
David dan Airin berjalan pelan di belakang Yohan dan Fani. mereka berempat berjalan di lorong rumah sakit untuk menjenguk Fadil yang katanya masih di rawat di sana.
Sesekali Airin dan David bersenda gurau membuat Yohan dan Fani tersenyum bahagia melihat anak dan menantu nya yang terlihat sangat bahagia. " semoga kebahagiaan ini tak akan pernah hilang di tengah-tengah rumah tangga kalian " batin Fani.
Sampai lah mereka di depan ruang VVIP, ruangan di mana Fadil di rawat dan itu atas perintah dari Airin sendiri tentunya.
Yohan meraih handle pintu lalu mendorong nya dan masuk seraya mengucapkan salam bersamaan kaki nya melangkah masuk" Assalamu'alaikum " salam nya dengan jelas.
" Assalamu'alaikum.. " Seru Fani dan pasang di belakang nya.
Fadil yang hampir menutup matanya pun kembali terjaga, melihat siapa yang datang menjenguk nya. " Wa'alaikumsalam "'jawab nya
Fadil berusaha untuk bangun dari tidur nya dan duduk, karena terlihat sangat kesusahan David pun dengan sigap berlari dan membantu Fadil.
" biar aku bantu "'ucap David dan membantu Fadil bangun.
Fadil menarik senyum. bersyukur rasanya bisa kembali akur lagi dengan David dan bisa mendapatkan kepercayaan lagi tentunya " makasih David " ucap Fadil.
David seketika mengangguk sembari tangan membenarkan Bantal untuk sandaran Fadil " Sama-sama, "
" Gimana keadaan mu sekarang Nak " tanya Yohan mengawali, menyentuh pundak Fadil yang langsung menatap Yohan.
" Fadil sudah lebih baik Om, terima kasih telah menjenguk Fadil Om, tante "' Fadil tak lupa menoleh ke arah Fani yang ada di sebelah Airin.
" Sama-sama nak. jangan sungkan dan merasa tidak enak ya. kita semua adalah saudara " ucap Fani dengan senyuman yang merekah ramah.
" Iya tante, terimakasih "'jawab Fadil.
Rasa penuh haru di hati Fadil, tak pernah dia sangka kalau Yohan beserta istri mau menjenguk nya hari ini. dengan segala kesalahan yang sudah dia perbuat ternyata pintu maaf itu benar-benar telah terbuka penuh untuk nya.
Mata Fadil terlihat berkaca-kaca saat itu, bagaimana tidak? Papanya sendiri yang melakukan itu bahkan sampai membuat Fadil harus masuk rumah sakit sementara orang lain yang pernah dia sakiti malah dengan senang hati meluangkan waktu hanya khusus untuk menjenguk nya.
" Fadil, terima kasih atas apa yang kamu lakukan untuk Om, dan Om juga minta maaf secara tidak langsung Om yang membuat hubungan mu dengan Papa mu jadi bermasalah, maafkan Om ya" ucap Yohan.
" Om tidak salah kok, ini sudah menjadi tugas Fadil untuk bisa mengembalikan apa yang telah kamu ambil , Fadil benar-benar minta maaf dan Fadil juga sangat menyesal Om, maafkan Fadil" ucap Fadil benar-benar menyesal.
" sudah lah Fadil, yang berlalu biarkan berlalu dan kita sambut yang terbaik untuk kedepannya. Om bangga pada mu, karena kamu sudah menjadi orang yang bertanggung jawab sekarang "' puji Yohan.
" makasih Om, "'
kring... kring....
ponsel Airin berbunyi dengan cepat Airin mengambil nya " Kirana? kenapa nih, tumben?
"' maaf mau angkat telfon sebentar " Airin tersenyum dan pamit keluar untuk mengangkat telfon.
__ADS_1
" Iya sayang, " jawab Fani lembut sedangkan yang lain mengangguk.
Airin segera membuka telfon setelah berasa di luar ruangan.
" Assalamu'alaikum Kirana, ada apa? apa ada masalah? tanya Airin bingung karena tak biasanya Kirana akan telfon Airin terlebih dahulu.
" Kak!! ada yang menculik Nara, dan entah di bawa kemana kami tidak tau karena kami kehilangan jejak"'
"kok bisa! terkejutnya Airin
"maaf Kak, dan ini kamu masih terus mencarinya "
" saya tidak mau tau, pokoknya kalian harus temukan Nara secepatnya, dan pastikan tidak terjadi apa-apa padanya "'tegas Airin.
"baik Kak "
tut tut tut....
panggilan berakhir, Airin terlihat sangat cemas karena penculikan Nara. siapa juga yang menculik Nara, apa Papa nya Fadil? atau mungkin Papa Nara sendiri? bukankah Nara juga sedang bermasalah dengan Papa nya kan.?
" Nara harus baik-baik saja, tak boleh terjadi apapun dengan Nara atau Fadil akan bersedih nantinya"gumam Airin.
" kamu kenapa Yang? kok seperti panik begitu " Tanya David yang baru keluar dari dalam ruangan dan langsung mendekati Airin karena melihat kepanikan di wajah Airin.
" nggak ada apa-apa kok Yang, biasa dari Kirana" jawab Airin yang kali ini dia benar-benar jujur.
" O" jawab David singkat " ya udah yuk masuk " ajak David kembali merangkul Airin dan menuntun nya masuk.
" aku harus lakukan sesuatu jangan sampai Fadil tau " batin Airin.
#####
Nara berjalan keluar dari kampus seorang diri biasanya dia akan bareng dengan Fadil tapi sekarang Nara bahkan tak tau di mana Fadil berada karena udah beberapa hari dia tak pulang.
" Mas Fadil itu kemana sih. apa dia lagi liburan kok tumben nggak ngajak-ngajak, biasanya ke mana pun Nara selalu di bawa" gerutunya.
Dengan memegangi tas nya Nara pergi ke halte bus yang akan mengantarkan nya ke kediaman Fadil seperti biasa.
Meskipun di rumah Fadil banyak orang tapi Nara tetap saja merasa kesepian semenjak tidak ada nya Fadil di rumah.
" semoga kali ini Mas Fadil udah pulang "ucap Nara penuh harap.
sepasang mata melihat Nara dari jauh, dan kakinya langsung di ayunkan untuk menemani Nara " Nara,! teriak nya dan Nara pun menghentikan langkah lalu menoleh.
Nara tersenyum melihat siapa yang datang " mbak Kirana,,! teriak Nara sembari melambaikan tangan
__ADS_1
Belum juga Kirana sampai di hadapan Nara, ada mobil yang berhenti tepat di belakang Nara satu orang keluar dan langsung memaksa Nara untuk masuk ke mobil. " mbak Kirana,!! tolong,,!! teriak Nara dan berusaha berontak.
" Nara,!! teriak Kirana dan berlari dengan cepat namun mobil sudah pergi terlebih dahulu.
" Gimana nih?" Kirana nampak bingung tak ada siapapun yang ad aku di sana, Kira terus tengak-tengok tak biasanya juga orang-orang nya pada tak ada di tempat.
^^^Tinnnnn......^^^
Bunyi klakson begitu keras, dan mobil berhenti pas di hadapan Kirana " Pak Rio, " ucap Kirana sembari berlari dan masuk begitu saja sebelum mendapatkan perintah.
" Ehh,," bingung Rio dengan tingkah Kirana yang tiba-tiba masuk. " ada apa nih. aku nggak mau kasih tumpangan loh!
" Udah ya pak, sekarang jalan cepat tai ada waktu pagi untuk berdebat. " Kirana panik mengatakan itu pada Rio dengan tergesa-gesa dan semakin membuat Rio mengernyit bingung " please pak! ayo jalan kan mobilnya kita harus tolongin Nara, Nara di culik " terang Kirana.
" hahh!! di culik? pekik Rio dan bergegas menjalankan mobilnya dengan cepat "'kenapa kamu nggak bilang dari tadi"
" ku sudah coba jelas kan pak, tapi bapak nya aja yang tidak tanggap " ketus Kirana.
" lah kenapa jadi aku yang salah?"
" udah pak jangan banyak bicara, cepat kejar pak jangan sampai kehilangan jejak " perintah Kirana.
" Hm" Rio pasrah, meskipun kedudukannya lebih tinggi dari pada Kirana tapi kalau udah debat dengan cewek? angkat tangan aja lah.
" Mana sih mobilnya? " gerutu Kirana matanya terus jelalatan ke sana kemari mencari mobil yang membawa Nara.
Cukup lama Rio dan Kirana mencari dan terus berputar-putar tapi mereka kehilangan jejak mobil yang membawa Nara.
Mobil pun berhenti di tempat yang tak ramai dan ada pohon di sisinya. Kirana dan Rio turun dan celingukan di pinggir jalan.
" astaga,, kita kehilangan jejak pak. gimana nih?" bingung Kirana.
Kirana oun berinisiatif menghubungi Airin memberitahu kan akan kejadian yang menimpa Nara.
" mau ngapain kamu? tanya Rio sinis melihat Kirana yang mengambil ponsel nya.
Kirana mengeluarkan nafas berat nya. kalau ambil ponsel mau buat apa coba, masak mau makan? " mau ngabarin Kak Airin pak" jelas Kirana.
" O" jawab Rio hanya ber-O saja membuat lingkaran dengan mulut nya.
" Hm"
#######
########
__ADS_1