Cinta Untuk Airin

Cinta Untuk Airin
145.Siska frustasi


__ADS_3

******


*****""""


kebahagiaan yang di rasakan oleh David dan Airin sangat berbanding terbalik dengan apa yang di alami Siska saat ini. Perusahaannya perlahan-lahan hancur, berbagai usahanya omsetnya menurun drastis.


Siska begitu frustasi dengan apa yang di alami sekarang ini, namun meski seperti itu tetap saja sifatnya sama sekali tak berubah, Siska tetaplah Siska yang keras kepalanya dan juga dengan sifat egoisnya.


"Semua ini gara-gara wanita sialan itu, kalau saja dia tidak memiliki menipuku semua ini tidak akan pernah terjadi, arghhh....!! " Teriak Siska.


Berkali-kali Siska datang ke perusahaan yang kemarin Airin akui sebagai perusahaannya tapi dia sama sekali tidak di perbolehkan masuk, sekali saja di atas masuk dan pemimpinnya sudah ganti menjadi Rayyan, dan dia tidak mau ikut campur dengan urusan Siska dengan Airin.


Meskipun tidak mau berurusan dengan Siska namun Rayyan tetap mengakui kalau Airin adalah adiknya, dia juga punya wewenang atas perusahaan itu, bahkan Airin juga bisa memberikan keputusan apapun yang dia mau, ya meskipun Susan tetap saja tidak percaya akan hal itu.


Siska terus mengacak rambutnya kasar, dia benar-benar pusing karena tidak bisa melakukan apapun, dalam menindas orang mungkin Siska memang ahlinya tapi untuk mengurus perusahaan? Dia tidak akan bisa se-pandai yang dia pikirkan sendiri.


Di saat Siska masih pusing dengan apa yang akan dia lakukan tiba-tiba ponselnya berdering, ada telfon dari rumah sakit di mana papanya do rawat.


"Ya, ada apa? " Tanyanya dengan dingin.


"𝘉𝘦𝘨𝘪𝘯𝘪 𝘉𝘶, 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘺𝘢𝘩 𝘈𝘯𝘥𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪, 𝘉𝘶. 𝘉𝘦𝘭𝘪𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘭𝘶. " 𝘜𝘤𝘢𝘱 𝘴𝘶𝘴𝘵𝘦𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘯𝘢.


"Oh, urus saja semuanya. Kalau perlu sekalian urus pemakamannya, saya akan datang setelah semuanya selesai." Ucapnya.


"𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘉𝘶? 𝘈𝘱𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘪𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘪𝘩𝘢𝘬 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘳𝘶𝘴 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢𝘯𝘺𝘢? "


"Tidak, saya tidak mau mengurusnya. Urus saja semuanya nanti akan saya bayar seberapapun biayanya. Saya banyak pekerjaan sekarang, tolong jangan ganggu saya. "

__ADS_1


"𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘉𝘶! 𝘒𝘦𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘬𝘢𝘮𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢? "


"Terserah kalian, saya tidak peduli." 𝘛𝘶𝘵.. 𝘛𝘶𝘵... 𝘛𝘶𝘵..., ponsel di tutup sepihak oleh Siska. Dia benar-benar sudah tidak peduli lagi dengan ayahnya yang kini telah meninggal dunia.


"Dasar si tua bangka, sudah meninggal saja masih saja nyusahin orang! Apa kamu tidak lihat, nih perusahaan sedang bermasalah! Seharusnya kalau mau mati meninggalkan warisan yang sukses, kenapa malah meninggalkan warisan yang bermasalah seperti ini? Ishh..., dasar pak tua! "


Bukannya berduka Siska malah marah-marah dengan apa yang di alami perusahaannya sekarang, dia juga menyalahkan ayahnya karena keadaan perusahaannya yang tengah mengalami masalah, padahal jelas-jelas dia sendiri yang membuat masalah itu.


***


Siska yang tidak bisa di ajak kompromi dan tidak mau bertanggung jawab dengan kematian ayahnya, kini pihak rumah sakit hanya bisa berharap dengan asisten dari Ayahnya Siska.


Dia yang membawa ke rumah sakit mungkin dia bisa membantu untuk mengurus semuanya. Dan benar saja, hanya asistennya itu yang peduli dengan ayahnya Siska. Dia juga mengurus tempat pemakaman dan menyediakan segalanya.


Meski dia sudah tidak lagi mendapatkan uang dari ayah Siska tapi dia begitu banyak hutang budi dengannya, dia tidak mungkin mengabaikannya begitu saja.


Sang asisten hanya bisa mengelus dada dengan apa yang terjadi sekarang, iba, kasihan itu pasti dia rasakan, di setiap orang tua tiada pasti akan ada anak-anak yang mengantarkannya sampai ke peristirahatannya yang terakhir, tapi ini? Siska bahkan tidak peduli sama sekali apalagi datang ke pemakaman.


Matanya telah dibutakan akan harta, harta yang tidak akan di bawa mati itu terasa sebuah nyawa yang seharusnya di lindungi oleh Siska, sedangkan ayahnya sendiri seperti sampah yang harus di buang dan di lupakan.


Dua butiran bening lolos dari sudut mata sangat asisten saat melihat sang bos nya perlahan-lahan di turunkan di liang lahap. Dia begitu kasihan melihat nasib bos nya yang sama sekali tidak beruntung.


Anak yang benar-benar dia manjakan kini telah melupakannya, dia sama sekali tidak sedih apalagi berduka.


"Semoga Allah memberi tempat yang indah untuk tuan. Semoga Tuan bahagia di sana. Selamat tinggal tuan, selamat jalan." Lirihnya.


Adzan dan iqamah telah bergantian di suarakan untuk mengantarkan sang Bos besar, dan setelah itu tanah perlahan-lahan mulai di turunkan.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama untuk lubang itu kembali tertutup dengan tanah lagi, bahkan sekarang nisan sudah tertanam dengan indah di sana.


Bunga merah putih tersebar di atas gundukan tanah yang masih basah l, setelah beberapa saat tempat itu di rapikan ada seorang ustadz yang sedari tadi di sana langsung melafalkan doa sebagai acara yang terakhir.


Doa untuk meminta pengampunan dan di lapang kan kuburnya ustadz itu lantunkan, setelah selesai semua mengusapkan telapak tangan mereka masing-masing begitu juga dengan sang asisten.


"Terima kasih bapak-bapak semua. " Ucap sang asisten.


"Sama-sama, Pak. Kami juga berterima kasih. Kalau begitu kami pamit,Assalamu'alaikum... " Pamit mereka semua.


"Wa'alaikumsalam, sekali lagi terima kasih karena sudah berkenan membantu saya." Ucapan Asisten dengan begitu bersyukur, karena tidak mungkin dia akan menguburkannya sendiri.


Setelah semua pergi Asisten itu duduk di sana, menatap gundukan tanah yang masih basah dan juga bunga-bunga yang masih segar. Tangan Asisten memegangi nisan dari ayah Siska lagi-lagi dia merasa sangat sedih dengan nasib bos nya yang tak seberuntung seperti orang tua pada umumnya.


"Maafkan saya karena tidak bisa melakukan apapun untuk Tuan. Saya tidak bisa membujuk Nona untuk bisa menghampiri pemakaman Tuan. Saya sudah berusaha rapi tetap saja sayang tidak bisa, maafkan saya Tuan." Ucapnya begitu menyesal.


"Saya akan berusaha untuk mewujudkan permintaan terakhir dari Tuan, suatu saat aku pastikan Nona akan datang dan meminta maaf dengan Tuan di sini. Saya akan pastikan Nona akan menjadi orang yang baik. "


"Meskipun itu akan sangat susah, tapi saya akan berusaha keras untuk bisa mewujudkannya, saya janji. Dan saya juga tidak akan biarkan perusahaan yang Anda bangun akan hancur begitu saja, Tuan. Semuanya akan kembali seperti semula, itulah janji saya." Ucapnya yang begitu banyak.


"Selamat tinggal, Tuan. Tenang lah Anda di sisiNya, saya yakin Anda lebih bahagia sekarang. Assalamualaikum... "


Asisten itu beranjak dengan pelan, perlahan-lahan kakinya mulai melangkah pergi meninggalkan makam dari bos nya yang sangat berpengaruh untuk kehidupannya.


"Assalamu'alaikum... " Ucapnya sekali lagi dan kali ini dia benar-benar pergi dari sana.


#####

__ADS_1


#####


__ADS_2