Cinta Untuk Airin

Cinta Untuk Airin
Menggunjing


__ADS_3

Airin hanya bisa membiarkan Lusi yang sekarang memboyong makanan ke dalam kamarnya. Seperti biasanya mereka akan makan bersama, dan di kamar Airin lah yang akan menjadi markasnya.


Airin tak habis pikir, padahal kosan mereka sama ukuran dan bentuknya. Tapi kata Lusi lebih nyaman jika makan di kamar Airin, padahal antara kamarnya dan kamar Airin tidak ada perbedaan.


"Tadi sebenernya gue kepingin ngajak lo makan di sana, tapi gue takut lo udah capek habis kerja." Sembari membuka bungkusan bakso yang tadi di belinya, Lusi juga menceritakan tukang bakso baru yang berjualan tidak jauh dari kantornya bekerja.


Airin kemudian melakukan hal yang sama, mulai membuka bungkusan bakso yang di belikan oleh Lusi. Airin mengakui, jika Lusi adalah sahabat yang terbaik. Lusi selalu ada saat ia membutuhkan bantuan, dia tidak kebanyakan sahabat pada umumnya yang ada saat kita senang dan menghilang saat kita susah.


Setelah Airin selesai memindahkan bakso ke dalam mangkok, ia mengambil dompet yang berada di tasnya. "Ini buat ganti uang baksonya," ia menyerahkan uang lima puluh ribu pada Lusi.


Lusi yang baru melahap beberapa suap bakso kemudian menoleh pada Airin. "Udah nggak usah, kapan-kapan aja buat gantian." tolaknya. Karena Airin sendiri juga sering membelikan makan untuknya, jadi apa salahnya jika bergantian.


"Beneran?" Airin masih menyodorkan uangnya. "Gajian kan masih lama."


"Iya, beneran. Gue masih punya simpanan, cukup buat sampai gajian." sahut Lusi.


Makan malam kali ini hanya di isi hanya mereka berdua, karena biasanya Pras juga akan ikut. Tapi tadi Pras sedang ada urusan hingga tidak bisa makan bersama.


Selesai makan bakso yang cukup mengenyangkan, Lusi segera kembali ke kamarnya. Karena ia tadi hanya menumpang makan di kamar Airin.


Malam sudah semakin larut, tapi mata Airin masih tidak bisa untuk terpejam. Ia mengambil ponselnya, dan tujuannya sekarang adalah membuka galeri.


Matanya tertuju pada foto sang ayah dan ibu yang dulu pernah ia ambil. Seketika rasa rindu menyeruak di hatinya. Tak pernah tinggal jauh dari keluarga, membuatnya merasa sangat rindu. Meskipun sikap keluarga yang tak pernah adil terhadapnya, lantas tidak membuatnya begitu saja membenci keluarganya. Hanya saja rasa kecewa yang ia bawa pergi.

__ADS_1


Apalagi ketika ia mengingat ketika ia bersama Sofiana berkunjung di panti, ada rasa syukur yang ia miliki karena masih memiliki kedua orang tua.


Airin menatap langit-langit kamar dengan pikirannya yang melayang jauh. "Sampai kapan akan begini?" gumamnya.


Tapi setidaknya di sini ia beruntung banyak di pertemukan dengan orang baik, meskipun tidak semuanya seperti Alina.


Hingga tak terasa, akhirnya mata itu terpejam dengan sendirinya.


*


*


Hari hari berikutnya di lalui Airin tanpa hambatan. Semuanya berjalan dengan lancar.


"Kak Airin hari ini ikut aku sekolah lagi ya?" Semenjak Airin pernah mengantarkannya sekolah dan menunggunya sampai pulang, Kania selalu meminta Airin setiap hari untuk mengantarkannya.


Setelah acara sarapan selesai kedua gadis itu langsung berangkat ke sekolah, dengan Tio yang akan menjadi supirnya.


Tak butuh waktu lama, mobil yang di kendarai Tio sudah sampai di sekolah Kania.


"Kak Airin aku masuk dulu," pamit Kania sebelum berjalan masuk ke arah sekolahan.


"Yang semangat belajarnya," teriak Airin yang mendapat acungan jempol dari Kania.

__ADS_1


Setelah majikannya pergi, Tio langsung menuju warung kopi. Ia akan menunggu di sana hingga Kania pulang sekolah. Mungkin dulu ia akan menunggu di dalam mobil, tapi semenjak Airin ikut ia memutuskan untuk pergi. Karena rasanya tidak akan pantas seorang laki-laki dan perempuan berada di dalam mobil dengan waktu yang cukup lama.


Saat jam istirahat tiba, Kania langsung menghampiri Airin. Ia akan mengajaknya untuk makan bersama. Kania sebenarnya bukan gadis pemilih dalam berteman, hanya saja ia sejak dulu memang sulit jika berteman. Dan jumlah sahabatnya pun bisa di hitung dengan jari.


Siang ini menu makan mereka adalah batagor pinggir jalan. Di saat acara makan mereka di mulai, di situlah Kania akan selalu menggunjing kakaknya, siapa lagi kalau bukan Bian.


"Kak, apa kakak tau--"


"Tidak," sahut Airin dengan menahan tawa. Ia tau habis ini gadis yang di asuhnya itu akan marah karena ia menyela pertanyaannya.


"Ish kakak," kesal Kania seperti dugaan Airin. "Aku belum selesai, jangan di potong." sungutnya.


Di saat itulah Airin melepaskan tawanya, entah kenapa Airin senang sekali menggoda Kania. Majikannya itu akan sangat lucu jika sedang kesal. "Baiklah, baiklah. Ya sudah, tau apa?" ia mulai menyimak.


Kania yang tadi sempat kesal kini ia semangat kembali untuk menggunjing kakaknya. "Kak Bian itu sebenarnya udah tua, tapi belum juga mau menikah. Padahal Kak Alex sepupunya yang umurnya sama sudah mau punya anak."


"Padahal Kak Bian itu tampan, pasti nggak susah untuk memilih pacar. Tapi ya itu, dia masih saja tetap sendiri."


"Dulu, aku dengar-dengar dia punya pacar tapi nggak tau kenapa mereka tiba-tiba putus. Dan nggak lama setelah itu, ternyata aku baru tahu kalau mereka putus karena ceweknya udah nikah." Kania bercerita dengan menggebu-gebu, bahkan batagor yang ada di piringnya masih utuh.


Airin hanya mengangguk anggukkan kepalanya untuk menanggapi, ia tidak tau harus menanggapi seperti apa. Selain ia memang tidak terlalu mengenal Bian, ia juga tidak mau ikut campur urusan orang lain.


...----------------...

__ADS_1


...Jangan lupa untuk dukungannya ya ☺. Terima kasih 🙏 semoga sehat selalu 🤲. ...


...Sidoarjo, 22:11...


__ADS_2