
___
Wajah Airin terlihat sangat cemberut, dia ingin sekali pulang dari rumah sakit tapi David belum mengizinkannya. Airin sudah sangat tidak suka karena bau obat yang begitu menyengat masuk ke dalam hidungnya.
Sebenarnya cukup aneh Airin adalah seorang dokter tapi dia tidak kuat mencium obat tapi mau bagaimana lagi itu adalah pengaruh dari kehamilannya.
"Sayang, Ayo kita pulang sekarang aku sudah tidak tahan berada di sini rasanya semakin lemas saja karena bau obat yang sangat tidak enak," pinta Airin.
"Besok, Sayang. Aku janji kita akan pulang besok, harus ini kamu betah-betahin dulu ya, semua ini kan untuk kebaikan kamu juga anak kita juga. Aku tidak mau menasehati mu panjang lebar karena aku yakin kamu sendiri juga tau mana yang terbaik," jawab David yang masih tak mengizinkan Airin untuk pulang.
Airin membalikkan wajahnya, dia sangat kesal seketika suasana hatinya menjadi buruk.
"Jangan marah dong, lagian ini kan juga sudah malam angin malam tidak akan ada baik kan untuk kesehatan kalian," ucap David lagi.
Airin masih tak bergeming, dia begitu menginginkan untuk pulang. Semenjak tau dia hamil rasanya dia lebih keras kepala dari sebelumnya, biasanya dia akan menurut apa yang David katakan tapi sekarang? entahlah, mungkin itu karena pengaruh hormonnya yang tidak stabil.
Waktu hamil dulu Airin juga tak begitu keras seperti sekarang ini, tapi ini sungguh luar biasa, mungkin anaknya ini sungguh luar biasa nakalnya.
"Jangan ngambek begitu dong, Sayang. Sekarang kamu tidur, besok pagi kita pulang," David terus merayu Airin meski rasanya sangat begitu susah.
Mungkin Airin juga sangat bosan karena tidak ngapa-ngapain selama tiga hari ini.
"Sudah dong, jangan cemberut terus. Kasihan dedeknya, Sayang," David terus merayu Airin tapi sepertinya tak akan semudah itu.
__ADS_1
*******
Tak ingin Airin terus ngambek akhirnya David menuruti apa yang menjadi keinginannya, setelah di pastikan semuanya baik-baik saja kini David membawa Airin pulang.
Melihat rumahnya membuat Airin begitu senang, bahkan senyumnya juga terus lebar dengan wajah sumringah.
"Terima kasih, Sayang," Sebelum keluar dari mobil Airin mengecup pipi David sekilas, dia sangat bahagia bahkan sakitnya kemarin terasa hilang begitu saja.
David tersenyum, dia juga sangat bahagia bisa kembali melihat Airin yang terus tersenyum. Kebahagiaannya adalah kebahagiaan David, kalau Airin bahagia David pun juga akan bahagia namun juga sebaliknya.
Airin membuka pintu mobil sendiri karena tidak sabar, dia begitu merindukan rumahnya yang sudah tiga hari ini tidak dua lihat.
Melihat Airin yang begitu antusias membuat David takut, dia khawatir dan langsung keluar mengejarnya, "Sayang, pelan-pelan dong! " ucapnya dengan sedikit berteriak.
"Assalamu'alaikum...! " serunya dengan suara yang begitu lantang.
Meskipun sudah malam tapi semua asisten juga penjaga masih terjaga, mereka belum tidur untuk menyambut kepulangan dari majikannya.
Kebahagiaan Airin membuat semua isi rumah juga sangat bahagia, terlihat jelas senyum mereka semua saat kedatangan Airin juga David.
"Selamat ya, Bu. Semoga Ibu dan dedeknya sehat-sehat terus," satu asisten rumah menghampiri Airin menghadangnya untuk mengucapkan selamat padanya.
"Selamat ya, Bu, Pak." susul yang lainnya, dan semua yang ada di sana mengucapakan selamat untuk Airin juga David.
__ADS_1
"Amin, terima kasih untuk doanya," jawab Airin.
Airin langsung menoleh ke arah David saat suaminya itu berdiri di sampingnya dan merangkulnya, kebahagiaan mereka sangat terlihat dan sebentar lagi keluarga kecil mereka akan sempurna dengan kedatangan bayi mungil yang sangat menggemaskan, yang suaranya akan memenuhi rumah itu.
"Bi, semuanya sudah beres kan?" tanya David.
Airin menoleh lagi, dia bingung apanya yang beres? David tak menceritakan apapun padanya di rumah sakit, "Sayang, apanya yang beres?" tanya Airin penasaran.
"Sudah, Pak. Semua barang-barang Ibu dan Bapak sudah di pindahkan di kamar bawah," jawab Asisten.
"Maksudnya? " Airin mengernyit, dia masih tak mengerti apanya yang di pindahkan ke bawah.
"Begini sayang, mulai sekarang kamar kita tidak akan ada di lantai dua. Selama kamu hamil kamar akan ada di lantai satu."
"Aku tidak ingin kamu kelelahan karena setiap hari harus naik turun tangga," jawab David menjelaskan.
"Tapi, Yang? aku lebih suka di atas," wajah Airin tampak tak semangat, dia lebih menginginkan tidur di kamar biasa daripada di kamar bawah. Kalau di atas lebih segar karena bisa melihat pemandangan sekitar juga.
"Sudah, sekarang kamu harus nurut. Kamu juga tidak boleh pergi-pergi kecuali pergi dengan ku," ucap David lagi.
"Hemm, baik deh," wajah Airin kembali berbinar, dia berjalan cepat menuju kamar barunya di yang ada di bawah.
"Sayang, pelan-pelan!" David ngeri sendiri melihatnya. Sementara Airin kembali seperti anak kecil yang begitu bahagia karena mendapatkan mainan baru.
__ADS_1
#######