Cinta Untuk Airin

Cinta Untuk Airin
Baby Sitter


__ADS_3

Sinar matahari sudah mulai muncul, menandakan pagi sebentar lagi akan datang.


Airin sudah terbangun dari tidurnya, ketika alarm di ponselnya sudah berbunyi nyaring.


"Sudah jam lima pagi," gumam Airin. Dan bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Seperti biasa Airin mengguyur kepalanya dengan air dingin sebelum ritual keramas. Karena bagi Airin jika tidak membasahi kepalanya maka rasa ngantuk itu akan terus tertinggal di kepalanya.


15 menit kemudian Airin sudah selesai dengan acara mandinya.


Langkah kakinya yang setengah basah berjalan menuju lemari. Tubuh Airin hanya terbalut handuk, yang menutupi dada hingga atas lututnya, toh ... siapa juga yang akan melihat. Karena dirinya berada di kos-kosan yang ia tempati sendiri.


"Pakai baju apa?" tanyanya pada diri sendiri, dengan melihat pakaiannya yang berada di dalam lemari. Karena Airin bingung harus mengenakan pakaian apa, sebab Sofiana belum memberitahukan pekerjaan apa yang akan dia berikan pada Airin.


Hingga Airin memutuskan memakai jins hitam dan hem putih berlengan panjang. Dengan rambut yang terkuncir kuda.


"Sudah rapi," ucap Airin seraya tersenyum, melihat pantulan dirinya di cermin.


"Airin ...." Lusi berteriak dari luar kamar Airin.


Airin melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sudah pukul setengah tujuh.


Klek.


"Loh, lo udah rapi?" tanya Lusi. Karena kemarin Airin bercerita kalau supir Sofiana akan menjemputnya pukul delapan.


Airin menganggukkan kepalanya. "Ya, biar nanti orangnya tidak menunggu dan langsung berangkat," sahut Airin.


"Oh," sahut Lusi yang ber o ria. "Ya udah ayo kita cari makan, di depan saja, Pras sudah menunggu di gerbang." Yang di setujui Airin.


Lusi dan Airin akhirnya berjalan ke arah Pras yang sedang menunggu mereka. Hingga tujuan mereka sekarang adalah warung nasi sederhana yang terletak di depan kosan mereka.


Pagi ini warung nasi itu lumayan ramai, di penuhi oleh para pekerja yang akan berangkat kerja, ada juga penghuni kosan yang lain.


Pras, Airin dan Lusi akhirnya kompak memesan nasi campur, selain enak tapi juga murah.


"Rin, kita berangkat dulu ya," pamit Lusi dan Pras setelah mereka menyelesaikan sarapannya.


"Ya udah, kalau begitu hati-hati di jalan," sahut Airin.


Pras dan Lusi langsung menaiki angkot yang berhenti di depannya. Sedangkan Airin kembali masuk ke dalam kamar kos-nya, karena jam masih pukul tujuh

__ADS_1


Airin mengotak-atik ponselnya dengan posisi duduk di kasur. Berharap ada notifikasi dari keluarganya di kampung, tapi nyatanya itu harapan tinggal lah harapan. Tidak ada satupun notifikasi dari keluarganya. Padahal Airin pernah mencoba beberapa kali menghubungi no kakak dan adiknya, tapi mereka tidak ada yang mengangkat panggilannya


"Huft," Airin hanya menghembuskan nafasnya kasar. "Mungkin memang sudah benar-benar terlupakan," gumam Airin dengan mata yang berkaca-kaca.


Airin menerawang ke masa lalu. Dimana dirinya selalu di perlakukan berbeda oleh kedua orang tuanya, sebelum Airin bisa mencari uang.


Flashback On.


Saat itu Airin masih berumur delapan tahun, Airin kecil meminta uang kepada ayahnya yang baru pulang kerja sore itu.


Tapi ayahnya tidak memberinya uang dan bahkan membentaknya. Airin kecil yang keinginannya tidak di penuhi akhirnya membuang sandal jepit ayahnya di selokan depan rumah.


Ayah yang tau seketika mengejar Airin yang lari ketakutan, hingga akhirnya Airin tertangkap dan di seret pulang oleh ayah. Di rumah Airin di lempar di atas kasur dan kemudian ayah mengurungnya di dalam kamar dengan mengunci pintu dari luar. Airin berteriak untuk di bukakan pintu dengan tangisannya yang mulai sesenggukan, tapi tidak ada yang mau menolongnya.


Bukan hanya ayah yang tega dengan Airin kecil, bahkan juga ibunya. Dulu ibunya adalah seorang penjahit di rumah. Airin yang merengek ingin di temani bermain oleh ibunya, tidak di pedulikan oleh sang ibu. Karena ibu yang tidak tahan mendengar rengekan Airin, ibu dengan tega menampar Airin. Seketika tangisan Airin bertambah keras.


Airin kecil membekap pipinya yang terasa panas bekas tamparan ibunya. Tapi seketika Airin merasakan ada yang mengalir dari hidungnya. Tangan kecil Airin mencoba menyekanya, dan betapa terkejutnya ternyata itu adalah darah.


Flashback Off.


Setetes cairan bening jatuh ke pipi Airin. Ingatan itu selalu tertancap jelas di ingatan Airin hingga sekarang.


"Sebaiknya aku menunggu di luar saja, mungkin supir Nyonya Sofiana sebentar lagi akan datang," ucapnya setelah melihat jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 07.50.


Airin segera beranjak dari duduknya dan mengambil tasnya yang tergeletak di pojok kasur.


Tak lama Airin berdiri di depan gerbang, dari kejauhan matanya melihat mobil yang kemarin mengantarnya pulang, dan berhenti di depannya.


"Saya duduk di depan saja Mas," ucap Airin. Saat melihat Putra membukakan pintu belakang untuknya.


"Oh ... baiklah kalau begitu," sahut Putra dan menutup kembali pintu yang tadi sempat di bukanya.


Putra sempat menatap sekilas Airin, namun kemudian Putra kembali berjalan mengitari mobil untuk menuju kursi di bagian pengemudi.


Airin sendiri juga sudah duduk di kursi sebelah Putra.


Dengan perlahan mobil yang di kendarai Putra melaju membelah jalanan yang lumayan padat pagi itu. Butuh waktu dua puluh menit untuk menuju rumah Sofiana.


Saat di perjalan, hanya ada keheningan yang menemani Airin dan Putra.


***

__ADS_1


Hingga beberapa saat, mobil yang di kendarai Putra sudah memasuki halaman rumah mewah. Bahkan Airin tak berkedip melihatnya. Baru kali ini dirinya memasuki rumah seperti itu. Biasanya Airin hanya melihatnya lewat televisi kecil di kamarnya dulu.


"Silahkan turun, Nyonya Sofiana audah menunggu di dalam," ujar Putra yang membuyarkan lamunan Airin.


"Oh ... i-iya," sahut Airin. Yang kemudian turun dari mobil.


Airin dengan perlahan berjalan memasuki rumah mewah itu. Ternyata di depan pintu ada wanita paruh baya yang berdiri di sana, mungkin untuk menyambut Airin. Bu Ani, kepala pelayan.


Sebelum Airin bertanya, ternyata wanita itu sudah lebih dulu berbicara. "Nyonya sudah menunggu anda," ucap bu Ani.


Airin hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dengan tersenyum kaku. Airin rasanya masih canggung dengan lingkungan baru seperti ini.


Bu Ani berjalan terlebih dulu, untuk mengantar Airin bertemu Sofiana yang berada di taman belang rumah.


Airin lagi-lagi di buat terkejut, dengan dekorasi rumah Sofiana dan segala perabotan yang menghiasinya. Semuanya terlihat sangat mewah.


Bu Ani dan Airin sudah sampai di taman belakang. Airin dapat melihat Sofiana yang sedang bersantai menikmati minuman hangat di tangannya dan beberapa irisan buah di meja sampingnya.


"Nyoya," panggil Bu Ani.


Seketika Sofiana mengalihkan pandangannya pada Airin dan bu Ani yang baru saja datang. "Kamu sudah datang!" ucap Sofiana dan menaruh tehnya kembali ke meja. Ada senyuman di bibir tuanya. "Ayo duduk." Sofiana mempersilahkan Airin untuk duduk di depannya.


"Terima kasih Nyoya," sahut Airin seraya mendudukkan dirinya di kursi depan Sofiana.


Bu Ani segera pergi dari sana, setelah mengantar Airin.


Sofiana berniat langsung membahas pekerjaan untuk Airin. "Oh ... ya, untuk pekerjaanmu. Kamu akan bekerja sebagai baby sitter, untuk masalah gaji jangan khawatir, karena gajinya akan lebih besar dari pada office girl di kantor," jelas Sofiana.


"Huh."


"Baby sitter, bukankah anak nyonya Sofiana tuan Bian!


Tuan Bian juga masih lajang kata gosip di kantor!


Apa tuan Bian seorang duda? Jadi aku mengurus anaknya!


Apa nyonya Sofiana punya anak lagi selain tuan Bian! tapi tidak mungkin jika adiknya tuan Bian masih kecil," batin Airin yang bermonong dengan hatinya.


...----------------...


...Jangan lupa vote, like dan komen. Terima kasih, semoga sehat selalu. Amin 😊🙏...

__ADS_1


__ADS_2