
_______
Duka begitu terasa untuk Fadil. Kepergian dari Arman membuatnya sedih, meski tak sampai dia menangis tersedu-sedu namun matanya tetap terlihat sembab karena air mata yang beberapa kali keluar.
Selesai pemakaman Arman Fadil juga langsung pulang ke rumah Arman, dia tak ingin sih sebenarnya menginjakkan kaki di rumah itu namun dia harus tetap lakukan karena permintaan dari pengacara.
Memang tak sepantasnya mereka membicarakan tentang surat wasiat yang Arman buat, namun Pengacara tak mau berlama-lama karena itu akan menjadi sebuah beban untuknya.
Fadil, Siska juga pengacara sudah duduk di ruang kerja Arman, semua berkumpul untuk mendengar penjelasan dari pengacara. Siska tampak was-was mendengarkan, dia tak sabar entah apa yang akan dia dapatkan dari Arman. Meskipun Arman tak menyukainya namun Siska tengah mengandung anaknya yang pasti akan mendapat harta meskipun hanya beberapa persen saja.
"𝘈𝘬𝘶 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘳𝘪𝘴𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘈𝘳𝘮𝘢𝘯, 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘴𝘵𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘩! 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘵𝘢 𝘪𝘵𝘶, " batin Siska yang begitu percaya diri.
Siska tersenyum, tangannya mengelus perutnya dengan bahagia. Di samping dia sudah bebas sekarang dari Arman, sebentar lagi dia juga akan mendapatkan warisan dari orang yang selalu dia panggil si tua bangka.
"Jadi bagaimana, Pak?" tanya Fadil.
Siska semakin senang, hatinya sekarang terus berseru '𝘩𝘰𝘳𝘦𝘦𝘦' mungkin kata itulah yang ada di hatinya sekarang.
"Begini, Tuan Fadil," pengacara sudah mulai berkata namun dia kembali terdiam lagi karena ingin membuka berkas yang memang sudah di sediakan sebelum Arman meninggal.
"Bagaimana, Pak? saya pasti mendapatkan bagian yang paling banyak kan! di samping saya adalah istrinya tapi saya juga tengah mengandung anaknya," begitu tak sabar Siska menunggu, hingga akhirnya dia bersuara dan menyimpulkan semua itu sendiri.
"Bahkan seharusnya Arman memberikan hartanya lebih banyak untukku. Dia harus membayar setiap perbuatan yang selalu dia lakukan padaku kan?" imbuhnya.
Mendengar kata-kata yang Siska ucapkan dan melihat ekspresi wajahnya membuat Fadil seakan ingin sekali menjambak rambut perempuan itu. Bagaimana bisa mulutnya mengatakan hal itu dan sepertinya juga tak berfikir terlebih dahulu.
__ADS_1
Seandainya saja Fadil tak berfikir bahwa ini masih dalam suasana berkabu mungkin Fadil lebih baik mengusirnya sekarang juga, karena itu lebih baik daripada mengotori tangannya.
Fadil juga memikirkan bayi yang Siska kandung sekarang, karena bagaimanapun juga anak itu adalah anak dari Arman yang berarti adalah adiknya sendiri, jadi tak mungkin Fadil akan melakukan kekerasan pada Siska.
"Dasar wanita *******! " ucap Fadil dengan sinis juga sangat kesal. Meskipun kata itu sangat kasar menurut orang lain tapi tidak untuk Siska, dia sama sekali tak peduli lagi, mau dirinya di katai apapun itu tidak ada urusannya lagi, dia sudah sangat kebal dengan ucapan yang seperti itu.
Siska tak menanggapi sepatah katapun daripada Fadil, dia hanya tersenyum sinis, dia sangat puas dengan apa yang dia katakan, jadi masa bodoh.
"Bagaimana, Pak? yang saya katakan benar kan? saya mendapatkan warisan yang lebih banyak kan?" ucapnya lagi.
"Maaf, Bu. Tapi Anda salah, Anda tidak mendapatkan sedikitpun harta dari tuan Arman," jawab pengacara.
"Apa...! ini tidak mungkin, anda pasti berbohong kan!? mana mungkin saya tidak mendapatkan apapun! " wajah Siska sudah mulai tegang dia tak percaya kalau dia tak mendapatkan apapun, jelas-jelas dia adalah istrinya yang sah.
"Sabar dulu, Bu. Saya belum selesai bicara. Tolong dengarkan dulu," ucap pengacara memberikan pengertian pada Siska.
Akhirnya Siska diam, dia menurut dan menunggu apalagi yang akan pengacara itu katakan.
"Untuk sekarang semua harta tuan Arman akan di kelola oleh tuan Fadil dan itu sampai anak dari bu Siska lahir dan besar. Setelah anak Ibu besar maka harta tuan Arman akan di bagi rata untuk tuan Fadil juga anak Ibu, hanya anak Ibu," ucap pengacara menekankan di akhir kalimat.
"Sampai anak Ibu besar nanti Ibu akan tetap tinggal di rumah ini sebagai nyonya, dan akan mendapatkan uang bulanan yang sudah di tentukan oleh tuan Arman, dan itu akan di berikan oleh tuan Fadil setiap bulannya."
Penjelasan yang begitu panjang, keduanya sangat paham akan hal itu, Fadil tak mempermasalahkan jika harta peninggalannya akan di bagi rata dengan adiknya, tapi sepertinya tidak untuk Siska.
Siska terlihat marah, dia sangat kesal dengan wasiat itu, itu tidak adil untuknya. Bagaimana bisa dia akan terus di sana sebagai nyonya namun dia tak bisa menguasai semuanya, dan apa yang dia lakukan juga akan di atur oleh semua peraturan yang Arman tinggalkan.
__ADS_1
"Saya tidak terima, saya harus tetap mendapatkan itu sekarang juga! " bentak Siska pada pengacara.
"Maaf, Bu. Itu tidak bisa. Jika Ibu tidak menyetujui semuanya dan memberontak maka Ibu harus angkat kaki dari rumah ini tanpa mendapatkan apapun lagi, jadi Ibu mengertilah,"
"Dasar bedebah kalian semua, kalian memang sengaja ingin menindas ku kan! hemm..., dasar munafik kalian semua! " tukas Siska.
Tak kuat dengan semua yang dia rasa tidak adil Siska pergi dari ruang itu dengan membawa semua amarahnya dan dia meninggalkan vas bunga yang pecah karena ulah tangannya yang tak terima.
𝘗𝘺𝘢𝘢𝘳...
Siska membanting vas yang ada di dekat pintu masuk hingga menjadi sebuah kepingan-kepingan yang tak berbentuk lagi.
"Terima kasih, Pak. Saya harap bapak akan terus mendampingi saya hingga anak perempuan itu lahir dan tumbuh besar."
"Sama-sama, Tuan Fadil. Bukan hanya Ibu Siska saja yang hanya mendapatkan uang bulanan, tapi anda juga sama, Tuan. Anda akan mendapatkan uang bulanan juga mendapatkan gaji dari kerja Anda di perusahaan tuan Arman. Jadi semuanya tetap harus adil."
"Jika suatu saat bu Siska juga ingin bekerja di perusahaan dia juga akan mendapatkan gaji sebagaimana semestinya," ucap pengacara menjelaskan.
"Baik, Pak. Sekali lagi terima kasih," jawab Fadil.
"Sama-sama, Tuan. Kalau begitu saya permisi, tolong jaga perusahaan tuan Arman dengan baik, Tuan."
"Itu pasti, Pak. Saya akan menjaganya dengan baik."
___####____
__ADS_1