
_______
David berjalan seorang diri, tak seperti biasa yang selalu dengan Airin dan juga dua sahabatnya sekarang dia harus pergi ke laboratorium. Semuanya sudah ada di sana, hanya saja dia terlambat karena dia habis dari toilet.
David berjalan begitu santai, keadaan tempat itu juga sangat sepi jadi langkah nya tak akan ada hambatan sama sekali.
" Haduh.. Sebenarnya.. " Ucapan David terhenti karena ada seseorang yang memanggilnya, sontak dia menoleh.
" David.. " Teriak orang itu begitu girang, apalagi setelah panggilan nya di sambut oleh David yang langsung menoleh kearahnya.
Orang itu berlari kecil menghampiri David yang berdiri dengan tenang namun dengan wajah yang tak bisa di artikan, antara sebal dan juga tak perduli beradu menjadi satu.
" Apa.! " Jawab David begitu ketus.
" David,, aku... Aku mau minta maaf. " Ucap orang itu yang tak lain adalah Siska.
" Apa kamu punya salah?. " Tanya David judes.
" Aku banyak salah, Dav. Dan aku mengakuinya, aku benar-benar menyesal aku ingin kamu memaafkan ku. " Ucapnya dengan penuh harap.
" Syukurlah kalau kamu sadar diri. Aku sudah maafin kamu, Allah saja maha Pemaaf kenapa aku tidak. " Jawab nya.
" Makasih David!. " Tangan Siska sudah merentang dia siap menubruk David.
" Eits... Bukan berarti kamu bebas melakukan apapun yang kamu mau, ya. Aku memaafkan mu bukan berarti kamu berhak atas diriku. Lebih baik kamu jauh-jauh dariku kalau kamu memang mau aku memaafkan mu. " Sinis David dengan tangannya terangkat dan jari telunjuknya berdiri untuk mencegah Siska yang ingin memeluknya.
" Maaf, aku hanya begitu senang. " Siska menunduk.
" Hem.. "
" Tapi aku bisa kan jadi teman mu, aku ingin bisa punya teman dan sahabat seperti kalian, aku ingin bahagia juga. " Ucap Siska sedih.
" Semua itu tergantung kamu, kalau kamu benar-benar berubah kenapa tidak! Kita semua bisa berteman dan bisa menjadi sahabat. " Jawab David.
" Benarkah?. "
" Tentu saja. " Jawab David dan langsung menerbangkan angan-angan dari Siska. " Aku pergi dulu, semuanya sudah menungguku di laboratorium. " Pamit David.
" Hmm. " Siska mengangguk, dia berubah senang akhirnya dia bisa di maafkan dan dia juga bisa berteman dan bersahabat dengan semuanya.
David sudah percaya dan sekarang hanya tinggal Airin, Mitha dan Rico saja yang tersisa. Meskipun setan mudah dia akan berusaha untuk menyakinkan mereka kalau dia benar-benar ingin berubah.
_____
Penelitian sudah mulai di lakukan oleh semuanya, Airin, Mitha dan Rico sudah sibuk. Tapi David belum juga nongol dan memperlihatkan batang hidungnya.
" Rin, David kesasar kemana? Bukannya dia hanya ke toilet, apa toilet nya di rumah kalian?. " Tanya Mitha.
Airin mengedikkan bahunya dia juga tak tau David pergi ke mana. Kalau hanya ke toilet sih seharusnya sudah kembali.
__ADS_1
" Mungkin antri. " Jawab Airin .
" Mungkin sih. " Mitha mengangguk.
" Sebentar lagi selesai nih, tapi mana tuh pangeran kodok. " Celetuk Rico.
" Sedang mengundang hujan di pulau sebelah. " Jawab Airin.
Gelak tawa pun datang pada mereka bertiga. Dan di saat itu juga David datang dan langsung bergabung. David hanya melirik saja di saat semuanya pada tertawa, dia tak tau apa yang membuat mereka semua bisa begitu lepas.
" Kalian lagi pada ngomongin apa?. " Tanyanya dengan serius.
" Ngomongin pangeran kodok. " Jawab Rico.
" Siapa pangeran kodok nya?."
" Kamu lah! Siapa lagi. " Jawab Rico dengan cepat plus dengan cengengesan tak henti-henti.
" Aku nggak bisa loncat, jadi mana mungkin aku pangeran kodok. Aku bisanya hanya merangkak. "
" Hahaha... Kura-kura dong!. "
" Bukan! Tapi kira-kira. " Jawab David ketus.
Tak terasa semua yang mereka kerjakan telah selesai mereka semua bisa keluar dan tinggal menunggu penilaian dari semua kerja keras nya.
" Semoga berhasil. " Doa mereka semua.
_____
" Kejutan yang seperti apa, Mi?. "
" Bagaimana...? Bagaimana kalau kita beri mereka paket bulan madu. Selama menikah mereka kan belum pernah bulan madu, Pi. Ya, itung-itung untuk membuat mereka semakin dekat lagi. "
" Ide Mami bagus juga. Kira-kira paket kemana?. " Yohan berpikir keras.
" Kemana ya?. " Fani pun juga ikut berfikir.
Dengan hadiah kejutan itu Fani hanya berharap keduanya bisa melupakan musibah kemarin yang telah merenggut kebahagiaan mereka, dan siapa tau dengan bulan madu, mereka akan pulang membawa berita bahagia. Anggap saja, sembari menyelam minum air, jadi dapat semuanya kan.
" Aha.. " Teriak Fani yang sepertinya ide muncul di pikiran nya.
..........
..........
Ternyata bukan hanya Fani dan juga Yohan saja yang berinisiatif memberikan kado kejutan untuk Airin dan juga David, tapi Tasya dan juga Fahmi pun juga tak kalah hebohnya.
Keduanya bahkan sudah menyiapkan dua paket langsung untuk mereka bulan madu. Dua tiket untuk ke Negeri Sakura, dan satunya lagi dua tiket ke pulau Dewata Bali.
__ADS_1
Tinggal Airin dan David akan pilih kemana, mau ke luar negeri atau ke dalam negeri, semua pilihan ada di pundak mereka yang terpenting mereka berdua heppy.
Bahkan Tasya dan Fahmi tak keberatan jika mereka berdua menerima kedua tiket dalam dan luar negeri tersebut.
" Mereka pasti senang deh, Abi. Bunda sudah tak sabar ingin memberikan ini kepada mereka berdua. " Ucap Tasya yang terus tersenyum dengan tangan memegangi dua amplop berwarna coklat.
" Iya, Bunda. Abi juga sudah tidak sabar. Semoga mereka berdua bisa bahagia dengan hadiah kita ini. " Jawab Fahmi yang kini duduk di sebelah Tasya.
Melihat perempuannya bahagia sungguh membuat hati seorang Fahmi juga berbunga, dia terus menatap senyum Tasya yang begitu manis.
"Bunda." Panggil Fahmi.
Tasya menoleh dengan cepat menatap wajah Fahmi yang masih terlihat tampan. " Iya. "
" Terus kita mau kemana? Kita juga butut waktu berduaan saja loh. Kita juga nggak boleh kalah loh dengan darah muda. " Ucap Fahmi.
" Hah!. " Tasya tersentak.
Fahmi merengkuh pundak Tasya menenggelamkan nya ke dada bidang nya.
" Kita juga butuh, Bunda.A kita butuh jalan-jalan, senang-senang, berdua-duaan, bermesraan. Semuanya kira masih butuh. " Ucap Fahmi.
" Kita udah tua, Abi. Kita sudah tidak pantas seperti itu lagi. " Jawab Tasya.
" Siapa bilang kita sudah tua. Lihat, wajah Abi masih tampan, belum keriput juga kan? Masih pantas lah kita senang-senang juga. Lagian Abi juga masih kuat. " Bisik Fahmi di akhir kalimat.
" Kuat apanya?. "
" Kuat lah, Bunda. Kalau Bunda tidak percaya, Abi buktikan, bunda mau tambah berapa anak lagi, satu, dua, atau tiga? Abi masih kuat. "
Fahmi melepaskan tangannya dari Tasya kenaikannya dan memperlihatkan otot-otot nya. " Kuat. " Ucapnya.
" Hahaha,, Abi ada-ada saja. " Tawa Tasya pecah.
" Tambah dua lagi yuk, Bun. " Goda Fahmi.
" Nggak! Malu sama cucu. " Ketus Tasya.
" Cucu kita pasti akan senang lah, Bun. Secara mereka akan dapat Om Om kecil. "
" Tidak.. " Tasya beranjak menaruh kedua amplop tadi di atas meja lalu dia pergi keluar.
Fahmi tersenyum setelah kepergian Tasya dia sangat senang menggodanya.
" Bunda bunda.. "
_______
Adakah yang merindukan Opa Fahmi...
__ADS_1
🤧🤧🤧🤧