
Beberapa hari berlalu.
Di kantor, Miko hanya bisa menambah kesabaran yang ia miliki. Entah apa yang terjadi dengan atasannya, beberapa hari terus saja marah-marah.
Bukan hanya Miko yang harus ekstra sabar sebagai asisten, bahkan Riri sebagai sekretarisnya pun berkali-kali mengelus dadanya setiap keluar dari ruangan Bian.
Masalah sekecil apa pun pasti akan menjadi besar.
Perubahan sikap Bian, tak lain karena ia sama sekali tidak bisa untuk bertemu Alda. Itu semua karena suami dan orang tua Alda yang selalu berada di rumah sakit.
"Arrgghh," teriaknya frustasi. Bian bahkan sering melempar benda apa saja yang berada di dekatnya.
"Astaga!" Riri mengelus dadanya. Berkali-kali ia terkejut ketika mendengar suara benda jatuh dari ruangan Bian. "Apa obatnya sedang habis?" gumam Riri dengan menebak nebak apa yang terjadi. "Kok rada-rada--"
"Rada apa?" Miko yang tiba-tiba berdiri di depan meja Riri.
"Asataga!" Riri kembali di kejutkan dengan kedatangan Miko yang seperti hantu, tidak terdengar suara langkah kakinya, tapi tiba-tiba sudah ada orangnya.
Riri hanya tersenyum kaku serta menunjukkan deretan giginya, ia hanya menggeleng. "Ada apa Pak?"
"Berikan ini pada Pak Bian, ini untuk persiapan meeting dua jam lagi." Miko memberikan beberapa berkas.
"Pak kenapa tidak bapak saja!" Dengan raut wajah memelas Riri mencoba bernegosiasi. Ia rasanya tidak berani untuk uji nyali kembali jika harus masuk keruangan Bian kembali.
"Saya masih banyak pekerjaan." Miko pergi begitu saja setelah mengatakan itu.
__ADS_1
"Ish," Riri mendesis frustasi. Dengan langkah berat ia akhirnya masuk keruangan Bian. Sebelum benar-benar masuk, ia menengadahkan wajahnya. "Langit! Bisakah kau buat Pak Bian jinak sebentar?" harapnya.
*
*
Di rumah sakit Alda hanya bisa memandang wajah lelah sang suami.
Angga dengan setia terus berada di sampingnya, dan Alda tidak pernah lupa bagaimana suaminya itu menangis ketika anak yang di kandungnya sudah kembali ke sisi Nya.
Alda tidak bisa membayangkan bagaimana jika suaminya itu tau kalau anak yang di kandungnya ternyata bukan anaknya. Pasti Angga akan hancur melebihi dirinya, atau bahkan Angga tidak akan pernah memaafkannya.
Tanpa sadar air mata Alda keluar begitu saja, rasa bersalah langsung menggerogoti hatinya. Bagaimana ia bisa sejahat itu pada suami sebaik Angga.
"Sayang!" Angga begitu terkejut mendapati Alda yang tengah menangis, padahal tadi ia terbangun dari tidurnya karena merasa haus.
Angga mendekati Alda dan membawanya ke dalam dekapannya. "Dia pasti sudah bahagia di sana."
Tangis Alda semakin pecah mendengar itu, sungguh ia merasa jadi perempuan yang sangat jahat.
Setelah tangisnya sudah mereda, Alda menatap ke arah Angga. "Mas aku ingin pulang!"
Angga mengusap sisa air mata di wajah Alda. "Ya sudah, nanti aku akan bicara dengar Dokter." tuturnya lembut.
Malam hari, seperti biasa Lusi dan Pras berkumpul di kamar kos milik Airin. Di temani makanan sederhana sudah cukup menjadi menu makan malam mereka.
__ADS_1
"Airin, lo tau nggak --"
"Nggak!" potong Airin.
"Ish, gue belum selesai bicara!" kesal Lusi.
Sedangkan Pras dan Airin hanya tertawa melihat Lusi yang kesal.
"Ya udah, ya udah, apaan?" Setelah tawa Airin berhenti.
"Tahu nggak! Beberapa hari ini kabarnya Pak Bian marah-marah nggak jelas gitu," Lusi mulai menceritakan gosip yang ia dengar.
Raut wajah Airin tentu saja berubah setelah nama Bian di sebut. Ia sungguh rasanya tidak ingin lagi mendengar apapun yang berhubungan dengan Bian, bahkan ketika ia bekerja sebisa mungkin tidak bertemu dengan Bian.
"Udah nggak usah ngegosip." sela Pras.
"Tapi ini kenyataan."
"Kalau kamu dengernya dari orang lain, itu namanya gosip."
"Ya emang bener denger dari orang lain, tapi kenyataanya emang bener."
Airin hanya diam menyimak perdebatan dua orang di depannya itu. Ia tidak mau berkomentar apapun tentang Bian, andai saja kedua sahabatnya itu tau apa yang Bian lakukan padanya.
...----------------...
__ADS_1
...Teteh Airin mau lewat dulu 🥰...