Cinta Untuk Airin

Cinta Untuk Airin
161. Maafkan Aku Yang tak Sempurna


__ADS_3

Tiga tahun kemudian...


/////


"Hay manis, apa kabar hari ini? apa masih sakit? " suara yang sangat lembut dari seorang David Candra kepada pasien kecil yang masih duduk lemas di atasnya kasurnya.


Hari-hari David jalani dengan sepenuh hati merawat memeriksa semua pasien-pasiennya, salah satunya adalah pasien kecil, mungil, cantik juga sangat manis di hadapannya sekarang.


David selalu berusaha terbaik untuk semuanya, tapi rasanya David sangat spesial saat melihat gadis kecil ini yang beberapa hari lalu dia temukan dalam keadaan pingsan di jalan raya.


Gadis kecil itu tersenyum semanis mungkin untuk bisa menutupi wajahnya yang pucat karena sakit yang dia derita, "Sila sudah tidak sakit lagi kok, Pak Dokter. Kan ada pak Dokter yang selalu jagain Sila," ucapnya dengan bibir mungil yang terlihat sangat menggemaskan.


"Oh, ya?" David begitu terpukau dengan gadis kecil itu dan Sila langsung mengangguk mengiyakan, "anak pintar dan penurut pasti akan cepat sembuh, jadi Sila sekarang minum obatnya supaya cepat pulih oke,"


Sila mengangguk lagi, mulutnya juga langsung menganga saat tangan David terulur untuk memberikan obat padanya. Sila menelan obat pemberian David bersamaan dengan air putih yang David berikan padanya.


"Bagaimana, apakah pahit obatnya?" tanya David dengan terus memandangi Sila dengan serius.


"Pahit sedikit, tapi kata Pak Dokter kan tidak apa-apa, jadi meskipun pahit Sila harus menelannya ,kan untuk kesembuhan Sila juga," jelasnya "Terima kasih, Pak Dokter," ucapnya lagi begitu senang.


"Anak pintar, sekarang istirahatlah. Sampai bertemu besok, manis," David mengusap lembut pipi Sila.


David benar-benar pergi setelah Sila merebahkan tubuhnya dan David seketika menyelimutinya dengan rapi.


Dari luar ruangan Airin tengah menitihkan air mata karena begitu sedih, seandainya saja Airin bisa memberikan seorang anak saja untuk David mungkin keluarga kecil yang mereka bangun akan sangat lengkap dan akan sangat bahagia.


Semua cara sudah David juga Airin lakukan. Berbagai obat juga sudah mereka konsumsi untuk bisa membuat Airin hamil namun Tuhan belum memberikan kepercayaan itu padanya.

__ADS_1


Sudah berkali-kali Airin juga David melakukan bayi tabung namun sekalipun tak ada yang berhasil. Airin hanya bisa pasrah sekarang, bahkan kesehatan Airin kadang juga tiba-tiba drop karena dia terlalu banyak pikiran.


Siklus menstruasi Airin juga tak teratur seperti dulu sebelum dia hamil dan keguguran, kadang dia akan menstruasi hampir satu bulan penuh dan hanya beberapa hari saja dia suci namun kadang dua sampai tiga bulan dia tidak akan menstruasi.


"𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘶𝘳𝘯𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢? 𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘵𝘶𝘳𝘶𝘯𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘋𝘢𝘷𝘪𝘥? " batinnya pilu.


"𝘚𝘦𝘢𝘯𝘥𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘭𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶? 𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘋𝘢𝘷𝘪𝘥 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶? "


Airin begitu sedih, dia begitu mencintai David, dia ingin melihat David dan keluarganya bahagia namun dia juga tidak mau kehilangan mereka semua, ini akan sangat berat untuk hidupnya jika dia harus kehilangan David.


Airin terduduk dengan lemas di kursi tunggu, kedua telapak tangannya menutup penuh wajahnya yang menunduk dan menyembunyikan air matanya dari dunia.


Airin terus terdiam dalam kesedihan sampai-sampai dia tak menyadari kedatangan David yang kini sudah duduk di sebelahnya.


"Yank," panggil David dengan lirih, tangannya menyentuh bahu Airin dan menyadarkannya.


"Kenapa kamu menangis, apa ada yang menyakitimu? " tanya David. David memegang dagu Airin mengangkat wajahnya supaya dia bisa melihat dengan teliti apa yang kini terjadi pada Istrinya.


"Hem..., apa kamu sakit?" tanya David lagi namun Airin tetap menggeleng.


Airin merasa sangat bersalah pada David, dia menyalahkan dirinya sendiri karena David harus menjalani hidup yang tak sempurna karena tidak bisa menjadi seorang ayah.


"Maafkan aku, maafkan aku," ucapan Airin dengan tersedu-sedu, wajahnya kembali menunduk dia tak sanggup memandang mata David.


David bingung, kesalahan apa yang di lakukan Airin sehingga dia terus meminta maaf padanya. Rasanya Airin tak pernah melakukan kesalahan tapi kenapa dia begitu merasa bersalah.


"Hey..., coba jelaskan pada ku, Yank. Apa kamu melakukan kesalahan?" tanya David namun Airin malah semakin terisak dan membuat David semakin bingung.

__ADS_1


"Kamu ada apa, bicaralah kalau ada masalah, Yank. Semuanya bisa kita bicarakan baik-baik," kedua tangan David sudah berhasil memegangi kedua bahu Airin membalikkan tubuh yang terlihat lemah itu untuk menghadap ke arahnya, "hem.., sekarang katakan padaku, apa yang telah terjadi."


Bukannya mengatakan sesuatu pada David kini Airin malah langsung memeluk David membuatnya semakin khawatir dan juga bingung tentunya.


David membalas pelukan itu, dia ingin membuat Airin tenang dan nyaman dalam dekapannya. meskipun dia belum tau apa masalah sebenarnya.


"Maafkan aku yang tak sempurna, aku tak bisa memberikan mu satu anak saja, maafkan aku," Airin semakin terisak.


Berat memang ujian Airin, bukan hanya untuknya saja, ujian terberat seorang wanita ketika dia tak bisa mengandung dan memberikan keturunan untuk suami tercintanya.


David tau sekarang, Meskipun David sangat menginginkannya tapi dia tidak akan pernah egois untuk menekan Airin, dia sangat mencintai Airin dia tidak akan pernah memiliki niat untuk membagi cintanya pada orang lain apalagi meninggalkan Airin demi seorang anak.


David sudah cukup bahagia dengan Airin, jika mereka tidak bisa memiliki seorang anak kandung tak akan menjadi masalah, masih banyak anak tanpa orang tua yang bisa mereka adopsi untuk mereka jadikan anak.


"Sudah sudah, bukankah masalah ini sudah kita bicarakan. Aku tidak akan mempermasalahkan semuanya, kita tidak tau entah itu aku atau kamu yang tidak sempurna, tapi apapun yang terjadi aku hanya menginginkan kamu seutuhnya untuk menjadi pendamping hidupku."


"Lebih baik kita pulang sekarang kamu pasti lelah," ucap David begitu lembut.


"Tapi, Yank. Bagaimana kalau aku memang tidak akan pernah bisa memberikan kamu keturunan, apakah kamu akan meninggalkanku?" tanyanya dengan takut.


"sstttt..., jangan berpikir macam-macam. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, kita akan selalu bersama selamanya. "


"Hem... "


____


######

__ADS_1


__ADS_2