Cinta Untuk Airin

Cinta Untuk Airin
Terancam


__ADS_3

Saat Airin akan menjawab pertanyaan Sofiana. Mata Airin melihat Kania yang berdiri di ujung tangga dengan masih memakai piyamanya. Kania melambaikan tangan pada Airin, isyarat agar Airin tidak menceritakan pada mamanya.


Kemarin Kania sudah susah paya membujuk kakaknya untuk tidak menceritakan kejadian yang menimpa Airin pada Sofiana.


Kania takut jika mamanya mengetahui kejadian yang sebenarnya maka dia akan mendapat hukuman uang jajan yang di potong 50%. Padahal baru beberapa hari uang jajan Kania kembali, setelah di potong Sofiana saat Kania pergi dari rumah beberapa minggu lalu.


Sofiana mengerutkan dahi melihat Airin yang hanya diam saja. Dia sempat akan menoleh pada ara pandang Airin, tapi kemudian ia urungkan saat Airin membuka suara.


"Ng ... kemarin saya tidak sengaja terjatuh Nyonya ketika berada di kamar mandi," jawab Airin.


"Oh ... kamu harus lebih berhati-hati lagi," ujar Sofiana.


Airin hanya tersenyum kaku dan menganggukkan kepalanya menangapi ucapan Sofiana.


Sedangkan Kania cepat-cepat berlari ke dalam kamarnya saat mengetahui Sofiana yang juga akan berjalan ke arah kamarnya yang berada di samping kamar Kania.


Padahal tadi Kania berniat untuk ke dapur mengambil air dingin, karena air di kamarnya sudah habis. Tapi langkahnya terhenti ketika mendengar pertanyaan mamahnya pada Airin.


Tok.


Tok.


Tok.


Terdengar suara ketukan pada kamar Kania. Kania dengan segera berbaring di ranjang dan memejamkan matanya.


"Non Kania," panggil Airin dari luar kamar. Karena tidak ada sahutan dari dalam.


Mata Kania seketika terbuka lebar, waktu mengetahui orang yang mengetuk pintu kamarnya adalah Airin. Dengan cepat turun dari ranjang dan berlari ke arah pintu.


Klek.


Saat pintu terbuka Kania dengan cepat menarik tangan Airin untuk masuk ke dalam kamarnya. "Huh ... aku kira yang mengetuk tadi, Mama," ucap Kania dengan bernafas lega.


"Memangnya kenapa Non, kalau Nyonya Sofiana yang datang?" Airin yang bingung melihat gelagat majikanya itu.


"Aku dan Kak Bian tidak memberi tahu Mama tentang kejadian kemarin. Aku takut kalau Mama tau aku membuat ulah, uang jajanku bisa di potong lagi," jelas Kania dengan membayangkan hal yang menakutkan menurut dirinya.


Airin tidak menyangka jika Sofiana akan setegas itu pada Kania, padahal menurut Airin Sofiana adalah seseorang yang begitu baik dan memang sedikit tegas. Tapi Airin, yakin itu adalah bentuk kasih sayangnya pada anaknya.

__ADS_1


Kania berjalan ke arah ranjang berniat untuk melanjutkan tidurnya.


"Non, apa Nona Kania tidak mandi?" tanya Airin yang melihat Kania sudah berbaring.


"Iya Kak, sebentar," sahut Kania tapi tidak beranjak dari ranjang.


Airin menghembuskan nafasnya pelan. Padahal mamanya sangat tegas, dan kelihatanya Kania juga takut saat melihat Sofiana marah. Tapi, Kania lupa akan hal itu.


Airin segera membuka lemari milik Kania, dan menyiapkan apa saja yang di perlukan. Mulai dari seragam, dalaman, hingga kaos kaki.


Saat semuanya sudah beres, ekor mata Airin melihat Kania yang masih nyaman dengan posisinya.


"Non, ayo bangun. Nanti kesiangan, Nyonya pasti marah." Airin yang mencoba menggunakan Sofiana sebagai alasan. Dan benar saja, Kania langsung bangun dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


"Padahal takut, tapi masih saja uji nyali," gumam Airin seraya berjalan ke arah ranjang yang seperti kapal pecah itu. Dan dengan cekatan Airin mulai merapikannya.


Bahkan di dalam kamar itu banyak sekali bungkus snack yang berceceran. "Bagaimana bisa, gadis secantik Kania tapi kamarnya sejorok ini. Pantas saja Nyonya Sofiana memberinya baby sitter." Airin yang bermonolog, tangannya memunguti sampah makanan itu satu persatu hingga tak tersisa.


Tak lama Kania sudah selesai dengan mandinya. Dengan rambut yang setengah basah dan tubuhnya yang terbalut selembar handuk.


"Kak Airin mana bajuku?" tanya Kania.


"Ada di atas kursi depan meja rias," jelas Airin.


Setelah rapi dengan seragam sekolahnya, Kania memoles tipis wajahnya dengan bedak dan liptint softpink. "Sudah, cantik." Kania yang memuji dirinya sendiri saat melihat bayangannya di cermin.


Airin hanya tersenyum melihat itu. "Ayo Non sarapan," ajak Airin dan keluar dari kamar majikanya.


Di meja makan sudah ada Sofiana yang mengoleskan selai coklat pada rotinya. Dan Kania yang juga duduk di sampingnya, juga melakukan hal yang sama.


Mata Airin menatap sekeliling, rasanya ada yang kurang. Hingga beberapa saat matanya bertatap dengan seseorang yang baru saja turun dari lantai dua.


Bian.


Dengan segera Airin menundukkan kepalanya.


Bian melewati Airin begitu saja yang berdiri di belakang Kania dengan membawa tas sekolah majikanya itu.


"Kak Airin, ayo kita sarapan." ajak Kania.

__ADS_1


"Iya, ikutlah sarapan dengan kami," Sofiana yang juga ikut mengajaknya.


Airin menggelengkan kepalanya. "Maaf, saya tadi sudah sarapan," tolak Airin. Mana berani Airin sarapan satu meja dengan majikanya. Dan tadi sebelum berangkat, Airin sudah membeli satu bungkus nasi. Hanya saja belum sempat memakannya.


"Oh, ya sudah kalau begitu," sahut Sofiana dan melanjutkan sarapannya.


Bian sekilas menatap Airin dan tertuju pada kening Airin yang masih tertempel kain kasa, akibat kejadian kemarin. "Apa lukamu, masih sakit?" tanya Bian tiba-tiba.


"Loh, kamu juga tau?" Sofiana yang merasa heran.


Sedangkan Kania matanya langsung melotot ke arah kakaknya. Sekarang dirinya merasa terancam.


"Uhm, Mah. Kania berangkat dulu ya!" pamit Kania yang langsung mencium punggung tangan Sofiana dan segera mengajak Airin pergi dari sana.


Bian hanya tersenyum simpul melihat kelakuan adik perempuannya itu saat keluar dengan tergesa bersama pengasuh barunya


Saat sudah berada di teras rumah, Kania segera menghentikan kakinya. "Hampir saja. Sial, Kak Bian sepertinya sengaja," gerutu Kania. Mengingat apa yang di lakukan kakaknya barusan.


"Ini," Airin menyerahkan tas sekolah Kania.


"Untuk apa?"


"Bukankah tadi katanya mau berangkat sekolah?" Airin mengingatkan.


Kania segera melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Ya ampun, ini masih terlalu pagi," ucap Kania saat tau masih jam 06.50." Sedangkan sekolahnya masuk jam 08.00. Tapi bagaimana lagi Kania sudah terlanjur berbohong.


"Kak Tio!!" panggil Kania.


Hingga tak lama Tio menghampiri Kania. "Ada apa Non?"


"Ayo kita berangkat sekarang."


"Apa ini tidak terlalu pagi?" Tio heran majikanya yang rajin berangkat sekolah. Biasanya memang majikanya itu selalu berangkat kalau jam masuk sekolahnya sudah mepet, dan Tio yang di suruh mengemudi lebih cepat.


"Tidak," jawab Kania dan menoleh ke arah Airin. "Kak Airin aku berangkat dulu ya." Setelah itu berlari menuju mobil yang akan mengantarnya.


Airin kembali masuk ke dalam rumah, setelah mobil Kania sudah melaju pergi. Langkahnya menuju arah dapur, di mana tadi dia meletakkan tasnya. Tangannya mengeluarkan sebungkus nasi yang tadi sempat ia beli. Saat akan memasukkan suapan pertamanya, tiba-tiba saja ada seseorang yang datang.


"Ehm ...."

__ADS_1


...----------------...


Jangan lupa vote, like dan komen. Terima kasih, semoga sehat selalu. Amin.


__ADS_2