Cinta Untuk Airin

Cinta Untuk Airin
Bertemu Bian


__ADS_3

Di dalam ruangan VIP salah satu klub terlihat Bian yang duduk bersantai di sofa, matanya menatap ke arah layar televisi yang menyala. Namun tidak dengan pikirannya yang melayang jauh.


Malam ini ia kembali ke sana setelah menyelesaikan pekerjaannya di kantor, entahlah hanya tempat seperti ini nah yang bisa mengalihkan amarah di hatinya.


Karena setiap ia selesai bekerja, hatinya selalu penuh amarah. Amarah yang di sebabkan kandasnya hubungan dengan Alda.


Minuman yang berada di atas meja menjadi pelengkapnya ia di sana.


Beberapa kali ponselnya berdering, tapi ia tak berniat mengangkatnya. Ia tahu jika Mama nya lah yang menghubunginya untuk menyuruhnya pulang seperti malam-malam sebelumnya.


"Aku sudah punya segalanya, tapi dia tetap meninggalkanku." Bian yang mulai meracau. Sepertinya alkohol sudah mempengaruhinya.


"Aku bisa memberikan apa yang ia mau, tapi dia masih memilih suaminya."


"Aku sudah memberikan semua perasaanku, tapi dia tetap pergi."


Bian terlihat seperti orang yang sudah kehilangan akal sehatnya.


Hingga jam satu pagi, Bian memutuskan untuk pulang. Setelah keluar dari klub, Bian bukannya menuju ke arah mobilnya ia justru berjalan ke arah jalan raya yang telah sepi.


Dengan jalan yang sedikit sempoyongan, ia berjalan tak tentu arah.

__ADS_1


*


*


Airin berusaha memejamkan matanya, sebenarnya ia sudah ingin sekali untuk tidur. Namun rasa sakit pada perutnya lebih mendominasi, tamu bulanannya datang ketika ia sudah terlelap.


Hingga ia harus terbangun saat merasakan perutnya terasa sakit, dan rasa tidak nyaman pada celana dala mnya.


Benar saja ketika ia periksa tamu bulananya datang.


"Kenapa sampai lupa untuk beli obat!" Ia merutuki kebodohannya sendiri. Padahal sudah jelas ia akan merasakan sakit jika datang bulan, dan harus di bantu dengan obat-obatan tertentu agar mengurangi rasa sakitnya.


"Sudah jam segini, pasti Lusi sudah tidur." Airin melihat jam yang menunjukkan jika sudah lewat tengah malam.


Ia kembali ke dalam kamar untuk mengambil jaket, ponsel dan beberapa uang, Airin memutuskan untuk ke apotik atau supermarket yang buka 24jam.


"Mudah-mudahan tidak akan ada apa-apa." Airin bergidik ngeri melihat jalanan yang tampak begitu sepi, mungkin karena jalan yang di depan kosnya bukan jalan utama.


"Nggak lucu juga kalau ketemu setan," Matanya melihat ke segala arah. Entah apa yang di pikirkan olehnya, rasanya ia lebih takut kepada setan dari pada begal.


Beberapa saat kemudian, Airin sudah tiba di jalan utama. Ternyata sama-sama sepi, hanya saja masih ada beberapa kendaraan yang lewat.

__ADS_1


Beberapa meter darinya terlihat minimarket yang masih buka, ia memutuskan untuk ke sana. Berharap yang di carinya ada di sana.


"Alhamdulillah." Setelah menenggak satu butir obat dengan air mineral yang ia beli dari minimarket. Ia tidak menunggu sampai di kosan untuk meminumnya, karena tidak tahan dengan rasa nyeri.


Setelah itu Airin memutuskan untuk pulang.


Namun saat ia akan memasuki jalan menuju arah kos ia melihat seseorang yang berjalan sempoyongan, sejenak Airin terdiam.


Ia memastikan jika yang di lihatnya adalah benar-benar manusia. "Seperti mengenalnya?"


Airin memutuskan untuk terus berjalan, ia takut jika itu adalah orang jahat. Dengan kondisi jalan yang sepi bisa saja orang itu hanya berpura-pura, kemudian akan melakukan hal jahat jika ia menolongnya.


Bruk.


Airin tersentak kaget mendengar suara itu, ia menoleh ke belakang dan mendapati orang tadi telah tersungkur di aspal.


"Astaga!" Ia memutuskan untuk menghampiri pria itu, betapa terkejutnya ternyata itu adalah Bian.


"Pak!" Airin mencoba menyadarkan Bian dengan menepuk bahunya, tapi Bian justru berbicara tidak jelas.


"Kenapa kamu pergi!"

__ADS_1


...----------------...


...Hayo loh... 🤭...


__ADS_2