Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 67


__ADS_3

"Kenapa belum tidur?" Daniel membelai wajah istrinya dengan lembut. Kini mereka sudah berada diatas ranjang.


Mereka saling memeluk bahkan Daniel masih enggan melepaskan pelukannya. Perasaan bersalah karena meninggalkan istrinya membuatnya menyesal.


"Aku tidak bisa tidur, setelah kakak pergi tanpa berpamitan padaku. Lalu aku sholat agar pikiranku bisa tenang. Tapi masih juga belum mengantuk. Jadi...aku berinisiatif untuk membereskan ruang fitnes saja" Jawab Medina dengan senyum terbaiknya.


"Maafkan aku. Aku berjanji tidak akan mengulanginya" Janji Daniel bersungguh-sungguh.


"Aku juga meminta maaf. Seharusnya kita membicarakan ini dengan baik-baik dan dengan kepala dingin" Medina memeluk suaminya dan membenamkan wajahnya didada bidang Daniel.


"Jangan pergi dengan perasaan kesal...itu tidak baik. Aku takut sesuatu terjadi padamu...apalagi ponsel kakak tidak bisa dihubungi. Aku sangat takut" Medina menengadah untuk menatap suaminya.


Tatapan mereka bertemu dan saling mengunci. Daniel menunduk dan langsung melahap bibir ranum istrinya. Mereka berciuman dengan mesra.


"Sekarang katakan padaku...suami tampan yang baik hati ini dari mana saja sampai pulang selarut ini? Hah?" Tanya Medina setelah melepas ciumannya.


"Aku pergi kerumah Ustadz Fathur yang waktu itu menikahkan kita. Aku meminta penjelasan dan solusi dari masalah yang kita hadapi saat ini"


"Kita bisa meminta petugas KUA untuk menjadi wali hakim sebagai wali nikah kamu. Karena wali nikah dari pihak ayahmu belum ditemukan dan masih dalam pencarian" Daniel mengusap rambut Medina dan sesekali mengecupnya.


"Jika mereka tidak mau, dan meminta kita menunggu sampai kita menemukan keluarga ayahku, bagaimana?" Sebenarnya Daniel


terkejut dengan pertanyaan Istrinya. Namun ia masih bisa menalar dan mengingat nasehat ustadz Fathur.


"Ustadz Fathur bersedia membantu kita. Insya Allah semuanya dimudahkan" Jawab Daniel dengan tenang.


"Kapan kita kesana?" Tanya Medina dengan sangat antusias. Bahkan senyumnya kini terus terukir di bibir mungilnya.


"Hei...kau lebih tidak sabaran dariku ya?" Daniel mencubit pipi istrinya dengan gemas.


"Awalnya aku meminta besok. Tapi ustadz bilang, sebaiknya 2 hari lagi kita kesana. Lagipula aku belum memberitahu mama dan Kak Danu" Medina mengangguk paham.


"Terimakasih, Sayang" Medina mencium pipi Daniel tiba-tiba. Membuat Daniel terkejut namun hatinya bahagia.


"Kamu melupakan sesuatu. Jika suamimu ini tidak pernah puas dengan ucapan terima kasih saja" Daniel tersenyum menyeringai dan Medina menyadari itu.


Medina hendak melepas pelukannya namun Daniel menindih tubuhnya dengan gerakan cepat. Malam panjang baru saja dimulai. Meski malam mulai beranjak fajar. Namun tidak mengurangi gairah dua insan manusia yang tengah dimabuk asmara.


****


"Sayang....apa kamu tidak ke kantor?" Tanya Medina heran saat melihat suaminya keluar dari kamar dengan pakaian santai.


Daniel menggeleng dan tersenyum dengan tampan. Ia berjalan mendekati Medina yang sedang memasak sarapan.


"Kita akan kerumah mama setelah sarapan" Bisik Daniel membuat tubuh Medina meremang.


"Benarkah?" Medina tesenyum dengan binar diwajahnya.


"Kenapa tidak bilang dari semalam? Setidaknya aku bisa membuatkan sesuatu untuk dibawa kerumah mama"


"Semalam kita langsung tidur nyenyak setelah adu gulat yang panas" Medina langsung memukul lengan Daniel yang tertawa lebar.

__ADS_1


"Apa yang kamu buat, Honey?" Daniel menopang dagunya dibahu Medina.


"Pasta. Maaf cuma ini yang bisa aku buat. Karena aku lupa berbelanja. Jadi tidak ada stok sayuran di kulkas"


"Tidak apa-apa. Aku akan makan apapun yang istriku masak untukku" Daniel mencium pipi kanan Medina.


"Sayang...kamu dengar sesuatu?" Tanya Medina setelah mematikan kompor. Ia membalik tubuhnya menghadap Daniel.


"Mendengar apa? Aku tidak mendengar apapun" Daniel mengernyit bingung.


"Benar kamu tidak mendengarnya?" Medina menahan senyumnya agar tidak terlihat suaminya jika dirinya sedang menjahilinya sekarang.


Daniel menggeleng cepat.


"Sayang...kamu tadi hanya mencium pipi sebelah kananku. Sementara pipi sebelah kiri ku sedang berteriak protes karena tidak mendapatkan perlakuan yang sama" Medina menunjuk pipi sebelah kirinya dengan telunjuknya.


Tanpa berpikir panjang, Daniel langsung menghujani wajah Medina dengan ciuman bertubi-tubi hingga Medina tertawa kegelian.


"Hahahhaa...sudah...sudah...aku hanya bercanda, Sayang" Medina mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.


"Kamu mulai mesum, Honey" Daniel kembali mencium bibir Medina.


Setelah melepas ciumannya Daniel dan Medina duduk dimeja makan untuk menyantap pasta yang sudah dibuat Medina.


"Ini sangat enak, Honey" Puji Daniel sambil terus melahap pastanya.


Medina tersenyum cantik.


"Terimakasih sayang. Tapi jangan sampai belepotan juga makannya" Medina menyeka sisa saus pasta yang berada dibibir Daniel dengan serbet makan.


"Habiskan semuanya...aku sudah kenyang" Kini Medina bergantian yang menyuapi Daniel.


*****


"Assalamualaikum" Ucap Medina saat memasuki rumah mama mertuanya. Ia bahkan setengah berlari untuk masuk karena ingin segera bertemu mama mertuanya.


Daniel hanya menggeleng dan tersenyum kecil saat melihat tingkah istrinya.


"Wa'alaikum salam" Suara beberapa orang menjawab salam Medina.


Mereka sedang berkumpul dimeja makan.


"Mama....Papa...." Lengkingan suara kecil membuat semua orang menutup telinga.


"Ohh...sayangnya mama...." Medina menangkap Syifa yang berlari ke arahnya. Lalu menggendongnya.


"Princess mama sudah siap mau sekolah ya?" Medina gemas hingga ia menguyel-uyel pipi gembul itu dengan hidungnya.


"Kalian kesini pagi-pagi sekali. Ada apa?" Tanya Mama Safira setelah memeluk menantu dan putranya.


"Habiskan sarapan mama. Setelah ini kita bicara" Potong Daniel sebelum mamanya kembali bertanya.

__ADS_1


"Tidak terjadi apa-apa mama. Jangan khawatir seperti itu" Ucap Daniel lagi saat melihat raut wajah mamanya yang murung.


Mama, Danu dan Daniel sudah duduk di ruang tengah setelah selesai sarapan. Sementara Medina mengantar Rani dan Syifa ke depan karena Syifa merengek minta diantar Medina walaupun sampai kedepan rumah saja.


Medina segera kembali kedalam rumah dan duduk disamping suaminya.


Daniel meraih tangan Medina dan menggenggam nya dengan erat.


Daniel mulai menceritakan masalah dan juga solusi yang diberikan ustadz Fathur kepada keluarganya.


"Hari ini, Daniel akan ke KUA. Supaya besok pihak KUA siap. Mudah-mudahan..." Ucap Daniel setelah menceritakan semuanya kepada Mama dan Danu.


Daniel menatap Medina yang sedari tadi hanya diam.


"Kalian akan pergi berdua?" Tanya Danu.


"Iya" Jawab Daniel singkat.


"Baiklah...aku harus ke kantor karena ada janji dengan klien. Aku minta maaf tidak bisa menemani kalian" Ucap Danu memeluk adiknya.


"Tidak apa-apa, Kak. Doakan semuanya lancar" Sahut Daniel.


Kemudian Danu berpamitan dengan mama Safira.


"Kabari aku secepatnya" Pinta Danu sebelum meninggalkan rumah.


Daniel mengangkat kedua jempolnya ke udara.


"Apa mama mau ikut?" Tawar Medina yang duduk disampingnya.


"Tidak bisa sayang. Karena mama sudah ada janji sama Tante Latifah. Nanti dia kesini jemput mama" Jelas mama.


"Ohh...Ya sudah. Tapi mama tetap hati-hati dan jaga kesehatan ya" Medina memeluk mama mertuanya.


"Honey...kita berangkat sekarang. Ustadz Fathur sudah dijalan langsung ketemuan disana. Ma...Daniel pamit ya" Daniel mencium kening mamanya.


"Doakan kami ya ma..." Kini giliran Medina berpamitan dan mencium pipi mama Safira.


"Iya sayang....Kalian hati-hati ya. Dan kabari mama secepatnya" Pinta mama.


Medina mengangguk lalu berjalan ke dapur untuk menemui bi Inang.


"Bi...nitip mama ya. Tolong jaga ketat" Ucap Medina sambil bercanda.


"Iya, tenang aja. Bibi pasti akan jagain Nyonya" Jawab Bi Inang.


"Makasih ya bi" Medina berpamitan dan berlari keluar rumah karena Daniel sudah menunggu didalam mobil.


**To be Continue 💞😊


Halloooo gaeees...aku mau ucapin makasih nih buat kalian yang masih setia dengan novelku. Tolong vote, like, dan commentnya. Supaya aku makin semangat up. 💞🤗

__ADS_1


Yang mulai bosan dengan jalan cerita yang dianggap kayak siput jalan...Monggo mundur alon-alon.


Tapi tetap tinggalkan kesan baik ya...🙄😅**


__ADS_2