Cinta Pertama Medina

Cinta Pertama Medina
Episode 140


__ADS_3

Keesokan harinya Daniel benar-benar dibuat sibuk oleh Raihan. Saat ini mereka berdua sedang berada disebuah mall terkenal di kota S. Mereka mendatangi gerai perhiasan untuk mencari cincin yang akan digunakan untuk melamar Billa.


Saat memasuki gerai perhiasan, hampir semua mata menatap mereka berdua yang berjalan berdampingan.


"Apa yang mereka lihat?" Raihan mengernyit heran dengan mata-mata yang menatapnya.


"Mungkin mereka mengira kita pasangan gay." Celetuk Daniel membuat Raihan membulatkan matanya.


"What the fu*k!!" Pekik Raihan. Bahkan ia bergidik ngeri dengan ucapan Daniel.


"Aku pria normal." Raihan seolah berkata lewat tatapan balasan kepada mereka.


"Selamat siang, Tuan-tuan. Ada yang bisa kami bantu?" Suara seorang pramuniaga mengalihkan pandangan Raihan.


"Kami ingin melihat cincin untuk acara pertunangan." Ucap Daniel to the point.


"Cepatlah pilih. Aku sudah lapar." Ucap Daniel dengan wajah dingin.


"Semuanya sangat bagus." Raihan bingung memilih satu cincin diantara puluhan cincin yang terpajang dietalase.


"Pilihlah dengan hati." Saran Daniel.


Raihan yang penasaran dengan ucapan Daniel tentang pasangan sesama jenis, membuat Raihan mengedarkan pandangannya.


"Kenapa kalian menatap kami seperti itu?" Raihan terpancing dengan tatapan karyawan toko perhiasan itu.


"Ma_maafkan saya." Salah seorang karyawan toko langsung menunduk.


"Aku akan mencongkel matamu. Kami pria normal, bahkan dia sedang menanti kelahiran anak pertamanya dari wanita yang dicintainya." Raihan tersulut emosi. Moodnya hancur seketika lalu pergi begitu saja dari toko perhiasan itu.


Ancaman Raihan membuat semua orang yang sedari tadi menatap Raihan langsung mengalihkan pandangannya.


"Maafkan saya, tapi sepertinya saudara saya kehilangan moodnya." Daniel menatap Raihan yang meninggalkan dirinya ditoko perhiasan tanpa berkata apa-apa lagi.


Daniel menyusul Raihan yang sudah berjalan jauh. "Ishh....harusnya aku yang marah disini bukan dia." Kesal Daniel yang ditinggal begitu saja oleh Raihan.


****


"Sayang....perutku sakit." Suara tawa Medina kembali terdengar.


Setelah drama ditoko perhiasan selesai, Raihan dan Daniel kembali ke hotel. Dan saat ini Daniel sedang tersambung dengan Medina lewat video call.


"Berhentilah tertawa." Daniel menyesal menceritakan kejadian tadi pagi kepada istrinya.


"Itu sangat lucu, Sayang. Maksudku...." Suara Medina kembali kalah dengan suara tawanya.


"Maafkan aku." Ucap Medina.


"Aku merindukan mu." Ucap Daniel menatap lekat istrinya.


"Kami juga merindukan papa." Medina mengarahkan kamera ponsel ke perutnya.


"Lihat...dia bergerak!?" Seru Medina dengan senyumnya.


"Awww!!" Medina meringis saat tendangan terasa diperutnya.


"Setiap hari dia menendang?" Tanya Daniel yang sangat bahagia.


"Iya. Dia sangat aktif." Jawab Medina.


"Sayang...apa aku boleh menelepon Billa?"


"Jangan!"


"Raihan bilang ini kejutan untuk Billa. Jadi pura-pura saja tidak tahu." Lanjut Daniel.


"Aku hanya ingin menanyakan kabarnya saja. Aku tidak akan mengatakannya." Medina cemberut.


"Aku tidak yakin, Honey." Daniel tersenyum.


"Kamu bisa menelepon adikmu setelah kami pulang dari rumah Billa." lanjut Daniel.


"Aku yakin...kamu adalah orang pertama yang akan diberi kabar oleh Billa setelah lamaran ini." Lanjut Daniel dan Medina mengangguk.


"Ya baiklah. semoga acaranya lancar dan lamaran Raihan diterima." Ucap Medina.


"Aamiin. Terimakasih Honey." Keduanya saling berbalas ciuman lewat ponselnya sebelum akhirnya mereka mengakhiri obrolan. Karena Daniel akan bersiap-siap.

__ADS_1


****


"Rai....kau sudah menghubungi Billa?" Tanya Daniel saat mobil yang mereka tumpangi telah sampai didepan gerbang Rumah Pakde Radiman.


"Tidak..." Jawab Raihan singkat.


""Kenapa kamu tidak menghubunginya. Setidaknya tanya dia apakah ada dirumah atau tidak?" Sambung kakak perempuan Raihan.


"Jangan sampai mereka salah paham dengan kedatangan kita." Imbuh Daniel yang sudah tahu dengan watak keluarga pakde Radiman.


"Ah...sebentar." Raihan mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi seseorang.


"Ck....kau ini. Kita sudah sampai disini. Tidak perlu menghubunginya." Daniel keluar dari mobil disusul Raihan dan kakaknya.


"Kamu harus sembunyikan buket bunganya." Ucap kakak Raihan saat melihat adiknya yang membawa buket bunga ditangannya.


"Kenapa?"


"Sudahlah...." Sang kakak hanya bisa pasrah dengan sikap polos adiknya.


"Assalamu'alaikum." Ucap Raihan didepan pintu rumah Billa.


"Wa'alaikumsalam...." Terdengar suara seseorang menyahut dari dalam rumah.


"Tuan Daniel....." Pekik Bude Tatik saat pintu telah terbuka dan melihat sosok Daniel dihadapan nya.


"Selamat malam." Sapa Daniel dingin. Ia tidak akan menampakkan keramahannya kepada keluarga itu.


"Ada Mas Raihan juga. Eh....siapa mbak ini?" Bude Tatik melihat semua orang disana dengan wajah bingung.


"Perkenalkan...Kakak saya, Bu." Raihan menunjuk sang kakak.


"Cantik ya." puji bude Tatik.


"Silahkan masuk. Maaf berantakan." Bude Tatik menepuk-nepuk sofa.


"Pak....Pak....kita kedatangan tamu agung." Teriak bude Tatik memanggil suaminya.


"Sia...pa....??" Suara Pakde Radiman langsung terputus saat melihat Daniel.


"Tuan...." Pakde Radiman membenarkan sarungnya dan bergegas menyalami Daniel.


"Mohon maaf jika kedatangan kami membuat kalian terkejut." Suara lembut kakak Raihan membuat Bude Tatik dan Pakde Radiman saling pandang.


"Ada apa sebenarnya?" Pakde Radiman terlihat khawatir. Ia dan keluarganya merasa tidak melakukan kesalahan hingga harus didatangi tiga orang sekaligus.


"Apa Billa dirumah?" Tanya Raihan tidak sabaran..


"Ck...." Daniel berdecak kesal menoleh ke arah Raihan.


"Billa...." Suara Pakde Radiman menggantung.


"Assalamu'alaikum." Semua orang menoleh ke arah suara.


Billa yang baru saja masuk kedalam rumah bersama seorang pria terkejut dengan pemandangan dihadapan nya. "Kalian?" Pekiknya tanpa sadar.


Mata Raihan langsung menatap tajam pada tangan Billa yang saling bertaut dengan tangan pria yang datang bersamanya.


Daniel melihat ke arah Raihan. Menyadari situasi yang tidak kondusif, Daniel langsung mengulurkan tangannya kepada laki-laki yang bersama Billa.


"Hai Billa. Apa kabar? Apa Ini temanmu?" Tanya Daniel seolah mewakili tatapan Raihan.


"Em...i_iya kak." Jawab Billa sedikit gugup. Ia tidak menyangka jika ada banyak orang dirumahnya.


"Saya Reza. Selamat malam semuanya." Sapa laki-laki itu memperkenalkan diri.


"Saya Raihan....Kedatangan saya kemari ingin melamar putri bungsu pak Radiman." Semua mata membelalak terkejut. Termasuk Daniel dan sang kakak yang tidak menyangka jika Raihan akan langsung mengatakan niatnya.


"Saya membawa kakak juga atasan sekaligus sahabat saya." Ucap Raihan dengan tenang namun matanya nampak merah menahan cemburu melihat Billa datang bersama seorang pria.


"Mas Rai...." Gumam Billa dengan wajah bingung.


"Bil....maukah kamu menikah denganku?" Raihan memberikan buket bunga yang sedari tadi dipegangnya. Lalu mengeluarkan kotak kecil dari saku jasnya dan membukanya.


Perbuatan Raihan membuat Billa menutup mulutnya. Ia tidak percaya adegan dihadapan nya. Ditambah tatapan Reza padanya semakin membuatnya tidak bisa berkata-kata.


"Kamu membohongi ku?" Billa menggeleng pelan saat pertanyaan keluar dari bibir Reza.

__ADS_1


"Kami baru saja jadian. Apa-apaan ini?" Suara Reza seolah pedang yang menghunus ke jantung Raihan.


"Diamlah!!" pekik Raihan.


"Mas Rai...." Billa sudah hampir menangis. Ia tidak menyangka rasa sukanya kepada Raihan ternyata tidak bertepuk sebelah tangan. Tapi karena sikap dingin Raihan membuatnya memendam rasa sukanya. Lagipula, Raihan selalu menganggapnya adik.


Kenyataan jika saat ini dirinya dan Reza baru saja menjalin hubungan. Meski belum tahap jenjang serius tapi ia tidak sampai hati langsung menerima lamaran Raihan dan meninggalkan laki-laki yang berprofesi sebagai dosen di kampus nya.


"Bil...katakan jawabanmu. Aku akan mendengarkan." Ucap Raihan pelan namun penuh penekanan.


"Raihan...kita bisa bicarakan dengan baik-baik. Tidak bisa terburu-buru seperti ini.." Daniel tidak bisa membiarkan sahabat nya terus menahan diri.


"I_iya Pak Raihan. Mari kita bicarakan hal ini dengan suasana tenang. Billa...." Pakde Radiman memberi kode kepada Billa agar duduk.


"Ini acara keluarga, bisakah kau tidak ikut campur?" Raihan menahan tangan Reza yang hendak ikut duduk disamping Billa.


"Ehem....aku akan menemaninya. Kalian bisa bicara." Daniel mengambil inisiatif. Mengajak Reza keluar dari rumah.


Daniel merangkul pundak Reza dan membawanya keluar rumah. Meski pria itu sempat menolak namun ia akhirnya ikut dengan Daniel.


Sementara itu Raihan terus menatap Billa yang sedari tadi menunduk. Raihan sangat marah karena Billa tidak peka terhadap perhatian yang diberikan Raihan padanya.


"Billa...mbak minta maaf jika kedatangan kami membuatmu terkejut." Suara lembut kakak Raihan memecah keheningan.


"Pak Raihan...apa ucapan anda tadi sungguh-sungguh?" Tanya Bude Tatik penuh selidik. Ia tidak ingin terjebak jika niatan Raihan hanya untuk semakin mengekang keluarga nya.


"Tentu saja. Saya tidak pernah main-main dengan kata-kata saya." Jawab Raihan tegas. Maniknya menatap Billa yang juga sedang menatap Raihan.


"Billa...bisa kita bicara berdua?" Raihan sudah berdiri dan mengulurkan tangannya kearah Billa.


"Hanya sebentar Billa."


Billa menarik nafas panjang sebelum akhirnya mengikuti langkah Raihan ke halaman belakang.


"Mas...."


"Billa...."


Keduanya memanggil bersamaan. Billa yang biasa cuek dan ceria didepan Raihan kini terlihat canggung. Billa memilih berdiri menjauh dari Raihan.


"Jadi kamu menjalin hubungan dengan pria itu? Sudah berapa lama kalian berpacaran?" Tanya Raihan matanya menatap mengintimidasi.


"Namanya Reza. Dia dosen dikampus Billa." Jawab Billa mencoba tenang.


"Kamu menyukainya? Kamu cinta?" Raihan mencengkram lengan Billa hingga gadis itu menengadah karena terkejut.


"A_aku....." Billa membelalakkan matanya saat bibir Raihan menyentuh bibirnya hingga ******* kecil. Gadis itu tidak menolak juga tidak membalas. Billa bahkan sesaat memejamkan matanya terbuai ciuman Raihan yang sangat lembut.


"Jadi perubahan sikapnya akhir-akhir ini, karena....?" Billa hanya bisa menebak dalam hati.


"Aku menyukaimu. Aku jatuh cinta padamu." Potong Raihan dengan cepat. Membuat gadis dihadapannya mendongak dan menatap wajah pria yang meme


Beberapa bulan terakhir Billa merasakan sikap Raihan yang tidak lagi dingin. Tidak lagi mengatur seperti saat pertama mereka kenal. Billa menyadari kedekatan mereka hanya dilandasi oleh pekerjaan Raihan yang harus mengawasi keluar Pakde Radiman agar tidak membuat ulah dan mengganggu kehidupan Medina.


"Kenapa baru sekarang kamu mengatakan nya?" Pertanyaan bodoh itu terlontar begitu saja dari bibir Billa.


"Aku tidak tahu kapan pastinya perasaan ini ada." Raihan semakin mendekat.


"Kamu tidak merasakan apa-apa padaku?" Bisik Raihan ditelinga Billa. Membuat gadis itu menggeleng pelan dengan air mata yang mulai terjun bebas dipipinya. Ia masih terkejut dengan lamaran Raihan.


"Kenapa kamu menangis?" Raihan mengusap pipi Billa lembut yang telah basah karena air mata.


"Mas...." Lirih Billa.


"Beri aku kesempatan." Tatapan keduanya saling mengunci.


"Mas...."


"Satu bulan Billa. Hanya satu bulan. Setelah itu, aku akan menerima apapun keputusan mu. Setidaknya aku punya kenangan manis denganmu....jika pada akhirnya perasaanmu tidak berubah padaku." Raihan tersenyum getir. Ia tidak bisa menyalahkan Billa apalagi menjadikan laki-laki bernama Reza sebagai pelampiasan. Keadaanlah yang belum berpihak padanya. Dan Raihan ingin mencoba. Pun jika keadaan masih sama, ia akan menerima apapun keputusan Billa dan merelakan gadis itu untuk pria lain.


_


_


_


_

__ADS_1


_


__ADS_2