
****
ASTON Batam Hotel dan Residence, di sanalah Airin dan David sekarang. Setelah menempuh perjalanan panjang akhirnya David dan Airin sampai juga di salah satu hotel yang ada di kota Nagoya, Jepang.
Nagoya adalah ibu kota Prefektur Aichi, Jepang. Kota ini terletak di pesisir Samudra Pasifik di wilayah ChΕ«bu, bagian tengah Pulau Honshu. Letaknya di tengah-tengah antara Tokyo dan Kyoto, sehingga kota ini sering disebut ChΕ«kyΕ. Nagoya merupakan kota terbesar keempat di Jepang dalam jumlah penduduk.
Awal masuk di dalam kamar yang super mewah itu sudah membuat mata Airin dan David terpana. Kamar yang bernuansa putih sungguh terlihat bersih.
Tubuh yang benar-benar lelah membuat David langsung menghempaskan tubuhnya nya di atas kasur yang sangat empuk dan luas yang sudah tersedia, "Ah.., lelahnya.. " celetuknya.
Airin masih di ambang pintu hanya bisa menggeleng halus melihat sikap David yang seperti anak kecil itu. Airin pun juga ikut masuk dan tak lupa menutup pintu dan menguncinya.
Berbeda dengan David, Airin langsung membuka kopernya mengambil beberapa pakaian lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah 15 menit di dalam kamar mandi Airin keluar dengan keadaan yang sudah bersih dan segar, dan tentunya dengan rambut yang basah karena habis keramas. Sembari mengeringkan rambut Airin menoleh ke arah David dan ternyata suaminya itu sudah memejamkan mata dengan pulas nya bahkan sepatunya masih menempel manis di kakinya.
Lagi-lagi Ririn menggelengkan kepalanya karena tak habis pikir dengan suaminya namun Airin tetap memakluminya mungkin suaminya memang benar-benar lelah karena dia terus menjaganya selama mereka ada di pesawat.
Tanpa membungkus rambutnya Airin melangkah maju melepaskan kedua sepatu David dan menaruh di tempat semestinya, bukan itu saja tetapi Airin yang melihat leher David terasa tercekik langsung menghampirinya dan melepaskan kancing dari jaket yang masih David kenakan.
"Ini akan membuatmu susah untuk bernafas." Ucap Airin.
Satu tetes air dari rambut Airin mengenai wajah David seketika membuatnya tersadar kalau istrinya ada di sana. David tersenyum tanpa sepengetahuan Airin yang masih berusaha untuk melepaskan kancing jaketnya.
"Baru juga sampai sudah menggodaku." Ucap David dengan senyum yang semakin lebar.
Airin yang tepat ada dua atas David memudahkan David untuk merengkuh pinggang Airin sehingga membuat tubuhnya jatuh tepat di adat tubuh David.
"Siapa yang menggoda mu aku hanya melepaskan kancing ini saja karena kamu terlihat susah untuk bernafas. "Jawab Airin mengelak, ya karena memang niatnya bukan untuk menggoda David, David aja yang terlalu kepedean.
Sedikit kecewakan dengan jawaban yang di berikan oleh Airin meskipun sebenarnya memang masuk akal. Leher David memang sedikit tercekik karena jaket yang ia pakai sendiri.
Tapi itu tidak masalah baginya, dia akan tetap menganggapnya kalau Airin sang istri tercintanya memang tengah menggodanya.
"Kenapa jawaban mu seperti itu, Sayang. Jawab saja begini, iya sayang aku memang sedang menggoda mu. Begitu.. " Ucap David yang sesuai dengan harapannya.
"Untuk apa aku menjawab seperti itu, aku kan memang tidak menggoda mu." Kekeuh Airin.
__ADS_1
"Ishh.., kau ini sesekali romantis gitu ngapa sih?" David sedikit kesal karena Airin yang masih tetap kekeuh pas pendiriannya, sedangkan David menginginkan hal lain.
"Sudah.. " Airin melepaskan tangannya setelah dia berhasil melepaskan kancingnya yang sangat susah, dia hendak beranjak dari atas tubuh David namun itu sepertinya tidak akan semudah itu untuknya bisa kabur.
David semakin erat memeluk pinggang Airin membuat Airin sangat susah untuk bisa melepaskan diri. "Mau kemana? Tanggung kalau yang dia lepaskan hanya kancing nya saja. Kamu sudah memulainya jadi jangan berhenti sebelum semuanya terlepas." Ucap David.
Airin menggeleng, dia juga berontak dengan memberikan pergerakan kecil dengan tangannya, "Lepas, Yank."
"Tidak akan, sebelum semuanya terlepas aku tidak akan melepaskan mu. " Jawab David dengan mengeluarkan kekuatannya untuk menahan Airin supaya tidak pergi.
Dengan sengaja David malah mengangkat tubuh Airin dengan tubuhnya, menggulingkannya lalu menindihnya dengan gerakan cepat.
David menyeringai penuh kemenangan, akhirnya Dia bisa ada di posisi itu, di mana David berada di atas tubuh Airin dan menguncinya dengan kedua tangan dan juga kedua lututnya.
"Kamu terlihat sangat segar, aku jadi ingin melahap mu saat ini juga. " Begitu tergiur David setelah melihat wajah Airin yang sangat segar tidak seperti saat mereka sampai di sana.
Airin masih diam membisu dengan mata terus memandangi wajah David yang terlihat lelah namun dia usahakan untuk terlihat semangat, mungkin karena dia tengah menginginkan sesuatu dari Airin.
"Boleh minta sekarang? " Tanya David dengan sangat berharap.
"Nanti sekalian mandi wajib kalau sudah selesai, ya ya ya... "
Melihat mulut Airin yang berkali-kali terbuka dan memperlihatkan lidahnya yang terus bergoyang di dalam sana membuat David begitu tak sabar ingin menemani berdansa di sana.
"Ta..., "
Belum juga Airin menyelesaikan kalimatnya, David sudah menyerbu dan menyatukan mulutnya dengan milik Airin. Membuat mata Airin hanya bisa terbelalak karena gerakan David yang begitu cepat.
David terus menikmati bibir Airin yang begitu manis seperti sebuah madu murni, berkali-kali dia mencecap nya hingga rasa itu semakin nikmat dia rasakan.
Tak Airin sampai di sana saja, Lidah David juga langsung masuk di dalamnya menari-nari dengan bahagia saat bertemu dengan pasangannya.
Lama saling bertaut Airin mendorong tubuh David karena dia kehabisan nafas. Setelah berhasil menjauhkan David dari dirinya Airin mengambil nafas dengan ngos-ngosan, David benar-benar tega membuat dirinya sesak.
"Kamu keterlaluan, Yank. " Protesnya.
"Hehehe.., maklum lah Yank. Sudah beberapa hari puasa, jadi lihat yang manis-manis langsung kebelet deh. " Jawab David.
__ADS_1
"Lanjutin ya. " Pinta David.
Airin mengangguk mengiyakan, sebesar apapun dia menolak ujung-ujungnya dia akan tetap kalah karena David tidak akan menerima apapun alasannya.
Namun kesialan terjadi, mereka harus mengurungkan niatnya untuk segera menyatukan cinta mereka setelah terdengar ringtone dari ponsel David.
ππ³πͺπ―π¨... ππ³πͺπ―π¨... ππ³πͺπ―π¨...
"Sial, nggak tau apa kalau ini lagi mau menikmati madu murni." Kesal David yang akhirnya duduk.
"Angkat dulu, Yank. " Suruh Airin.
David menggeleng, "Tidak mau. " Jawabnya dengan manja.
"Angkat, siapa tau penting." Desak Airin.
"Tapi.. "
"Angkat,"
"Iya iya.., tapi kamu hutang satu ronde ya, Yank. Dan ingat, hutang harus dijaga bayar. " Jawab David dengan semua katanya.
Airin mengernyit, dia tidak menginginkan ponsel David berbunyi jadi kenapa ini bisa di anggap hutangnya? Lagian yang berbunyi ponsel David bukan ponselnya.
Melihat nama yang tertera di layar sudah membuat David tambah tidak semangat untuk mengangkatnya, dia adalah Fani. "Katanya mau cepet-cepet minta cucu, tapi kerjaan gangguin terus. Kapan sampainya." Kesalnya.
"Sudah, angkat saja, Yank. "
"Ingat, hutang satu ronde." Jawab David menegaskan.
"Hufff.., iya iya. "
Mendapat jawaban dari Airin membuat David semangat, jatahnya akan nambah satu lagi, bisa puas deh nanti."Yes... "
"Assalamu'alaikum, Mi.. " Sapa David dengan malas.
########
__ADS_1