Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 162


__ADS_3

Medina merasakan perutnya yang tidak nyaman saat baru bangun tidur. Hampir semalaman ia tidak bisa tidur dengan nyenyak karena memikirkan kejadian semalam. Otaknya sibuk mencari solusi untuk masalah yang tengah dihadapi keluarganya. Ia ingin semua orang hidup rukun dan bahagia. Tanpa ada rasa dendam yang mengakibatkan ketidakharmonisan keluarga besar dari sang ayah.


Dan ketika selesai menunaikan sholat subuh, ia merasakan kepalanya yang berat serta perutnya yang terasa tegang. Ia mencoba menyembunyikan dari Daniel namun sepertinya suaminya itu lebih jeli dengan gestur tubuh istrinya.


"Kenapa?" Tanya Daniel panik melihat istrinya meringis sambil memegangi perut.


"Perutku terasa kencang sekali." Jawab Medina jujur. Ia takut suaminya akan marah jika ia tidak jujur karena semalam Daniel bahkan mengancam akan membawa Medina ke Rumah sakit karena tidak bisa beristirahat dengan baik.


"Apa sakit?" Daniel mengusap perut istrinya pelan dan menatap Medina yang menggeleng pelan. Sebisa mungkin ia menahan rasa kesalnya karena Medina yang sulit diatur.


"Ayo kerumah sakit." Daniel seolah bukan sedang mengajak istrinya. Tapi lebih seperti perintah karena ia langsung membantu Medina berdiri.


"Sayang..." Medina yang masih smduduk diatas sajadahnya langsung mendongak menatap wajah suaminya yang datar. Terdengar hembusan nafas kasar dari mulut suaminya yang juga membuang wajahnya kesamping. Tidak ingin terlihat bahwa dirinya sedang kesal karena Medina mengabaikan kesehatan dirinya dan sang anak.


"Aku harus bagaimana? Semua terjadi karena kehadiranku. Bahkan saat aku masih didalam kandungan ibu. Mereka..." Suara Medina tercekat. Sudut matanya mulai berair dan tanpa sadar sudah membasahi pipinya.


Daniel membuang nafas lagi, menoleh kemudian berjongkok dihadapan Medina.


"Aku rela melepaskan semuanya...tapi aku tidak rela jika hubungan darah juga terlepas begitu saja.


"Katakan pada_ku...aku harus bagaimana? Bahkan setelah ibu memberikanku pada orang asing untuk melindungiku, mereka...tetap saja seperti bukan keluarga." Medina terisak pilu mengingat keluarga ayahnya yang membenci sang Ibu dan dirinya sejak lama.


Daniel terdiam menatap Medina yang menangis. Dan hatinya terasa sakit melihat wajah wanita yang dicintainya bersedih seperti sekarang.


"Aku akan bicara dengan ayah dan Fian untuk membicarakan hal ini." Daniel membawa Medina kedalam pelukannya. Dan Medina langsung merasakan kenyamanan dan kehangatan dalam pelukan suaminya. Membuat tangisnya mereda dan hanya menyisakan isakan kecil.


"Aku percaya pada suamiku." Medina mengangguk dalam pelukan. Membuat Daniel tersenyum tipis mendengar kepercayaan istrinya.


****


Dikamar hotel lain, Fian membaca pesan yang masuk kedalam ponselnya. Jarinya mengetik sesuatu membalas pesan yang baru saja dibacanya.


"Siapa?" Tanya Donita yang baru saja keluar dari kamar mandi. Melihat suaminya yang sibuk dengan ponselnya.


"Daniel." Jawab Fian yang tersenyum melihat istrinya yang hanya berbalut handuk pendek hingga memperlihatkan keindahan tubuhnya.


"Harum sekali." Seolah ada magnet dalam tubuh istrinya, Fian langsung mendekat setelah melempar ponselnya keatas ranjang.


Fian menarik tubuh Donita hingga kedua tubuh mereka merepat tanpa jarak. "Kamu sengaja menggodaku?" Bisik Fian dengan senyum menyeringai.


"Aku baru selesai mandi." Jawab Donita dengan menahan hawa panas yang tiba-tiba menyerang tubunya karena ulah tangan sang suami yang bergerilya diatas kulit tubuhnya.


"Sekarang kamu mandi. Aku sudah siapkan airnya." Lanjut Donita berusaha mengalihkan perhatian suaminya.


"Hhhmmm." Fian seolah tuli, ia tidak menghiraukan ucapan istrinya. Dan semakin memberikan sentuhan-sentuhan maut pada titik-titik sensitif tubuh Donita.


"Sayang...awwww!!!" Pekik Donita kencang karena terkejut saat tubuhnya sudah melayang di udara.


"Kamu mau apa?"


"Aku ingin sarapan." Fian membawa istrinya keatas ranjang.


"Jika ingin sarapan cepatlah mandi lalu kita turun ke restoran." Jawab Donita polos.


"Sebelum sarapan realfood..aku ingin sarapan yang ini dulu." Fian menarik handuk yang melilit tubuh istrinya lalu melemparnya ke belakang.


Tanpa bisa mengelak, Donita kembali melayani suaminya dengan sukarela dan tentu saja penuh dengan cinta.


****

__ADS_1


"Baiklah...aku setuju denganmu. Semoga ini membawa dampak yang baik untuk om Bastian." Ucap pak Sanjaya dengan keyakinan penuh setelah mendengar pemaparan Daniel sang menantu mengenai permasalahan yang dialami keluarganya. Pak Sanjaya menatap Medina yang tersenyum menatapnya.


"Yang terpenting lagi...jangan sampai mereka membuat keonaran apalagi sampai menyakiti putriku." Tegas nya lagi.


"Ayah...yang terpenting silaturrahmi keluarga kita terjaga dengan baik." Sela Medina membuat sang Ibu menganggukkan kepalanya.


"Ayah...kak Fian... terimakasih banyak ya." Ucap Medina tulus sambil menatap keduanya bergantian.


"Ayah akan melakukan apapun untukmu, Nak." Balas pak Sanjaya dengan senyumnya.


"Ayah..." Medina menghambur memeluk pak Sanjaya. Meluapkan kebahagiaan karena merasa dicintai dan disayangi orangtua dan keluarganya.


"Ayah juga berterimakasih pada Nak Daniel. Mungkin... kedepannya saya akan memberimu otoritas untuk mengurus semua yang memerlukan persetujuan Medina, sampai putriku benar-benar siap untuk memimpin kerajaan bisnis Sanjaya Group." Ucap Pak Sanjaya serius.


"Aku setuju...Ayah." Timpal Medina.


Medina menoleh suaminya yang tersenyum. Lalu satu tangannya mengulur pada Daniel yang langsung menyambutnya dengan penuh cinta.


"Aku memberikan kuasa penuh kepada suamiku atas pekerjaanku." Kekeh Medina dan semua orang pun ikut tertawa.


"Apapun untukmu, Tuan putri." Celetuk Daniel membuat Medina merona.


"Dan tentu saja service yang memuaskan." Daniel mengedipkan satu matanya kearah istrinya.


"Hei...Putriku sedang hamil tua...bagaimana kamu bisa meminta ser__"


"Mas..." Sela Ibu Melani menahan senyumnya.


"Menantu kamu yang tidak tahu malu." Sanggah pak Sanjaya membuat semua orang tertawa.


"Terimakasih, Sayang." Medina menatap suaminya penuh binar.


"Kamu lupa...jika aku tidak menerima ucapan terimakasih." Daniel mengedipkan sebelah matanya lagi. Ia puas menggoda sang ayah mertua yang posesif terhadap Medina.


"Kak Fian..maaf." Medina melepas pelukan dari sang Ayah lalu beralih memeluk suaminya.


"Apapun keputusan hari ini...aku akan selalu mendukung kalian." Ucap Fian tanpa ragu.


"Terimakasih, nak." Sahut pak Sanjaya menepuk pundak Fian.


Tiba-tiba ponsel Daniel berdering. Medina melepaskan pelukannya untuk memberi ruang kepada suaminya untuk menerima panggilan.


"Maaf..." Daniel pamit menjauh untuk menerima panggilan.


"Halo."


"Apa?"


"Hemm...siapkan semuanya. Aku akan datang dalam satu jam. Aku akan mengabari Kak Danu."


"Pastikan jangan sampai ada yang terlewat. Aku segera datang." Daniel memutuskan sambungan diponselnya. Lalu menarik nafas panjang.


"Sayang....ada apa?" Medina menghampiri suaminya.


"Aku akan ke kantor." Ucap Daniel tersenyum.


"Apa ada masalah?" Tanya Medina dengan perasaan khawatir.


"Ya...bisa dikatakan seperti itu." Jawab Daniel.

__ADS_1


"Kamu bisa bersiap dan aku akan mengantarmu pulang baru aku ke kantor." Ucap Daniel sambil mengusap perut istrinya.


"Kenapa harus mengantarku? Jarak kantor lumayan cukup jauh dari sini. Aku akan pulang bersama ayah dan Ibu...kakak bisa langsung pergi ke kantor." Daniel mendengarkan istrinya dan mengiyakan ucapan Medina.


"Baiklah..."


"Kalian akan pergi?" Tanya Ibu Melani saat melihat keduanya bergandengan tangan ke arahnya.


"Aku harus ke kantor Bu. Tapi..." Pandangan Daniel tertuju pada Medina.


"Pergilah, nak. Kami akan menjaga tuan putrimu." Kekeh ibu Melani seolah tahu arti tatapan menantunya.


"Terimakasih, Bu."


" Kenapa berterimakasih? Dia juga tuan putri ku...tentu aku akan senang hati menjaganya." Ucap Ibu Melani.


"Kalian ini..." Medina tampak berkaca-kaca melihat perhatian dan kasih sayang suami dan ibunya.


"Apa ada yang perlu aku siapkan?" Tanya Medina kepada suaminya.


"Tidak perlu. Aku akan langsung turun." Medina mengangguk lalu mencium punggung tangan suaminya.


"Semoga cepat selesai." Daniel tersenyum lalu mencium kening Medina.


"Baby...jangan rewel saat papa tidak ada. Jadi anak baik, oke?" Daniel mengusap lalu mencium perut Medina. Dan seperti biasa, reaksi sang jabang bayi selalu aktif ketika kedua orangtuany mengajaknya bicara.


"Good boy." Senyum Daniel merekah saat mendapatkan jawaban dari sang anak yang masih berada didalam perut istrinya. Sedikit membuat hatinya lebih tenang meninggalkan keduanya.


"Aku pamit. Eh...dimana ayah?" Tanya Daniel saat menyadari ayah mertua tidak berada disana.


"Dia sedang bicara dengan Fian diluar."


"Baiklah...aku pergi." Daniel melangkah keluar kamar hotel dan bertemu pak Sanjaya dan Fian lalu berpamitan.


Keluarga pak Sanjaya juga meninggalkan hotel setelah Daniel. Mereka akan makan malam bersama dirumah Ibu Melani yang berada tidak jauh dari rumah Medina.


Ibu Melani, Medina dan Donita mulai sibuk didapur saat sore hari. Mereka dibantu para pekerja dirumah mewah itu untuk memasak banyak masakan karena mereka juga mengundang keluarga Daniel.


Malam pun tiba, semua orang sudah berdatangan dan saling berbincang diruang tengah sebelum ke meja makan. Karena maish menunggu kehadiran Daniel yang dalam perjalanan.


"Semoga kamu segera menyusul." Ucap Rani saat berbincang dengan Donita yang menggendong baby Syakir.


"Aamiin." Donita mengamini. Ia juga tidak menunda dan berharap secepatnya diberikan amanah seorang calon bayi dalam rahimnya.


"Bagaimana rasanya melahirkan?" Tiba-tiba pertanyaan itu melunucur begitu saja dari bibir Donita.


"Ada saatnya nanti kita semua para perempuan merasakannya. Karena tidak semua hamil, melahirkan sama dengan wanita lainnya." Jawab Rani sambil menatap adik iparnya.


"Jangan cemaskan apapun, Tuhan sudah memberikan kita anugerah sebagai seorang perempuan dengan segala keistimewaan nya." Medina dan Donita mengangguk paham. Ketiganya kembali menggoda baby Syakir yang menggemaskan karena terus tertawa.




Meskipun telat, saya mengucapkan Taqoballahu Minna Waminkum Minal Aidzin Wal Faidzin mohon maaf lahir dan bathin.🙏🏻🥰



Mohon maaf baru bisa up setelah sekian lama hibernasi...banyak hal yang saya lakukan didunia nyata sehingga menyita banyak waktu dan tidak sempat untuk menulis.

__ADS_1



Insya Allah, saya akan kembali melanjutkan Medina dan Daniel hingga tamat tapi tidak bisa menjanjikan up setiap hari. Tapi saya akan usahakan untuk up sampai tamat. Mohon maaf atas kekecewaan readers yang menunggu lama...harap maklum adanya🤭


__ADS_2