
Airin nampak berjalan ke arah sebuah cafe. Beberapa saat lalu Alda menghubunginya untuk bertemu dengannya.
Saat masuk ke dalam cafe, terlihat Alda sudah lebih dulu datang. Suasana menjelang malam itu membuat keadaan cafe lumayan ramai.
"Maaf aku baru sampai," ucap Airin mendudukkan dirinya.
Alda menggelengkan kepalanya. "Aku sendiri juga baru sampai."
Dan benar saja, minuman dan beberapa cemilan yang tadi Alda pesan baru datang.
"Oh ya! Maafkan aku waktu kamu pulang dari rumah sakit belum bisa menjenguk." Karena semenjak kepulangan Alda dari rumah sakit ia belum bisa menjenguk.
"Tidak apa-apa, aku juga sudah lebih baik." Alda menghembuskan nafasnya pelan, ia sebenarnya mengajak Airin bertemu karena ingin menceritakan kegundahan hatinya beberapa hari ini. "Aku ingin bercerita!"
Airin hanya diam, tapi kemudian ia menganggukkan kepalanya.
"Aku sudah beberapa hari tidak menghubungi kekasihku, lebih tepatnya aku menghindarinya."
"Entah kenapa semenjak aku kehilangan bayiku dan melihat wajah Mas Angga yang begitu kehilangan, membuat aku benar-benar bersalah."
"Karena rasa bersalah itu, aku mencoba menghindari kekasihku. Tapi aku juga tidak bisa menghapus rasa cintaku padanya."
Setetes cairan bening mengalir begitu saja di pipi Alda. Beberapa hari mengalami dilema sungguh menyiksa batinnya.
Airin yang mendengar itu hanya bisa menarik nafasnya dalam dan menghembuskan nya perlahan. Sungguh ia sebenarnya tidak mau ikut campur dalam urusan mereka.
"Apa kamu mencintai Mas Angga?" tanya Airin dan Alda pun menganggukinya. "Apa kamu juga mencintaiku kekasihmu?" Lagi-lagi Alda juga menganggukinya.
__ADS_1
"Kamu seharusnya bisa memilih salah satu dari mereka, kamu tidak bisa untuk memiliki mereka sekaligus."
"Coba tempat kan dirimu pada posisi Mas Angga, bagaimana rasanya." Airin hanya bisa memberi perumpamaan. Karena yang menjalani ini semua adalah Alda, ia tidak mau memaksa sahabatnya itu untuk mengambil keputusan yang menurutnya benar.
Alda terdiam mendengar perkataan Airin, tapi air matanya masih saja terus mengalir. Bahkan ia tidak peduli di mana ia sekarang berada.
"Jika kamu memilih kekasihmu, maka lepaskanlah Mas Angga. Dan begitupun sebaliknya, sekarang atau nanti pasti hasilnya akan sama. Akan ada hati yang tersakiti." Mungkin hanya sampai sini Airin bisa memberikan pendapatnya. "Tapi percayalah, seseorang yang datang di saat kamu terluka, ialah orang yang benar-benar tulus." imbuhnya.
Pertemuan dengan Airin membuat Alda terus berpikir keputusan apa yang akan ia ambil. Memang benar apa yang sahabatnya itu katakan sekarang atau nanti pasti akan ada yang tersakiti, dan kini ia harus memutuskan siapa yang akan ia pertahankan.
*
*
Di hari libur inilah akan di gunakan Airin untuk mencari pekerjaan. Ia sudah semakin tertekan bekerja di lingkungan Bian.
"Mau kemana?" Lusi baru keluar dari kamar kosnya, dan mendapati Airin yang sudah rapi.
"Aku ada urusan sebentar!" jawab Airin. "Ya sudah aku pergi dulu ya." Setelah itu ia pergi begitu saja, sebelum Lusi akan menanyainya yang lain-lain.
Tukang ojek online yang di pesan Airin rupanya sudah berada di depan kosannya.
Tujuannya sekarang adalah menuju pusat kota yang terdapat banyak perusahaan. Sebenarnya ia mau bekerja apa saja, yang penting itu tidak bersangkutan dengan Bian.
Tidak lama ia sudah sampai tempat yang ia tuju, sekarang ia tinggal berjalan dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya. Bahkan toko pun tidak luput dari pandangan Airin, siapa tau ada yang membutuhkan tenaga nya.
Namun hingga hari menjelang siang, setiap perusahaan dan toko yang ia datangi masih belum ada lowongan.
__ADS_1
"Hhaa," Airin menghembuskan nafasnya kasar. Sebotol air mineral menemani lelahnya. Kakinya sudah terasa pegal akibat berjalan berkeliling, namun belum ada hasil. "Mencari pekerjaan di kota ternyata sangat susah kalau tidak punya kenalan." Mengingat ia dulu bisa bekerja di perusahaan Bian juga karena bantuan Pras.
Ketika rasa lelahnya sudah hilang, ia kembali melanjutkan untuk mencari pekerjaan kembali.
Ia berdiri di bahu jalan, menunggu lampu lalu lintas bewarna hijau untuk pejalan kaki.
Ketika ia sedang menunggu, tiba-tiba saja ada seorang laki-laki yang sepertinya sedang terburu-buru.
Pria itu terlalu sibuk dengan ponselnya, hingga tidak menyadari keadaan sekitar.
Airin hanya sesekali melihat ke arah pria itu, namun ia langsung terkejut ketika pria itu akan menyebarang jalan begitu saja.
"Awas!" teriak Airin ketika mobil melesat begitu cepat ke arah pria itu. Ia menarik tangan pria itu begitu saja ke arah belakang, hingga menyebabkan ia dan pria itu jatuh begitu saja.
Terdengar umpatan dari sang pengendara mobil yang sempat berhenti. Sedangkan Airin dan pria itu sama sekali tidak dapat mendengarkannya dengan baik, karena sekarang mereka berdua sama-sama terkejut dengan kejadian yang hampir saja menelan korban.
"Kalau menyebrang seharusnya hati-hati, bagai mana jika anda celaka!" Airin meluapkan rasa kesalnya. Karena asik dengan ponsel, nyawa pun seperti tidak ada harganya.
Pria itu hanya menatap Airin yang terus meluapkan kekesalannya. Hingga kemudian ia terbangun lebih dahulu. "Terima kasih Nona," ucapnya tulus.
Airin tidak peduli dengan ucapan pria itu, karena meskipun sedari tadi ia mengomel namun tubuhnya bergetar karena masih shock.
...----------------...
...Siapa pria itu? 🤭...
...Aku kasih bocoran ya 😁. Dia salah satu pemeran dari novel ku yang lain 🤭...
__ADS_1