
Jam makan siang telah tiba, Airin berniat untuk turun ke lantai tiga tempat kantin berada, setelah tadi Lusi mengiriminya pesan. Tapi langkahnya dia urungkan saat mendengar seruan dari Alina.
"Hei, mau kemana?" Tanya Alina dengan menatap Airin.
"Ke kantin Alina, apa kau sekalian mau ikut denganku?" Tanya balik Tiara.
"Ck," Alina berdecak mendengar jawaban Airin. "Pimpinan hari ini masih di dalam ruangannya, kita istirahat bergantian saja. Nanti kalau pimpinan membutuhkan salah satu dari kita bagaimana!" ujar Alina.
"Uhm ... baiklah kalau begitu," putus Airin.
"Ya sudah kalau begitu aku yang istirahat dulu," ucap Alina tapi saat kakinya akan melangkah pergi, dia mengingat sesuatu. Hingga Alina menghampiri Airin kembali. "Pimpinan, biasanya kalau tidak istirahat keluar biasanya akan pesan makanan dari luar. Nanti kalau makanannya datang, serahkan saja pada sekretarisnya," jelas Alina.
Airin menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Alina akhirnya berjalan pergi dari sana dengan sudut bibirnya terangkat hingga membentuk senyuman, entah apa yang ada dalam pikirannya.
Airin hanya menghembuskan nafasnya pelan. sekarang dirinya harus menunggu kembalinya Alina agar dia bisa beristirahat.
"Oh ya ... Lusi," gumam Airin kemudian. Dengan segera Airin mengambil ponsel yang berada di sakunya, dan mengirim pesan pada Lusi kalau dirinya akan terlambat harus istirahat.
Hingga beberapa saat, ada seorang perempuan yang datang ke ruang pantry. Sepertinya dia salah satu karyawan bagian resepsionis. Di tangannya terdapat seperti box makanan.
"Kamu office girl baru di sini?" tanyanya ramah.
"Iya, nama saya Airin" jawab Airin dengan tersenyum.
"Kalau begitu, Airin tolong berikan ini pada pimpinan ya!" dengan memberikan kotak makanan itu pada Airin.
"Iya, nanti akan saya berikan," sahut Airin.
Resepsionis itu pergi setelah memberikan pesanan pimpinan pada Airin.
Airin berjalan ke arah meja sekertaris seperti pesan Alina tadi, tapi ketika sampai di sana meja itu kosong tak berpenghuni.
"Bagaimana ini," gumam Airin. Dengan mengarahkan pandanganya ke segala arah, tapi tidak menemukan siapapun.
Airin sekarang berdiri di depan pintu yang bertempelkan tulisan CEO dengan membawa kotak makanan di tangannya. Airin masih ragu, memilih masuk atau tidak.
Dengan ragu Airin mengetuk pintu itu, hingga tak lama terdengar suara seorang laki-laki yang menyahutinya dari dalam ruangan.
"Masuk," sahut seseorang itu dari dalam.
Klek.
Airin dengan langkah pelan masuk dalam ruangan CEO, di sana terlihat seorang laki-laki tampan dan berkarisma yang sedang serius memeriksa berkas-berkas di tangannya. Laki-laki yang sempat mencuri perhatiannya saat pertamakali Airin masuk di kantor ini. "Tuan, tadi ada yang memberikan ini untuk anda," ucap Airin.
__ADS_1
Bian menghentikan pekerjaannya dan mengangkat pandanganya, hingga dia bisa melihat gadis cantik di hadapannya yang mengenakan seragam OG.
"Letakkan saja di sana," seru Bian, dengan mengedikkan dagunya ke arah meja yang berada di belakang Airin.
"Baik tuan," sahut Airin dan segera melaksanakan perintahnya. Setelah menaruh kotak makanan itu, Airin berniat untuk keluar dari ruangan Bian. "Kalau begitu saya permisi, tuan," pamit Airin.
"Tunggu," serga Bian.
Airin segera menghentikan langkahnya, dan memutar tubuhnya sehingga menghadap Bian.
"Buatkan aku kopi," perintah Bian.
"Iya, Tuan," sahut Airin. Dan segera keluar dari ruangan Bian untuk menuju pantry.
Di dalam pantry Airin bingung karena tidak tahu takaran kopi dan gula yang biasa di minum Bian.
Airin mulai memasak air, sambil menunggu Alina kembali. Tapi hingga air itu mendidih tidak ada tanda-tanda Alina kembali.
"Biar takarannya aku samain aja dengan takaran kopi ayah," gumamnya dengan tangannya yang mulai meracik kopi.
Dua sendok teh kopi, dan tiga sendok teh gula. "Untung dulu pernah bikinin kopi ayah," ucapnya tersenyum. Tapi seketika wajah Airin berubah sendu, saat dia mengucapkan nama ayahnya. Ada sedikit perasaan rindu yang menggerogoti hatinya.
Airin segera menggelengkan kepalanya. "lebih baik, aku segera memberikan kopinya pada pimpinan," ucapnya dan segera berjalan ke arah ruangan Bian.
Bian menyeret cangkir kopi itu agar mendekat padanya, dengan sedikit meniupnya Bian mencicipi kopi buatan Airin.
Airin yang masih berada di depannya, meremas kedua tangannya. Takut kalau kopi buatannya tidak sesuai selera Bian.
Bian menautkan kedua alisnya saat selesai mencicipi kopi buatan Airin, dan langsung menatap Airin yang sedang menundukkan kepalanya. "Nanti suruh Alina kesini," perintah Bian.
Seketika kepala Airin sedikit terangkat, dan dengan cepat menyahuti ucapan Bian. "Baik pak."
"Ya sudah ... kamu boleh keluar," perintah Bian.
Airin segera keluar dari ruangan Bian dengan pikiran yang sedikit kacau. Bagaimana jika ada kesalahan dalam pekerjaannya. Bagaimana jika dia di pecat di hari pertamanya bekerja. Pikiran itu terus berputar-putar di otaknya.
Airin kembali ke pantry dengan tangan yang memeluk erat nampan yang di dekapnya, setelah di gunakan untuk mengantar kopi Bian tadi.
Saat di pantry ternyata di sana sudah ada Pras dan Lusi dengan membawa beberapa kantong keresek berisi bungkusan nasi.
"Loh, kalian di sini?" Tanya Airin sedikit terkejut, karena Airin tahunya mereka sedang makan siang di kantin.
"Iya, lebih baik kan kita makan bareng-bareng," sahut Lusi dan mengeluarkan bungkusan nasi dari kantong kresek.
"Ayo makan," ujar Pras, yang sudah mengambil tiga piring dan tiga sendok.
__ADS_1
Mereka akhirnya makan dengan duduk di sofa yang berada di ujung pantry.
( Aku bayangin tempat pantry nya seperti sitkom yang pernah ada di televisi 😊 )
"Tadi waktu Lusi bilang kamu istirahatnya gantian sama Alina, aku sama Lusi langsung membungkus makanan yang kita pesan. Kalau kamu nunggu Alina, di jamin kamu nggak bakalan makan siang," ujar Pras di sela-sela makan mereka.
"Kok bisa gitu!" sahut Lusi.
"Alina suka ngerjain OG baru," seru Paras. "Makanya OG banyak yang nggak mau kalau di pasangin kerja sama Alina, mereka sering mengeluh dengan sikap Alina yang suka seenaknya," imbuh Pras.
"Kenapa mereka takut?" Tanya Airin.
"Karena yang membawa Alina masuk kerja di sini adalah Pak Dandi langsung," jelas Pras.
Brak.
Seketika Lusi menggebrak meja. "Ya nggak bisa gitu dong! Apa hubungannya coba!" Seru Lusi dengan sedikit tersulut emosi. Kemudian Lusi menoleh ke arah Airin yang sedang makan di sebelah kirinya. "Kamu harus lawan Rin, jangan mau ngalah meskipun kita OG baru. Aku akan mendukungmu dari belakang," ucap Lusi dengan mengepalkan tangan dan mengangkatnya ke atas.
"Halla, biasanya yang kayak gini cuma ngomong doang," cibir Pras.
Lusi mencebikkan bibirnya.
Sedangkan Airin hanya tersenyum melihat kelakuan temanya.
Hingga beberapa saat, mereka bertiga menyelesaikan makanya. Lusi dan Pras harus kembali ke lantai lima.
"Alina, kamu tadi di cari pimpinan," saat Alina baru kembali, jam sudah menunjukkan pukul 12.50. Untung saja Airin sudah di bawakan teman-temanya makan siang.
Alina mengerutkan dahinya. "Bagaimana pimpinan bisa memberi perintah padamu!" tanyanya curiga.
"Tadi aku membawakan kotak makan dari seseorang untuk pimpinan," jelasnya.
Alina seketika mengepalkan tangannya. "Tadi kan sudah ku bilang, berikan saja pada sekretarisnya!" Ucap Alina dengan nada yang sedikit meninggi.
"Tapi tadi sekretarisnya tidak ada," ujar Airin yang mulai kesal dengan sikap Alina.
Alina hanya mendengus mendengar penuturan Airin, dan segera pergi dari pantry untuk menuju ruangan Bian.
10 menit kemudian, Alina kembali ke pantry dengan wajah kesal. Apalagi melihat wajah Airin. "Brengs*k," umpatnya. Tapi Airin tidak memperdulikannya, karena dia tidak merasa Alina mengumpat padanya.
Ternyata Bian memanggil Alina, karena mulai besok Bian meminta agar Airin yang membuatkanya kopi.
...----------------...
...Jangan lupa vote, like dan komen. Terima kasih, semoga sehat selalu. Aminnn 😊...
__ADS_1