Cinta Untuk Airin

Cinta Untuk Airin
154. Nasib Siska


__ADS_3

###


Semakin lama perut Siska juga semakin membesar, dalam menjalani kehamilan itu dia tak seberuntung seperti wanita pada umumnya. Bukan hanya karena tidak mendapatkan perhatian dari suaminya tapi dia juga kehilangan satu persatu harta yang sudah dia dapatkan.


Hidupnya semakin lama semakin nelangsa, dia kehilangan semua harta benda dan kini dia seolah menjadi tahanan dari Arman yang gak mau menceraikannya dan juga tak memberikan perhatian selayaknya istri.


Ruang gerak Siska pun juga terbatas, dia tak boleh pergi kemana-mana, terkurung di rumah dengan puluhan penjaga yang selalu standby 24 jam setiap harinya.


Setiap keinginannya juga tidak pernah di hiraukan oleh Arman, hanya sekedar ingin makan nasi goreng dari salah satu restoran pun dia tidak dapatkan. Sungguh hidupnya begitu nelangsa, hidupnya seperti sia-sia.


"Kenapa hidupku menjadi seperti ini?" gumamnya dengan begitu lemah.


Siska nanya duduk seorang diri di dalam kamar, bahkan pintunya juga di kunci dia sama sekali tidak di perbolehkan menghirup udara di luar, Arman begitu sadis memperlakukannya.


Meskipun dalam keadaan hamil, Arman juga tak peduli jika dia ingin menyentuh Siska dia akan datang ke kamar dan melakukan berbagai cara supaya dia bisa menyentuhnya.


"Semua ini gara-gara Airin, wanita itu yang membuat ku menjadi seperti ini. Suatu saat aku pasti akan membalas mu, aku tak akan membiarkan kamu dan semua keturunan mu akan bahagia."


Ternyata apa yang terjadi pada Siska sekarang beliau juga membuat dia berubah, dia masih saja tetap sama membenci Airin. Padahal Siska sendiri yang memulai semua permasalahan mereka, tapi dia selalu saja menyalahkan Airin.


Terdengar suara pintu yang mulai di buka kuncinya, Siska yakin itu adalah salah satu pelayan dari Arman yang akan memberikan makan malam untuknya.


"Malam, Nyonya," Ternyata benar, orang itu adalah pelayan yang membawa nampan yang berisi piring juga gelas penuh dengan isinya.


"Hem.. " jawab Siska singkat juga tidak semangat sama sekali.

__ADS_1


Pelayan itu berjalan mendekat menaruh apa yang dia bawa di atas meja, "Ini makan malam, Nyonya, juga ada vitamin dan obat dari dokter yang harus anda minum," Ucapan nya begitu sopan, sepertinya dia sangat menghormati dan mengakui bahwa Siska adalah Nyonya di rumah itu.


"Hem.. " Jawab Siska dengan singkat lagi.


Setelah mendapatkan jawaban dari Siska pelayan itu kembali keluar dan tentunya langsung menutup lagi pintu dan menguncinya.


"Aku seperti hewan peliharaan saja di sini, Si tua bangka itu sangat keterlaluan. Tunggu saja setelah aku melahirkan, aku akan membalas semuanya,"


Siska beranjak, berpindah duduk ke sofa dan mengambil makan malamnya, dia sudah sangat lapar di kehamilan yang hampir berumur empat bulan itu membuatnya sering lapar.


Selalu saja makanan yang tak menyelerakan yang Siska dapatkan. Hanya sup juga tempe saja yang menjadi teman untuk nasinya.


"Katanya orang kaya, makanan hanya begini-begini terus," gerutunya.


"Lagian, dia mengakui ku sebagai istrinya tapi kenapa makanan yang di berikan seperti makanan pembantu. Apa si tua bangka itu juga tidak memikirkan anaknya?"


Obat juga sudah Siska telan hingga habis, dan di saat itu pintu kembali terbuka. Siska mengerutkan dahi karena Arman yang masuk, tak biasanya Arman akan datang, lagian juga sudah satu bulan Arman tidak pernah datang lagi.


Arman menyeringai, dengan tangan yang mengunci pintu kamar itu. Siska sadar ini tidak baik, Arman pasti ingin melakukan sesuatu padanya.


"Apa yang ingin kamu lakukan!" suara Siska meninggi, Siska juga sudah berdiri dengan tegang.


Arman terus berjalan mendekat, senyuman nya terus keluar namun semua devil yang membuat Siska mulai ketakutan.


"Menjauhlah dari ku, pergi! " teriak Siska.

__ADS_1


Namun itu tak ada artinya bagi Arman dia akan tetap melakukan apapun yang dia kehendaki.


"Kenapa harus takut, Sayang. Aku ini suamimu loh. Jadi aku bebas melakukan apapun padamu," Jawa Arman.


Jarak Arman semakin dekat dan saat itu kepala Siska mulai merasa pusing.


"Apa yang kamu berikan padaku, hah! "


"Bukan apa-apa, hanya sedikit vitamin saja supaya kamu lebih kuat dan menjadi penurut," jawab Arman begitu santai.


"Dasar baj*ngan! " kesal Siska, namun kesadaran perlahan-lahan mulai hilang.


π˜‰π˜³π˜Άπ˜¬π˜¬....


Siska yang akan jatuh langsung di tangkap oleh Arman, tubuh yang mulai berisi itu langsung di angkat dan di rebahkan di kasur oleh Arman.


Siska yang hanya menggunakan daster rumahan yang kebesaran membuat Arman lebih mudah untuk membukanya bahkan dalam sekali tarikan saja Arman bisa melihat tubuh Siska yang semakin berisi.


"Kau akan selalu menjadi peliharaan ku Siska. Kau salah jika ingin melawan ku."


Satu persatu semua di lucuti oleh Arman, dan dia juga langsung membuka semua yang dia pakai, "Tak masalah ini di sebut pelecehan, dia adalah istriku," Arman yang sudah gak tahan melihat tubuh bugil Siska langsung menikmatinya dan menyatukan diri pada Siska di bawah sadar dari Siska.


Meskipun dalam tak sadar namun Siska sesekali mengerang dan menggeliat kenikmatan membuat Arman puas dan semakin gencar melakukannya.


"Maafkan papa ya sayang, papa tidak mau menyakitimu, papa hanya mau menjenguk mu saja," Tangannya mengusap perut buncit Siska dan beberapa kali dia juga menciumnya sepertinya Arman juga mulai menerima anak itu.

__ADS_1


______


__ADS_2