
Sementara itu dikota S, Pakde Radiman yang sedang bekerja dipanggil oleh atasannya Raihan.
"Permisi pak..." Pakde masuk setelah mengetuk pintu ruang kerja Raihan.
"Pak Radiman... bagaimana pekerjaan mu disini? Anda punya kendala?" Tanya Raihan basa basi.
"Saya tidak punya kendala apapun pak. Saya bekerja seperti sesuai yang di perintahkan Pak Sugeng" Ucap Pakde Radiman berhati-hati.
"Bagus. Saya hanya ingin memastikan bapak bekerja dengan baik tanpa membuang waktu dan hanya memakan gaji buta" Ucap Raihan datar.
Pakde Radiman yang semula berpikir tempatnya bekerja adalah milik suami Medina, kini ia harus berpikir ulang. Perlakuan Raihan kepada setiap bagian yang tegas dan tidak pilih-pilih membuatnya berasumsi jika perusahan ini adalah milik Raihan, bukan milik Daniel. Dan itulah yang diinginkan Daniel.
"Oh ya...saya ingin memberikan ini" Raihan mengeluarkan sebuah undangan dengan bentuk yang sangat cantik. Dan memberikannya kepada pakde Radiman.
"Itu undangan resepsi pernikahan Daniel dengan Medina. Karena kalian masih berada dalam pengawasan saya, kita akan berangkat bersama satu hari sebelum pesta resepsi. Jadi beritahu istri dan anak-anakmu agar menjaga sikap mereka selama disana" Ucap Raihan penuh penekanan.
Pakde Radiman hanya mengangguk dan sesekali menelan ludahnya dengan kasar. Ia sadar, semua rencana yang sudah dibuat istrinya pastinya akan menjadi berantakan jika selama dikota J, ia terus diawasi Raihan.
Melihat pakde Radiman yang hanya terdiam tanpa memprotes, membuat Raihan berpikir keras. Dan ia mencium gelagat yang tidak baik dari mereka.
"Ada yang ingin anda sampaikan, pak Radiman?" Pertanyaan Raihan membuat Pakde Radiman terkejut dari lamunannya.
"I_itu....A_nu....Jika boleh tahu berapa lama kita disana? Emm..maksud saya, supaya saya mempersiapkan pakaian yang akan dibawa" Jawab Pakde Radiman mengusir gugupnya.
"Kita hanya 2 hari disana. Jadi pastikan istri dan putrimu menjaga sikapnya dengan baik"
"Baik pak" Pakde mengangguk.
"Anda sudah boleh kembali bekerja" Usir Raihan halus.
Pakde Radiman menunduk dan segera keluar dari ruangan Raihan dengan perasaan sedikit kesal.
Saat ia melewati pantry, Pakde Radiman menghentikan langkahnya.
"Ada Salsa, mbak?" Tanyanya pada seorang wanita yang bekerja satu bagian dengan putrinya.
"Oh... Salsa sedang mengantarkan minuman ke lantai 5 pak. Sebentar lagi juga balik" Sahut wanita itu.
Tidak lama kemudian Salsa melihat bapaknya sedang menunggunya didepan pintu pantry.
"Bapak ngapain disini?" Tanya Salsa saat sudah mendekat.
Pakde Radiman menarik Salsa ke tempat yang lebih sepi.
"Ini gawat. Gawat!!" Bisik Pakde ditelinga Salsa.
"Gawat kenapa, Pak?" Tanya Salsa penasaran.
"Kita tidak akan pernah tinggal dekat dengan Medina. Kita tidak akan tinggal dikota J. Minggu depan acara resepsi pernikahan Medina dengan laki-laki yang sudah menjadi suaminya. Dan kita hanya berada disana selama 2 hari. Dan itupun tidak lepas dari Raihan"
"Apa??" Pekik Salsa tidak percaya. Suaranya bahkan terdengar kencang. Membuat Pakde Radiman membekap mulut putrinya.
"Kita akan bicarakan ini nanti dirumah. Kita harus putar otak untuk membuat rencana baru agar kita bisa tinggal disana dan memanfaatkan Medina" Ucap Pakde Radiman menyudahi obrolannya.
Salsa mengangguk dan mereka kembali ke tempat kerja mereka.
****
Setelah makan siang dan sholat dzuhur, Daniel dan Medina berpamitan pulang kepada mang Eno dan Bi Entin.
"Mang...Bibi... terimakasih sudah menjamu dan melayani kami selama disini" Ucap Medina dengan senyum ramah.
__ADS_1
"Sudah tugas kami, Non. Jangan sungkan dan silahkan kembali kemari jika ada waktu luang" Sahut Bi Entin sopan.
"Oh iya...ini bibi sudah buatkan jamu kunyit asam untuk Nona. Supaya tidak lemas selama datang bulan. Dan membuat badan juga segar" BibEntin menyerahkan kantong palstik berisi 2 botol jamu berukuran sedang.
"Dihabiskan ya Non"
"Wahhh... terimakasih banyak bi" Wajah Medina berbinar senang.
"Honey,..kamu sudah siap?" Medina tersenyum menatap suaminya.
Daniel keluar menuju mobil dan terkejut saat Mang Eno membawa banyak buah-buahan dan sayuran segar.
"Mang...semua ini baru dipetik ya?" Tanya Daniel mendekati mang Eno yang sedang menyusun buah-buahan dan sayuran itu kedalam keranjang.
"Iya, Tuan beruntung. Pas datang kemari, pas sedang panen raya. Ini untuk oleh-oleh tuan di kota" Ucap Mang Eno mengangkat kedua keranjang itu dan memasukkannya kedalam bagasi mobil.
"Tapi ini terlalu banyak, Mang"
"Tidak apa, Tuan. Nanti bisa buat bagi-bagi lagi" Ucap Mang Eno sopan.
"Bibi...tolong terima ini. Ini tidak banyak, sebagai rasa terima kasih kami" Medina menyerahkan amplop ke tangan Bu Entin.
"Eeehh...Nona tidak perlu seperti ini. Kalian bagian dari keluarga Tuan Gio, jadi kalian juga majikan kami. Maaf...kami tidak bisa menerimanya" Tolak Bi Entin halus.
"Bi...saya akan merasa kecewa dan bersedih jika bibi menolak ini. Anggap ini hadiah kecil dari kami. Tolong diterima ya Bi" Bi Entin melihat raut wajah Medina yang kecewa.
"Tapi...."
Medina bersikukuh memberikan hadiah itu ke tangan Bi Entin. Lalu memeluknya.
"Terimakasih, Bi. Dan sampai ketemu lagi" Ucap Mesin sambil melepas pelukannya.
Mereka beranjak keluar villa dimana Daniel sudah menunggu.
"Honey...coba lihat ini" Daniel menarik tangan istrinya dan memperlihatkan isi bagasinya.
"Masyaa Allah...ini semua untuk kita, Sayang?" Wajah Medina begitu senang melihat aneka macam buah-buahan dan sayuran dalam keranjang.
"Kamu bisa buka usah catering" Mereka tergelak bersama dan setelah berpamitan, Daniel membawa laju mobilnya ke ibu kota.
****
Daniel dan Medina tiba di apartemen mereka pukul 11 malam. Karena Daniel mengajak istrinya jalan-jalan ke beberapa tempat wisata yang tidak jauh dari villa Gio.
Setelah mereka turun dari mobil, mereka langsung menuju lift. Mereka hanya membawa barang-barang yang mudah untuk dibawa. sementara keranjang buah dan sayur dan koper, mereka masih tinggalkan didalam mobil dan akan mengambilnya besok.
"Alhamdulillah...akhirnya sampai rumah juga" Medina membanting tubuhnya diatas sofa. Setelah mereka masuk kedalam apartemen.
"Hei...Bersihkan tubuhmu dulu, Honey" Daniel memperingatkan.
"Aku sangat lelah dan mengantuk, Sayang" Mata Medina terpejam.
"Aaawwwww...Hei...turunkan aku!" Teriak Medina terkejut saat Daniel menggendongnya ke dalam kamar.
"Aku akan membantumu" Ucap Daniel membawa istrinya ke dalam kamar mandi.
"Tidak perlu. Aku bisa sendiri" Tolak Medina namun Daniel tidak menghiraukan ucapan istrinya. Membuat Medina pasrah dengan apa yang dilakukan suaminya.
Daniel membantu membuka hijab dan pakaian Medina
"Aku seperti bayi" Medina terkekeh geli saat Daniel mengelap tubuhnya dengan washlap.
__ADS_1
"Kamu memang bayi. Bayi besar yang nakal" Sahut Daniel dengan senyum tampan diwajahnya.
Setelah selesai Daniel membawa Medina keluar.
"Istirahatlah, Honey" Daniel mengecup kening Medina dengan mesra.
"Aku akan menunggumu" Medina mencium pipi Daniel. Membuat Daniel tertawa.
"Baiklah...aku membersihkan diri dulu" Daniel melangkah masuk kedalam kamar mandi.
Setelah beberapa menit, Daniel telah selesai dan tubuhnya terlihat segar.
"Sayang...kamu mandi?" Tanya Medina melihat tubuh suaminya yang sudah memakai kaos tanpa lengan dan boxer.
"Aku tidak kuat, tubuhku sangat lengket" Daniel naik ke atas ranjang dan menarik tubuh Medina kedalam pelukannya.
Medina membalas pelukan hangat suaminya. Ia membenamkan wajahnya pada dada Daniel dan menghirup aroma wangi sabun yang menguar dari tubuh suaminya.
Daniel mengecup kepala Medina.
"Sayang..."
"Hemmm"
"Sayang..."
"Apa....?"
"Say...Mmmpphhhttt" Daniel membungkam bibir Medina dengan bibirnya dan ********** lembut.
"Ada lagi?" Tanya Daniel saat sudah melepaskan ciumannya.
"Iiihhh...apaan sih?? Aku tidak minta kakak menciumiku"
Daniel tertawa lebar.
"Apa yang mau kamu katakan, Honey?" Daniel menatap wajah Medina.
"I love You" Ucap Medina malu-malu. Sepersekian detik ia membenamkan wajahnya pada ceruk leher Daniel.
Daniel tersenyum bahagia. Dalam hatinya ia Amat sangat bahagia.
"Meski dirimu bukan yang pertama, namun nyatanya aku sangat mencintaimu melebihi rasa cintaku pada wanita sebelumya. Aku sangat bahagia, melebihi kebahagiaan yang aku dapatkan dari wanita sebelumya. Dan aku hanya ingin dirimu saja yang terus menemaniku menua bersama hingga ajal menjemputku" Ucap Daniel penuh kelembutan.
Medina yang mendengarnya langsung terisak menangis.
"Hei...jangan menangis, Honey?" Daniel menjauhkan tubuhnya agar bisa menatap wajah istrinya.
"Mulai sekarang, apapun yang ada dihadapan kita, entah itu kebahagiaan atau ujian...mari kita hadapi bersama-sama" Ucap Daniel lagi membuat Medina semakin terisak.
Medina benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi. Ia terus menangis hingga matanya bengkak.
"Tidurlah..." Daniel mencium kening Medina dan memeluknya.
Mereka akhirnya tertidur dengan saling memeluk. Bukan hanya memeluk tubuh pasangan...namun mereka juga saling memeluk janji dan harapan di masa depan.
π·To Be Continue π·
Ayo...Ayo....Aku ga bosen ngingetin nih....Yang para redaers yang udah mampir ke novel ku, jangan lupa tinggalkan jejak kebaikan ya. Love, Vote, Like , and koment.
Thank you allπ€ππ·
__ADS_1