
Pagi hari setelah sarapan, Pak Sanjaya menghubungi orangtua Donita untuk menyampaikan kabar persetujuan Fian tentang pernikahan mereka yang akan diadakan satu bulan lagi.
Kabar ini tentu saja disambut bahagia oleh pak Faisal, terutama Donita. Gadis berambut bergelombang itu langsung mengambil ponselnya dan membuka kontak Fian yang semalam sempat ia blokir karena terlanjur kesal.
Karena akan diadakan dalam waktu kurangblebih satu bulan, mereka memutuskan untuk kembali bertemu untuk membicarakan tentang persiapan pernikahan Fian dan Donita dihotel milik pak Sanjaya.
"Baiklah....kami tunggu" Ucap Pak Sanjaya sebelum menutup ponselnya.
Pak Sanjaya memberitahu Fian dan Ibu Melani rencana pertemuan mereka saat makan siang.
Fian nampak gelisah, bukan karena rencana persiapan pernikahannya yang belum apa-apa. Ia gugup karena pagi ini ada rapat direksi PT. Sanjaya Group Property.
Ibu Melani yang mengetahui kekhawatiran putranya langsung mendekati Fian dan memberikan support.
"Ibu...apa mereka akan menerimaku?" Fian yang masih belum percaya diri bertanya kepada ibunya.
"Kamu sudah mampu memimpin, Nak. Jadi pantaskan dirimu" Ibu Melani memberi dukungan untuk Fian.
Fian yang mendapat support dari ibunya merasa sangat senang. Beban dihatinya sedikit terlepas.
"Kamu sudah siap?" Suara Pak Sanjaya membuat keduanya menoleh.
"insyaAllah aku siap Yah" Pak Sanjaya tersenyum menepuk pundak Fian dan menatapnya dengan bangga.
"Buatlah kami bangga" Ucap Pak Sanjaya lalu memeluk Fian dengan erat.
"Ayah....Apa Medina sudah mendapatkan haknya? Dia adalah putri kandung kalian. Maksudku...." Fian merasa Ayah dan Ibunya tidak melupakan memberikan haknya kepada Medina.
Pak Sanjaya dan ibu Melani tersenyum. Membuat Fian mengerutkan keningnya dalam.
"Aku tidak ingin dianggap mengambil hak orang lain yang bukan hakku" Lanjut Fian.
"Ayahmu sudah mengurus nya. Ayah harap kamu tidak cemburu ketika bagian adikmu lebih banyak daripada dirimu" Ledek Pak Sanjaya.
"Ayah...aku tidak akan iri pada adikku. Aku bahkan akan menyerahkan setengah bagianku untuk Medina" Ucap Fian membuat kedua orangtuanya terkejut.
"Apa?"
"Itu tidak sebanding dengan kasih sayang yang aku dapatkan dari kalian selama 24 tahu ini" Fian tersenyum dan memeluk ibunya.
"Putraku semakin dewasa dan semakin bijak" Puji ibu Melani.
"Ya sudah...ayo kita berangkat" Pak Sanjaya dan Fian berjalan beriringan keluar rumah.
Mereka memasuki mobil yang sama dan duduk dikursi penumpang. Kemudian mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju gedung Sanjaya Group.
Sementara itu dikota J, Medina baru saja membuka matanya saat merasakan sinar matahari masuk melalui celah jendela yang masih tertutup gorden.
Medina menyandarkan tubuhnya disandaran ranjang sambil mengumpulkan kesadarannya.
"Astaghfirullah...jam berapa ini? kenapa aku bisa kesiangan begini?" Medina sangat terkejut melihat sinar matahari sudah menembus jendela kamarnya.
"Sayang...." Panggil Medina sambil mencari sosok suaminya. Ia beranjak dari ranjang dengan terburu-buru hingga salah satu kakinya tersandung selimut tebal yang ia gunakan.
"Astaghfirullah pakainku!!" Pekik Medina saat menyadari tubuhnya yang polos tanpa sehelai benangpun.
Medina terduduk dan kembali menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Matanya terpejam untuk mengingat kembali kejadian semalam hingga selepas sholat subuh tadi.
Medina menggeleng mengingat ulah suaminya. Daniel benar-benar tidak melepaskan dirinya selamanan hingga selepas subuh pun Daniel masih meminta jatah tambahan hingga membuat tubuhnya terasa remuk redam.
Daniel berdalih, Medina harus segera menyusul kakak iparnya agar Syifa tidak bersedih lagi.
"Ya Allah...dimana suamiku?" Medina sadar ia belum melihat wajah suaminya setelah bangun tidur tadi.
Medina berlari menuju lemari dan mengambil pakaian. Setelah berpakaian, ia langsung keluar kamar untuk mencari suaminya. Namun saat hendak membuka pintu kamar, ponselnya berdering.
Medina berbalik badan dan mengambil ponselnya yang tergeletak diatas nakas.
Medina tersenyum cantik melihat nama yang tertera dilayar ponselnya.
"Assalamualaikum, sayang. Kenapa tidak membangunkan aku? kakak dimana?" Tanya Medina saat sambungan telah terhubung.
"Wa'alaikumsalam, Honey. apa kamu baru bangun?"
"Iya" Jawab Medina pelan. Ia sangat malu, karena untuk pertama kalinya ia bangun sesiang ini.
"Kakak dimana?" Medina berjalan keluar kamarnya.
__ADS_1
"Maaf....aku sudah berangkat ke kantor"
"Apa?" Pekik Medina terkejut. Ia semakin merasa tidak berguna ketika suaminya sudah berangkat ke kantor saat dirinya masih tertidur.
"Maafkan aku. Arif memberitahu ada jadwalku yang berubah mendadak pagi ini"
"Tidak apa-apa. Justru aku yang harusnya minta maaf, karena aku bangun kesiangan" Ucap Medina.
"Hei...kamu terlambat bangun juga karena aku"
"Sayang...kamu sempat membuat sarapan dan berbelanja juga?" Medina melihat beberapa sarapan untuknya tersaji diatasa meja makan dan kantong plastik diatas dapur.
"Sarapan spesial untuk istriku"
"Sayang...maafkan aku." Medina benar-benar merasa merasa tidak berguna.
"Aku hanya melakukannyea untuk istriku seorang"
"Terimakasih. Apa kakak akan makan malam dirumah?" Tanya Medina sambil mengeluarkan isi kantong belanjaan. Ia berencana akan memasak untuk suaminya.
"Tentu saja. Aku ingin makan masakan istriku. Baiklah...aku tutup dulu telepon nya, nanti ku telepon lagi. I love you"
"Sampai bertemu nanti sore." Pipi Medina bersemu merah. Meski Daniel sering mengucapkan tiga kata itu namun selalu saja terdengar indah dan istimewa saat suaminya mengucapkan kata cinta untuknya.
"Aku menunggu jawabanmu, Honey" Medina terkejut saat suara Daniel masih berada diujung telepon.
"Love you too" Jawab Medina lalu menutup teleponnya.
Medina merasakan perutnya sangat lapar setelah mencium aroma makanan yang telah disajikan suaminya.
"Ahh...aku bisa menjadi istri pemalas jika terus dimanja seperti ini" Gumam Medina sambil menyantap sarapannya.
*****
Billa yang akan menempuh ujian akhir sekolahnya terlihat sangat antusias mengikuti semua bimbingan belajar disekolah nya.
Hingga ia selalu mendapat omelan ibunya karena selalu pulang ketika matahari hampir terbenam. Karena pekerjaan rumah yang biasa ia kerjakan kini harus ibunya yang melakukan semuanya.
Seperti saat ini, saat Billa batu saja pulang dari sekolah. Bude Tatik langsung menyambut Billa dengan omelannya.
Billa yang sudah biasa menerima Omelan itu hanya bisa mengelus dadanya sambil tersenyum.
"Pak...ibu itu mengomel untuk kebaikan Billa. Anak perempuan harus tahu waktu kapan harus pulang kerumah" Omelnya lagi sambil mengaduk kopi untuk suaminya.
Billa yang sudah sangat kelelahan berjalan gontai masuk kedalam kamarnya. Menutup pintu lalu menguncinya. Ia ingin segera mandi dan berganti pakaian.
Buku yang ia sempat pinjam di perpustakaan, ia letakkan di meja belajar. Jika bukan karena ingin mendapat beasiswa yang dijanjikan oleh Raihan, ia tidak akan seserius ini dalam belajar. Tekadnya sangatlah kuat, ia ingin meraih nilai terbaik dan melanjutkan kuliah seperti cita-citanya.
Medina juga sempat mengutarakan jika dirinya akan membiayai kuliah Billa. Namun Billa menolak dengan alasan ingin kuliah dengan jalur prestasi. Meski Billa sadar, saingannya cukup berat karena bia sekolah di SMA favorit yang notabene adalah tempat siswa terbaik dikota S. Namun ia tidak boleh pesimis, ia akan terus belajar hingga tercapai cita-cita nya.
"Billa itu sedang giat belajar untuk ujian akhirnya. Dia ingin mendapatkan beasiswa dan melanjutkan kuliahnya. Mosok kamu Ndak seneng Bu anak kita pinter?" Pakde Radiman menerima kopi yang disodorkan oleh istrinya.
"Yang seharusnya kamu omelin itu si Salsa. Anak itu sudah kelewat batas. Pulang kerja bukannya langsung pulang kerumah malah keluyuran. Pulang kerumah sudah hampir tengah malam" Sindir pakde Radiman membuat wajah bude Tatik merengut.
Bude Tatik yang jengah dengan nasehat suaminya langsung berdiri dan berjalan menuju kamar Billa. Namun karena kamar gadis itu terkunci, akhirnya omelan maut keluar lagi dari mulutnya.
Pakde Radiman yang mendengar nya hanya menggeleng kepala. Sementara Billa yang sedang merebahkan tubuhnya diranjang, langsung menutup telinganya dengan bantal.
Billa yang sudah tidak tahan dengan omelan ibunya, memutuskan untuk menghubungi Raihan. Ia ingin meminta bantuan kepada nya.
"Assalamualaikum, mas" Sapa Billa saat sambungan telepon tersambung.
"Wa'alaikumsalam"
"Mas...aku ganggu Ndak?" Tanya Billa dengan suara pelan.
"Aku sedang menyetir" Jawab Raihan.
"Ohh...ya sudah Billa ngomongnya nanti saja kalo sudah ndak nyetir" Ucap Billa dan hampir menutup ponselnya.
"Ada apa?"
"Mas...bahaya kalo nelpon sambil nyetir." Billa merasa khawatir. wa
Raihan tersenyum mendengar Billa mengkhawatirkan nya. Selama ini belum ada wanita lain yang peduli padanya kecuali kakaknya.
"Oke...aku sudah berhenti. Katakan ada apa?" Raihan tahu jika Billa menghubungi nya pasti ada masalah.
__ADS_1
"Mas...aku mau ngekos" Ucap Billa to the point.
"hah? apa?" Raihan memastikan pendengaran nya.
"Kamu ada masalah lagi dengan keluarga mu?"
"Bukan...aku..." Rasanya Billa sangat malu meminta pria dewasa itu membantunya lagi.
"Aku ke kerumahmu sekarang" Raihan menutup ponselnya dan memutar setirnya berbalik arah. Padahal ia hampir sampai ke rumahnya. Namun entah mengapa suara gadis 17 tahun itu mengganggunya.
Billa yang tahu jika Raihan akan datang langsung mengganti pakaiannya dan keluar kamar.
"Lho...nduk. Kamu mau kemana?" Tanya pakde Radiman.
"Billa ada keperluan pak. Ndak lama kok" Pamit Billa kepada bapaknya.
"Nanti ibumu mengomel lagi, bagaimana?" Pakde Radiman memelankan suaranya.
"Ibu sudah biasa begitu pak" Billa menyalami bapaknya dan berjalan keluar rumah.
Saat Billa baru saja keluar pagar rumah, mobil Raihan sudah terparkir didepan gerbang.
"Cepat sekali dia datang" Bathin Medina.
Tanpa menunggu lama, Billa langsung membuka pintu mobil dan duduk disebelah Raihan yang berada dikursi kemudi.
Setelah Billa sudah aman ditempat duduknya, Raihan langsung menghidupkan mesin mobil dan membawanya ke tempat yang biasa mereka datangi.
Billa yang tahu kebiasaan Raihan saat didalam mobil, hanya duduk manis bersandar dikursinya sambil memperhatikan jalanan.
Raihan melirik gadis disebelahnya dengan kening berkerut. Raihan yakin jika gadis disebelahnya tidak dalam keadaan baik. Entah mengapa dirinya sangat khawatir.
"Ehh...kenapa kesini?" Tanya Billa ketika mobil Raihan berbelok ke tempat yang bukan tujuan mereka.
"Ini waktu makan malam. aku sudah sangat lapar" Jawab Raihan datar seperti biasanya.
"Aku juga lapar" Gumam Billa pelan namun masih bisa didengar Raihan.
Billa mengusap perutnya yang berbunyi. Rasa lapar yang ia tahan sejak pulang sekolah tadi, kini tidak bisa ia tahan lagi. Saat pulang kerumah rasa laparnya hilang begitu saja dan merasa kenyang dengan omelan ibunya yang hampir tiap hari ia terima.
Raihan menghentikan mobilnya didepan sebuah restoran dan melirik Billa yang belum bergerak dari duduknya.
"Kamu akan terus u duduk manis disini?" Suara berat Rihan membuyarkan lamunan Billa.
Gadis itu membuka seatbelt yang membelit tubuhnya namun entah mengapa kali ini susah dibuka. Ia masih berusaha untuk membuka dengan memencet dan menggerakkan tombol seatbelt, Namun tetap tidak bisa.
Raihan yang sudah keluar dan berdiri disamping mobilnya, kembali membuka pintu.
"Kamu mau merusak mobilku?" Bentak Raihan sambil menarik tangan Billa. Membuat gadis itu terkejut dan langsung menangis.
"Maaf...." Ucap keduanya bersamaan.
Raihan menutup pintu kemudi dan berjalan mengitari mobil lalu membuka pintu penumpang.
"Seatbeltnya macet" Ucap Billa sambil terisak.
Tanpa berkata-kata, Raihan langsung membungkuk dan membuka seatbelt yang masih membelit tubuh Billa.
Raihan yang mengira jika Billa hanya berpura-pura, kini merutuki sikapnya pada gadis itu yang sudah membentaknya.
"Kenapa macet begini?" Gumamnya sambil terus membuka.
Tubuh mereka yang begitu dekat dengannya membuat keduanya merasa canggung. Ia memalingkan wajahnya ke samping. Sementara Raihan langsung keluar dari mobil.
Billa yang tidak ingin berlama-lama duduk dan membuat pria dingin itu menunggu, akhirnya menarik tali seatbelt dan meloloskan tubuhnya.
"Kenapa tidak dari tadi saja?" Ucap Raihan yang terus memperhatikan Billa. Pria jangkung itu langsung meninggalkan Billa.
Billa hanya diam dan turun dari mobil mengikuti langkah Raihan yang sudah cukup jauh meninggalkan nya.
Billa hanya menatap dengan sabar. Meski kesal namun harus bisa melupakannya. Saat ini ia sedang membutuhkan bantuan pria dingin itu untuk keluar dari masalahnya.
_
_TBC
_
__ADS_1
_