ustadz, kami baru saja memulai pencariannya dan belum menemukan pentunjuk apapun. Karena kami hanya memiliki satu petunjuk sebuah kalung yang ditinggalkan ibu dari istriku saat ia meninggalkan putrinya. Lalu Bagaimana masalah perwaliannya ustadz? sementara beberapa hari lagi kami akan melaksanakan pesta resepsi" Daniel memainkan sebuah pajangan meja untuk mengurangi rasa gelisahnya.
"Sementara keluarga besarku, mengetahui jika kami sudah menikah dan hanya mengundang mereka saat resepsi nanti" Daniel terus menunduk.
Ustadz Fathur tersenyum dengan semua penuturan Daniel.
"Apa solusinya Ustadz?" Kali ini Daniel menatap sang Ustadz dengan tatapan yang tidak bisa dibaca.
__ADS_1
Ustadz Fathur sedikit menggeser duduknya dan tersenyum.
"Dalam hal perwalian Allah SWT sudah menetapkan bahwa yang berhak menjadi wali nikah seorang anak perempuan adalah ayahnya dan semua wali nasab dari pihak ayah. Lalu terakhir adalah wali hakim yang sudah ditunjuk oleh kementrian Agama berdasarkan undang-undang. Jika melihat kasusmu...pilihan terkahir bisa menjadi solusinya agar pernikahan kalian sah dimata agama dan hukum negara"
"Ente sudah mendaftarkan berkas pernikahan ke KUA kecamatan, bukan?" Daniel mengangguk.
"Baguslah...siapkan waktu kalian sebelum pesta resepsi berlangsung dan segera minta dinikahkan dibalai pernikahan. Dengan wali hakim sebagai wali istrimu. Nanti saya ikut hadir sebagai saksi nikah" Senyum Daniel langsung menghias wajah sendunya.
"Jika besok bagaimana ustadz?" Tanya Daniel.
"Sebaiknya lakukan 2 hari lagi. Setidaknya bicarakan semuanya dulu dengan istri dan keluarga ente" Daniel mengangguk paham dengan nasehat ustadz Fathur.
"Terimakasih banyak ustadz atas bimbingannya. Saya pamit pulang, tadi saya langsung pergi yg tanpa memberitahu istri" Daniel sudah berdiri kemudian kembali berjabat tangan dengan ustadz Fathur.
"Selain ikhtiar...perbanyak doa agar semuanya dimudahkan dan dilancarkan" Nasehat terakhir ustadz sebelum Daniel benar-benar meninggalkan tempat itu.
Perasaan lega dan bahagia tidak bisa ditutupi Daniel saat ini. Ia bahkan tidak sabar untuk segera sampai apartemen dan menemui istrinya yang ia tinggalkan tanpa memberi kabar.
"Maafkan aku, Honey" Gumam Daniel dalam hati.
Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari saat Daniel tiba di apartemennya. Ia membuka pintu kamarnya dengan sangat pelan. Tatapannya langsung menyorot ranjang besar miliknya. Kosong. Jantung Daniel berdetak kencang. Kegelisahan dan ketakutan menyergapnya.
"Honey....!" Panggilnya dengan terus menjelajah setiap ruang disana.
Kamar mandi, walk in closet, balkon. Tapi ia tetap tidak menemukan istrinya.
Daniel memacu langkahnya dengan degupan jantung yang semakin kencang. Ia taukut sesuatu terjadi dengan Medina.
Langkah dan tatapannya kini menyusuri ruang kerja setelah sempat mencari dikamar tamu. Namun tetap nihil.
"Honey....!! Honey....!!" Daniel terus memanggil nama perempuan yang amat sangat dicintainya.
"Honey kamu dimana?" Suaranya kini bergetar. Ia terduduk lemas dilantai. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Merutuki tindakannya yang pergi tanpa mengabari Medina.
Hingga suara gagang pintu terdengar ditelinga Daniel.
Ceklek!!! Daniel mendongak dan menatap pintu ruang fitnesnya. Wanita cantik yang sedari tadi dicarinya keluar dari sana dengan senyum manis terukir diwajahnya.
"Honey..." Daniel berdiri dan langsung menghambur memeluk Medina dengan sangat erat.
__ADS_1
"Maafkan aku...maafkan. Aku pergi tanpa berpamitan dan memberi kabar padamu. Maafkan aku" Daniel menciumi Medina yang berada dipelukannya.
Medina terkekeh dan membalas pelukan hangat suaminya. Sungguh ia merindukan pelukan hangat ini. Beberapa jam suaminya pergi dengan perasaan kesal membuatnya menyesal dan tidak akan mengulanginya lagi.