Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 83


__ADS_3

Daniel menatap tajam dan dingin ke arah Bude Tatik yang sedari kedatangannya terus menyerocos tidak henti.


"Apa anda sudah selesai?" Sindir Daniel.


Namun yang disindir justru semakin tidak punya malu. Bude Tatik masih terus saja mengoceh bahkan kali ini mulutnya sudah melebihi batas. Karena ia mulai menjelek-jelekkan Medina dan menyalahkan atas apa yang menimpa keluarga mereka.


"Bagaimana bisa dia dikatakan gadis baik-baik jika tiba-tiba dia pergi tanpa kabar meninggalkan keluarga yang sudah menampungnya dan memberinya makan?" Daniel mengepalkan tangannya menahan amarah.


Pakde Radiman yang melihat kemarahan Daniel lewat sorot matanya, langsung membekap mulut istrinya.


"Tutup mulutmu, Bu!!" Pekik pakde Radiman kepada istrinya.


Bude Tatik yang mulutnya tiba-tiba dibekap, meronta agar dilepaskan.


"Anda sudah puas mengatai istriku? Jika belum puas, kau bisa memakinya lagi. Tapi aku tidak yakin... jika kalian mendengar apa yang akan aku katakan kepada kalian...kalian masih berani menjelek-jelekkan Medina" Suara Daniel berubah menakutkan.


"Apa yang ingin anda katakan, pak?" Kali ini Pakde Radiman membuka suara.


Daniel tersenyum sinis tanpa memudarkan tatapan tajamnya.


"Jika itu mengenai undangan resepsi Medina dan anda, Kami sudah diberitahu oleh pak Raihan tempo hari dan kami tidak keberatan jika hanya satu hari berada di kota J" Ucap Pakde Radiman.


"Kalian sangat yakin sekali akan bisa hadir dipesta resepsi kami" Ejek Daniel.


"Tentu saja, karena kami adalah satu-satunya keluarga Medina" Sahut Bude Tatik dengan cepat.


Daniel tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan bude Tatik yang sangat percaya diri. Membuat mereka heran.


Daniel membuang nafasnya dengan kasar. Ia sudah tidak bisa berlama-lama mendengar drama dihadapannya.


"Aku semakin ragu dengan kalian. Sikap kalian yang sangat egois dan tidak bermoral sangat bertolak belakang dengan sikap yang selama ini ditunjukkan istriku kepada keluargaku. Dia gadis yang baik dan berhati lembut. Bagaimana mungkin kalian menjadi keluarganya?"


Mendengar pernyataan Daniel, bude Tatik langsung menyambar.


"Apa maksud pak Daniel?"


"Baiklah...dengarkan baik-baik apa yang akan aku katakan Karena aku tidak akan mengulanginya" Ucap Daniel sambil menegakkan tubuhnya yang sedari tadi tersandar disofa.


"Aku sudah tahu sebuah rahasia besar tentang istriku. Medina bukanlah Keponakan kandung kalian" Ucap Daniel penuh penekanan.


"Apa?" Ketiga orang tua dan anak itu membelalakkan matanya karena terkejut.


"Ka_kau sudah ta_tau?" Tanya bude Tatik dengan tubuh gemetar.


"Ya!! Aku sudah tahu. Dan aku juga sudah tahu keluarga kandung istriku" Jawab Daniel sedikit berbohong mengenai keluarga kandung Medina yan masih tahap pencarian.


"Tidak!! Kamu pasti sedang berbohong!!" Pekik Bude Tatik sambil mengarahkan telunjuknya kearah Daniel.


"Mengapa anda sangat terkejut dan sangat marah?" Tanya Daniel sinis.


"Apa karena kalian tidak bisa lagi memanfaatkan istriku?" Sindir Daniel membuat bude Tatik tersenyum kikuk.


"A_apa Medina juga tahu?" Tanya Pakde Radiman lirih.


"Bagaimana mungkin rahasia sebesar ini dia tidak mengetahuinya?"


"Kalian mengetahui kebenaran ini sejak awal dan kalian sudah memanfaatkan gadis polos itu. Bahkan kalian hampir menjualnya kepada pria hidung belang yang sudah memenjarakan kalian untuk membayar hutang-hutang kalian. Dan kalian masih dengan percaya diri mengatakan jika kalian keluarga istriku?" Ucap Daniel penuh emosi.

__ADS_1


"Siapa yang mengatakan rahasia ini kepada kalian?" Salsa nampak lebih tenang dari kedua orangtuanya.


"Jika kamu tahu siapa yang memberitahu kami rahasia ini, apa yang akan kamu lakukan, hah?" Hardik Daniel dengan suara yang memenuhi ruangan.


Membuat nyali Salsa seketika menjadi ciut. Ia kembali membungkam mulutnya dan tidak bicara sepatah katapun lagi. Ia hanya mencari aman untuk dirinya, sebab ia menyadari rencana apapun yang akan mereka buat akan berakhir sia-sia. Karena Daniel sudah mengantisipasi hal-hal yang akan mereka perbuat kepada Medina.


"Medina sudah banyak bercerita tentang kalian. Bagaimana kehidupannya saat bersama orangtua yang mengasuhnya dan setelah kedua orangtuanya meninggal"


Keluarga Pakde Radiman tidak ada yang berani bicara sepatah katapun. Sementara satu orang yang berada dibalik tembok dapur tampak menangis tersedu-sedu mendengar kenyataan yang baru diketahuinya. Dia adalah Billa, adik dari Salsa yang sangat jauh berbeda karakternya dengan sang kakak.


Sejak kecil Billa sangat dekat dengan Medina. Bahkan saat Medina ditampung dirumah pakde Radiman, Billa lah yang sering menghiburnya. Namun selama ia bersama dengan Medina, ia sama sekali tidak pernah mengetahui kebenaran jika sepupu nya itu bukan bagian dari keluarganya.


Mengingat bagaimana perlakuan keluarganya kepada Medina, air mata gadis itu semakin deras membasahi pipinya. Ia merasa sangat bersalah kepada Medina. Dan ia bertekad dalam hatinya, ia akan meminta maaf atas nama keluarganya jika bertemu Medina nanti.


****


Hari hampir larut saat Daniel kembali ke hotel tempatnya menginap.


Meski hari ini sangat melelahkan baginya, namun ia merasakan kelegaan dalam hatinya dan ia merasa puas sudah memberi peringatan kepada keluarga Pakde Radiman. Yaa walaupun ia tahu jika istrinya mengetahui rencananya, ia akan menatah melarang Daniel melakukan itu. Tapi Daniel bisa apa? Ia sangat mencintai istrinya, ia tidak ingin hal buruk terjadi sebelum Medina menemukan keluarga kandungnya.


Tiba-tiba suara bel pintu terdengar ditelinga Daniel. Daniel yang sudah diatas ranjang segera turun dan membuka pintu.


"Kamu?" Daniel terkejut dengan kedatangan adik sepupu istrinya. Matanya tampak memerah dan sembab.


"Kamu sama siapa kesini?" Daniel menoleh ke kiri dan ke kanan dan ia mendapati Raihan berada didepan pintu kamarnya.


"Maaf bos, gadis kecil ini menelepon dan memohon padaku untuk membawanya kemari" Ucap Raihan menjelaskan.


"Ayo masuk. Rai....kau juga" Tatapan tajam Daniel mengarah kepada Raihan yang masih berdiri didepan kamar hotelnya.


Lalu ketiganya masuk kedalam kamar Daniel.


"Ma_maafkan keluargaku, mas" Lirih Billa dengan menundukkan kepalanya. Tubuhnya mulai bergetar karena gadis itu kembali menangis.


Daniel terdiam dan hanya terdengar helaan nafas halusnya.


"Billa Ndak pernah tahu, jika mbak Medina bukan kakak sepupu kandung. Bi_billa baru mengetahuinya tadi saat mas Daniel datang dan mengatakan semuanya" Billa masih belum menganggat kepalanya. Ia justru semakin dalam menundukkan kepalanya.


"Billa tahu...apa yang dilakukan bapak, ibu dan mbak Salsa kepada mbak Medina selama ini adalah salah dan tidak dapat dimaafkan. Ta_tapi Billa mohon,... maafkan keluarga Billa, Mas...Hiks...hiks" Billa semakin tersedu.


"Billa...." Panggil Daniel.


"Kamu tahu jika aku sangat mencintai Medina. Dan aku tidak akan membiarkan siapapun memberikan kesedihan lagi kepadanya"


"Dan apa yang aku lakukan kepada keluargamu adalah untuk kebaikan mereka juga. Jadi, kamu tidak perlu khawatir" Ucap Daniel penuh penekanan.


Billa mengangguk paham. Memang dirinya tidak perlu merasa khawatir karena suami kakak sepupu nya adalah orang yang baik. Bahkan ia sudah melepaskan bapaknya dari jerat hukum yang membelit nya. Dan ia patut syukuri karena setelah membebaskan keluarganya dari lilitan hutang, Daniel juga memberikan mereka kehidupan yang lebih dari kata layak.


"Pulanglah...Raihan akan mengantarmu" Daniel melirik Raihan yang sedari tadi setia berdiri disisi sofa.


Billa pulang kerumah dengan diantar Raihan. Sepanjang perjalanan pulang, Billa tidak berani bicara apalagi menatap Raihan.


Namun dalam hatinya ia ingin sekali menanyakan hal penting kepada Raihan.


"M_ Mas Raihan...a_apa boleh Billa bertanya?" Billa tergugup.


"Tanya apa?" Jawab Raihan tanpa menoleh.

__ADS_1


"Apakah setelah Billa lulus SMA, Billa bisa langsung bekerja dikantor mas Raihan seperti mbak Salsa?" Tanya Billa dengan berhati-hati.


"Mau bekerja apa kamu disana jika hanya mengandalkan ijazah SMA?" Ejek Raihan dingin.


"Buktinya mbak Salsa bisa kerja kantoran walaupun cuma mengandalkan ijazah SMA" Sahut Billa polos.


Raihan mengernyitkan keningnya hingga kedua alis tebalnya menyatu.


"Kerja kantoran?"


"Iya..mbak Salsa bilang dia kerja diruangan yang terpisah dan luas. Setiap hari dia selalu menyidak ruangan berbagai divisi diperusahaan Mas Raihan, kan?" Kali ini Raihan tidak bisa menahan kepalanya untuk menengok wajah yang baru saja berbicara polos.


"Dan kamu percaya?" Sahut Raihan tanpa ekspresi.


"Aku percaya. Wong tiap berangkat kerja mbak Selasa selalu memakai pakaian kantor lengkap" Raihan tergelak kencang mendengar ucapan gadis bersurai gelombang yang duduk disampingnya.


"Lho....kenapa mas Raihan tertawa?"


Raihan meraih surai gadis 18 belas tahun itu dengan sebelah tanannya lalu mengacaknya dengan gemas.


"Kamu itu bodoh atau terlalu polos? Hem?" Raihan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak habis pikir dengan perilaku kedua kakak adik ini yang seperti bumi dan langit.


Mobil telah sampai dihalaman depan kontrakan Pakde Radiman. Ketika Billa selesai membuka seatbelt nya dan hendak membuka pintu, Raihan menarik tangan Billa hinggaembuat gadis itu terkejut.


"Setelah lulus SMA kamu harus kuliah. Berusahalah untuk mencari jalur prestasi. Apabila kamu lulus seleksi, dan berhasil.masuk universitas melalui jalur itu, aku akan memfasilitasi kebutuhanmu selama kuliah. Jika gagal, aku yang akan membiayai kuliahmu sampai selesai" Ucap Raihan dengan wajah yang hampir tidak bisa ditebak.


"Beneran mas? Mas Ndak bohong, kan?" Wajah cantik Billa berbinar senang.


Raihan mengangguk mengiyakan. Membuat wajah gadis kecil itu semakin berseri. Tanpa sadar Billa menghambur memeluk Raihan yang masih berada dikursi kemudi.


"Terimakasih, Mas.... Terimakasih banyak!!! Billa janji,


Billa akan berusaha mendapatkan beasiswa" Ucapnya penuh semangat.


Sementara Raihan yang tiba-tiba dipeluk hanya diam mematung. Tubuhnya seolah menjadi patung.


Billa melepaskan pelukannya saat ia sadar.


"Ma_maafkan Billa, Mas" Ucap Billa malu karena sudah memeluk Raihan.


"Sudahlah...Cepat masuk sana!" Perintah Raihan tanpa menatap wajah Billa.


"Terimakasih sudah mengantar Billa pulang. Selamat malam" Pamit Billa.


Setelah memastikan gadis yang diantar nya masuk kedalam rumah, Raihan melajukan mobilnya kembali ke hotel.


_


_


_


_*TO BE CONTINUE*


_


_

__ADS_1


_


__ADS_2