
#####
Pagi-pagi sekali Airin bangun, dirinya langsung pergi ke kamar mandi tanpa membangunkan David terlebih dahulu, dia sudah sangat tak sabar, dia penasaran karena sudah satu minggu dia telat datang bulan.
Dia berharap kali ini dia benar-benar di beri kepercayaan lagi untuk segera hamil. Dengan sangat gelisah Airin mengecek dengan testpack yang diam-diam dia beli dari apotik rumah sakit kemarin.
"𝘉𝘪𝘴𝘮𝘪𝘭𝘭𝘢𝘩, 𝘴𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘱𝘰𝘴𝘪𝘵𝘪𝘧. " Batin Airin yang sudah tidak sabar dan tentunya dengan tak tenang.
Menunggu sesaat namun dalam testpack itu hanya tetap garis satu saja, bahkan garis satu lagi yang mungkin masih samar-samar sama sekali tidak ada.
Airin menyandarkan punggungnya di dinding dia kecewa karena dia belum juga di beri kepercayaan lagi. Kenapa rasanya sangat susah untuknya hamil lagi padahal dia sudah menjaga diri untuk makan-makanan yang bergizi juga istirahat yang dia rasa cukup tapi tetap saja dia belum bisa hamil sampai sekarang.
"Tenang Airin, mungkin memang belum waktunya, Allah masih menginginkanmu untuk lebih mempersiapkan dulu untuk menjadi orang tua yang baik," Meskipun berusaha tegar namun air mata Airin tetap saja lolos.
Sementara di luar, David mulai mengerjapkan matanya, tangannya meraba-raba di kasur sebelahnya tapi dia tak mendapatkan istrinya hanya guling saja yang dia dapat.
David segera beranjak, menoleh ke arah jam dinding dan masih jam 4 pagi, "Airin di mana? " David segera beranjak, tempat pertama kali yang dia datangi adalah kamar mandi. Tak ada suara Airin di dalam sana, hanya suara air wastafel yang menyala.
"Sayang, kamu di dalam.. Sayang..! " Teriak David dan tangannya juga terus bergerak untuk mengetuknya.
__ADS_1
"Sayang... " Panggilnya lagi namun Airin tidak kunjung membukanya.
David meraih handle pintu menekannya dan ternyata pintu tidak di kunci, "Sayang, aku masuk ya.. " ucapnya, bukan karena berniat mesum namun David sangat khawatir karena Airin tak kunjung menjawab panggilannya.
David benar-benar masuk, dan akhirnya dia melihat Airin yang berwajah kecewa dan bersandar di dinding.
David menghampiri Airin seraya bertanya ada apa sebenarnya,"Kenapa?" Tanyanya lirih.
Belum juga mendapatkan jawaban mata David melihat tangan Airin yang masih memegangi testpack tadi, David mengambilnya dan akhirnya dia tau apa penyebab istrinya bersedih seperti sekarang.
"Heyy..., jangan bersedih, kita sudah berusaha dengan baik dan hasil hanya Allah yang menentukan. Yakinlah, secepatnya kita pasti akan mendapatkan kepercayaan itu lagi. Allah hanya ingin kita benar-benar bersiap untuk menjadi orang tua yang baik. Dan setelah itu Allah pasti akan memberikannya pada kita." ucap David.
"Sudah, jangan terlalu di pikirkan. Jangan di ambil pusing, mungkin Allah masih menginginkan kita untuk berdua dulu seperti orang yang pacaran. Jadi nikmati saja semua ini. Ambil positifnya saja, dan jangan pernah berfikir macam-macam. Apapun yang terjadi aku akan selalu bersamamu."
Seketika David merengkuh tubuh Airin, memeluknya dengan hangat. Meskipun David menginginkan untuk bisa secepatnya mempunyai penerus tapi David juga tidak bisa memaksa dan terus mendesak Airin, itu akan membuatnya semakin sedih.
David ingin bahagia bersama Airin meskipun dalam kondisi apapun, entah ada dan tiadanya keturunan nantinya.
"Sekarang ambil wudhu dan kita sholat. Kita berdoa pada Allah supaya kita bisa secepatnya di anugerah kan seorang anak yang tampan atau cantik sepertimu," David mencolek dagu runcing Airin dan membuatnya kembali tersenyum.
__ADS_1
"Hemm.. " Airin langsung berjalan bergegas untuk melakukan apa yang David katakan barusan.
"𝘈𝘱𝘢𝘱𝘶𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘯𝘺𝘶𝘮 𝘈𝘪𝘳𝘪𝘯, 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘪𝘴. " Batin David.
######
Sampai di rumah sakit Airin masih saja murung membuat David bingung bagaimana mau menghiburnya.
"Sudah lah, Yank. Jangan sedih mulu, jelek loh!" ucap David.
"Nggak kok, Yank. Aku nggak sedih," jawab Airin yang mengaku tidak sedih namun nyatanya dia terus murung, dan matanya terus memandangi seorang ibu-ibu yang tengah bermain dengan anak kecil, mungkin itu adalah anaknya.
Mata David ikut tertuju pada anak dan ibu yang tak jauh dari mereka, David tau kalau Airin sangat menginginkan itu tapi dia bisa apa? dia tak bisa melakukan apapun kecuali hanya berdoa dan berusaha, dan ketentuan hanya milik sang Pencipta.
David kembali merengkuh Airin menyekapnya dengan erat, "semua akan baik-baik saja, dia pasti akan segera datang pada kita," ucapnya.
"Kita bersama-sama berjuang, sampai mimpi kira menjadi nyata. Jangan sedih itu akan mempengaruhi kesehatanmu nanti," ucap David yang terus berusaha untuk membuat Airin berbesar hati dan lebih bersabar.
_____
__ADS_1