
Daniel menggandeng tangan istrinya menuju kamar mereka.
"Bukalah.." Pinta Daniel saat mereka sudah berada didepan pintu kamar hotel.
Daniel memberikan kunci yang berbentuk kartu kepada istrinya.
Medina sedikit gugup hingga ia belum menerima kunci dari tangan suaminya.
"Sayang...kamu tidak sedang mengerjaiku, kan?" Entah mengapa tiba-tiba Medina ragu akan kejutan yang sudah sangat ditunggunya.
Daniel terkekeh dan menarik pinggang istrinya hingga menempel pada tubuhnya.
"Sesuatu yang spesial untukmu ada didalam sana, Honey" Bisiknya membuat Medina tersenyum malu.
Daniel melepaskan tubuh Medina dari pelukannya kemudian mengecup kening istrinya dengan mesra.
Medina mendorong pintu kamar dengan perlahan.
Medina membelalakkan matanya. Kedua tangannya secara refleks menutup mulutnya yang terbuka.
"Sayang...." Manik Medina berkaca-kaca melihat kejutan yang berada dihadapannya.
Hamparan kelopak mawar merah memenuhi lantai kamar dengan cahaya temaram yang berasal dari lilin yang berjejer membentuk hati.
Medina terus melangkahkan kakinya masuk lebih dalam ke dalam kamar. Saking terpesonanya dengan hamparan mawar dibawah kakinya, Medina tidak melihat ranjang mereka yang juga penuh dengan kelopak mawar merah.

Saat Medina membalikkan tubuhnya untuk berbicara dengan suaminya, ia kembali terkejut melihat ranjang yang juga didekorasi dengan romantis.
Medina tidak bisa berkata-kata. Ini adalah kejutan paling romantis yang baru ia dapatkan seumur hidupnya.
Medina menatap pria yang membuat perasaan cintanya semakin besar dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya.
Daniel yang masih berdiri dekat pintu terus menatap wajah istrinya yang tengah bahagia. Sungguh hatinya merasa lebih bahagia melihat senyum indah merekah di bibir perempuan yang sudah mencuri hati dan pikirannya. Dan tidak menginginkan senyuman itu memudar sampai kapanpun.
Medina berlari dan melompat memeluk Daniel dengan sangat erat. Bahkan tangisnya pecah karena ia sangat bahagia.
"Terimakasih" Ucap Medina disela tangisnya.
Daniel mengelus punggung istrinya dengan lembut. Dan mengecupi kepala Medina yang masih tertutup hijab.
"Sudah aku bilang, aku tidak menerima ucapan terimakasih" Goda Daniel dengan berbisik.
Medina langsung mendongak menatap wajah suaminya. Kemudian kembali membenamkan wajahnya dada suaminya.
"Aku tidak punya apa-apa untuk diberikan sebagai bentuk terimakasihku. Aku hanya punya cinta yang akan aku berikan padamu dengan tulus" Ucap Medina lirih.
__ADS_1
Daniel tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Pupuk terus rasa cintamu padaku meski kau bosan mencintaiku" Daniel merangkum wajah Medina dengan kedua tangannya.
"Temani aku menua bersama anak dan cucu kita nanti" Ucap Daniel penuh perasaan.
Medina mengangguk dengan senyum bahagia kemudian Ia berjinjit untuk mencium bibir suaminya.
Daniel mengambil kesempatan itu dan langsung menggendong Medina tanpa melepas bibir mereka yang masih menyesap satu sama lain.
Daniel membawa istrinya ke ranjang dan merebahkannya dengan pelan.
Daniel melepas hijab yang dipakai Medina dan kembali mencium bibir ranum milik istrinya. Ciuman beralih ke leher Medina yang nampak putih dan mulus dan membuat tanda kepemilikan disana.
Dan malam yang panjang baru saja dimulai. Suasana kamar dengan dekorasi romantis dan pencahayaan temaram, semakin membuat kedua pasangan pengantin baru ini merasakan nikmatnya surga dunia.
****
Sementara dirumah mama Safira, Danu baru saja pulang dari kantor saat hampir tengah malam.
Selama Daniel pergi, ia harus memegang 2 perusahaan sekaligus dengan kesibukan yang sangat padat. Membuatnya pulang larut malam untuk menghadiri jamuan makan malam bersama klien.
"Sayang...kapan kamu pulang?" Rani membuka matanya saat merasakan sentuhan di pipinya.
"Baru saja" Jawab Danu pelan.
Rani bangkit dari tidurnya kemudian turun dari ranjang menghampiri suaminya yang sedang membuka pakaian.
"Hhhmmm" Danu yang sudah bertelanjang dada kini berdiri berhadapan dengan istrinya.
Danu menunduk dan mencium bibir Rani dengan lembut.
"Mandilah dulu, akan aku siapkan teh madu" Ucap Rani setelah selesai berciuman.
Rani membuka lemari dan mengambil handuk untuk diberikan kepada Danu. Danu menerimanya dan langsung berjalan masuk kedalam kamar mandi.
Setelah beberapa menit, Danu sudah keluar dengan tubuh yang sudah segar. Setelah selesai memakai pakaian tidurnya, saat itu pula Rani masuk membawa secangkir teh madu untuk suaminya.
"Sayang...minum dulu mumpung masih hangat" Rani menyodorkan minuman itu. Kemudian ia ikut duduk disamping suaminya yang sudah lebih dulu duduk disofa.
"Bagaimana persiapan pernikahan dan resepsi Daniel?" Tanya Rani.
"Kita akan membicarakannya setelah mereka kembali" Jawab Danu.
"Baiklah...istirahatlah. Aku akan membawa ini keluar" Rani mengambil cangkir teh yang sudah kosong dan membawanya ke pantry.
Setelah Rani beranjak keluar, Danu juga beranjak ke tempat tidur. Tubuhnya sangat lelah karena seharian mengurus 2 perusahaan sekaligus.
Tidak lama kemudian Rani sudah kembali masuk kedalam kamar. Ia mematikan lampu utama kamar dan menyisakan lampu temaram yang berasal dari samping ranjang.
__ADS_1
Rani naik ke atas ranjang dan memeluk Danu yang sudah terlelap. Tidak berselang lama Rani pun menyusul suaminya ikut dalam buaian mimpi indah.
****
Waktu sudah menunjukkan pukul satu malam, tapi penghuni kamar hotel ini baru saja menyelesaikan pergulatan panas dan penuh kenikmatan untuk yang ke 2 kalinya sepanjang malam ini.
"Kak..." Panggil Medina dengan suara yang sangat pelan. Ia benar-benar sudah dalam mode kelelahan setelah melayani suaminya.
"Hemmm" Daniel mencium pundak istrinya yang polos.
"Saat pulang nanti, aku ingin pulang kerumah mama" Ucap Medina hati-hati. Ia tidak mau membuat suasana hati suaminya berubah.
"Kamu tidak suka tinggal di apartemen kita?" Tanya Daniel.
"Maaf...bukannya aku tidak suka. Tapi aku ingin menginap di rumah mama beberapa hari. Bolehkan??" Tanya Medina.
Alih-alih mwnjawab pertanyaan istrinya Daniel semakin mengeratkan pelukannya bahkan tangan Daniel meremas buah d*d* istrinya hingga Medina menjerit keras.
*Aaaawwwww!!!!* Medina meringis kesakitan.
"Apa yang kakak lakukan? Itu sakit, tahu!!" Pekik Medina dengan wajah merah karena kesal.
"Habisnya kamu itu bikin aku gemes tahu, Honey" Daniel terkekeh.
"Lepasin!!" Medina mulai meronta dari pelukan suaminya.
"Oke...oke. Aku minta maaf" Daniel mengecupi kepala, tengkuk, dan pundak Medina yang dipeluk dari arah belakang.
"Honey...dadamu semakin besar dan berisi" Goda Daniel yang terus memainkan dada Medina dengan lembut.
"Bagaimana tidak semakin besar, kakak sering memainkannya" Jawab Medina asal.
Daniel yang mendengar ucapan istrinya Langsung tergelak kencang. Sementara Medina memilih membenamkan kepalanya pada lengan Daniel yang menjadi bantalan dirinya karena kesal sekaligus malu.
"Honey...apa kamu tidur?"
Medina yang sebenarnya tidak tidur, pura-pura memejamkan matanya. Ia sebenarnya menahan untuk tidak terpancing dengan sentuhan tangan Daniel yang membuat tubuhnya kembali merasakan sengatan.
Ia tidak ingin melakukannya lagi, karena ia benar-benar lelah dan mengantuk.
"Aku tahu, kamu belum tidur" Tangan Daniel kini beralih ke area sensitif lainnya.
"Eeeuuuhhhmmm...." Tanpa sadar desahan lembut lolos dari bibir Medina membuat Daniel semakin menginginkan lebih.
Sebagai pasangan pengantin baru, bentuk sentuhan yang diberikan dari dan oleh pasangan tentu saja selalu membuat gejolak yang sulit diungkapkan. Dan kenikmatan itu bukan untuk diungkapkan secara lisan, namun dirasakan dengan cinta dan tindakan, untuk menyampaikan kepada pasangan bahwa cinta harus saling menerima dan mengisi satu sama lain.
Medina benar-benar tidak berdaya setelah melayani suaminya untuk yang ke tiga kalinya dalam semalam. Ini rekor baru untuknya selama seminggu menjadi istri Daniel. Ia langsung terlelap tanpa membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.
Daniel menarik selimut menutupi tubuh polos istrinya. Kemudian ia turun dari ranjang dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
__ADS_1
Daniel kembali naik ke ranjang setelah keluar dari kamar mandi. Menarik tubuh Medina ke dalam pelukannya dan mengusap perut Medina yang rata.
"Semoga kamu segera hadir disini" Gumam Daniel sebelum ia menyusul istrinya terlelap.