
####
Setelah mendengar bunyi bel yang di bunyikan dari ruangan Arman, Arin langsung bergerak dengan cepat. Meskipun dulu dua sangat membenci Arman tapi dia tak boleh egois, kewajiban seorang dokter adalah menolong pasien meskipun pasiennya adalah musuhnya sendiri.
Arman ya sudah diam juga matanya sudah terpejam membuat Airin langsung memeriksanya. Dia membuka mata Arman dan memeriksa dengan senter kecil, namun sudah tak ada respon. Airin juga memeriksa detak jantung Arman namun ternyata sudah berhenti apalagi denyut nadinya?.
"Innalillahi wainna ilaihi roji'un...," ucap Airin yang langsung menyedekapkan kedua tangan Arman, melepaskan peralatan yang masih menempel lalu menutup wajah Arman dengan kain putih yang sebelumnya hanya menjadi selimut.
"Innalillahi wainna ilaihi roji'un... " ucap pengacara dari Arman yang masih ada di sana.
Ternyata Arman sudah berpulang ke Rahmatullah, luka yang sangat serius di bagian kepalanya membuatnya tak bisa bertahan, meskipun Airin dan dokter lain sudah berusaha keras.
"Maaf, Pak. Kami tak bisa menyelamatkannya, kami sudah berusaha semampu kami tapi Allah berkehendak lain. Om Arman telah meninggal dunia," terang Airin pada pengacara.
"Saya tau, Dok. Dokter sudah berusaha dengan baik. Ini memang sudah menjadi takdir untuk tuan Arman," jawab pengacara.
"Hem.. " Airin tersenyum, karena Pengacaranya begitu mengerti akan hal itu.
"Mari, Tuan! kabar ini harus di sampaikan pada pihak keluarga."
Airin juga pengacara keluar dari ruangan, begitu juga para suster.
Airin yang baru keluar langsung di sambut oleh Fadil yang langsung beranjak dari duduknya, sementara Siska masih sangat acuh dan tetap duduk diam tanpa menoleh sedikitpun ke arah Airin.
"Bagaimana keadaan papa, Airin? papa baik-baik saja kan?" tanya Fadil yang sangat khawatir.
"Saya minta maaf, Fadil. Om Arman sudah meninggal. Kamu semua sudah berusaha sebaik mungkin tapi Allah berkehendak lain," jawab Airin.
"Tidak mungkin, tidak mungkin papa meninggal! kamu bohong kan, Rin! " ucap Fadil yang sama sekali tak percaya.
__ADS_1
"Maaf, Fadil. Tapi Om Arman benar-benar sudah pergi. Kamu yang sabar ya, mungkin ini yang terbaik untuk papa kamu," jawab Airin.
Mendengar Arman meninggal Siska langsung berdiri, dia melangkah mendekati Airin dengan wajah yang tak bersahabat. Matanya melotot juga tangannya mengepal seakan ingin menghajar Airin.
"Dasar pembunuh! Dia pasti meninggal karena kamu yang tak becus menjadi Dokter kan! kamu memang berniat membunuhnya kan!"
"Kamu sangat membencinya, jadi kamu langsung membunuhnya saat kamu punya kesempatan, iya kan! Dasar pembunuh! "
Siska terus berkoar-koar mengatakan bahwa Airin adalah seorang pembunuh.
Meski Airin sangat membenci Arman bukan berarti dia akan membunuhnya. Dalam keadaan sehat saja Airin tak bisa melakukannya apalagi dalam keadaan tak berdaya.
"Maaf, Siska. Tapi saya tidak sejahat itu membunuh orang yang tidak berdaya. Meskipun saya sangat membencinya tapi itu bukan sifat saya." jawab Airin.
"Halah..., jangan sok deh kamu! kamu itu tak pantas menjadi seorang dokter! Kamu itu tak mempunyai moral sama sekali. Kamu tak akan pernah pantas! " ujar Siska lagi.
Tak terima Airin yang ingin pergi begitu saja Siska malah berbuat ulah, dia mendorong Airin hingga terjatuh.
"Itu posisi mu yang pantas! kamu pantas di bawah sana! " seru Siska dengan sadis.
"Astaghfirullah hal 'azim..., Dok! Dokter tidak apa-apa kan!?" seorang perawat langsung membantu Airin berdiri.
"Saya tidak apa-apa," jawab Airin, meskipun dia sedikit kesakitan tapi dia tetap mengatakan tidak apa-apa, dia tak mau semua orang khawatir itu hanya masalah sepele.
"Siska! jaga sikapmu!" bentak Fadil yang sedari tadi masih diam karena begitu terpukul dengan kepergian Arman.
"Kenapa! Kamu tidak terima, iya!? seharusnya wanita itu yang menjaga sikapnya bukan aku! Dan ya, kenapa kamu masih membela wanita ini! karena kamu masih mencintainya, iya kan!"
𝘗𝘭𝘢𝘬...
__ADS_1
Satu tamparan berhasil mendarat di pipi Siska dari tangan Fadil. Dia tak peduli meskipun Siska ibu sambung nya. Dia hanya tidak suka karena Siska mengungkit-ungkit masalah itu lagi.
Dulu memang iya, Fadil mencintai Airin. Tapi tidak dengan sekarang, Fadil sudah menemukan wanita yang benar-benar bisa dia cintai dan mencintainya.
"Lebih baik kamu pulang daripada di sini hanya membuat masalah, saya juga tidak butuh kamu mengurus papa! Pergi!! " bentak Fadil.
"Dasar anak durhaka! " seru Siska sembari tangannya menyentuh pipinya yang di tampar tadi oleh Fadil.
"Pergi!" teriak Fadil, "pak! bawa dia pulang! dan perlakuan dia sama persis seperti yang papa lakukan padanya! " Perintah Fadil.
Ya, Siska lebih baik di kurung supaya dia bisa berfikir. Dan dia juga bisa bertobat untuk menjadi yang lebih baik.
"Baik, Tuan. "
"Mari nyonya,"
"Jangan sentuh-sentuh saya! Saya bisa berjalan sendiri! " yang pasti Siska akan menolak saat kedua penjaga itu ingin menyeretnya.
"Kamu tidak apa-apa kan, Rin? saya minta maaf karena kekacauan ini," ucap Fadil.
"Tidak apa-apa, Fadil. Saya maklum, Siska hanya syok saja," jawab Airin, "Saya pamit, Fadil. Saya masih banyak pekerjaan."
"Iya, sekali lagi maaf," ucap Fadil yang benar-benar menyesali perbuatan Siska barusan.
Airin hanya tersenyum kecil. Meskipun di dalam hatinya dia sedikit marah tapi dia tetap tak bisa membalas Siska, apalagi sekarang Siska tengah hamil, "Assalamu'alaikum.. "
"Wa'alaikumsalam... "
###**
__ADS_1