Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 74


__ADS_3

Setelah sarapan, Daniel kembali ke kamar dan memeriksa email yang masuk ke ponselnya.


Medina keluar dari kamar mandi dan berniat untuk keluar dari kamar. Namun tangan Daniel menahannya kemudian menariknya hingga Medina terduduk dipangkuannya.


"Mau kemana?" Tanya Daniel dengan tatapan jahilnya.


"Aku mau jalan-jalan keluar. Bosan dikamar terus" Jawab Medina manja. Ia memeluk Daniel dan merebahkan kepalanya didada bidang suaminya.


"Lebih baik kamu istirahat. Semalam kamu pasti kurang tidur" Ucap Daniel mengelus pipi mulus istrinya.


Sebenarnya ia ingin sekali kembali ke ranjang untuk mengistirahatkan tubuhnya, tapi beberapa hal terlintas dibenaknya dan ia ingin melupakannya dengan berjalan-jalan disekitar Villa.


"Sayang...Apa keluarga pakde Radiman akan tetap datang?" Tanya Medina pelan.


"Kamu mau mereka tidak datang?" Daniel balik bertanya.


Medina menengadah menatap suaminya.


"Bagaimanapun mereka pernah menampungku dan memberiku kehidupan" Ucap Medina lirih.


"Mereka akan tetap datang tapi tidak akan menikahkan kita. Mereka akan datang seperti tamu pada umumnya" Daniel merengkuh wajah Medina dan mendaratkan kecupan manis dibibir Medina.


"Apa kita akan mengatakan yang sebenarnya bahwa kita sudah mengetahui segalanya?"


"Tentu saja, Honey. Aku akan mengatakannya saat mereka datang" Daniel kembali memeluk Medina.


"Kapan mereka datang?"


"Sehari sebelum pesta. Mereka akan dikawal ketat oleh Raihan. Aku tidak ingin mereka membuat keributan dan menyakitimu" Medina mengangguk dan mempercayakan semuanya kepada suaminya.


"Hampir sebulan aku bolos sekolah" Ucap Medina membuat Daniel seketika tertawa terbahak-bahak.


"Aku sudah berjanji, kamu bisa memulai lagi setelah kita pulang honeymoon"


"Tapi itu masih lama" Ucap Medina dengan nada sedikit kecewa.


"Kamu kecewa karena tidak bisa belajar atau karena tidak bisa bertemu pria yang suka mengantarmu pulang? Hah?" Daniel melepaskan pelukannya.


"Apa?" Medina membulatkan mata tidak percaya.


"Itu kan alasan kamu buru-buru masuk sekolah lagi?" Daniel kembali menekankan pernyataannya.


"Kenapa kakak bisa berpikir begitu? Astaghfirullah..." Medina bangun dari duduknya kemudian berjalan keluar kamar.


Ada rasa sakit dihatinya hingga membuatnya sesak Ia tidak menyangka suaminya memiliki pemikiran seperti itu.


"Dia berubah posesif dan kekanak-kanakan" Gerutu Medina.


Ia kembali kekamar yang sebelumnya ia tempati bersama Daniel. Medina mengunci pintu karena ia tahu suaminya akan menemuinya dan ia tidak ingin berdebat.


Ia mengambil ponselnya dan duduk kursi samping kolam renang.


"Assalamualaikum, Kak Rani" Sapa Medina dengan suara tercekat.


"Wa'alaikumsalam, Sayang. Hei....ada apa? kamu baik-baik saja, kan?"


Rani mendengar suara adik iparnyaa tidak seperti biasa dan merasa curiga.


"Tidak apa-apa, Kakak. Medina baik. Bagaimana kabar disana?Maaf Medina harus disini dan tidak bisa membantu kalian mengurus persiapan pesta resepsi"


"Semua persiapan sudah diserahkan ke WO tidak perlu khawatir. Aku dan Mama hanya mempersiapkan diri dengan berdiam diri dirumah dan melakukan perawatan bersama. Seharusnya kamu dipingit dan semua perawatan"


"Aku ingin pulang" Tanpa sadar Medina meneteskan air matanya. Rani mendengar suara Adik iparnya kembali bergetar.


"Medina ada apa? Kalian baik-baik saja, kan? Kamu bisa cerita padaku"

__ADS_1


Medina terdiam sesaat. Untuk pertama kalinya ia dan Daniel berselisih paham. Ia tidak ingin membuat mama Safira terbebani. Apaplgi ini hanya masalah sepele. Ia akan mecoba menyelesaikannya sendiri.


"Tidak apa-apa, Kak. Aku hanya merindukan kalian semua. Salam untuk Mama dan yang lainnya" Ucap Medina bohong.


"Baiklah...jaga kesehatan ya. Pengantin tidak boleh lelah apalagi sakit" Gurau Rani dengan tawanya yang khas.


"Iya kakak. Aku tutup teleponnya, ya." Baru saja Medina menutup sambungan diponselnya ketika tiba-tiba Daniel mengetuk pintu kamar dengan sangat keras.


"Honey....Buka pintunya" Teriak Daniel dibalik pintu.


Medina menarik nafasnya dalam-dalam. Ia berjalan ke arah pintu dan membuka kunci.


Medina sudah berbalik badan saat Daniel membuka pintu.


"Honey...Maafkan aku. Aku salah. Tolong maafkan aku." Daniel menahan tangan Medina.


Namun Medina hanya diam membisu. Bahkan ketika Daniel memeluknya dari belakang dan menciumi kepala, tengkuk hingga pundak Medina.


"Aku tidak bermaksud___"


"Aku hanya ingin selesai sekolah dan mendapat ijazah meski melalui jalur kesetaraan. Setidaknya aku tidak terlalu mempermalukan kalian karena pendidikanku yang rendah" Potong Medina cepat. Air matanya kembali lolos dengan deras.


Hati Daniel seolah diremas dan terasa sakit. Ia tidak menyangka jika sikap posesif dan cemburunya akan melukai hati wanita dalam pelukannya.


"Aku mohon...maafkan aku. Aku terlalu cemburu mendengar kamu ingin kembali masuk kelas dan pikiranku langsung saja mengarah kepada guru laki-laki itu" Daniel berusaha kembali mendapatkan hati Medina. Ia tidak mau jika sampai Medina meninggalkan karena kecewa padanya.


"Sudahlah. Aku sudah memaafkan kakak" Medina melepaskan pelukan Daniel dan tersenyum kepada Daniel setelah menyeka air matanya.


Namun senyuman itu membuat hati Daniel seolah teriris.


"Selepas makan siang, aku ingin pulang" Medina berbicara dengan sangat pelan. Ia meninggalkan Daniel yang berdiri mematung.


Medina berjalan ke arah lemari dan mengeluarkan koper. Ia mulai membereskan pakaian miliknya dan milik Daniel.


Daniel menatap punggung Medina dengan perasaan bersalah. Tak hentinya ia merutuki sikapnya kepada Medina. Seharusnya ia sadar, bahwa kini Medina hanya miliknya. Pernyataan Medina kembali terngiang di telinganya. Daniel adalah pria pertama dalam hidup Medina. Seharusnya ia tidak meragukan perasaan istrinya sedikitpun. Namun karena rasa cemburunya yang salah, membuat istrinya kini terluka.


Rani menutup ponselnya dengan rasa khawatir.


"Apa yang terjadi dengan mereka?" Gumamnya dalam dati.


Ia kemudian menelpon suaminya dan menceritakan kekhawatiran nya.


"Entah kenapa aku merasa khawatir dengan mereka. Apa Kamu bisa menanyakan pada Daniel sebenarnya apa yang sudah terjadi? Jika dia membuat adik ipar ku menangis, aku akan membuat perhitungan dengan nya" Ucap Rani mengakhiri perbincangannya dengan Danu.


Danu menghela nafasnya pelan. Ia hanya menduga-duga apa yang sedang terjadi dengan adik-adiknya.


"Sifat posesifnya pasti semakin menjadi-jadi. Medina adalah gadis lembut yang polos, jika muncul rasa cemburu dan posesif pada Daniel, mungkin akan membuat gadis itu salah paham" Gumam Danu.


Jemari Danu mencari kontak adiknya kemudian ia menekan tombol.


Tut...Tut...Tut...


"Halo...assalamualaikum, kak" Sahut Daniel diseberang telepon. Saat tahu mendapat telepon dari kakaknya Daniel berjalan keluar dari kamar.


Danu mendengar suara adiknya yang terdengar sendu.


"Hei...ada apa dengan suaramu, Kid?" Tanya Danu berpura-pura.


"Aku melakukan kesalahan" Jawab Daniel to the point tanpa Danu duga.


"Kau membuat istrimu tidak bisa berjalan?" Pancing Danu.


"Ck...Aku terlalu cemburu saat ia mengutarakan ingin melanjutkan sekolah penyetaraan. Dan imajinasiku langsung tertuju kebersamaannya dengan guru itu. Dan aku....tidak sengaja menuduhnya seperti itu" Ucap Daniel panjang lebar.


"Dasar bod*h!" Maki Danu refleks.

__ADS_1


"Sekarang dia mendiamkanku. Aku sudah mencoba membujuknya dan meminta maaf. Tapi dia malah meminta pulang" Daniel mendesah kecewa.


"Apa dia sedang PMS?" Pertanyaan Danu sontak membuatnya Daniel terkejut.


"Apa?"


"Apa istrimu sedang datang bulan?" Tanya Danu lagi.


"I_iya....Tapi bagaimana kakak tahu dia sedang datang bulan?" Daniel menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena semakin bingung.


Danu tertawa lebar hingga suara tawanya mengisi seluruh ruang kerjanya.


"Kau harus berhati-hati dalam berucap kepada wanita yang sedang datang bulan dan ibu hamil. Mereka akan jauh lebih sensitif karena pengaruh hormonal" Ucap Danu membagi pengalamannya kepada sang adik.


"Benarkah?"


"Selamat berjuang, Bro" Danu menutup ponselnya membuat Daniel kesal. Karena belum menanyakan solusi atas masalahnya.


Daniel berpikir sejenak. Lalu ia teringat jika Medina ingin jalan-jalan.


"Itu dia!!! Aku akan mengajaknya jalan-jalan sebelum kembali kerumah" Daniel bersorak setelah mendapat ide brilian untuk agar Medina memaafkannya.


Danu menuju mobilnya untuk mengambil sesuatu. Dan ia bertemu dengan mang Eno diteras.


"Mang...Saya dan istri akan pulang setelah sholat Dzuhur. Tolong beritahu bi Entin untuk untuk menyiapkan makan siang ya" Ucap Danu.


"Lho...bukankah Anda akan pulang besok, Tuan?"


"Kebetulan saya ada kerjaan yang tidak bisa ditinggal. Jadi kami harus pulang segera" Bohong Daniel dengan senyum diwajahnya.


Mang Eno hanya mengangguk dan segera memberitahu istrinya karena sang tuan akan pulang.


Mang Eno masuk kedalam dapur dan memberitahu istrinya agar menyiapkan makan siang. Sementara dirinya menyiapkan buah tangan untuk dibawa pulang Tuannya.


Daniel masuk kedalam kamarnya dengan membawa paperbag dan menyerahkan nya kepada Medina yang sedang duduk santai menonton TV.


"Apa ini?" Tanya Medina heran.


"Pakaian ganti untukmu" Ucap Daniel akhirnya karena Medina belum membuka paperbag yang diberikannya.


Medina membuka papaerbag dan rasa kesalnya semakin naik ke ubun-ubun. Bagaimana tidak? Lingerie....piyama...dan sekarang pakaian set gamis.


Melihat raut wajah istrinya yang masam, Daniel berjongkok dan meraih tangan Medina lalu mengecupnya.


"Semuanya hadiah dari Gio. Malam sebelum hari pernikahan kita, dia datang ke apartemen membawa hadiah-hadiah ini dan memaksaku untuk membawamu ke villanya. Aku sempat menolak karena aku tahu kamu tidak akan setuju. Tapi aku tidak enak hati jika harus mengembalikan semuanya" Ucap Daniel berterus terang.


"Dan soal tadi pagi....aku juga minta maaf. Aku cemburu saat mendengar mu ingin kembali sekolah. Dan otakku yang bodoh ini langsung berpikir jika istriku akan menemui pria lain. Sungguh....aku tidak ada maksud apapun apalagi menyakiti hatimu. Tolong maafkan aku" Daniel kembali mencium tangan Medina.


Medina tersenyum mendengar ucapan tulus suaminya. Tiba-tiba rasa kesalnya menguap dan hilang begitu saja.


Medina meraih wajah suaminya dan merangkumnya. Pandangan mereka bertemu dan saling mengunci.


"Terimakasih"


CUP


CUP


Medina mengecup hidung dan bibir Daniel. Kemudian keduanya tertawa bersama. Selama mendiamkan suaminya, Medina berpikir jika dirinya dan Daniel sangatlah konyol dan kekanak-kanakan karena hal sepele membuat mereka bertengkar. Bagaimana menghadapi tantangan yang lebih besar dari pada ini??


"Aku tidak hanya butuh cinta dan kasih sayang suamiku. Tapi aku juga butuh kepercayaan penuh darimu. Agar apapun yang menjadi rintangan dalam hubungan kita, kita akan selalu saling percaya. Dan itulah yang akan membuat hubungan kita semakin kuat dan kokoh" Ucap Medina lembut.


Daniel tersenyum mendengar kata-kata indah yang baru saja diucapkan istrinya. Hatinya kembali menghangat setelah sempat gundah.


Daniel mendekatkan wajahnya, dan langsung menyatukan bibirnya pada bibir ranum dan manis milik istrinya. Daniel ******* bibir beraramo berry Medina, mengabsen dan bertukar saliva. Daniel bahagia bahkan merasa lebih bahagia dari saat dirinya jatuh cinta kepada mantan tunangannya.

__ADS_1


🌷 To be continue 🌷


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KEBAIKAN YA GAIS...VOTE, LOVE, JEMPOL DAN KOMENT POSITIFNYA. THANKS 🤗💞


__ADS_2