
Setelah mengemudi selama 3 jam, mobil yang dikendarai Daniel berhenti disalah satu villa milik sepupunya Gio.
Daniel melirik arlojinya. Waktu menunjukkan pukul 1 siang.
"Pantas saja perutku sudah keroncongan" gumam Daniel.
Medina benar-benar tidur dengan pulasnya dikursi penumpang sampai saat mereka sudah sampai pun, ia belum bangun.
Penjaga villa yang bertugas datang menghampiri mobil Daniel.
"Selamat datang, Tuan" Sapa penjaga yang bernama Eno.
"Apa semuanya sudah beres, mang?" Tanya Daniel setelah menjawab sapaan mang Eno.
"Sudah. Sesuai permintaan Tuan" Daniel tersenyum dengan penjelasan mang Eno.
"Terimakasih. Saya mau bawa istri saya masuk. Dia tertidur di mobil selama dalam perjalanan tadi" Daniel keluar dari mobil dan menggendong Medina masuk kedalam villa.
Mang Eno yang berjalan lebih dulu membukakan pintu untuk Daniel.
"Silahkan, Tuan"
"Apa Tuan mau makan siang sekarang? istri saya tadi sudah menyiapkan makanan di meja makan" Ucap Mang Eno sopan.
"Terimakasih. Mang Eno sama bibi bisa pulang. Jika saya perlu seseuatu saya akan panggil mang Eno kemari" Ucap Daniel sebelum masuk kedalam kamarnya.
Daniel membaringkan tubuh Medina di ranjang.
Daniel tersenyum melihat istrinya yang tertidur dengan sangat lelap hingga tidak menyadari jika tubuhnya sudah berpindah tempat.
Daniel membuka seluruh pakaiannya karena merasa tubuhnya sangat lengket. Ia berjalan masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya.
Medina menggeliat dan perlahan membuka matanya. Sempat terkejut dengan suasana didalam kamar yang berbeda namun buru-buru ia mengingat jika suaminya mengajaknya ke villa. Matanya membulat saat pemandangan didepan mata membuatnya tersenyum lebar.
Setelah beberapa detik menikmati suasana villa pintu kaca yang menghubungkan kamar dengan kolam renang, ia tersentak kecil saat mengingat Daniel yang belum dilihatnya.
"Ya Allah...dimana suamiku?" Medina segera turun dari ranjang dan akan mencari Daniel.
Namun sebelum kakinya melangkah jauh, Daniel keluar dari kamar mandi dengan tubuh atletisnya yang hanya berbalut handuk selutut. Tetesan air yang jatuh dari rambut basahnya membuat ia nampak sangat tampan dan macho.
"Kamu sudah bangun, Honey?" Tanya Daniel saat tatapan mereka beradu.
"I_iya. Kapan kita sampai?" Tanya Medina sedikit gugup.
"Belum lama" Jawab Daniel singkat sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dan duduk ditepi ranjang.
"Dimana koper kita? Aku akan siapkan baju ganti untukmu" Tanya Medina membuat Daniel seketika panik.
Dengan segera ia mendekati Medina dan memeluknya. Ia takut Medina menemukan koper dan membukanya. Dan itu tidak boleh terjadi karena semua rencananya akan terbongkar sebelum waktunya.
"Tidak usah, Honey. Lebih baik kamu mandi. Aku akan ambil kopernya di mobil" Ucap Daniel bohong. Padahal kopernya sudah berada didalam villa tapi belum sempat ia bawa masuk kedalam kamar.
"Tapi sayang...kamu mau ambil koper dengan hanya memakai handuk?" Medina menatap Daniel.
"Kenapa? Jangan khawatir...Di villa ini hanya ada kita berdua, Honey" Daniel terus meyakinkan istrinya.
"Benarkah?"
"Iya...jadi sekarang lebih baik kamu mandi supaya badan kamu wangi dan segar" Daniel mendorong tubuh mungil istrinya hingga masuk ke dalam kamar mandi.
"Kamu aneh deh, Sayang" Medina semakin bingung dengan sikap Daniel.
Daniel tergelak saat dibilang aneh oleh istrinya.
__ADS_1
"Ahhh...bodo amat dibilang aneh. Yang penting rencanaku berjalan dengan sukses" Bathin Daniel dengan senyum smirk nya.
Setelah Medina menutup pintu kamar mandi, Daniel berjalan keluar kamar untuk mengambil koper.
Daniel kembali kedalam kamar dengan menyeret satu koper. Ia segera mengeluarkan isi pakaian dan langsung menaruhnya ke dalam lemari setelah sebelumnya ia mengenakan pakaiannya.
Daniel dengan seringai tipisnya berjalan keluar kamar untuk mengambil makanan yang telah disiapkan mang Eno.
Daniel mengambil piring dan memasukkan beberapa makanan kedalamnya. Setelah dirasa cukup untuk membuat perut mereka kenyang, Daniel membawanya masuk kedalam kamar.
Dan pada saat itu...Medina baru saja keluar dari kamar mandi.
"Sayang...kopernya sudah dibawa belum?"
"Semua pakaian kita sudah aku letakkan dilemari, Honey" Sahut Daniel tanpa menoleh Medina. Ia sibuk meletakkan nampan makanan ke atas meja.
"Sayang...???" Ucap Medina saat matanya hanya mendapati beberapa lingerie dengan berbagai model dan warna didalam lemari yang ia buka.
"Kamu sengaja?" Suara Medina sedikit tinggi dari biasanya. Medina sudah berbalik badan dan melipat kedua tangannya kedepan. Tatapannya tajam pada sosok laki-laki yang saat ini sedang bersandar di dinding sembari senyum-senyum.
"Hei...saat berdua dengan suami, tidak perlu memakai pakaian yang terlalu tertutup, bukan?"
"Apa??" Medina langsung mengambil bantal dan memukuli suaminya tanpa ampun.
"Sudah aku katakan...kita hanya berdua disini. Semua sudah disiapkan dengan sempurna oleh Gio. Aku tidak mau mengecewakan hdiah pemberiannya" Bela Daniel.
"Kalian bersengkokol?" Medina merasa tenaganya terkuras setelah meluapkan rasa kesalnya.
"Ini hadiah kecil dari Gio" Daniel menangkup wajah Medina dan menatap nya dengan lekat.
"Tapi apa aku juga harus memakai pakaian minim itu?"
"Bagaimana jika ada CCTV divilla ini? Atau orang yang sedang membersihkan villa?" Omel Medina.
"Ohh Honey...kamu sangat menggemaskan" Daniel mengecup hidung Medina.
"Tempat privat seperti hotel dan villa tidak mungkin ada CCTV" Jelas Daniel membuat Medina membuang muka.
"Tapi aku akan terlihat seperti pela*** yang sedang menggoda pria kaya" butiran bening kini lolos dari manik jernihnya.
"Tidak, Honey. Kamu istriku...bukan wanita penggoda seperti yang kamu sebutkan tadi" Daniel mengecup kening istrinya dengan lembut.
"Tapi..." Medina masih berusaha mengelak namun dengan cepat Daniel berakting ia sakit perut karena sudah sangt kelaparan.
"Honey...perutku sangat sakit. Sepertinya aku sudah sangat kelaparan" Dan Daniel berhasil.
Seketika itu Medina terlihat panik dan melupakan rasa kesal kepada suaminya.
"Kenapa tadi tidak makan duluan saja?" Omel Medina sembari mengambil piring yang berisi makanan.
"Hei...mana bisa aku makan tanpa istriku dipangkuanku"
"Tapi situasinya berbeda...kakak sudah sangat kelaparan. Tidak perlu menungguku" Medina mulai menyendok makanan dan menyuapi Daniel.
"Ada apa lagi?" Tanya Medina saat Daniel membungkam mulutnya dan tidak menerima suapan Medina.
Daniel memberi isyarat agar Medina duduk dipangkuannya dan Medina menuruti perintah suaminya.
"Nahh...ini baru benar. Aaaa...." Daniel membuka mulutnya lebar-lebar membuat Medina langsung menyuapi suaminya sambil menggelengkan kepala.
Setelah selesai makan siang, Medina yang masih menggunakan handuk kimononya segera membawa piring kotor ke dapur.
Meski suaminya mengatakan jika tidak ada siapapun selain mereka berdua di villa ini, tetap saja pandangan Medina tetap waspada.
__ADS_1
Sampai didapur Medina segera mencuci piring bekas makan mereka dan segera kembali ke dalam kamar.
Daniel yang berada didalam kamar terus mencari ide agar istrinya mau memakai lingerie yang sengaja ia bawa dari apartemen.
Jika Medina sudah memakai lingerie tentunya istrinya akan terus berada dikamar seharian dan itu yang ia inginkan.
"Seharusnya aku menyembunyikan baju handuk itu lebih cepat" Gumam Daniel setengah kesal.
"Ayolah berpikir...Daniel. Cari ide brilian" Daniel berbicara dengan dirinya sendiri sambil mondar mandir di sisi kolam renang.
"Sayang...Kenapa mondar mandir begitu?" Suara lembut Medina membuyarkan lamunan Daniel.
"Ohh...aku sepertinya terlalu kenyang. Jadi berjalan mondar-mandir supaya makanannya sedikit turun" Bohong Daniel.
"Kenapa hanya mondar-mandir? Kenapa Sayang tidak mengelilingi area kolam renang?" Tanya Medina polos membuat Daniel menggaruk kepala yang tidak terasa gatal.
"Honey...apa kamu mau berenang?" Daniel menghampiri istrinya yang tengah berjongkok sambil bermain air kolam renang.
"Aku tidak bisa berenang" Jawab Medina menatap Daniel.
Daniel terdiam sesaat dan menemukan ide cemerlang.
Daniel berdiri dan membuka pakaiannya. Ia hanya menyisakan pakaian dalam bawahnya saja.
"Jangan sedih....aku akan mengajarimu berenang"
"Hah??" Medina masih terkejut ditempatnya.
Saat dirinya tersadar dan hendak kabur dari sana, Daniel dengan sigap menarik pinggang Medina dan membawanya terjun ke dalam kolam renang.
BYYYUUUUUURRRR!!!!
Medina yang tidak bisa berenang memeluk leher Daniel dengan erat. Handuk kimono yang menempel di tubuhnya kini basah kuyup.
"Uhukk...uhukkk...uhukkk" Medina terus terbatuk karena air kolam yang masuk kedalam mulutnya.
Daniel menarik tali handuk yang melekat ditubuh Medina. Karena tubuh Medina semakin berat dengan handuk basah yang melekat.
"A_ku mohon...Ja_jangan dilepas!!. Uhuk..uhuk!! Aku bahkan tidak memakai dal*man" Ucap Medina dengan suara yang tersengal-sengal.
"Tapi handuk ini akan membuatmu tenggelam, nanti" Kilah Daniel dengan senyum smirk nya.
Medina menggeleng cepat. Maniknya mulai berkaca-kaca. Membuat Daniel tidak tega untuk mengerjai istrinya lagi.
"Kakak mau menanggung dosaku? Karena aku membuka auratku diluar seperti ini?"
"Tidak ada siapapun disini. Hanya ada kita berdua. Kamu percaya padaku, Honey?" Daniel membelai wajah Medina dengan lembut.
Sesungguhnya ia sudah menahan diri agar si ular kadut tidak berontak dari sangkarnya. Ia masih harus menunggu untuk merayu istrinya.
"Tetap saja aku risih" Ucap Medina membuat Daniel menghela nafasnya. Mungkin sebaiknya ia menyudahi drama dalam adegan ini.
Daniel membawa Medina ke tangga kolam dan membantunya naik ke atas.
"Tunggu disini...aku akan mengambil handuk ganti untukmu" Daniel meraih pakaian yang ia tanggalkan tadi dan meninggalkan Medina yang berdiri mematung disisi kolam.
"Apa yang aku lakukan? Dia terlihat kecewa padaku" Medina melihat raut wajah kecewa suaminya.
**To Be Continue
Ga bosen2 nih...Author ngingetin readers untuk ninggalin jejak kalian. Vote yang banyak...like dan koment juga yaa...
Thanks udah mampir kemari**...
__ADS_1