Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 127


__ADS_3

Daniel menatap lekat wajah Medina yan terlihat bahagia saat melihat hamparan sawah hijau yang menyejukkan mata.


Setelah sarapan Daniel sengaja mengajak Medina berkeliling villa untuk mencari udara segar dan melihat-lihat pemandangan pedesaan yang asri.


"Aku pikir ini villa kak Gio." Ucap Medina membuyarkan lamunan Daniel.


"Villa ini aku beli dari seorang teman. Dia sedang membutuhkan uang untuk melebarkan bisnisnya." Jawab Daniel.


"Kenapa aku baru tahu?" Medina menatap tajam ke arah suaminya.


"Saat itu villa tidak seperti yang kita lihat sekarang. Semua bagian sudah mengalami perubahan dan renovasi. Dan pada saat aku ingin mengajakmu kemari, kamu hamil."


"Apa ada hal lain kakak sembunyikan lagi dariku? hh?" Medina sengaja memajukan wajahnya dengan mata yang memicing penuh selidik.


"Apanya yang disembunyikan?" Daniel tersenyum gugup mendengar pertanyaan istrinya.


"Apa Farah pernah kemari?" Tanya Medina tiba-tiba. Entah mengapa pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibirnya.


"Apa?" Daniel yang masih gugup dengan pertanyaan pertama semakin bingung dengan pertanyaan kedua Medina.


"Sayang...mengaku saja. Aku tidak akan cemburu." Elak Medina saat mata Daniel menatap dirinya tajam.


"Baiklah....diam mu aku anggap sebuah jawaban." Medina menunduk. Wajah ceria seketika sirna dan membuat Daniel tertawa.


"Sungguh kamu ingin tahu?" Daniel menarik Medina dalam pelukannya.


"Iya." Jawab Medina pelan.


"Tapi ada syaratnya." Daniel mengunci pelukan Medina.


"Apa?" Medina mendongak hingga kedua maniknya beradu dengan manik Daniel.


"Jangan merahasiakan apapun dariku. Apapun yang ingin kamu ketahui, tanyakan padaku tanpa ragu. Jangan menyimpan apalagi berasumsi sendiri. Kamu mengerti?" Daniel membelai lembut pipi Medina.


"Iya. Aku mengerti." Medina menghambur ke dalam pelukan Daniel. Pelukan yang selalu membuatnya hangat dan nyaman.


"Apa kamu lelah?" Daniel mencium kepala Medina dan Medina menggeleng.


"Kakak belum jawab pertanyaan ku." Medina melepaskan pelukannya.


"Pertanyaan yang mana?"


"Baiklah. Lupakan saja." Medina kembali berjalan meninggalkan Daniel yang tersenyum.


****


Sementara itu, Pak Sanjaya tampak serius saat berbicara dengan seseorang di ponselnya. Meski begitu rasa khawatir dan cemas sangat nampak di wajah pria paruh baya itu.


"Kami akan tiba sore nanti, siapkan segalanya. Jangan ada kesalahan." Tegas pak Sanjaya lalu menutup ponselnya.


"Mereka sudah dirumah utama?" Tanya Ibu Melani.


"Iya."


"Kenapa kita tidak pergi sekarang agar semuanya cepat selesai?"


"Pagi tadi Danu mengirim pesan. Dia dan Nyonya Safira ingin bertemu kita." Jawab pak Sanjaya.


"Danu bilang, Medina aman. Tapi ia tidak memberitahu keberadaan mereka." Meski sedikit lega namun pak Sanjaya tetap merasa khawatir.


"Aku yakin Daniel akan menjaga putri kita


dengan baik." Ibu Melani tampak santai dan tidak panik seperti kemarin berbanding terbalik dengan suaminya yang masih terlihat cemas.

__ADS_1


"Sebaiknya kita bersiap-siap. Aku tahu mertua Medina pasti akan memberi banyak pertanyaan untuk kita." Ibu Melani tersenyum.


"Sayang, kamu santai sekali seolah tidak ada beban." pak Sanjaya menggelengkan kepalanya.


"Bebanku banyak, tapi saat ini tugas utama kita membereskan paman dan adikmu, Mas." Tukas Ibu Melani dan pak Sanjaya mengangguk setuju.


"Sebaiknya kita bersiap." Ibu Melani beranjak masuk kedalam kamarnya diikuti pak Sanjaya di belakang.


****


Pak Sanjaya kini sudah tidak menampakkan wajah cemasnya. Ia dan ibu Melani kini sudah bisa bwranafas lega karena sudah mengetahui keberadaan Medina dan Daniel. Danu telah menceritakannya semuanya kepada pak Sanjaya dan Ibu Melani.


"Bahkan jika putraku sendiri yang tidak bisa menjaga Medina, maka aku adalah orang pertama yang akan menghukumnya." Ucap Mama Safira serius.


"Terimakasih karena sudah mencintai putri kami dengan begitu besar. Aku sungguh menyesal atas apa yang pernah aku lakukan dahulu." Sesal ibu Melani.


"Jeng....takdir sudah diatur. Tidak ada yang perlu disesali." Ibu Melani mengangguk setuju.


"Kami pamit kalo begitu." Ucap Danu.


"Kabari kami terus." Pinta pak Sanjaya.


"Tentu saja." Danu tersenyum.


Kedua wanita paruh baya itu saling berpelukan sebelum berpisah.


"Selesaikan urusan kalian dan kembali dengan kabar bahagia." Ucap mama Safira.


"Aamiin. Terimakasih banyak jeng." Sahut ibu Melani dengan wajah berbinar.


"Sebaiknya kita juga bersiap, Bu." Ajak pak Sanjaya setelah Danu dan Mama Safira pergi.


"Iya, Mas." Ibu Melani merapikan tasnya dan beranjak pergi bersama suaminya menuju bandara.


Setelah menempuh perjalanan dua jam lamanya. Pak Sanjaya dan Ibu Melani sampai dirumah mewah mereka yang berada di pulau B.


"Ayah...Ibu." Fian menyambut kedua orangtuanya didepan pintu.


"Fian... bagaimana kabarmu, nak?" Ibu Melanj memeluk Fian demgan erat. Ia sangat merindukan putranya.


"Aku baik Bu. Bagaimana dengan kalian?" Fian tampak khawatir dengan kepulangan kedua orangtuanya.


Fian sudah tahu jika kepulangan keduanya akan menyelesaikan masalah yang tengah dihadapi kedua orangtuanya.


Ketiganya masuk kedalam rumah dan disambut oleh semua asisten disana.


"Selamat datang, Tuan, Nyonya."


"Fian... bagaimana persiapan pernikahan mu?" Tanya pak Sanjaya. Kini mereka duduk di sofa ruang keluarga.


"Baru 50 persen, Ayah."


"Maafkan kami. Seharusnya kami disini membantumu." Pak Sanjaya menghela nafasnya panjang.


"Ayah...jika kalian setuju. Aku akan menunda pernikahanku." Fian melihat gurat kecemasan di wajah kedua orangtuanya.


"Tidak sayang. Jangan lakukan itu." Potong ibu Melani.


"Fian tidak ingin membebani kalian."


"Setelah urusan ini selesai, kami akan bertemu calon besan." Pak Sanjaya menatap Fian dan mengangguk.


"Ayah dan ibu sebaiknya beristirahat lebih dulu. Fian pamit ke kamar." Fian beranjak dari duduknya dan mencium dahi ibu Melani.

__ADS_1


"Dia semakin dewasa." Ucap Ibu Melani bangga melihat banyak perubahan yang terjadi pada putra semata wayangnya.


"Aku akan membersihkan diri." Pak Sanjaya ikut beranjak dan diikuti oleh ibu Melani menuju kamar mereka.


****


Hari telah berganti malam. Kedua anak manusia yang saling mencintai duduk didepan perapian yang berada di dalam villa.


Daniel memeluk Medina yang bersandar didadanya. Mereka sedang membaca buku tentang kehamilan dan proses persalinan.


"Aku ingin melahirkan secara normal." Ucap Medina dengan tersenyum.


"Honey...orang bilang itu sangat sakit dan membuat menderita karena menahan sakit yang luar biasa" Daniel membayangkan bagaimana dirinya nanti menghadapi Medina saat melahirkan. Ia tidak akan sanggup melihat istrinya kesakitan.


"Sayang...tapi itu kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan apapun." Medina membelai tangan kekar suaminya.


"Aku tidak mau kamu kesakitan." Daniel memyerukkan wajahnya diceruk leher Medina.


"Semua proses persalinan memiliki resiko masing-masing. Jika nanti aku harus melahirkan dengan cara operasi Caesar, pasti semuanya demi keselamatan kaki berdua. Tapi...aku selalu berdoa, meminta agar proses apapun agar dimudahkan dan dilancarkan." Medina memeluk suaminya dengan erat.


"Aamiin." Daniel tersenyum mengamini. Tangannya turun untuk mengelus perut Medina bersamaan dengan doa yang terucap dari hatinya.


"Sudah larut, ayo kita masuk ke kamar." Daniel membantu Medina berdiri. lalu menggendongnya masuk kedalam kamar.


"Aku akan gendut dengan cepat." Keluh Medina karena Daniel terus memanjakannya.


"Aku akan selalu mencintaimu bagaimanapun bentuk tubuhmu." Daniel mengecup bibir Medina yang mengerucut.


"Aku semakin manja." Rengek Medina dengan bibir yang mulai tersenyum.


"Aku suka memanjakan istriku." Daniel tersenyum tampan membuat Medina melotot.


"Sebelumnya aku adalah gadis yang mandiri." gerutu Medina.


"Kamu bukan gadis perawan lagi, Nyonya." Canda Daniel. Ia menurunkan Medina diatas ranjang dengan hati2.


"Dan kamu yang sudah mengambil keperawanan ku, Tuan." Balas Medina membuat Daniel tertawa terbahak-bahak.


Melihat suaminya tertawa lepas, membuat Medina ikut tersenyum. Hatinya menghangat saat melihat kebahagiaan diwajah orang-orang yang disayanginya.


"Terimakasih." Medina menghambur masuk kedalam pelukan Daniel. Membenamkan wajahnya pada dada bidang suaminya.


"Terimakasih untuk?"


"Karena sudah mencintaiku begitu besar." Medina mendongak menatap suaminya. Tatapan sendu yang meneduhkan.


"Aku mencintaimu, suamiku. Sayangku,..cintaku...belahan jiwaku..." Medina kembali memeluk erat tubuh Daniel hingga pria itu membalas pelukannya.


"Aku juga mencintaimu." Daniel mencium bibir Medina cukup lama.


"Sudah malam. Ayo tidur." Daniel melepas ciumannya dan naik keatas ranjang. Ia harus masih menahan diri karena pesan dokter yang merawat Medina.


Medina bergeser agar tubuhnya menempel dengan Daniel. Keduanya kembali berpelukan hingga terlelap dalam buaian mimpi indah.


_


_


_


_To be continue


_

__ADS_1


_Lempar bunga dong, biar author semangat nulis.😀


__ADS_2