
Setelah acara berbelanja itu selesai, Sofiana dan Airin segera menuju tempat tujuannya. Yaitu panti asuhan.
Sudah menjadi rutinitas bagi Sofiana untuk mengunjungi panti, jikalau pun dia tidak bisa makan ia akan menyuruh Bian untuk menggantikannya.
Setelah beberapa saat, mobil yang di kendarai Putra sudah memasuki halaman panti asuhan.
Panti asuhan itu adalah salah satu kenangan Sofiana bersama mendiang suaminya. Dulu mereka sering ke panti asuhan, selain mereka menjadi donatur tetap di sana tapi mereka juga senang dengan anak-anak. Apalagi melihat nasib anak-anak yang sudah tidak memiliki orang tua, sungguh itu sangat menyentuh hatinya.
Benar saja ketika Sofiana dan Airin turun dari mobil mereka langsung di serbu dengan anak-anak penghuni panti.
"Bunda sudah datang!" teriak anak-anak panti. Bagi mereka Sofiana adalah salah satu sosok malaikat yang menolong mereka, sehingga mereka menyebut Sofiana sebagai Bunda.
Airin yang melihat interaksi itu, hatinya sedikit tersentuh. Melihat anak sekecil mereka sudah tinggal di panti asuhan, padahal seharusnya mereka masih tinggal bersama orang tua dan menikmati masa-masa kecil mereka.
Tak lama setelah itu, seorang wanita paruh baya keluar dari panti asuhan. Ia adalah Puspa pengurus panti asuhan, Puspa tersenyum melihat kedatangan Sofiana. "Kamu sudah datang!" ucapnya dan memeluk Sofiana. "Anak-anak sudah sedari tadi tidak sabar menunggumu, setelah aku beritahu kamu mau datang kemari." imbuhnya setelah pelukan itu berakhir.
Sofiana tertawa mendengar itu. "Pasti yang di rindukan anak-anak itu adalah makanan yang akan mereka dapatkan," kelakarnya. Sehingga membuat semua yang berada di sana ikut tersenyum, tidak terkecuali Airin.
Dan benar saja, baru saja Putra mengeluarkan belanjaan Sofiana dari bagasi, ia sudah di serbu anak-anak panti. Hingga snack yang berada di kantong belanjaan sudah ludes di ambil anak-anak.
"Ya sudah ayo masuk," ajak Puspa. Tapi baru saja kakinya melangkah ia baru menyadari keberadaan Airin. "Gadis itu siapa?" tanya nya pada Sofiana.
Sofiana tersenyum kemudian mengarahkan pandangannya pada Airin. "Dia teman baru untuk Kania."
__ADS_1
Puspa mengerti apa yang di maksud Sofiana, karena ia juga tahu teman yang di maksud adalah seseorang yang bertugas untuk menjaga Kania. "Ya sudah, ayo kamu masuk juga!" ajaknya pada Airin.
"Iya Bu," jawab Airin. Kemudian mengikuti langkah kedua wanita paruh baya itu masuk ke dalam panti.
Hingga hari menjelang siang, Airin dan Sofiana baru tiba di rumah setelah tadi berkunjung ke panti.
"Airin," Bi Ani yang menghampiri Airin. "Nona Kania belum pulang sekolah, kalau kamu ingin istirahat di paviliun masih ada kamar kosong." beritahu nya.
Airin yang sedari tadi berdiam diri di dapur begitu terkejut dengan kehadiran Bi Ani, ia hanya menganggukkan kepala mendengar ucapan Bi Ani. "Iya Bi."
Setelah kepergian Bi Ani nyatanya Airin masih diam di tempatnya, dia tidak berniat untuk beranjak dari sana. Mana berani dia beristirahat, ia takut jika dia beristirahat maka ia akan ketiduran.
Airin sendiri sebenarnya bingung mau melakukan apa sembari menunggu kepulangan Kania dari sekolah, karena di rumah itu sudah ada pekerja yang melakukan tugasnya masing-masing.
Benar saja tidak lama mobil yang mengantar Kania sekolah sudah memasuki halaman rumah.
"Kak Airin!" teriak Kania ketika baru saja turun dari mobil.
Airin tersenyum melihat kedatangan Kania, baginya Kania sudah dia anggap adiknya sendiri. Airin langsung mengambil tas, begitu Kania sudah di depannya.
"Kak Airin aku capek sekali," keluh nya dengan menyandarkan kepalanya di bahu Airin. Lalu ia mengajaknya untuk pergi ke kamarnya, ia ingin berbagi cerita bersama pengasuh barunya itu.
"Kenapa?" Airin yang menanggapi.
__ADS_1
Mereka berdua berjalan ke kamar Kania dengan Kania yang memeluk erat tangan Airin, bahkan jika di lihat mereka tidak seperti pengasuh dan majikan.
"Hari ini ada ulangan matematika, dan aku tidak suka itu. Itu sangat membuat kepalaku pusing karena terlalu banyak menghitung, apalagi jika harus menggunakan rumus yang sulit." Kania yang mengoceh. Ia segera merebahkan tubuhnya di ranjang ketika sudah sampai di kamar.
"Aku juga tidak bisa matematika," sahut Airin setelah menaruh tas Kania di atas meja belajarnya. "Tapi setidaknya kamu jangan membenci pelajaran yang kamu tidak suka, itu akan membuatmu semakin tertekan." tuturnya, ia kemudian berjalan ke arah Kania berbaring.
"Tunggu kak!" Kania mencegah Airin yang mencoba membantu melepas sepatunya. "Aku bisa sendiri," ia mendudukkan diri lalu melepas sepatunya sendiri. Tidak mungkin ia membiarkan pengasuh yang sudah ia anggap kakaknya untuk melepaskan sepatunya, akan terasa sangat tidak sopan.
Airin tersenyum melihat Kania yang sedikit berubah dari sebelumnya.
"Kenapa Kakak tidak kuliah saja?" tanya Kania.
"Karena tidak ada biaya," jawab Airin terus terang. Karena ia dulu berfikir akan bekerja terlebih dahulu selama satu tahun setelah lulus SMA, dan kemudian ia akan mengambil kuliah malam jika sudah ada uang untuk mendaftar. Tapi walaupun ia sudah bekerja nyatanya masih saja tidak bisa mengumpulkan uang, selain ibunya yang terus meminta uang padanya juga membayar cicilan sepeda motor yang ia ambil. Tapi sekarang waktu sudah lunas, malah ia tinggalkan di rumahnya.
"Oh," Kania menanggapi. Hingga kemudian ia mempunyai ide. "Apa kakak mau kuliah? Nanti aku akan bilang pada Mama atau Kak Bian buat bantu." Kania mengutarakan idenya.
Jelas saja Airin langsung menggeleng. "Tidak Non, Terima kasih." tolaknya. "Otak saya pas-pasan, sayang biayanya." kelakarnya.
Sejujurnya siapa yang tidak ingin melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, termasuk Airin. Ia pun sebenarnya juga ingin, hanya saja ia tidak ingin merepotkan orang lain.
...----------------...
...Jangan lupa dukungannya ya βΊπ...
__ADS_1