Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 21


__ADS_3

Selama didalam lift mata Daniel tidak berhenti menatap lekat wajah Medina yang terus menunduk.


Didalam Hatinya ia terus bergumam kagum atas Mahakarya Tuhan yang kini berada dihadapannya.


Daniel bersyukur karena didalam lift cuma ada mereka berdua. Jadi ia bisa lebih leluasa menatap gadisnya hingga puas.


Hingga ketika sebuah insiden kecil terjadi saat lift terbuka dilantai 4.


3 orang pria muda masuk ke dalam lift dan mulai mengganggu Medina. Saat Daniel menyadari gadisnya terancam, ia segera menggeser tubuhnya untuk menarik lengan Medina. Namun Salah seorang dari mereka nampak lebih cepat dari gerakan Daniel dan mendekati Medina dan mencoba menyentuh Medina. Namun tangan Medina secepat kilat menghempaskan tangan pria itu dengan kasar.


"Halo cantik.." Teman-teman pria itu menimpali dengan tawa terbahak-bahak.


Medina mulai gemetar ketakutan. Ia membuat perlindungan dengan menyilangkan kedua lengannya kedepan dada.


Wajah Daniel memerah, Rahangnya mengeras dengan tangan terkepal. Dan sejurus kemudian...


Bukkk....bukkk... bukkk


Daniel meninju 3 pria itu hingga tersungkur tanpa perlawanan.


Medina yang masih dalam keadaan ketakutan pun menjerit histeris.


Tanpa aba-aba Daniel menarik tangan Medina hingga Medina berada dibelakang tubuhnya.


"Jangan ganggu istriku...jika kalian masih ingin hidup" Daniel masih mengepalkan tinjunya mengambil ancang-ancang jika mereka meyerang balik mengeroyok Daniel. Karena bagaimanapun Daniel menyadari posisinya kalah jumlah dengan 3 pria itu.


Ting!!!


Pintu lift terbuka tepat dilantai 6. Dpaniel menarik tangan Medina dan membawa gadis itu keluar dari dalam lift dengan langkah cepat.


"kamu ga papa?" Tanya Daniel saat mereka sudah keluar lift.


"Apa kak Daniel terluka?" Medina tidak menghiraukan pertanyaan Daniel dan malah menanyakan keadaan dirinya. Medina meraih tangan Daniel yang digunakan untuk meninju 3 pria pengganggu itu.


"Tangan kakak luka" Ucap Medina dengan suara bergetar dan air matanya jatuh bercucuran tanpa komando.


"Medina plis jangan menangis..ini hanya lecet sedikit" ucap Daniel menghibur.


"maafin Medina...kak" Ucap Medina dengan tubuh yang masih bergetar ketakutan dan khawatir dengan kondisi Daniel.


"Medina..aku ga papa" Daniel bingung harus berkata-kata.


Medina menggeleng. Tubuhnya tiba-tiba lunglai dan hampir jatuh ke lantai. Namun Daniel dengan cepat meraih tubuh Medina. Dan mendekap tubuh gadis itu kedalam pelukannya.


Tangis Medina semakin pecah. Ia menumpahkan emosi yang yang bergejolak dalam hatinya dan ia tahan selama ini. Perasaan yang terus mengganggunya selama 6 bulan terakhir. Ditambah dengan kejadian di lift barusan. Membuat dadanya sesak hingga ia tak sanggup mengelak saat Daniel memeluknya erat.


Begitu pun dengan Daniel. Keraguan dalam hatinya tiba-tiba sirna saat Medina menangis tersedu dalam pelukannya. Ia semakin menyadari bahwa ia hanya menginginkan berada dekat dengan gadisnya dan ingin selalu melindungi nya dari apapun yang menggangu kehidupan gadisnya. Bahkan selama 5 bulan terakhir, Hati dan pikiran Daniel seolah tidak ada tempat lagi untuk Farah, mantan tunangannya.


"maafkan aku. Aku adalah laki-laki pengecut. Menghindar dari semua perasaan yang sulit aku elak lagi. Dan hari ini, laki-laki itu ingin mengakuinya. aku sudah jatuh cinta padamu" Bisik Daniel ditelinga Medina dengan suara lembut.

__ADS_1


Medina yang mendengarnya langsung mendongakkan kepalanya. Ia melepaskan pelukannya. Maniknya yang masih basah, menatap wajah Daniel dengan seksama.


"Aku serius..." Ucap Daniel mantap. Ia tahu ada keraguan yang ia tangkap dari tatapan Medina. Tangan Daniel menggenggam tangan Medina erat. Mengalirkan semua perasaannya.


"Apa kita bisa langsung menikah?" Goda Daniel diiringi tawa kecil.


"Hah?" Wajah Medina memerah seperti kepiting rebus.


"Hei..adik tidak tau diri. Apa kamu sudah lupa cara melamar gadis?" Suara Danu membuat Daniel terpojok.


"Medina...jangan mudah menerima omong kosong laki-laki dihadapanmu ini"


Danu merangkul pundak adiknya sambil terkekeh.


"kakak menguping?" Daniel memicingkan matanya.


"Hei...kalian pikir. Kalian bisa lepas dari pengawasan ku?" Danu masih tertawa.


"Medina...apa kamu menerima lamaran adikku yang bodoh ini?" Tanya Danu dengan nada serius.


"kak..." Danu menggeram.


Medina terlihat bingung. Bukan karena ragu akan pernyataan cinta Daniel dan perasaannya. Namun ia bingung haruskah ia menjawabnya sekarang. Tanpa dihadiri anggota keluarga yang lain?


"Ibu dimana kak?" Medina mengalihkan pertanyaan Danu.


"Medina rindu sama ibu" Ucap Medina menatap kedua Kakak beradik itu bergantian.


Daniel dan Danu tersenyum lebar.


"tentu saja...kita akan menemui mama. ayo" Daniel menarik tangan Medina untuk menemui sang mama.


Namun Medina menghentikan langkahnya. Sehingga Daniel pun berhenti berjalan.


"ada apa?" Tanya Daniel heran.


"kakak tidak perlu menggandeng tanganku seperti ini. Ada banyak orang didalam. Aku malu,"


"mereka keluarga besarku. Jika mereka tahu justru itu lebih bagus bukan?" Ucap Daniel seenaknya.


"Tapi kak..." Medina mencoba terus menolak..


Daniel mendekati Medina lalu meraih kedua tangannya.


"Aku mencintaimu. Aku tidak peduli kata orang. Dan jangan pedulikan orang-orang" Ucap Daniel lembut.


"apa kamu tidak mau mama bahagia dengan segera memberi tahu kabar bahagia ini?" Mendengar itu Medina mengangkat wajahnya yang tertunduk. Daniel benar, bahkan mungkin kabar inilah yang selalu ibu Safira nya ingin dengar.


Lalu Medina menatap Danu yang berdiri tidak jauh dari mereka.

__ADS_1


"Mama pasti sangat bahagia mendengar Daniel telah melamar mu" Ucap Danu sedikit menggoda.


Medina tersenyum malu.


"Ayo masuk. Acara sudah akan segera dimulai"


Lalu mereka bertiga masuk ke dalam Ballroom yang sudah penuh dengan para tamu undangan. Ibu Safira tersenyum bahagia melihat Daniel dan Medina berjalan bersama mendekati mejanya. Rani dan Syifa juga duduk dimeja yang sama. Setelah sebelumnya mereka menghampiri Om dan tantenya untuk memberi ucapan selamat.


"kenapa kalian lama sekali?" Ibu Safira meraih tangan Medina.


"mama Niel..." Syifa turun dari pangkuan Rani dan menghambur memeluk Medina.


"Sayang.." Medina mencium pucuk kepala Syifa. Lalu Medina duduk disisi kanan Ibu Safira dengan memangku Syifa. Sementara Daniel duduk disisi kiri mamanya.


Rani melihat raut wajah Medina dan Daniel yang tampak merona secara bergantian.


"apa aku melewatkan sesuatu, sayang?" Tanyanya penasaran kepada Danu yang sudah duduk disampingnya.


Danu tersenyum lebar. Danu lalu mencondongkan kepalanya mendekatkan mulutnya ke telinga istrinya. Membisikkan sesuatu yang membuat Rani membulatkan mata dan mulutnya Setelahnya.


"Rencanaku berhasil,mereka saling mengatakan perasaannya dan Daniel melamar Medina"


"really?" Danu mengangguk dengan senyum mengembang.


"ohhhh...akhirnya" Rani tersenyum bahagia. Ya. kakak Ipar Daniel satu-satunya ini sudah sangat tahu hubungan rumit yang dijalani adik iparnya. Hingga ia tidak bisa menyembunyikan wajah bahagianya. Melihat adik iparnya akan segera meraih hidup bahagia dan melupakan masa lalunya.


"Ma..." Panggil Daniel.


Ibu Safira menoleh dan menatap Daniel.


"aku punya kabar bahagia untuk mama" Bisik Daniel.


"Aku dan Medina...." Belum Daniel meneruskan kata-katanya.


"Mama tahu..nak" Wajah Daniel terlihat kaget mendengar ucapan mamanya.


"Mama tahu?" Daniel mengernyitkan keningnya. Daniel menoleh ke arah sang kakak yang sedang asyik berbisik dengan Rani.


"wajah kalian menceritakan semuanya" Ucap ibu Safira lembut. Maniknya menatap Daniel dan Medina bergantian.


Wajah Medina kembali merona merah.


"Mama bisa merasakan aura kebahagiaan diwajah kalian" Ibu Safira menyentuh wajah Medina.


Ibu Safira bernafas lega. Kegundahan dan kekhawatirannya seolah menguap tanpa jejak. Hatinya merasa bahagia bahkan sangat bahagia.


"semoga kalian selalu bahagia," Ucap ibu Safira


"Aamiin.." Jawab Daniel dan Mesin bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2